Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
34



Pagi tiba memberikan kesan tersendiri bagi setiap insan yang terbangun di pagi hari. Kesejukannya membawa ketenangan dalam relung jiwa. Aruna terbangun karena cahaya pagi menelusup masuk kesela-sela gordin kamarnya dan di susul dengan Wisey yang terbangun karena gerakan rusuh dari Aruna.


Aruna meregangkan tubuhnya. Wisey juga melakukan hal itu. Mereka tertawa bersamaan pagi ini.


"Bagaimana? Nyenyak tidur kah Wiseyku ini?" Tanya Aruna tersenyum manis.


"Ga!" Jawab Wisey cemberut.


"Loh loh, masih ngambek soal semalem?"


"Bukaaan Nana. Kamu tidur kaya kincir angin muter-muter kesana kemari!" Ujar Wisey dengan muka di buat seserius mungkin.


"Ah, aku ga gitu Sey! Aku ga pernah begitu kalau tidur anteng kok" Jawab Nana mengelak perkataan Wisey.


"Ahahaha, aku bercanda Nana sayang.. Ayo ah, mandi sudah siang takut telat ke sekolah!" Wisey mencubit pipi Aruna karena gemas pada sahabatanya itu dan ia langsung berdiri untuk menuju kamar mandi di kamar Nana agar tidak harus mandi di kamar sebelah.


"Uuuh, Wisey!" Teriak Nana kesal atas perbuatan Wisey yang mencubit pipinya dan ia langsung mengambil alih kamar mandinya.


'Haiissh, kalau tiap hari gini bisa darah tinggi nih aku. Dasar Wisey!' Batin Aruna terkekeh.


Aruna pun pergi menuju ke kamar mandi sebelah untuk melaksanakan ritual mandinya. Lumayan lama memang dan setelah selesai mandi serta bersiap, Aruna turun kebawah dan ternyata Wisey sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Bi Sumi yang tadinya ingin membuat sarapan malah tidak jadi karena Wisey melarangnya jadilah Bi Sumi mengerjakan hal lain di rumah itu.


Mereka berduapun sarapan sambil berbincang-bincang kecil mengenai pelajaran dan juga rencana mereka nanti malam untuk menonton film apa lagi. Setelah selesai sarapan mereka bersiap untuk berangkat kesekolah yang seperti biasa Pa Ramikanlah yang akan mengantar Aruna. Supir pribadi Mamah Riris yang ia rekrut sejak Aruna kecil.


Pa Ramikan adalah seorang Pria yang lumayan tua. Bisa diketahui melalui usianya yang saat ini sudah mencapai kepala lima. Pertama kali bertemu dengan Mamah Riris adalah ketika dirinya sedang luntang-lantung mencari pekerjaan tepatnya lima tahun yang lalu.


Mamah Riris yang adalah seorang wanita single parent dan sedang dalam keadaan susah baru saja pindah dari kota asalnya. Mamah Riris dan Aruna bertemu dengan Pa Ramikan yang saat itu adalah seorang pengangguran. Tapi bukan berarti Pa Ramikan tidak memiliki jiwa kamanusiaan. Pa Ramikan menolong Mamah Riris dan gadis kecilnya yaitu Aruna. Mencarikan tempat berteduh untuk mereka. Alhasil Mamah Riris dan Aruna di tunjukkan sebuah kontrakan yang bisa mereka tempati tidak begitu besar dan harganya terjangkau.


Riris sangat berterima kasih sekali akan hal itu. Mereka akhirnya berbincang dan saling memberikan kekuatan. Pa Ramikan begitu respect sekali dengan wanita seperti Riris. Wanita yang tegar dan mandiri. Riris memanglah berasal dari kalangan yang berada tetapi ia tidak mau menggunakan harta kedua orang tuanya di karenakan hal tertentu yang sampai saat dimana ia begitu menyesal telah menuruti semua permintaan Ayahnya untuk di jodohkan dengan seorang pria yang tak ia kenal bernama Rei Agus Defandra. Iyah, Rei Agus Defandra adalah nama ayah Aruna. Seorang yang memang tidak ia cintai awalnya, tetapi karena kehadiran Aruna, ia berusaha untuk mencintai suami yang di jodohkan oleh Ayahnya. Tetapi hanya ada penyesalan atas semua keputusannya itu.


