
Malam kejadian dimana hilangnya Aruna. Pa Ramikan sabagai wali dari Aruna karena Mamah Riris sedang di tugaskan di luar kota diberikan penjelasan mengenai hilangnya Aruna. Pa Ramikan sungguh tercengang. Ia bingung apakah harus memberitahu keberadaan anak dari majikannya ini tengah hilang atau tidak. Pihak sekolah meminta agar keluarga Aruna tetap bersabar sampai pencarian selesai di lakukan.
Riega sebelumnya sudah mengabari pihak sekolah untuk tidak melaporkannya ke polisi. Riega memberitahukan kepada kepala sekolah agar tetap bersabar. Ini adalah tanggung jawabnya.
"Pak, tolong! Kabar hilangnya Aruna jangan sampai pihak yang berwajib turut campur!" Ujar Riega datar saat sambungan telpon terhubung.
"Tapi Pak, ini masalah serius kalau tidak di tangani polisi apa bisa selesai?" Kilah Kepala sekolah itu.
"Saya yang akan menyelesaikanya! Bapak tidak mau reputasi sekolah hancur, kan? Turuti kata-kata saya!" Ujar Riega lagi dengan nada datar yang benar-benar mengintimidasi. Hingga Kepala sekolahpun bungkam dibuatnya. Riega langsung mematikan sambungan telpon itu.
Kepala sekolah SMAN XIX juga memohon dengan sangat kepada keluarga Aruna untuk tidak melaporkan ke pihak yang berwajib. Kepala sekolah sampai memohon-mohon dengan sangat kepada Pa Ramikan saat itu. Ia juga menjelaskan hal itu adalah permintaan dari guru seninya.
"Siapa guru seni itu, Pak?" Tanya Pa Ramikan tak terima sekaligus penasaran.
"Pa Riega! Dia meminta agar kami tidak menghubungi Polisi. Dia yang akan bertanggung jawab!" Terang Bapak Kepala sekolah itu kelimpungan.
'Riega? Apa dia pacar Non Aruna?' Batin Pa Ramikan.
"Baik, bisa saya minta nomor handphone Pa Riega itu?" Tanya Pa Ramikan.
"Bisa-bisa. Bapak berbincang saja dulu dengan dia supaya lebih jelas!" Sahut Pa Kepsek dengan nada leganya.
"Baik. Kirim nomornya ke saya Pa segera! Saya permisi!" Ujar Pa Ramikan undur diri bersama Wisey.
Akhirnya Pa Ramikan memutuskan untuk pulang terlebih dulu ke rumah majikannya. Ia berbincang sebentar bersama Wisey saat berjalan hendak ke parkiran mobil.
"Bagaimana bisa terjadi Nak?"
"Saya juga tidak tahu pasti Pak! Tapi, Aruna hilang saat lampu sekolah padam semua histeris dan panik!" Jawab Wisey singkat.
"Baik saya Pulang dulu Nak."
"Hati-hati Pak. Tolong beri saya kabar tentang Aruna. Ah iya nanti saya antar seragam, handphone dan tas Aruna ke rumah sekalian saya mau dengar kabar baik dari Aruna besok Pak!" Ujar Wisey pada Pa Ramikan yang sudah masuk ke dalam mobil dan sudah bersiap untuk mengemudi.
"Baik Nak!" Jawab Pa Ramikan dan ia berlalu meninggalkan Wisey disana berdiri sendiri di tengah tempat parkir.
'Kemana lo sebenernya Na? Gue takut lo kenapa-napa!' Batin Wisey bersedih. Akhirnya ia berjalan menuju kelasnya dan membawa semua barang-barang Nana kerumahnya.
Pa Ramikan pulang dengan wajah yang tak bisa di tafsirkan. Ia duduk di kursi depan tempat ia biasa menikmati secangkir kopi setiap pagi sebelum mengantar Non Aruna.
"Non Aruna, kamu sudah Bapak anggap sebagai putri bapak sendiri. Dua hari lagi Nyonya Riris akan pulang. Bagaimana ini?" Gumam Pa Ramikan sambil mengusap wajahnya yang begitu bingung dan khawatir. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan akhirnya ia teringat dengan satu nama 'Riega'.
"Ah iya, guru seni itu. Kekasih Non Aruna. Apa sebenarnya yang terjadi?" Ujar Pa Ramikan menerka-nerka. Ia mulai membuka layar handphonenya perlahan ia melihat ada satu pesan masuk dari nomor kepala sekolah Aruna yang mengirimkan pesan berupa nomor Handphone Pa Riega.
