Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
29



Setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Caca, terdengar suara bel pertanda semua kegiatan belajar mengajar akan dimulai. Riega bergegas mempersiapkan segala bahan mengajarnya. Mulai dari buku, tas, dan beberapa contoh properti untuk teater.


Riega hari ini akan masuk ke dalam kelas Aruna sang kekasih hatinya. Tugas minggu lalu yang Riega berikan pastinya harus sudah selesai dan hari ini adalah jadwal untuk gladi kotor bersama antara dua kelompok itu. Minggu depan akan ada panggung pagelaran seni teater khusus kelas sebelas sebagai nilai praktek sebelum Ujian Akhir Semester dilaksanakan.


Saat Riega hendak keluar, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh seseorang.


"Riega.." panggil seseorang itu.


"Eh, Sharen? Apaan sih, jangan tarik tangan aku dong!"


"Gaa.. kamu kenapa sih kalau sama aku, kaya menghindar gitu?"


"Bukan gitu, sekarang aku ada jadwl ngajar dan sekarang ada gladi. Harus cukup dalam waktu ngajar aku!" Jawab Riega tegas.


"Iya deh, maaf yah Ga. Aku sekarang jam kosong. Aku tunggu kamu sampai selesai baru kita bicara yah? Bisa kan?" Rengek Sharen manja pada Riega.


Riega yang mendengarnya sudah merasa tak suka, dirinya benar-benar risih pada kelakuan Sharen itu. Rasanya jika tau guru baru yang pihak sekolahnya pilih itu seperti Sharen, ia akan lebih memilih mengajar sendiri sebagai guru seni tunggal di sekolah ini.


"Haiissh, iya yasudah awas. Jangan halangin aku lagi!" Ujar Riega langsung berlalu meninggalkan Sharen sendirian di ruang seni itu.


Sharen benar-benar merasa kesal dengan sikap Riega yang begitu dingin terhadapnya. Ia merasa sangat berbeda jika bicara dan bersikap di depan Sharen. Sharen merasa jika gadis bernama Caca itu bisa menghalangi dirinya berdekatan dengan Riega. Sekarang ada dua musuh yang harus Sharen hadapi. Pertama adalah Aruna, yang harus ia musnahkan karena masa lalunya yang menyakitkan. Kedua adalah Caca, gadis sialan yang berani-beraninya menunjukkan permusuhan di hadapannya.


"Caca, kau yang memulai permusuhan ini. Maka bermainlah denganku dan Aruna, kau masih bisa sedikit berbahagia karena Caca menghambat tugasku membalas dendam padamu. Tapi bila saatnya tiba, kamu akan kuhancurkan Nanaku sayang! Bitch!" Gumam Sharen sambil menatap sebuah lembaran usang yang di dalamnya terdapat sebuah potret anak kecil yang begitu imut, manis, dan lucu. Tapi di mata Sharen, potret gadis itu sangat menjijikan dan memuakkan.


Torehan senyum yang gadis kecil itu sunggingkan terasa bagaikan sebuah ejekan. Setiap tawa dan kebahagiaan yang gadis kecil itu rasakan adalah sebuah neraka baginya. Yah, potret gadis kecil di kertas usang itu adalah Aruna. Aruna kecil yang begitu bahagianya, tertawa menikmati masa kecil yang indah. Sedangkan dirinya? Harus begitu menahan penderitaan dibawah senyuman bahagia Aruna.


"Ciih, aku sangat membencimu gadis sialan" Gumam Sharen mendecih.


****


Caca yang saat ini sedang bebas. Karena guru mata pelajaran pertamanya sedang ada keperluan lain, alhasil kelas Caca mengalami kekosongan jam pelajaran:v


Caca bersama Aslan, sedang duduk berdua di bangku Caca. Mereka adalah sepasang kekasih yang di pertemukan dalam satu kelas yang sama. Alias Cinlok. Mereka berbincang berdua mengenai acara mereka semalam. Aslan mengajak Caca untuk berkaraoke bersama beberapa temannya. Itu sangat berkesan bagi mereka.


Caca masih mencari tahu beberapa info mengenai guru baru itu. Aslan kekasihnya memiliki teman yang ternyata lumayan mengetahui seluk beluk tentang Sharen itu.


"Yang, temen kamu si Rico itu aku boleh minta nomornya ga?"


"Loh, buat apa?" Tanya Aslan mengerutkan dahinya.


"Emm, aku mau ngobrol sama dia aja sih tentang semalem." Ujar Caca


"Tumben, kamu nyambung sama dia? Kamu mulai nyaman? Hem?" Tanya Aslan mulai curiga.


"Eh, enggak ko sayang. Aku cuma masih penasaran aja sama si Rico itu ada hubungan apa sama guru baru yang aku omongin semalam tuh"


"Siapa yang?" Tanya Aslan lupa.


"Itu loh, Bu Sharen tuh. Guru seni baru yang kemarin di gosipin sama Ka Riega"


"Oh, itu toh. Bener, kamu cuma mau cari tau itu doang?"


