Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
19



Riega malas sekali membahas hal tak penting dengan Sharen. Riega merasa Sharen terlalu mencampuri urusanya dengan Aruna.


"Ga ga tunggu dong. Ada yang mau aku tanyain ke kamu!" Ujar Sharen menahan tangan Riega yang hendak beranjak pergi dari ruang seni.


"Apa lagi Ren?" Kesal Riega karena Sharen menahan tangan kekar miliknya.


"Aku mau tanya sama kamu Riegaaaa!" Ujar Sharen dengan nada manjanya itu.


"Bisa ga kamu ga usah pegang-pegang aku gini?"


"Iyah maaf... habis kamu ngeselin sih Ga. Ayo duduk dulu ada yang mau aku bicarain" ucap Sharen mulai melonggarkan genggamanya pada lengan Riega dan berusaha menuntun Riega untuk duduk di sofa.


Riega yang benar-benar tak suka dengan perlakuan Sharen terhadapnya langsung menepis genggaman tangan Sharen lumayan kasar. Ia tak mau di sentuh oleh wanita lain selain Arunanya. Hatinya menolak keberadaan wanita lain di sisinya kecuali Aruna, Caca dan Mamahnya yang pasti.


Dengan hati yang dipenuhi dengan rasa kesal, Riega duduk di sofa dan membantingkan buku-buku pelajaran yang tadi hendak ia bawa ke kelas untuk mengajar. Saat ini dirinya tengah di rundung kekesalan karena wanita di sampingnya yang sekarang malah menampakan deretan gigi-giginya dengan wajah tak merasa berdosa barang sedikitpun.


"Gaa..."


"Apa sih Sharen. APA?!" jawab Riega dengan penuh penekanan.


"Aku mau tanya hubungan kamu sama Aruna, udah itu aja Riega. Ga ada yang lain" jawab Sharen dengan nada manjanya yang dibuat-buat seolah ingin menggoda Riega. Padahal Riega sedikitpun tidak tergoda dengan Sharen, bahkan Riega menampakkan muka jijiknya.


"Aku sama Aruna hanya bertemu di jalan tadi. Ban mobilnya bocor, dan aku hanya membantunya supaya tidak telat ke sekolah. Sudah. Kalau tidak ada hal penting yang berkaitan dengan pekerjaan, aku harap kamu ga usah tanya-tanya aku lagi. Permisi!" Ujar Riega tegas dengan nada datar dan ia langsung beranjak dari sofa. Menarik semua buku yang sempat ia banting tadi melampiaskan kekesalannya di atas meja.


Sharen yang mendapat jawaban seperti itu merasa sedikit senang karena memang antara Riega dan Aruna si gadis sialan itu tidak ada hubungan spesial. Tapi, ia berdecak kesal karena Riega malah langsung pergi begitu saja tanpa ba-bi-bu. Sebelum Riega hilang di balik pintu ruang seni, Sharen sempat berteriak pada Riega.


"Semangat ngajar Riega!"


Riega yang mendengar itu mengabaikannya berusaha tidak mendengar dan malah bergidik ngeri. Ia benar-benar tak menyangka jikalau guru wanita yang dipilih oleh kepala sekolahnya malah segenit dan seganjen itu. Memang dia cantik, tapi dia benar-benar tak punya harga diri kah sampai-sampai menggelayut di lengan pria yang baru saja kenal dengannya.


Fikiran Riega benar-benar tak fokus. Dilain sisi ia memikirkan bagaimana keadaan kekasihnya setelah digosipi dengan dirinya tadi pagi. Apakah Arunanya bisa menghadapi dan menjawab setiap pertanyaan dari teman-temannya atau malah Aruna jadi tidak fokus dengan pelajarannya yang akan mempengaruhi nilai-nilainya.


'Ah, bodoh sekali. Kenapa harus ajak Nana berangkat bareng sih. Malah jadi begini kan!' Gerutu Riega di dalam benaknya.


Dan disisi lain, Riega merasa bahwa ada hal tak baik yang akan mempengaruhi hubungannya dengan Aruna jika Sharen terus-terusan seperti itu padanya. Riega berfikir keras untuk mendapatkan cara menjauhi guru baru itu. Sharen.


Riega terus berjalan menyusuri koridor sekolah dengan berjalan agak cepat. Karena hambatan dari Sharen tadi, dirinya jadi terlambat masuk kelas beberapa menit.


