Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
11



(Kriing,, Kriiing,,)


Terdengar bunyi alarm jam yang tadi sebelum tidur telah Riega setting. Tangan Riega langsung refleks mematikan suaranya yang memekakan telinga. Tepat pukul 17.00 ia terbangun karena alarm itu. Ia segera bangkit dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhnya lagi meskipun sebelum tidur tadi ia sempat mandi karena harus mendinginkan tubuhnya. Menjinakan miliknya yang meronta-ronta. :v


Tak butuh waktu begitu lama, karena lelaki memang tidak seperti wanita yang jika sudah berjumpa dengan air malah seperti anak kecil. Lamaaaa sekali untuk mandi. Hanya lima belas menit saja ritual mandi yang Riega laksanakan berakhir. Dengan rambut yang masih basah dan di gelayuti tetesan air sisa ritualnya tadi. Riega melilitkan handuk di bagian pinggangnya. Menampakkan dada yang begitu bidang dan kekar. Masih ada sedikit sisa tetesan air yang terjun indah kebawah membuat tubuhnya yang indah semakin terlihat sexy.


"Huuufttt.. segar sekali!" Gumamnya sambil mengenakan pakaian dalamnya.


"Aruna sudah siap atau belum yah?" Tanyanya pada diri sendiri.


'Ah lebih baik segera berangkat, siapa tau dia belum siap-siap jadi bisa tunggu dia tanpa buru-buru lagi'


Riega langsung mengenakan setelan jasnya dengan rapih. Sebenarnya dia di beri seragam oleh pihak panitia teater, hanya saja dia ingin pergi menggunakan pakaian casual terlebih dahulu dengan Aruna dan saat nanti acara di mulai ia baru ganti baju dengan yang telah disediakan.


Selesai menyisir rambutnya dengan betelan ala Riega dan mengoleskan pomade andalanya, Riega segera bergegas mengambil kunci mobil miliknya. Sengaja ia membawa mobil karena ia tak mau Aruna kedinginan saat ia ajak naik motor. Apa lagi dia tak biasa terkena angin malam seperti ini. Riega tak mau Arunanya sakit.


Tepat jam 17.35 Riega mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Jarak rumahnya lumayan jauh dengan rumah Aruna. Tapi jarak rumah Aruna ke Alun-Alun kota lebih dekat.


Sampai di depan gerbang rumah Aruna. Ia merasa sedikit khawatir. Takut-takut calon mamah mertuanya tak mengizinkan Arunanya pergi. Tapi Riega berusaha memberanikan diri.


'Kalau belum di coba, siapa tau hasilnya?!' Batin Riega.


"Huuufftt" Riega membuang nafasnya dan mulai melangkahkan kaki menuruni mobilnya. Rasanya gugup sekali. Karena ini adalah kali pertamanya akan bertemu dengan mamah Aruna.


Saat sampai di depan pintu, Riega menekan bel.


(Dingdong!) Suara bel pertama yang Riega tekan terdengar.


(Dingdong!) Suara bel kedua yang Riega tekan. Ia menjedanya beberapa menit. Menunggu seseorang membukakan pintu. Saat tanganya hendak menekan bel yang ketiga, tiba-tiba saja pintu terbuka dan terlihat seorang wanita dengan pakaian sederhananya memberikan senyuman selamat datang.


"Ada yang bisa saya bantu Mas? Cari siapa yah?" Tanyanya sopan.


"Emm.. saya cari Aruna. Apa dia ada?"


"Oh, ada Mas. Tapi non Aruna lagi di kamarnya. Kayaknya masih tidur non Arunanya Mas" ujarnya dengan nada yang sopan memanggil Aruna dengan sebutan 'Non' yang dapat di artikan bahwa wanita di depanya adalah Asisten Rumah Tangga Aruna.


"Oh, begitu yah Bi. Saya Riega gurunya Aruna mau ajak dia keluar. Apa Mamahnya ada Bi?" Tanyanya sopan.


"Eh, masuk dulu Mas" Bi Sumi mempersilahkan Riega masuk sambil menuntunya menuju ruang tamu.


"Iyah Bi"


"Nyonya lagi ada tugas kerja Mas di luar kota. Silahkan duduk Mas. Masnya mau minum apa?"


"Oh gitu yah Bi sejak kapan? Ga usah repot-repot deh bi biar saya langsung berangkat" ujar Riega.


"Tadi pagi Mas. Yasudah kalau gitu Mas. Non Arunanya saya panggil dulu yah Mas."


"Eh, biar saya aja boleh ga Bi?"


"Em.." gumam Bi Sumi ragu.


"Saya ga akan macem-macem Bi. Dimana kamarnya Aruna Bi?"


"Yasudah Mas. Kamar non Aruna ada di atas Mas, yang ada gantungan pintunya"


"Oh oke Bi. Makasih" ujar Riega langsung berjalan menuju kamar Aruna.