Pa Ramikan langsung menekan opsi memanggil pada nomor Riega.
(Tuuuut,,tuuuuut,,) belum ada jawaban disana. Beberapa detik kemudian sambungan telpon itu terhubung. Riega sedang berada di kamarnya saat itu menikmati sebotol softdrinknya dan dalam keadaan tak bisa tidur memikirkan Aruna yang tengah hilang.
"Halo?" Sapa Pa Ramika.
"Ya Halo? Ini siapa?" Tanya Riega. Riega kira itu adalah orang yang menculik Aruna meminta tebusan uang, jika ia malam itu juga Riega akan berangkat dan membawa berapapun tebusan yang penculik itu minta. Sebuah nominal tak penting baginya, yang terpenting adalah keselamatan dari Aruna. Tapi semua itu hanya kekhawatirannya saja ternyata itu adalah..
"Saya Pa Ramikan! Supir Non Aruna!" Jawab Pa Ramikan.
"Ah, iyah Pak! Apa Bapak sudah tahu mengenai Aruna?" Jawab Riega sedikit kecewa.
"Iya saya sudah tau Nak! Kenapa saya tidak boleh menghubungi polisi? Bagaimana jika Non Aruna dalam bahaya?" Tanya Pa Ramikan mulai merubah nada bicaranya seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan keadaan anaknya.
"Pa, tenang dulu. Saya juga sedang berusaha mencari. Saya sudah tau siapa yang menculik Nana, tapi mereka bukan orang biasa. Ini bisa jadi berhubungan dengan masa lalu Aruna, Polisi belum tentu bisa menuntaskanya. Saya harap, Bapak juga tidak perlu memberirahu Mamah Riris!" Terang Riega sambil bersandar disofanya. Mengusap wajahnya dengan salah satu tanganya.
"Siapa mereka Nak? Nyonya Riris akan pulang dua hari lagi bagaimana jika Non Aruna belum kembali?" Tanya Pa Ramikan lagi.
"Saya janji tidak sampai lusa, menunggu Mamah Riris kembli, Aruna pasti akan saya bawa dengan keadaan utuh. Itu adalah janji saya pada Bapak dan diri saya sendiri! Kalau sampai saatnya nanti saya tak berhasil, nyawa saya ada di tangan Bapak!" Tutur Riega dengan penuh keyakinan. Ia berjanji pada Pa Ramikan dan dirinya sendiri.
"Baik! Saya pegang janji kamu Nak! Saya tidak berharap nyawa kamu ada di tangan saya Nak! Bawalah Aruna kembali!" Ujar Pa Ramikan berpesan pada Riega dan ia langsung memutuskan sambungan teleponya.
Pa Ramikan hampir meneteskan air matanya. Ia benar-benar menyayangi Aruna dengan sangat. Karena ia tahu, Aruna sangat kekurangan kasih sayang dari figur seorang Ayah. Sehingga sejak pertama kali bertemu dengan Aruna, Pa Ramikan sudah sangat menyayangi Aruna.
*****
Riega duduk di atas kap mobil jip, menunggu Aslan menemuinya di sana. Sambil menghubungi Team Intelijen dan meminta kepada mereka untuk memberikan kabar ke markas besar untuk mengirimkan 50 orang anggota pegulat. Ia berpesan pada Sarah dan Lira yang sedang memantau dari kejauhan di dalam mobil untuk mengirimkan mereka pada pukul 3 sore dan mereka sudah harus standby pukul 4 sore.
"Sarah, Lira! Kirimkan pesan ke markas besar untuk mengirim 50 orang agent lain. 20 orang anggota pegulat level sepuluh. Perintahkan untuk mereka membawa pedang katana bermata tajam! Minta Team pemodifikasi senjata memberikan setiap orang 2 katana sebagai senjata!" Ujar Riega pada Lira dan Sarah lah yang mengetikkan pesan itu. Riega berhenti sejenak berpikir untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.
"10 orang lagi dari anggota penembak jitu! Perintahkan mereka membawa masing-masing dua pistol pribadi mereka Glock 20 dan Desert Eagle. Bawa masing masing di saku mereka setidaknya 25 peluru untuk Glock 20 dan Desert Eagle jadi perorang jumlahnya 50 peluru! Jangan lupa, bawa satu saja senjata Mitraliur, Thompson Sub Machine Gun dengan 200 peluru! Masukkan ke dalam mobil Jip. Suruh mereka membawa dua mobil Jip saja!" Titah Riega lagi pada Lira dan Sarah yang mencatatnya.