"Selamat Pagi?!" Sapa Riega yang sudah seperti biasa ia selalu lakukan bila mengajar pada pagi hari.


"Pagi Pak!" Murid-murid menjawab sapaan dari Riega.


Pagi ini kelas pertama yang ia ajar adalah kelas Caca adik kandungnya yang benar-benar ia sayangi. Caca memang tidak pernah berangkat dan pulang bersama Riega karena mereka tinggal terpisah. Riega memang sejak dulh memilih untuk membeli rumah dan tinggal sendiri sejak kuliah. Ia membeli rumah tersebut atas bantuan dari Papahnya dan juga jerih payahnya sendiri.


Ia mengumpulkan uang sejak masih di bangku SMA. Sejak dulu memang ia hoby bernyanyi dan ia menyalurkan bakatnya dengan mengikuti beberapa sanggar kesenian dan dari situ ia bisa mendapatkan kesempatan memiliki penghasilan meskipun tak seberapa ia selalu bersyukur dan sebisa mungkin menabung.


Dan rumah itu lah hasil jerih payahnha selama ini dan sedikit bantuan dari Papahnya yang memang memiliki sebuah perusahaan.


Caca merasa ada keanehan dengan sikap Riega. Di tengah pelajaran Caca menyempatkan diri mendekati kakanya itu. Ia mendengar desas-desus tentang kakanya yang tadi pagi berboncengan dengan kekasihnya itu.


"Ka?"


"Hmm?"


"Lo kenapa Ka?"


"Ga apa-apa"


"Boong ah!"


"Bener!"


"Lo cerita sama gua Ka!"


"Hmm.. yaudah nnti ke ruangan aja de" jawab Riega.


"Oke!"


Perbincangan singkat antara Caca dan Riega itu berujung kesepakatan jika Riega harus berbagi cerita dengan Caca. Memang mereka tidak tinggal satu rumah dalam beberapa tahun terakhir ini. Tapi, mereka itu satu darah dan masa kecil mereka begitu dekat dan tak bisa terpisahkan. Karena memang darah lebih kental dari pada air.


Riega mengajar hingga bel berbunyi menandakan pergantian jam. Ia langsung menutup sesi belajar dan berpamitan pada murid-muridnya keluar kelas. Riega berjalan cepat menuju ruang seni. Sepertinya hati dan fikiran Riega benar-benar tak tenang. Ia ingin sesegera mungkin menuju ruang seni merebahkan diri, menghisap sepuntung rokok sebagai bentuk pelampiasan rasa setresnya itu.


Sampai di depan ruang seni, Riega masih melihat makhluk yang saat ini sangat ia hindari sekali untuk bertemu, yaitu Sharen. Ia membuka pintu dan meletakkan buku-bukunya di atas meja. Duduk dan menyandarkan kepalanya kesandaran kursi kerjanya. Merasa tidak dalam posisi wenak, Riega merubah posisinya sekarang menjadi kepala bersandar di atas kedua lengannya yang melipat diatas meja. Seperti murid-muridnya yang tertidur dikelas.


Kepalanya pening sekali ditambah dengan adanya Sharen yang saat ini ia rasa sudah berjalan mendekat. Dengan terdengar suara hentakan heels khas wanita.


"Kamu sakit Ga? Apa kurang tidur?" Tanya Sharen khawatir melihat Riega yang tak biasamya seperti itu.


"..." tak ada jawaban dari Riega. Ia benar-benar malas dengan Sharen.


"Ga, kamu sakit? Jawab dong!" Desak Sharen mulai meninggikan suaranya.


"Ga Sharen!" Jawab Riega dengan posisi masih menunduk ke bawah.


"Riega!" Panggil Sharen lumayan kencang.


"APA?!" Jawab Riega lebih kencang lagi dan ia sekarang mendongakkan kepala berhadapan langsung dengan wajah Sharen.


Dan saat itu juga posisi Sharen sedang membungkuk ke arah Riega. Jelas saja posisi mereka begitu dekat hanya beberapa centi jarak pandang mereka saat ini. Begitu dekat bahkan Sharen bisa merasakan hembusan nafas Riega yang begitu hangat. Sharen takjub memandang wajah tampan Riega. Jantungnya berdetak lebih kencang, bibirnya tak tahan untuk menahan lengkungan yang lebar. Ia tersenyum manis mengagumi indahnya paras Riega yang begitu tampan.


