Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
59



Aruna kembali hadir di lingkungan sekolahnya. Hal itu membuat heboh guru-guru dan beberapa murid yang mengetahui jika Aruna telah hilang pada malam pementasan hari itu.


Aruna datang bersama dengan Wisey di antar oleh Pa Ramikan. Beberapa teman sekelas Aruna yang mengetahui kejadian itu langsung mendekatinya dan dengan tergesa-gesa mengajak Aruna menuju kekelasnya.


Pagi ini seperti ada sebuah berita terhangat yang datang dari murid terpintar dan tercantik di kelas itu.


"Astaga, Nana... i-ini... kamu, Na?" Tanya Zein dengan terbata-bata dan juga mata yang berkaca-kaca dikarenak memang dirinyalah yang merasakan langsung bagaimana rasanya di bekap dan ia mengetahui jika Aruna yang telah hilang menjadi seorang sandera. Jelas saja, Zein merasa trauma.


"Iya Zein, ini aku Aruna.." sahut Aruna dengan wajah yang berseri dan senyuman yang terus terukir jelas di wajahnya.


"Ka-kamu baik-baik aja kan, ga ada yang luka, kamu juga..."


"Ku baik-baik aja Zein, kamu ga perlu khawatir yah.." potong Aruna berusaha menenangkan Zein yang ia tahu dari Wisey kalau Zeinlah yang lebih dulu di bekap dan Zein trauma akan hal itu.


Ucapan Aruna juga terpotong oleh Zein, karena dengan begitu cepatnya Zein mengambil alih tubuh Aruna dan memeluknya dengan begitu erat.


Wisey dan teman-teman yang pagi itu baru datang beberapa saja langsung di buat terkejut oleh kejadian itu.


"Kamu jangan pergi lagi, Na. Aku takut kamu kenapa-napa. Ak-aku juga ga akan biarin kejadian seperti kemarin terulang lagi" Ujar Zein dengan lembut pada Aruna yang masih ia dekap.


"Emm.. Zein--" Aruna berusaha mengendurkan pelukan Zein ia merasa risih karena banyak mata yang memandangnya.


"Kamu ga perlu khawatir yah, aku baik-baik aja ko. Dan lagi, aku akan mulai ikut latihan supaya bisa lindungin diri aku dan orang di sekitarku.." jelas Aruna dengan wajah yang sumringah.


"Benar?"


"Iya Zein.. Yaudah, kita ke tempat duduk yah.. Ga enak di liatin teman-teman" Ajak Aruna pada Zein dan juga Wisey yang sempat mematung melihat kejadian itu.


"Ah-iya, Na" Sahut Wisey yang tersadar dari lamunanya.


Setelah kejadian berpelukan antara Zein dan Aruna di depan kelas tadi, semua kembali seperti semula. Teman-teman sekelas Aruna mulai menanyakan kabar Aruna dan beberapa hal yang menurut mereka menjadi sebuah informasi yang penting.


***


Bel sekolah berbunyi pertanda pelajaran akan segera di mulai. Satu temannya memberi tahu Aruna, jika dirinya di panggil ke ruang kepala sekolah.


Aruna langsung menuju kesana. Ia berjalan dengan santai sambil menghirup udara pagi yang masih begitu segar. Ia berjalan melewati koridor sambil menatap ke arah lapangan tempat dimana dirinya di bekap dan dibius.


Ia mulai merasa pusing mengingat hal itu. Ia mulai berjalan perlahan sambil berusaha menenangkan diri agar fikiranya tidak mengingat-ingat penyiksaan yang dilakukan oleh Sharen dan anak buahnya itu.


'Tenang Aruna..!' Batinya berusaha menenangkan diri.


Aruna juga pasti merasa trauma akan hal yang menimpanya. Jelas saja, betapa kejamnya para penjahat-penjahat itu. Tapi, Aruna berusaha mengendalikan dirinya sebisa mungkin.


Sesampainya Aruna di ruang kepala sekolah, ia beranjak masuk dan disana ada Pa Riega. Kekasihnya yang sedang duduk berhadapan dengan kepala sekolahnya. Mereka entah sedang membicarakan hal apa. Aruna di persilahkan masuk dan ia duduk di kursi sebelah Riega.


