Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
14



"Aaaaah, Wisey umbel lo tuh meler semuaaaaaa!" Teriak Zein histeris melihat wajah Wisey dalam keadaan mengerikan.


"Apa sih lo tuh. Ceritanya baper abis tauuuuuu!"


"Aruna. Mata kamu sampai sembab gitu sih. Emang kamu juga ikut baper sama kaya Wisey yah?"


"Ceritanya sedih banget tauu dan juga menginspirasi banget tuh Zarimahnya. Aku kasihan banget sama Ibu Nirmala itu, dia pengorbananya besar banget sampe harus sebegitu menderitanya demi mempertahankan Zarimah meskipun anak hasil hal ga baik. Aku jadi inget mamah aku yang berjuang demi aku nih Sey, Zein"


"Iyah sama ko gue juga Na. Gue lebih ga nyangka ternyata Baqry sama si Zarimah itu kakak adik yang satu Bapak. Gue beneran sakit kalau jadi Baqry" ujar Wisey masih dengan mata sembabnya.


"Iya yah Sey. Lo bener juga. Tapi, si Baqry ikhlas banget yah dan dia berusaha menghilangkan rasa cintanya sama si Zarimah. Apalagi Zarimah cantik banget begitu" jawab Zein.


"Tapi aku ga habis pikir yah ternyata orang zaman dulu tuh sebegitu bobroknya kah? Sampai-sampai mereka di sebut dengan pemuda Madesu\=Masa Depan Suram" ujar Aruna.


"Iyah namanya juga dulu kan masih kurang tempat-tempat belajar juga dan mereka kaya gaptek dan buta sama aksara juga. Kecuali orang-orang tertentu yang emang mau bener-bener belajar" jelas Zein menganalisa.


"Bener banget lo Zein, tumben otak lo encer!" Ledek Wisey.


"Apaan sih Lo. Umbel noh! Mata bengep gitu udah kaya tawon endas tau ga sih mata lo tuh! Hahahahahhahah" ledek Zein tertawa terbahak-bahak merasa puas telah meledek Wisey.


"Uuuuh. Dasar yah cowo sialan!" Teriak Wisey merasa kesal ingin melempar boto minuman sisa menonton tadi.


"Eh,eh. Jangan Sey kalo kena orang gimana loh? Udah ah, mendingan kita pulang yuk! Udah malem juga kan"


"Iyah bener Na. Kamu balik sama siapa? Aku antar pulang aja yul!" Ajak Zein.


"Eh, terua gue balik sama siapa woy?" Teriak Wisey tak terima. Karena tadi yang mengajak nonton adalah Zein ia pun tak bawa duit untuk naik taksi ataupun ojek online.


"Ya jalan sono kek!"


"Eh, elo nih yah. Jadi cowo ga ada tanggung jawabnya amat!"


"Eh udah-udah. Kalian balik aja berdua duluan. Aku udah janji dijemput supir ko. Mamah ga izinin aku pulang sama orang lain apalagi cowo. Jadi kalian balik aja duluan yah!"


"Yaaaa.... padahal aku mau ketemu sama Camer loh Na!"


"Eeuuuh, apaan sih lo Zein. Udah buruan balik ah. Gue ngantuk nih! Nana gue sama Zein balik duluan yah. Gue udah ngantuk. Sampai ketemu besok Nana zhayaang!" Ajak Wisey menyeret Zein paksa.


"Eh-eh-eh apa apaan nih?" Gerutu Zein.


"Oke Wisey, Zein hati-hati di jalan. Sampai ketemu esok!" Ucap Aruna melambaikan tangan tanda berpisah pada Wisey dan Zein yang semakin menjauh.


"Aruna melihat jam ternyata sudah jam 20.45 sudah lumayan larut Pa Riega dimana yah?"


Aruna mengedarkan pandangan mencari dimana keberadaan kekasih hatinya itu. Aruna ingin menemui Pa Riega di tempat tadi, hanya saja ia takut bertemu dengan Bu Sharen lagi. Ia tidak suka dengan cara bicara Bu Sharen padanya.


"Sayang... kamu dimana sih ko lama banget. Hpnya ada di aku lagi" Aruna mulai merasa tak tenang karena sudah hampir setengah jam Aruna menunggu Riega. Keadaan di Alun-Alun memang masih lumahan ramai, tapi hanya ada beberapa orang saja.