(Tap-tap-tap) langkah kaki Riega dengan cepat menaiki anak tangga menuju kamar sang kekasih. Tak butuh waktu lama Riega sudah sampai di depan pintu kamar yang bertenggerkan sebuah gantungan pintu berwarna pink perpaduan putih yang bertuliskan nama dan tanggal kelahiranya. Disana tertera tulisan 'Kamar Wanita Cantik. Ketuk Sebelum Masuk!'


"Pufft,, lucu sekali kekasihku ini. Dia sadar diri ternyata kalau dia cantik" gumam Riega setelah membacanya dan langsung meggenggam knop pintu dan memutarnya perlahan tanpa suara. Ternyata pintunya tidak dikunci.


Perlahan ia mencari keberadaan Aruna dan ternyata dia masih berada di atas ranjang dengan terbungkus selimut panjangnya yang juga berwarna pink.


Tampak disana Aruna masih terpejam dan terbuai dengan mimpinya. Riega berjalan mendekati ranjang Aruna dan duduk di tepi ranjang. Memperhatikan bagaimana kekasihnya saat ini sedang tertidur. Wajah cantik nan teduhnya membuat tangan Riega refleks terangkat dan berusaha meraih pipi tirus itu.


Dengan perlahan dan penuh cinta, Riega mengelus pipi yang mulus itu.


"Emmm..." gumam Aruna merasakan ada yang mengganggu tidur nyenyaknya.


"Bangunlah wahai Wanita Cantik!" ujar Riega masih mengelus-elus pipi Aruna.


"Mah.. nanti ah, aku masih ngantuk niih!" Gumam Aruna lagi masih dengan mata terpejam cantik.


"Aku bukan mamahmu sayang. Aku ini calon suamimu. Ayo bangunlah kasih!" ujar Riega berbisik lembut di telinga Aruna.


Aruna yang merasakan ada suara lembut berbisik di telinganya merasa geli dan bulu kuduknya meremang. Aruna langsung membuka matanya dan melihat siapa yang membangunkanya.


"Aah, siapa sih. Geli tau!" kesal Aruna langsung membuka matanya dan matanya langsung tertuju pada wajah tampan kekasihnya itu.


"Eh, Pak Riega! Aah, ko masuk-masuk ke kamarku sih!" Ujar Aruna langsung bangun dan duduk menarik selimutnya menutupi tubuhnya yang sedang menggunakan tanktop saja tanpa bra.


"Aku lagi bangunin wanita cantik ini. Tidurnya seperti kelinci kecil, imut sekali!" Jawab Riega tersenyum dengan sumringah sambil memain-mainkan ujung hidung Aruna dengan jari telunjuknya.


"Iih, ko Bapak bisa masuk kamarku sih?" Tanya Aruna kesal masih dengan posisi menyandar di kepala ranjang dan membungkus diri dengan selimut.


"Kan aku tadi tanya ke Bibi kamu dan aku sudah izin sama dia sayangkuuu. Kamu jangan takut gitu dong! Ayo bangun, kamu jadi kan temani aku tampil di alun-alun?" Tanya Riega sambil menarik turun selimut Aruna.


"Iya iya iya sayang. Ya ampuun, jadi sensi gitu yah kalo bangun tidur kekasih ku ini. Padahal aku ini kekasihmu loh!" Ujar Riega sambil berdiri.


"Ya sudah sana keluar dulu Pak"


"Oke oke, aku keluar sayang. Tapi aku minta satu hal!"


"Apa?"


"Aku boleh gak... em... ituu.. sayang.. em?.." minta Riega ragu-ragu.


"Itu apa?" Tanya Aruna bingung.


"Em... itu tuh.." ujar Riega memain-mainkan matanya dan menunjuk dengan isyarat mulut yang di maju-majukan.


"Apa sih sayang. Ayo buruan, kamu ga mau telat kan?"


"Uuh, Aruna ga peka deh. Aku mau kiss kamu sayang. Kiiiiiss.." Rengek Riega manjaaa sekali.


"Hmm,, nanti deh ya Pak. Aku siap-siap dulu"


"Aahh, sayang ayo lah"


"Gak!" Aruna mulai kesal dan bangun dari ranjangnya masih dengan melilitkan selimut di tubuhnya takut Riega melihat benda sintal miliknya itu. Ia berusaha mendorong tubuh Riega yang kekar agar keluar dari kamarnya.


"Sayang.. ayo lah. Kalau ga mau kiss, aku mau kecup kening kamu aja deh sayang... boleh dong... Pleaaasseeee!" pinta Riega memohon.


"Ga mau. Pokonya aku mau siap-siap dulu!" Ujar Aruna masih berusaha mendorong tubuh Riega keluar sambil menahan rahang Riega dan menghindari bibir Riega yang terus berusaha menyosor bibir maupun wajahnya.