Ia merasa sedikit canggung berada di samping Riega. Bukan karena apa-apa. Baru kali ini ia dihadapkan dengan kepala sekolahnya bersama Riega yang pada kenyataanya mereka berdua adalah sepasang kekasih. Aruna terkikik di dalam benaknya. Ia membayangkan kalau dirinya ini ketahuan berpacaran di sekolah dan sedang di interogasi bersama kekasihnya.


"Aruna.." Panggil Pa Agus membuyarkan lamunanya.


"I-iya Pa?" Aruna tersentak oleh panggilan kepala sekolahnya itu, karena ia sedang melamun.


"Kamu baik-baik aja kan, Aruna?" Tanya Pa Agus merasa khawatir melihat Aruna melamun. Ia takut jika muridnya ini terganggu psikisnya karena kejadian berbahaya yang menimpanya.


"Ah, saya baik-baik aja ko Pak." Jawab Aruna berusaha fokus dan santai.


"Benar?"


"Iya benar Pak!" Jawab Aruna lagi berusaha meyakinkan kepala sekolahnya itu.


"Syukurlah.. Aruna, Saya dan Pa Riega sudah sedikit berbincang. Mengenai kejadian penculikan yang kamu alami, saya memohon maaf atas segala ketidak nyamanan yang kamu alami di sekolah ini. Saya juga memohon maaf karena pihak sekolah tidak bisa membantu banyak terhadap kamu. Pa Riega ini yang meminta pihak sekolah agar tak bersangkutan dengan pihak berwajib. Dan..."


"..." Aruna dan Riega hanya terdiam menunggu kelnjutan dari ucapan Pa Agus.


"Dan untungnya Pa Riega berhasil menyelamatkan kamu dengan keadaan selamat. Sekali lagi saya mohon maaf atas kejadian kemarin, Aruna.." Terang Pa Agus dengan ekspresi wajah yang bersungguh-sungguh.


"Pa, kejadian kemarin bukan salah pihak sekolah atau siapapun. Lagi pula, kejadian seperti itu juga ga ada yang bisa menduga-duga kan Pak. Menurut saya itu adalah kehendak Tuhan yang ga bisa kita tolak ataupun hindari. Saya ga menyalahkan siapapun dalam peristiwa saat itu..." Aruna menjeda kalimatnya ia mulai merasakan hawa panas pada bagian matanya. Tapi ia berusaha menahannya agar tak menetes.


"Malah, saya mendapatkan banyak pembelajaran dan juga saya bisa tahu rahasia-rahasia yang sebenarnya dalam hidup saya ini Pak. Saya berterima kasih sekali pada pihak sekolah terlebih lagi untuk Pak Riega, yang sudah bersusah payah menyelamatkan saya dan saya benar-benar bersyukur karena Pak Riega datang tepat pada waktunya. Sekali lagi terima kasih Pak Agus dan juga Pa Riega" tutur Aruna dengan mata yang berkaca-kaca. Tapi, ia berusaha tegar.


"..." Pa Agus dan Riega menyunggingkan senyumannya. Riega merangkul bahu Aruna berusaha menguatkan murid sekaligus kekasih rahasianya.


Riega benar-benar bangga karena kekasihnya benar-benar tegar dan bisa menerima takdir dengan lapang dada sekali. Riega akan selalu berusaha menguatkan Aruna dan akan selalu melindungi Aruna kapanpun dan dimanapun.


***


Selesai berbincang singkat dengan Pa Agus selaku kepala sekolah, Aruna tak langsung menuju ke kelasnya. Ia di ajak Riega untuk ke ruangannya terlebih dahulu. Riega sudah menyiapkan sesuatu untuk Aruna.


Setelah jalan berdua layaknya seorang guru dan murid, mereka tiba di ruang seni. Aruna merasa benar -benar canggung. Mereka berdua masuk dan suasana tiba-tiba berubah hening. Riega duduk di kursi kerjanya dan Aruna duduk di sofa ruang seni. Tak ada yang membuka pembicaraan selama beberapa menit.


Hingga Riega memulai lebih dulu karena dirinyalah yang mengajak gadis kecilnya itu ke ruang seni.


"Nana?!"


"Sudah sembuh semua memarnya?" Tanya Riega.


"Em, udah lumayan ko Pak. Semalam Wisey ke rumah dan bantu aku olesin salepnya" Ujar Aruna.


"Syukurlah. Udah sarapan?"


"Udah Pak. Wisey yang masak"


"Emm,, Aruna?!" Panggil Riega lagi dengan lembut.