"10 orang anggota pemanah! Perintahkan masing-masing dari mereka membawa setidaknya 20 panah beracun, satu belati masing-masing dan 20 shuriken mata tiga! Saya akan atur strategi perang dan akan saya kirimkan lewat system ke masing-masing anggota. Beri mereka alat komunikasi! Rencana penyerangan di percepat sore ini bukan malam!" Ujar Riega dengan air muka yang membara. Diotaknya saat ini sedang merekam setiap rencana dan strategi untuk menyerang Gedung sialan milik Sharen itu.
"Kapten! Anda meminta 50 anggota pegulat, tapi ini yang anda minta baru 40 orang!" Ujar Lira pada Riega.
"Ah, 10 orang lainnya cadangan mereka hanya standby di mobil membawa senjata mereka masing-masing. Jangan lupa bawa perlengkapan medis untuk antisipasi! Meruntuhkan Geng murahan seperti mereka tak perlu mengerahkan seluruh kekuatan kita! Mereka akan hancur lebur dengan sedikit anggota saja!" Pungkas Riega dengan semangatnya.
"Baik Kapten! Saya sudah kirimkan pesan ke markas. Saya tunggu Kapten mengirimkan skema pertempuran!" Tutur Sarah dengan wajah penuh rasa percaya diri bahwa Kaptenya selalu akan memenangi pertempuran.
"Tunggu saya merencanakan bersama Aslan dan akan saya kirimkan!" Ujar Riega dan memutus sambungan mereka.
"Kapten!" Sapa Aslan dengan suara pelan.
"Aslan duduk!" Titah Riega menyuruh Aslan untuk duduk di atas kap mobil jip paling ujung di parkiran itu bersamanya. Aslan sebelumnya sudah mengganti kostum dari pakaian koki menjadi pakaian serba hitam.
"Ada apa Kapt?!" Tanya Aslan to the point.
"Skema pertempuran kita di rubah. Bukan malam, tapi sore ini. Saya, kamu dan Caca akan ke hutan. Masalah di hutan itu mudah! Sekarang kita tinggal berfikir skema pertarungan di gedung ini!" Ujar Riega berhenti sambil membuka tabletnya dan berfikir.
"Sudah!"
"Anggota apa saja Kapt?" Tanya Aslan lagi bertanya pada Riega yang sedang mengutak-atik Tabletnya mengatur strategi perang.
"20 anggota pegulat dengan dua katana di masing-masing orang. 10 anggota penembak jitu dengan masing-masing dua pistol pribadi dan lima puluh amunisi peluru di masing-masing orang, Plus senjata Mitraliur dengan dua ratus amunisi peluru. Dua mobil Jip. 10 anggota pemanah dengan 20 anak panah beracun, 20 shuriken mata tiga, dan satu belati. 10 orang lainnya anggota cadangan penembak jitu sekaligus mereka pemegang peralatan medis." Terang Riega sambil terus fokus mengutak atik Tabletnya yang di layarnya ada denah lengkap Gedung Putih Gengster A itu.
"Sepertinya Anda sudah menemukan strateginya Kapten!" Ujar Aslan sambil melihat tablet Kaptenya itu. Tersenyum merasa begitu bangga bisa dipimpin oleh seorang Kapten seperti Riega. Guru Seninya saat di sekolah dan seorang Kapten saat di medan pertempuran.
Mereka terus berbincang hingga akhirnya menyepkati sebuah strategi luar biasa yang tak akan pernah terduga sebelumnya oleh anggota Gengster Mr. Alexander Dex.
*****
Tepat pukul empat, sore hari. Sharen keluar dari ruangan Mr.A setelah berbincang lama dengan kedua Momy dan Dadynya itu. Sharen memanggil salah satu anak buahnya bernama Panto.
"Panto?!" Teriak Sharen memanggil anak buahnya.
"Siap Tuan!" Sahut Panto dengan sigap.
"Apa semua sudah siap?" Tanya Sharen.
"Sudah Tuan!"
Caca mendengar hal itu dari balik dinding dapur langsung mengaktifkan alat komunikasi ke semua agentnya. Memerintahkan untuk selalu mengaktifkan alat komunikasi bila sewaktu-waktu ada hal penting.