Sedangkan Riega yang mendapati wajah Sharen begitu dekat dengannya langsung berusaha membuang muka. Ia langsung merubah posisi menjadi duduk dan tak memandang Sharen yang sedang senyum-senyum tak jelas.


"Riega, emm.. kamu.." ujar Sharen gugup karena ia masih berusaha meredam debaran jantung yang semakin lama melihat ke arah Riega maka akan semakin cepat pula jantung itu memompa.


(CEKLEK!)


Suara pintu terbuka dan masuklah seoarng gadis cantik yang belum Sharen ketahui siapa dia. Tapi gadis itu menggunakan seragam sekolah ini. Jelas saja dia pasti murid, tetapi siapa yang berani tidak sopan langsung masuk begitu saja keruangan gurunya. Apalagi saat ini posisi Sharen lumayan dekat dengan Riega. Bukan ia merasa malu karena kepergok, tetapi ia merasa terganggu dengan datangnya gadis itu ke ruangan mereka.


"Ada apa?" Tanya Sharen dengan wajah tak biasa dan nada yang begitu datar.


"Mau ketemu Pa Riega. Kenapa?" Jawab Caca dengan nada tak kalah sinisnya.


"Kamu harusnya ketok pintu dulu dong! Ga sopan!" Ketus Sharen.


"Sudah-sudah ada apa Caca? Hemm?" Tanya Riega lembut masih dengan posisi duduk di kursinya.


Sharen mendengar perbincangan antara Caca dan Riega merasa ilfeel, ia merasa panas mendengarnya rasanya ia ingin melenyapkan gadis bernama Caca itu.


'Cewe sialan! Udah ganggu gue sama Riega malah sekarang sok-sok manas-manasin gue! Shit!' Batin Sharen kesal sekali.


Sudah mengganggu dirinya dan Riega, sekarang malah berbincang hangat dengan Rieganya. Itu yang ada di pikiran Sharen saat ini. Sharen yang hanya mendengarkan kalimat basa-basi diantara Riega dan murid yang ia ketahui bernama Caca itu, akhirnya bosan. Ia pun mulai ingat bahwa saat ini dia ada jam mengajar.


Sharen dengan segera mengambil buku pelajaran dan berlalu tanpa berpamitan dengan Riega maupun Caca yang sedang asyik tertawa. Ia keluar dengan sepatu yang sedikit di hentak-hentakkan hingga berbunyi nyaring di telinga kaka beradik itu. Mereka hanya tertawa melihat tingkah Sharen itu. Dan terakhir, Sharen keluar dengan membanting pelan pintu ruang seni itu.


(Brak!)


Mata Caca dan Riega tertuju pada arah datangnya suara itu. Mereka memandang sejenak ke pintu, lalu berpindah untuk saling tatap dan akhirnya mereka tertawa terbahak-bahak.


"HAHAHAHAHAA!" Tawa nyaring mereka pecah memenuhi ruang seni yang mereka tempati itu.


"Guru baru Ka?" Tanya Caca yang mulai merubah nada suaranya seperti biasa.


"Iya de!" jawab Riega tak bergairah


"Suka tuh sama Lo!" goda Caca yang memang sebenarnya Caca bisa tahu dengan jelas hanya dengan melihat gerak-gerik wanita itu.


"Bodo!" respon Riega datar.


"Cantik juga ko!" ujar Caca lagi sambil meletakkan jarinya di atas meja mengetuk-ngetukkanya di sana.


"Cantik mana sama Aruna de?" tanya Riega pada Caca.


"Yah gue lah!" jawab Caca cepat.


"Gue suruh bandingin sama Aruna bukan sama lo!" kesal Riega menatap Caca dengan mata tajamnya.


"Ya deh iyah Aruna Ka!" jawab Caca pasrah karena memang wanita tercantik menurut Riega paatilah kekasihnya yaitu Aruna.


"Nah, itu lo tau jawabanya" ujar Riega yang kembali dengan wajah datarnya.


"Iyh lah. Gue ga suka sama dia!" ucap Caca merubah ekpresinya menjadi kesal.


"Kenapa? Riega mengkerutkan dahinya bertanya-tanya kenapa Adik satu-satunya itu tidak menyukai Sharen, padahal mereka baru pertama kali bertatap muka.


"Judes! Males gue! Kenapa lo bisa seruangan sama dia?" tanya Caca masih dengan nada kesal.


"Dia guru seni de. Baru!"


"Jadi? Dia di taro di sini? Seruangan sama lo Ka? Aruna udh tau?" tanya Caca berturut-turut.