Dengan usaha yang begitu keras, akhirnya Aruna berhasil mendorong Riega keluar. Ia menutup pintu dan menguncinya. Tak berpikir lama, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sengaja ia menolak semua ajakan Riega untuk memadu bibir dan saling bertukar saliva. Karena jika hal itu terjadi akan sangat lama.


Aruna jika mandi akan sangat lama sekali. Karena ia memang tipikal wanita yang bersih. Jika mandi, paling cepat ia akan keluar dalam waktu 30 menit. Oleh karena itu Aruna bergegas mandi dan menghindar dari kekasihnya.


Riega yang kesal karena hasrat berciumanya ditolak mentah-mentah oleh Aruna, berjalan gontai menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Sambil menunggu Aruna mandi, Bi Sumi menyediakan beberapa camilan dan softdrink untuk Riega.


"Mas, ini minuman dan camilanya. Non Aruna biasanya mandinya lama Mas. Bibi juga mau pulang dulu sudah malam juga." Ujar Bi sumi halus.


"Eh, iyah Bi maaf merepotkan. Oh, yasudah hati-hati Bi" jawab Riega.


"Sama-sama Mas. Salam ke Non Aruna, pintu jangan lupa di kunci yah Mas" ujar Bi Sumi pamitan.


"Siap Bi nanti saya sampaikan" jawab Riega dan diangguki oleh Bi Sumi sambil berlalu.


"Hmm, wanita memang lama sekali yah ternyata jika dandan" gumam Riega sambil menenggak softdrinknya setelah kepergian Bi Sumi.


"Kenapa dia ga mau aku cium yah? Apa karna perlakuan aku tadi sore ke dia yah?" Gumam Riega bertanya pada dirinya sendiri ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dan memejamkan matanya. Mengingat kejadian tadi sore. Dirinya begitu berlebihan sampai membuat tanda merah dileher indah Aruna.


Saat Riega tenggelam dengan fikiran-fikiran anehnya tentang sikap Aruna tadi. Tiba-tiba saja, merasakan ada benda kenyal menempel di bibirnya. Rasa manis melekat pada bibirnya. Dingin sekali dirasakan oleh bibirnya. Ia masih memejamkan matanya. Ia hanya berfikir mungkin ini hanya khayalannya saja. Namun, perlahan benda kenyal itu melumat bibir Riega berusaha menyadarkan dirinya.


Riega mulai membuka matanya dan tepat di manik mata Aruna, pandanganya berhenti. Masih dengan posisi bibir saling menempel, Riega tidak percaya akan hal itu, tapi ia kembali memejamkan matanya seolah mengizinkan Aruna melanjutkan lumatanya.


Aruna berani melakukan hal itu karena dia tahu kalau Bi Sumi pasti sudah pulang jam segini.


Aruna yang saat ini posisinya membungkuk karena berusaha menjangkau bibir Riega yang sedang duduk. Akhirnya berusaha merubah posisi dengan berpangku pada Riega. Ia melanjutkan lumatan yang nikmat itu karena Riega telah mengizinkanya.


Sekarang Arunalah yang memimpin permainan itu. Ia terus melumatnya perlahan, begitu indah dan sensual. Aruna belajar dengan cepat mengenai trik **** bibir dalam beberapa hari ini dengan Riega.


Riega yang mulai terpancing kembali hasratnya, mulai membuka mata melirik sebentar ke arah Aruna yang sekarang juga sedang memejamkan matanya menikmati tiap decapan dan lumatanya. Ia membalas lumatan Aruna dan ia akhirnya mengambil alih kegiatan ciuman itu. Begitu buas Riega mencecapi tiap inci bibir Aruna, melumatnya, mengigit-gigit tipis bibir Aruna, saling beradu lidah dengan Aruna, bertukar saliva dengan kekasih cantiknya itu. Aruna mulai kehabisan oksigen. Ia mendorong perlahan dada bidang Riega.


"Huufft,, hufft,," suara deruan nafas mereka beradu.


"Aku.. kira kamu ga mau cium aku lagi.. huufttt.. sayanggh" ujar Riega ngos-ngosan.


"Shiiiappphaa yang bilanghh.. hmm?" Tanya Aruna mengelus rambut Riega. Membuat dirinya merasa nyaman dengan belaian lembut Aruna.


"Ga ada.. cuma aku takut aja"


"Yaudah-yaudah ayo kita berangkat Pak!"


"Ayo. Tapi jangan panggil Pak lagi, oke?"


"Oke sayang! Ah iya, nanti telpon mamah dulu yah minta izin ke mamah." Ujar Aruna.


"Oke, di mobil nanti sambil telpon yah"


"Eh, kamu bawa mobil?"


"Iyah sayang. Yaudah ayo berangkat! Kata Bi Sumi jangan lupa kunci pintunya sayang!" Ujar Riega sambil menggandeng tangan Aruna.


"Oke"


To be Continue..


Thanks buat para readers yang telah sabar menunggu. 💛


Aku berharap kalian tetap setia membaca ceritaku ini yaaaah 😊