"Panggil 15 orang saja untuk ikut ke hutan. 10 orang berjaga di luar rumah kosong itu dan 5 orang di dalam. Pasang kamera di setiap sudut ruangan! Aktifkan! Peralatan yang saya sebutkan tadi pagi masukkan ke dalam mobil! Kalian pergi duluan! Saya menyusul!" Titah Sharen dengan wajah penuh dengan amarah yang membara.
"Siap Tuan!" Jawab Panto dan ia langsung bergegas menjalankan tugasnya.
'Sesaat lagi, ajal akan menjemputmu Aruna!' Batin Sharen.
"Pelayan!" Teriak Sharen. Caca dan beberapa pelayan lainnya mendengar. Terkaget-kaget. Tapi Caca langsung maju untuk menemui Sharen. Pelayan lainya yang masih kaget itu langsung merasa lega.
"Siap Tuan!" Ujar Caca mendekati Sharen.
"Buatkan Susu putih! Cepat!"
"Iya Siap Tuan!" Jawab Caca langsung bertindak. Ia tahu sekali kalau susu putih ini nantinya akan di berikan racun dan diminumkan pada Aruna.
"Ini tuan!" Caca menyerahkan segelas susu putih kepada Sharen di atas nampan.
"Ini buka dan masukkan serbuk itu ke dalamnya!" Sharen menyerahkan sebuah pil berwarna hijau dan di dalamnya terdapat serbuk racun. Caca tahu pasti itu adalah racun, Caca sangat yakin.
Tapi Caca beruntung sekali kali ini, ia sudah menyiapkan pengganti dari racun itu. Ia memanfaatkan kelengahan Sharen. Ia memasukkan sebuah serbuk lain yang tentunya itu tidak berbahaya untuk Aruna jika nanti di minum. Itu adalah suplemen napsu makan pil yang juga berwarna hijau hampir sama persis jika di lihat.
Sebuah keberuntungan berpihak pada Caca. Ia langsung memasukkan pil racun itu ke dalam sakunya dan memasukkan pil suplemen napsu makan berwarna hijau itu ke dalam segelas susu putih.
"Lambat sekali! Cepat aduk!" Ujar Sharen mendelik ke arah Caca yang sedari tadi menunduk menyembunyikan wajahnya sambil berusaha mengganti racun itu dengan pil lain.
"Ah, iya Tuan!" Jawab Caca terkejut dan langsung mengaduk susu putih itu.
'Untuuung saja!' Batin Caca lega.
"Masukkan ke dalam botol dan serahkan pada saya! Antarkan ke mobil, saya akan segera berangkat! Saya sudah tidak sabar untuk menyiksanya!" Titah Sharen lagi langsung berlalu meninggalkan Caca yang masih berdiri di sana membawa segelas Susu mengandung suplemen napsu makan itu :v
"Akulah yang sudah tidak sabar menyikasmu Sharen!" Gumam Aruna menatap tajam kepergian Sharen dan Caca langsung memasukkan susu putih itu ke dalam botol dan menyerahkanya pada Sharen di mobil.
"Ini Tuan!" Caca menyerahkannya pada Sharen yang sudah duduk di atas mobil jipnya bersama salah satu anggota yang mengemudi.
"Thanks!" Ujar Sharen mengambilnya dari genggaman Caca.
"Tuan!" Panggil Caca iseng.
"Apa lagi?" Ujar Sharen dengan wajah tak suka.
"Semoga berhasil!" Ucap Caca sambil menundukkan kepala kepada Sharen. Bukan maksudnya menghormati, tapi ia berusaha menyembunyikan senyuman menghina pada Sharen. Ia hampir terbahak- bahak di hadapan Sharen saat itu juga. Ia benar-benar tak habis pikir. Ada saja, orang bodoh seperti wanita berwujud nenek lampir itu.
"Tenang saja! Aku pasti berhasil! Hahahhah" Sharen terbahak-bahak, difikirannya sudah terbayang wajah menderitanya Aruna.
Mobil Jip berlalu dari hadapan Caca menuju keluar gerbang gedung putih itu. Caca yang masih berdiri di sana langsung mengabari Kapten Riega dan yang lainnya untuk segera bersiap.
"Kapten! Pertempuran, Akan Segera Di mulai!" Ujar Caca Mantap.
To be Continue....
Guyss..... 😎
Merinding bulu romaku....
Bagaimana kelanjutannya? 😨
Aaaaaaah, aku juga penasaran niiiccch 😆
Like yaaah.. 😍
Beri Rating di deskripsinya 😍
🌟 🌟 🌟 🌟 🌟
Kaaih Bintaaaaaang ❤
Coment yah aku seneng bacain comentan kalian 😄