"Ya Pak?"


"Kamu udah siap...?" Tanya Riega dengan ragu.


"..." Aruna hanya terdiam bingung dengan pertanyaan kekasihnya.


"Untuk-jalanin latihan di markas?" Tanya Riega lagi dengan hati-hati.


"Aku siap Pak! Aku udah janji sesuatu sama Paman Al"


"Janji?" Tanya Riega bingung dan ia mulai mendekat dan pindah posisi di samping Aruna.


"Iyah janji!" Ulang Aruna lagi meyakinkan.


"Janji apa sayang?" Tanya Riega.


"Rahasia."


"Pelit! kasih tau aku dong!" Pinta Riega.


"Ga mau Riega! Yaudah aku mau ke kelas, mau belajar!" Aruna berdiri dan ingin keluar dari ruang seni tapi di tahan oleh Riega.


"Bentar sayang.." Riega menggenggam tangan Aruna dan menuntunnya agar duduk di sampingnya lagi.


"Kenapa Riega?"


"Aku ada sesuatu buat kamu.. Tunggu bentar!" Uhar Riega bersemangat.


"..." Aruna hanya diam dan melihat gerak-gerik kekasihnya itu. Riega sangat bersemangat mengambil barang yang akan di berikan pada Aruna.


"Nah, ini dia!" Gumama Riega sambil menggenggam sesuatu untuk Aruna dan ia berjalan perlahan mendekati Aruna.


"Apa itu, Ga?" Tanya Aruna penasaran melihat barang yang di genggam Riega.


"Tutup mata dulu dong!" Pinta Riega sambil menyunggingkan senyum dan mengedipkan sebelah matanya. Riega menyembunyikan kedua tangannya yang menggenggam barang itu di balik tubuhnya.


"Uuuh, iya deh iya!" Aruna langsung memejamkan matanya meski ia merasa sedikit kesal pada sikap jail Riega.


Riega berjalan mendekat ke sofa dan ia mulai duduk di sebelah Aruna.


"Nah, sekarang buka matanya!" Titah Riega yang di tangannya sudah terdapat sebuah pembungkus hitam.


"Hah? Apa ini Pak?" Tanya Aruna kebingungan menatap bergantian ke arah Riega dan tangannya.


"Ambil aja di buka dulu sayang.." ujar Riega lembut.


"..." Aruna mulai mengambilnya tanpa bersuara. Ia benar-benar penasaran apa sebenarnya barang yang ada di dalam sebuah pembungkus kain hitam itu.


Saat ia ambil, itu terasa begitu berat sepertinya jika di timbang beratnya mencapai setengah hingga satu kilo gram. Ia mencoba menerka-nerka tapi rasanya ia tak tahu apa isinya.


Di balik pembungkus kain hitam itu adalah sebuah kotak kayu. Berbentuk balok dan ada sebuah gembok yang menguncinya.


Saat ia buka perlahan gemboknya dan terbukalah penutup kotak kayu itu. Ternyata di dalamnya ada sebuah senjata api. Pistol.


Ya, itu adalah pistol. Aruna terperangah, tak bisa berkata-kata. Ia berusaha membuka mulutnya dengan terbata-bata.


"I-ini a-aku. Maksudnya bu-buat aku gitu Pak?" Tanyanya.


"Iyah sayang" jawab Riega mengusap lembut pipi Aruna.


"Ta-tapi Pak. I-ini a-aku sim---"


"Sst, jangan khawatir. Ini pistol punyaku. Bisa di bilang kesayanganku. Dia aku dapat dari Paman Al. Ini aku kasih kamu untuk kamu latihan nanti. Besok kamu udah harus izin sekolah dan pergi ke markas. Gunain senjata ini dengan baik. Sebelum gunain pistol ini, kamu adaptasi dulu sama bentuk dan beratnya. Aku harap kamu bisa sayang! Harus semangat!" Ujar Riega memotong kalimat Aruna.


setelah selesai menjelaskan sekaligus memberikan dorongan semangat, Riega mengecup kening Aruna begitu lembut.


Aruna memejamkan matanya berusaha merasakan kehangatan yang menjalar seketika ke seluruh tubuhnya. Hatinya menghangat, ada sebuah semangat dan ada rasa senang karena kekasihnya mendukung dirinya mencapai sebuah target yang di berikan padanya.


Aruna tersenyum penuh dengan kepercayaan diri.


To be Continue....