Hingga saat dimana ia terpuruk, Riris memberanikan diri menghubungi Ayahnya itu dengan segenap keberaniannya. Riris meminta bantuan agar dirinya bisa mengelola perusahaan Ayahnya dan bisa mempekerjakan Pa Ramikan bersamanya sebagi bentuk terima kasihnya pada Pa Ramikan. Riris ingin menempatkan Pa Ramikan sebagai salah satu orang kepercayaan di kantornya, hanya saja Pa Ramikan menolak karena ia tak memiliki bassic seperti itu. Akhirnya Pa Ramikan bersedia untuk menjadi supir pribadi Riris dan ia menyetujuinya. Jadilah hingga sekarang ia mengabdi pada keluarga Aruna itu.


Sesampainya di sekolah, Aruna dan Wisey jalan bersama menuju kelasnya. Keadaan di sekolah begitu tenang tak ada keributan tak ada kebisingan. Serasa damai tak ada gangguan sama sekali.


"Naa.. damai banget yah kalo gini" ujar Wisey menghirup udara segar dipagi hari ini.


"Iyah Sey.." sahut Nana yang juga menghirup udara segar juga.


Merekapun berjalan bersama kekelasnya.


*****


Riega bangun kesiangan karena dirinya tak bisa tidur semalaman. Di kelopak matanya terdapat lingkaran hitam dan menjadi mata panda. Rambutnya benar-benar berantakan tak beraturan.


"Haiissssh... kesiangan! Aruna... lihat saja sayang..." Geram Riega sambil *** handphonenya karena saking kesalnya tak ada satupun kabar dari Aruna sama sekali. Ia membanting handphone di atas ranjang dan langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan menyegarkan tubuhnya yang begitu berantakan.


Riega tidak sarapan dan juga sama sekali tidak bisa fokus. Ia pergi ke sekolah seperti tidak ada gairah sama sekali. Tapi, ia berpikir untuk membalaskan semua rindunya pada Aruna. Ia berharap agar Aruna menyadari kesalahanya itu.


Sesampainya di sekolah. Riega telat sepuluh menit. Finger print yang ia lakukanpun nantinya malah akan membuat dirinya kena potongan gaji. Tapi biarkan, ia tak begitu memikirkan nominal uang yang ia pikirkan sekarang adalah Aruna. Hanya Aruna.


Ia begitu tergesa-gesa dan gerasak-gerusuk hingga beberapa sapaan dari guru lain yang menanyakan alasan dirinya telatpun tak ia ladeni. Ia langsung bergegas ke ruanganya disana tak terlihat sedikitpun tanda-tanda kehadiran Sharen.


'Ah, bodo amat masalah Sharen' Batin Riega kesal sekali.


Jam pelajaran pasti sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Untung saja hari ini ia tak kebagian jam mengajar pada jam pertama. Ia keluar dari ruang seni karena merasa lapar dan segera menuju ke kantin. Membeli segelas susu putih hangat dan sepotong roti. Ia menyantapnya di meja kantin sendirian sambil terus merasakan rindu yang ia pendam semalaman penuh. Matanya masih mengantuk, tapi dirinya harus tetap bekerja. Susu putih hangat itu sengaja ia minum agar menetralisir tubuhnya dari beberapa zat-zat yang ada di rokok.