"Iyah lah, ngapain aku deketin Rico. Aku udah punya kamu aja bersyukur banget!" Ujar Caca meyakinkan kekasihnya itu sambil menggenggam tangan Aslan.


"Gombal deh. Iyah yaudh, ni nomornya yang aku kirim yah via WA" ucap Aslan sambil membuka handphonenya dan langsung mengirim no Rico ke Caca.


"Oke, makasih sayang. Nanti aku tunjukkin chatnya ke kamu biar kamu ga curigain aku!" Tutur Caca sambil tersenyum sumringah karena telah mendapatkan no Rico, orang yang semalam memberinya info yang mengejutkan mengenai Sharen itu.


"Sama-sama sayang! Nanti pulang bareng aku aja yah, tadi pagi aku liat kamu berangkat sama Pa Riega"


"Hehehe, oke baby siaaap!" Jawab Caca sambil mengedipka sebelah matanya pertanda setuju.


Mereka berdua meneruskan perbincangan tentang rencana setelah Ujian Akhir Semester nanti akan liburan kemana. Lumayan saja, libur selama beberapa minggu nanti, harus di manfaatkan dengan baik bersama kekasihnya itu.


Caca sudah memikirkan beberapa rencana untuk Sharen itu. Tapi, Caca ingin mengetahui terlebih dahulu siapa Sharen sebenarnya. Karena setelah mengetahui nama panjang Sharen yang hampir persis dengan Aruna, membuat dirinya semakin curiga dan benar-benar ingin tahu.


*****


"Nah, hri ini adalah pertemuan kita yang teeakhir sebelum Pagelaran Seni Teater yang minggu depan akan di selenggarakan dan setelah Pagelaran selesai, minggu depan akan dilaksankan UAS kalian harus siap-siap yah anak-anak!"


"Siap Pak!" Jawan mereka serentak.


"Oke, sekarang gladi kotor bareng saya biar saya tau kekurngan yang harus diperbaiki oleh kalian dan kelebihan kalian dimana. Sekarang saya bawa beberapa contoh properti yang di buat dengan tangan. Ini kreasi dari beberapa kakak kelas kalian tahun lalu"


"Waaah keren Pak. Itu kostum apa?"


"Ini waktu itu kostum untuk pemeran Putri Merak jadi ada beberapa motif burung merak dan ini ada properti Candi prambanan yang dibuat seperti miniaturnya" jelas Pa Riega.


"Waaah, keren-keren" ujar Fajar memuji hasil karya kakak kelasnya itu.


"Iyah, kalian harus bisa buat yang lebih keren daripada ini. Kalau nanti ada yang terbaik akan saya simpan sebagai pajangan dan sebagai referensi untuk adik kelas kalian. Oke? Apa ada yang mau di tanyakan?" Ujar Riega


"Emm, Pa Riega?" Panggil Aruna


"Iya Nana?" Sahut Riega sambil menyunggingkan senyum manisnya. Ia senang sekali kekasih hatinya itu memanggil dirinya.


"Kapan gladinya dimulai? Keburu waktunya habis nih!?" Tanya Aruna membalas senyuman pujaan hatinya itu.


"Oh, oke kita mulai sekarang aja. Sepertinya Nana sudah tidak sabaran untuk gladi!" Jawab Riega terkekeh.


Setelah kelompok Wisey melakukan gladinya, sekarang giliran kelompok yang di pimpin oleh Zein. Seperti yabg telah di diskusikan minggu kemarin, kelompok Zein mengambik tema Love and Hero.


Kisah perjuangan yang dipadu-padankan dengan kisah cinta. Begitu Romantis dan membuat beberapa teman-teman lain yang menyaksikannya tersenyum baper. Tak lupa di dalamnya Irgi masukan beberapa kata-kata motivasi dan kisah inspiratif yang bisa mereka petik sebagai pelajaran.


Riega menyaksikan penampilan kekasih hatinya yang cantik itu sungguh terkesan, tetapi dirinya tak bisa memungkiri kalau hatinya cemburu. Jelas saja, Riega menyaksikan Aruna harus berdansa bersama dengan Zein. Saling menatap penuh cinta meskipun itu hanya akting. Chemistry mereka sudah bagus tapi itu membuat Riega cemburu sekali, kupingnya memerah karena kesal. Apa lagi saat Adegan terakhir saat Zein tidal berhasil menyelamatkan Aruna hingga Aruna harus berpura-pura mati. Saat itu Zein menyesal dan harus menggendong Aruna. Saat itu juga Zein berpura-pura mengecup bibir Aruna. Meskipun tak sampai benar-benar mengecup itu membuat Riega naik darah.


Semua tepuk tangan diberikan untuk para pemeran dan seluruh murid kelas itu.


Saatnya Riega untuk memberikan penilaian apa yang kurang dan apa yang baiknya. Mereka harus menerima saran dari Riega.


