Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
62



Setelah keluar dari ruangan, Caca Aslan dan Aruna. Mereka bertiga berjalan beriringan. Tak ada perbincangan sama sekali. Aruna benar-benar merasa bersalah dengan keputusannya yang tak menceritakan sedikitpun tentang permasalahan itu pada Riega. Entah apa yang Caca dan Aslan pikirkan saat ini di sebelahnya.


Aruna hanya mengikuti kemana arah langkah kaki Caca dan Aslan. Setelah ia sadar, ternyata Caca menuntun mereka ke taman belakang markas. Disatu kursi taman yang berwarna putih itu, mereka bertiga duduk. Selama beberapa menit, mereka terdiam. Tak ada yang berniat angkat bicara.


"Na?" Panggil Caca setelah beberapa menit waktu berlalu.


"Ya Ca?" Sahut Aruna pelan.


"Lo sadar ga, Na?" Tanya Caca membuat Aruna yang di tanya langsung menaikkan satu alisnya. Aruna tak menyahut.


"Lo sadar ga, kalo peltihan ini tuh ga gampang dan lo seenaknya mutusin nerima perjanjian sama Paman sendirian tanpa berunding sama Ka Riega?!" Tanya Caca dengan nada bicara yang tak biasa.


"Ca, kalau aku ga terima perjanjian itu aku ga bisa lagi milikin Riega, Ca.." Jawab Aruna lesu hatinya mulai tumbuh penyesalan, matanya mulai terasa panas.


"Tapi seenggaknya lo bilang sama Bang Riega, Na! Dia pasti punya jalan keluar. Kalau gini, lo apa bisa mastiin lo bakal bisa nguasain semua teknik yang kita latih dengan senjata dan semua jenis peralatan yang bahkan lo sebelumnya belum pegang dan mungkin lo belum pernah liat, Na!" Jelas Aslan dengan pelan sebisa mungkin ia tak membuat Nana tersentak.


"..." Aruna hanya terdiam menunduk ia tak bisa berkata apapun, ia mulai menitikkan air matanya perlahan. Hatinya sesak, kenapa ia tak dari awal berpikir seperti itu. Kenapa ia dengan begitu confidentnya meng-iya-kan perjanjian dari Paman Al tanpa memikirkan resiko yang harus ia terima di kemudian hari.


Arunapun tak bisa memprediksi apa dirinya akan mampu atau tidak. Apa yang dikatakan oleh Aslan ada benarnya juga. Ia semakin terisak, tangannya mulai mengusap pelan pipinya sendiri berusaha menyingkirkan bulir-bulir air matanya itu.


Entah sesuatu apa yang memasuki hatinya, seketika ia langsung memiliki keyakinan dan semangat yang membara.


"Aku pasti bisa Ca, Lan! Aku yakin aku bisa! Semuanya bakal tercapai kalau aku berusaha dan kalian bantu aku buat mewujudkan pencapaian itu Ca, Lan!" Ucap Aruna menggenggam tangan Caca berusaha meyakinkan dirinya agar tak selemah yang biasanya. Sekarang ia harus kuat dan bisa mengandalkan dirinya sendiri


"..." Caca dan Aslan tak menjawab.


"Paman Al percaya sama aku, itu artinya dia udah memprediksi kalau aku bisa. Aku juga harus bisa memanfaatkan kepercayaan Paman Al dan ga buat dia kecewa sama aku Ca, Lan! Kalian mau kan bantu aku?" Pinta Aruna.


"..." Caca dan Aslan hanya menganggukkan kepala. Caca yang melihat wajah Aruna yang begitu yakin, langsung merentangkan kedua tangannya dan memeluk Aruna berusaha menguatkan kekasih dari Kakanya itu.


Caca juga tak mau Aruna gagal, Caca hanya ingin melihat Aruna dan Kakanya bisa bersama sampai kapanpun.


Setelah sesi berpelukan itu, Caca memberikan sarab pada Aruna.


"Sekarang lo cari Ka Riega, dan tenangin dia. Gue yakin hatinya lagi galau pikirannya ga beres!" Titah Caca menggenggam tangan Aruna lembut.