Selesai menyantap sarapan kecilnya di kantin, ia menuju kembali ke ruang seni. Ia berfikir untuk memanggil Aruna saja ke ruangannya. Akhirnya ia memutuskan meminta bantuan dari salah satu siswa yang tak sengaja sedang berjalan menuju toilet untuk memanggil Aruna di kelasnya dengan alasan tugas. Murid itu pun menurut dan langsung menuju ke kelas Aruna.


Sesampainya di ruang seni Riega duduk santai di sofa dengan tenang karena tak ada gangguan dari si pengganggu Sharen. Riega memejamkan matanya sekadar memanjakan sedikit matanya yang berat karena kurang tidur semalam. Suara langkah kaki dan pintu terbuka telah terdengar di telinga Riega. Tapi ia masih malas membuka matanya ia yakin kalau yang datang adalah Aruna.


Dalam hitungan detik saja, Riega langsung merasakan pelukan hangat dari kekasihnya itu.


"Arunaa..." gumam Riega masih memejamkan matanya.


"..." tak ada sahutan dari seseorang yang memeluknya itu.


"Sayang...?" Panggil Riega lagi.


"..." tak ada jawaban juga dari seseorang yang memeluk dirinya itu. Ia akhirnya membuka matanya dan melihat gadis itu. Aruna memeluk dirinya dengan sangat erat sambil memejamkan mata dan meneteskan air matanya yang sudah mulai sedikit membasahi kemejanya itu.


Riega membalas pelukan Nana dan mencium puncak kepala Nana dengan begitu lembut sambil memejamkan matanya. Aruna yang menangis di dada bidang kekasihnya lalu bergumam pelan hampir tak terdengar.


"Aku merindukanmu Riega.."


"Aku lebih merindukanmu Arunaku.." jawab Riega mencium lagi puncak kepala Aruna dan membelai rambutnya penuh dengan kasih sayang.


Riega langsung melepas pelukan Nana dengan cepat dan menarik dagu Aruna. Mendekatkan wajah Aruna ke arahnya dan mereka saling tatap.


"Kamu ga tau seberapa kacaunya aku semalam Na!" Ujar Riega menatap tajam ke manik mata kekasihnya itu.


"Pffft.. mata panda" gumam Aruna meledek Riega yang terlihat kurang tidur.


"Kenapa kamu menghilang seperti di telan bumi? Sengaja? Huh?" Tanya Riega berusaha serius sambil menangkup kedua pipi Aruna yang saat ini wajah Aruna sudah benar-benar memerah di buatnya. Aruna tersipu dengan kelakuan Riega itu. Ternyata kekasih tampanya itu juga merindukannya.


"Tidak. Aku... aku... aku hanya menuruti perintah adikmu saja" jawab Aruna.


"Sebegitu nurutkah kamu sama Caca? Lalu kekasihmu dianggap apa?" Tanya Riega semakin gemas dengan sikap Aruna.


"Ya... K-kamu tetap kekasihku Riega. Tapi, kali ini beda dan..."


(Hmmpph) Riega langsung meraup bibir Aruna melahapnya dengan begitu bernafsu. Ia melampiaskan rasa rindunya dengan ciuman yang lumayan memompa jantung di pagi hari seperti itu.


"... dan aku benar-benar merindukanmu sayang" sambung Aruna di sela-sela nafas mereka yang saling beradu dengan begitu cepat.


"Aku.. Hmmpph.. jangan lakuin...hhmmmpph... ini lagi... sayanghhh... hmmpph" Riega berkata di sela-sela ciumannya yang memanas itu.


"Iyah.." jawab Aruna tersenyum dan mulai membalas setiap lumatan demi lumatan yang Riega berikan pada bibirnya.


Aruna mulai menikmati ciuman Riega. Ia merindukan sentuhan dari kekasihnya itu. Riega juga tau kalau Aruna merindukanya, bisa ia rasakan dengan respons Aruna saat membalas ciumannya yang begitu bernafsu itu. Riega begitu mencintai Aruna dirinya sangat kacau saat Aruna tak ada kabar sedikitpun darinya.