"Oke, penampilan kalian semua sungguh luar biasa. Sekarang saatnya saya memberi penilaian untuk kedua kelompok" Riega menjedanya. Suasana dikelas hening dan menunggu Riega melanjutkan bicara.


"Untuk kelompok Wisey. Teater yang kalian tampilkan ini masuk ke dalam jenis teater modern. Luar bisa sekali dan ini kalian kemas dengan sangat apik. Penampilan kalian juga sesuai dengan perkembangan zaman sekarang dan cocok untuk anak-anak milenialls. Tepuk tangan untuk kelompok Wisey"


Kelas seketika bergemuruh sorak sorai atas penilaian dari Riega.


"Nah, untuk kekurangannya saya rasa hanya di beberapa orang saja tadi. Seperti Angel tadi sepertinya masih kurang hafal dengan dialognya. Harus lebih di latih lagi. Untuk Zafa harus bisa menempatkan posisi kamu itu ada dimana dan jangan sampai kamu membelakangi penonton. Blocking panggung kamu harus lebih di perhatikan lagi. Ah, iya Wisey?"


"Eh, iyah Pak?"


"Untuk sound effect atau Backsounnya apa sudab siap?"


"Oh, udah Pa udah kamu buat tinggal nanti kita coba latihan dengan itu"


"Oh oke kalau gitu. Mungkin itu aja sih kritik dan saran dari saya. Oke Angel dan Zafa? Kalian bisa kan?"


"Siap bisa Pak!" Jawab Zafa dan Angel serempak.


"Oke Pak makasih banyak" ucap Wisey.


"Sama-sama" Jawab Riega dengan tersenyum. Ia berhenti bicara sebentar sambil menuliskan sesuatu di buku nilai pegangan guru miliknya itu.


"Oke, lanjut ke kelompok Naufal Zein!" Ujar Riega.


"Iyah Pak!" Jawab Zein.


"Nah, buat kelompok Zein...." ujar Riega menjeda dan menempelkan pulpen di dagunya. Berpura-pura berfikir keras sambil matanya tertuju pada Aruna yang juga sedang memandangnya.


"Kenapa Pak? Kok lama?" Tanya Zein.


"Ah, iyah. Untuk kelompok Zein kisahnya liar biasa. Tema action plus cinta ini sangat menggugah penonton buat menyaksikanya dan kalian sangat-sangat kreatif sekali" ujar Riega.


"Nah, untuk kekurangan sebenarnya hanya di beberapa hal saja"


"Apa itu Pak?" Tanya Zein tak sabaran.


"Chemistry kalian terlalu berlebihan saat dansa dan kalai bisa saat ending adegan terakhir kalian jangan terlalu dekat kalau bisa adegan terakhir di rubah jangan ada adegan ciuman seperti itu!" Ujar Riega cepat dan lugas.


"Lah, bukannya bagus yah Pak? Chemistry kan harus bagus dan buat adegan terakhir itu kan... ga sampai beneran juga Pak!" Kilah Zein menggebu.


"Iyah saya tau Zein, tapi saya rasa di adegan terakhir terlalu vulgar juga ga enak dilihat mata!"


"Ah, ga ko Pak. Mereka semua baper ko!" Jawab Zein lagi.


"Yasudah-yasudah itu masukan saya saja. Kalau kalian tidak menerimanya juga tidak apa-apa!"


"Ih, Zein jangan gitu doong! Ada masukan harus di terima dengan baik apalagi dari guru!" Ujar Seli teman satu kelompoknya.


"Iyah deh iyh Sel. Jadi Irgi, ko sebagai scrip writernya mau di ubah gimana?"


"Eh, emm-emm... gimana kalau saat terakhir Aruna tiada itu, lo gendong aja dan lo nangis gitu tapi jangan sampai cium Aruna. Nanti effectnya ada bunga-bunga gitu yang di lempar-lemparin!" Jelas Irgi.


"Hemmm... Oke deh!" Jawab Zein setuju.


"Eh, tapii..." ujar Aruna.


"Tapi apa Nana?" Tanya Riega tak suka.


"Emm, ga deh Pak!" Jawab Nana takut.


Sebenarnya ia sengaja ingin membuat Riega cemburu dengan adegan tadi dan ternyata itu berhasil. Aruna merasa puas dan tersenyum lebar. Riega yang melihat itu hanya menatap dengan tatapan tajamnya hingga Aruna tak berani menatap kembali mata Riega.


Aruna tahu jika kekasihnya itu sedang kesal karena kelakuannya tadi.


'Aktingmu bagus Nana, hanya saja itu kamu lakukan sama orang lain! Bukan sama aku!' Batin Riega kesal.


Akhirnya Riegapun menutup sesi pembelajaran kali ini. Beberapa menit lagi memang akan berbunyi bel dan Riega sudah keluar dari kelas Aruna. Hatinya panas melihat adegan Aruna dengan Zein tadi.


To be Continue...


Hai hai...


Update lagiii💖


Like coment dan vote akuu😚😚😚