Riega yang setelah tampil tadi langsung bergegas untuk pergi ganti baju harus di tunda karena ada briefing. Sebenarnya Riega ingin menolak karena ia khawatir sekali dengan Aruna dan ia tahu pasti itu membahas soal penampilan tadi dan Uang fee untuk para pemerab dan rekan-rekan lain yang terjun dalam pertunjukan ini.


Riega merasa hal itu tidak penting langsung berbicara langsung pada Anton selaku ketua untuk balik duluan. Riega mengganti kostum terlebih dahulu sebelum pulang dan ternyata ia harus bertemu kembali dengan Sharen yang saat itu keluar dari toilet.


"Riega? Mau kemana? Ga ikut briefing?"


"Ga aku buru-buru Ren"


"Loh, mau kemana Ga?"


"Balik!"


"Gimana tadi penampilan aku Ga?"


"Bagus. Cocok banget kamu jadi Ibunya Baqry. Hahahah" ujar Riega menyindir Sharen.


"Yasudah sana kamu ikut briefing nanti ga kebagian duit!"


"Ahahah oke, Ga bisa pulang bareng ga?"


"Ga bisa. Udah ah aku mau balik"


"Oke deh. Hati-hati Ga!"


"Yah"


Sharen pun berlalu dan Riega lamgsung mengganti bajunya. Selesai mengganti baju, Riega buru-buru untuk mencari Aruna.


Tempat yang pertama kali Riega cari adalah kursi tadi ia terakhir mengecup kening Aruna. Tapi nihil, ia tak menemukan Aruna. Tempat kedua adalah ia mencari di sekitaran kursi penonton, barangkali ia masih menunggunya di sana. Tapi sayang Aruna tak ada disana. Padahal setengah jam lalu Aruna mwnunggunya disana.


Riegapun berkeliling mencari Aruna. Hingga ke satu toko permen loli dan gulali (permen kapas). Riegapun menemukan Aruna disana sedang duduk Asyik sendiri memakan permen kapas berwarna pink bercampur biru muda. Dengan lahap ia memakanya hingga disudut-sudut bibirnya dipenuhi dengan remahan kecil permen kapas itu. Dimeja tempat ia makanpun ada beberapa permen loli warna-warni dan satu batang gulali besar berwarna pink.


Riega melihat itu dari jauh tersenyum sumringah telah menemukan kekasih hatinya dalam keadaan baik-baik saja. Ia langsung berjalan cepat mendekati Aruna.


"Aruna?"


"Eh, Pa Riega. Kemana aja sih? Sini ayo makan ini enak banget loh Pak!" Ajak Aruna menyodorkan gula kapas itu.


"Kamu kemana aja sih sayang? Dicari kemana-mana ga ada taunya di sini enak-enakan makan beginian."


"Habis enak sih Pak. Manis banget"


"Iyah kaya kamu kan sayang?"


"Hihihi bisa aja deh Ga" ujar Aruna tersipu malu.


"Yasudah ayo pulang sudah larut sayang"


"Nanti Riega tanggung nih"


"Gaada tanggung-tanggung ah. Ini sudah malam sayang nanti mamah cariin gimana?"


"Ah iyah yaudah sayang ayo pulang"


"Yaudah kamu habisin di mobil aja yah cantik"


"Iyah deh Ga. Bawain yah permennya yang itu!" Perintah Aruna pada Riega. Aruna berjalan meninggalkan Riega menuju ke parkiran sambil memakan gulali itu. Ia sangat menikmatinya.


"Haiish, untung aku sayang banget loh Na sama kamu" gumam Riega sambil mengambil permen dan gula-gula milik Aruna.


"Nih Mas plastiknya. Itu pacarnya ya Mas?" Tanya penjual gulali itu.


"Makasih Pak. Ah, iyah Pa dia kekasih saya"


"Si Mbanya baik banget, lucu lagi. Biasanya kalau perempuan suka gula-gula begitu dia sifatnya masih kekanak-kanakan dan butuh bimbingan juga. Jadi pas lah, cocok gitu sama Masnya yang udah dewasa begini. Semoga jodoh yah Mas."


"Ahahah, iya Pak makasih banyak yah. Semoga saja yah Pak. Aamiin terima kasih banyak Bapak!" Ujar Riega sambil berpamitan pada Bapak penjual gulali itu.


To be Continueee....


Haduh tangan aku lumayan capek siih 😂


Hihi aku usahakan kooo ini untuk update 3 episode supaya kalian bacanya lumayan. Ahiyah likenya jangan lupa. 💛


Aku merasa sedih kalau like kalian menurun begitu.. 💛