"iyah. Udah lah gue ga bisa ga cerita sama dia!" jawab Riega.


"Terus?"


"Terus apaan de?" Riega kembali mengerutkan dahinya.


"Dia cemburu ga Ka? Marah atau apa gitu?" tanya Caca dengan sangat penasaran sekali.


"Dia sempet cemburu de gegara gue nganter dia balik ke halte udah sih itu aja" jelas Riega santai.


"Ko bisa lo nganter dia?" tanya Caca penuh desakkan yang menggebu.


"Dia ada urusan waktu itu de, lo kenapa sih?"


"Oh. Hemmm,,keliatannya dia...." ucap Caca menjeda kalimatnya.


"Kenapa?" Tanya Riega lagi.


"Ah, biar gue aja yang paham Ka! Jangan kasih tau dia kalo gue ade lo yah Ka!" Titah Caca sambil menggenggam tangan Kakanya itu.


"Oh, oke! Ada rencana apa de?" tanya Riega mulai mengerti maksud Adik cantiknya itu.


"Ga papa! Aruna terlalu polos buat ngadepin cewe macem dia!" jelas Caca.


"Lo kenapa murung gitu di kelas Ka?" Tanya Caca yang merasa aneh dengan sikap Kakannya itu.


"Kepikiran Aruna de. Tadi pagi gue ngajak dia berangkat bareng ke sekolah, eh malah jadi bahan gosip buat guru sama murid" terang Riega mulai kembali murung memikirkan keadaan Aruna sang kekasih hati.


"Lo nih, aneh-aneh aja. Tapi Ka, Aruna ga akan kenapa-kenapa ko, dia pasti tau gimana cara ngadepin mereka. Gue yakin!"


"Yah gue khawatir aja Ca!"


"Udahlah pulang nanti kan ada ekskul. Lo bisa ngobrol sama dia. Gue balik kelas dulu. Kalo Sharen ganjen ke lo jangan ladenin, gue ga sudi dia deketin Kaka gue yang ganteng ini, Ok?!" Ujar Caca sambil menatap Kakanya dan menangkup kedua pipi Kakanya itu, berusaha menghiburnya saat sedih. Sama seperti yang Riega lakukan jika posisi Caca sedang di rundung kesedihan, Riega pasti berusaha menghiburnya dan memberi nasihat dengan menangkup kedua pipi tembam Caca. Ajaibnya ketika tangan itu menangkup pipinya, Caca merasa Riega sedang menguatkan dirinya dengan kata-kata itu dan selalu ia resap ke dalam hati dan fikiranya.


Setelah Caca mengucapkan itu, ia langsung berlari keluar dan menutup pintu ruang seni. Meninggalkan keheningan menemani Riega yang sedang di rundung kebingungan dan kekhawatiran. Riega beranjak dari kursinya menuju sofa empuk disana. Ia duduk dan mulai merebahkan diri disana. Riega mulai memejamkan mata memanfaatkan jam kosong untuk beristirahat sejenak dan menjernihkan fikiran supaya dia tidak kembali merokok melakukan hal yang Arunanya benci.


'Aku mencintaimu dengan sangat sayang' batin Riega di lubuk hati terdalamnya.


"Aruna Melati Defandra" gumam Riega membentuk garis lengkung di bibirnya dan matanya terpejam sempurna. Alam bawah sadarnya mulai terbuai oleh mimpi-mimpi.


To be Continue..


Haloha Readerskuuu... 😍


Aku berterima kasih sekali pada kalian yang sudah membaca novel ini😚


Aku meminta maaf pada kalian yang selalu menunggu novel ini update, karena aku tidak bisa memastikan kapan aku update🙏


Ah iyah, aku mohon maaf untuk visual Riega dan Aruna jika kurang memuaskan hati kalian dan kurang sesuai dengan ekspektasi kalian🙏 Kalian bebas mengkhayal siapa yg pantas menjadi Riega dan juga Aruna. Kalian juga bisa mengirim gambar siapa yang cocok untuk jadi Riega dan Aruna di E-mail kuu yah kalau kalian berkenan.. 😊


Nanti aku akan post di novel ini siapa saja yang mengirimnya dan aku sangat-sangat berterima kasih sekali kalian telah sangat antusias membacanya 😍


Jangan pernah lupa untuk selalu tinggalkan jejak di setiap Episodenya yah Readers yang dermawan 😇😍


Like👍


Biu-biu a danmu💭


Subscribe❤