Karena saking nafsunya melumat dan **** bibir Aruna dengan semangat. Riega tak sengaja menggigit bibir Aruna yang kenyal itu. Ia merasakan begitu manisnya bibir Aruna. (seperti permen yupi saja:v) Sehingga Aruna terpaksa melepaskan ciuman dari Riega. Ia merasakan sakit di bibirnya.


"Uuummm.. Bapak kebiasaan gigit bibir aku terus!" Aruna memukul dada Riega limayan kencang.


"Aahhw.. iya sayang maaf bibir kamu maniiis banget!" Ujar Riega mengelus bibir itu dengan intens dengan ibu jarinya.


"Emangnya gulali" jawab Aruna.


"Beda! Ini lebih manis Nana...." Goda Riega pada Nana dan mulai mendekatkan lagi wajahnya pada Aruna.


"Eh eh eh!" Aruna menghentikan Riega dengan menahan bibir Riega dengan tlapak tangannya. Riega yang kesal karena di berhentikan saat ingi memulai aksinya itu langsung protes.


"Sayang aku mau lagi. Kamu harus kasih kompensasi buat aku karena kamu semalam aku ga bisa tidur nyenyak. Aku habisin tiga batang rokok dalam satu waktu. Aku rindu kamu Na. Rinduuuuu!" Ujar Riega meluapkan kekesalanya.


"Apa? Kamu habisin tiga batang rokok?" Tanya Aruna pada Riega yang saat ini bibirnya masih di tahan oleh tangannya.


"Iyah..." jawab Riega dengan mengerutkan alisnya.


"Aaaaw!" Teriak Riega dengan melengking menggema di ruang seni itu. Ia menahan sakit di bibirnya dengan mengusap-usap dengan jarinya.


Aruna menyentil bibir Riega denga jarinya begitu kencang sampai Riega memekik dengan kencang. Ia benar-benar kesal kekasihnya begitu nakal.


"Kamu nakal Pa. Kamu sampe habisin tiga batang rokok gitu. Kamu mikir ga sih? Itu ga baik. Aku ga suka kamu gitu lagi. Kamu tau kan aku benci liat kamu ngerokok Pa?"


"Ssst..stt...sst.." Riega menahan cerocosan Riega dengan telunjuknya.


"Iya iya iya maafkanlah pangeranmu ini yah wahai tuan puteri. Aku frustasi. Aku butuh kamu tapi kamu bahkan ga ada kabar sedikitpun dan...."


"...dan apa?" Tanya Aruna cepat.


"Dan ini semua karena ulah kamu!" Riega langsung mengunci Aruna. Lengan kekarnya langsung merangkul tubuh Aruna dengan kuat dan kembali meluapkan rasa rindunya. Mencium Aruna begitu intens. Aruna terkejut tetapi dirinya membalas lumatan Riega dan tangan Aruna mulai melingkar di tengkuk Riega. Membalas dan saling menikmati manisnya madu di bibir mereka.


Semakin Riega mencium dengan buas, Aruna semakin kuat mencengkeram leher Riega dan itu adalah salah satu trik Riega supaya Aruna semakin memancing nafsu lelakinya. Memuaskan dirinya meskipun hanya dalam sebuah bentuk penyatuan bibir.


Aruna melenguh dengan begitu manja dan terdengar begitu sexy di telinga Riega. Nafsunya semakin membuncah. Riega benar-benar sangat menikmati saat-saat seperti itu dan tak perlu merasa khawatir karena hari ini tak ada seorang pengganggu.


To be Continue....


Hiiii 😍


Aku up niiih readerskuuuuh 😍


Gimana hot ga nih😂


Aku masih belum berpengalaman 😶


Apalah daya jomblo halu sepertiku 😂


Beri like untuk Author jomblo ini supaya bahagia meskipun hanya seperti remahan-remahan ciki komo 😆