"Iya Ca" Aruna menjawab dan menganggukkan kepalanya.


"Na, Ka Riega pasti di kamarnya!" Sambung Caca lagi menginfokan pada Aruna yang sudah berjalan beberapa langkah dari kursi taman yang mereka tempati.


"Oke Ca!" Sahut Aruna berjalan masuk hendak menuju ke tempat yang Caca beri tahu.


***


Riega yang setelah keluar dari ruangan Pamannya tadi tanpa sopan santun sedikitpun sedang merilexkan tubuhnya di kamar pribadi markas. Ia berusaha menenangkan dirinya yang saat ini fikiranya sedang sangat kalut.


Ia membuka baju kemejanya yang sedari tadi membalut tubuhnya. Riega meletakkannya sembarang di sofa. Ia hanya mengenakan kaos dalamnya saja menampakkan tubuh atletisnya yang begitu memesona.


Riega benar-benar tak menyangka kalau kekasihnya yang memang ceroboh itu bisa sangat-sangat-sangat sembrono berkali-kali lipat dalam mengambil keputusan. Aruna mempertaruhlan hubungannya dengan pelatihan yang akan dijalani.


"Haaaaaaaaaah!" Riega berteriak frustasi sambil mengacak rambutnya dan mengacak-acak bedcover yang awalnya rapi menjadi berantakan.


"Kenapa Aruna bisa setuju sama perjanjian ga masuk akal begitu, sih?!" teriak Riega lagi.


"Sekarang aoa yang harus gue lakuin!?"


"Ayo, Ga! Ayo! Mikir!!!" Teriak Riega lagi tangannya terus megacak-acak rambutnya.


Dengan hanya mengenakan kaos dalam berwarna putih, ia berdiri di tepi pembatas balkon. Angin menerpa-nerpa kulit wajah dan rambutnya terkibas-kibas.


Satu tangannya merogoh saku celana, terdapat roko disana ia mulai mengambilnya dan menjepitkan satu puntung roko di bibirnya. Dengan sekali klik, korek api itu telah menyulut ujung roko milik Riega. Asap mulai berkepul dan tertiup angin.


Sudah menjadi kebiasaan jika Riega sedang frustasi pasti ia meroko.


Saat ia sedang hendak menghisap kembali rokonya dan mengepulkannya asapnya lagi, tiba-tiba saja ada sepasang tangan yang merangkul tubuhnya dari belakang.


Riega jelas saja tahu, siapa lagi kalau bukan kekasih mungilnya. Aruna.


Tapi, Riega hanya diam saja berusaha mengabaikan kedatangan Aruna. Selama beberapa menit, Aruna hanya menikmati harum tubuh Riega yang saat itu sedang ia peluk. Sedangkan Riega masih terus asyik bercumbu dengan sepuntung roko miliknya.


"Uhuk-uhuk!" Aruna mulai terbatuk-batuk.


Riega hanya diam.


"Uhuk! Ga, kamu berhenti dulu ngerokonya yah?" Gumam Aruna masih memeluk Riega.


"..." Riega hanya diam


"Ga, kamu ga sayang sama aku yah? Mau buat aku mati muda gara-gara roko?" Tanya Aruna mulai kesal dan melonggarkan pelukannya.


Riega mulai merespon Aruna, ia membalikkan tubuhnya yang hanya mengenakan kaos dalamnya. Tapi, Aruna tetap melingkarkan tangannya pada tubuh Riega dan Aruna mendongakkan wajahnya menatap dengan seksama wajah kekasihnya yang masih menghisap rokonya.


"Kenapa?" Tanya Riega ketus.


"Kamu lebih sayang sama rokomu yah, dari pada aku?" Rengek Aruna mengencangkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada Riega.


"Ngga gitu, ini baru aja aku nyalain yang--"


"Berarti iya, sayangkan kalau di buang?" Ujar Aruna masih dengan memeluk tubuh Riega.


"Hmm, iya deh aku matiin nih!" Riega langsung melemparkan ke lantai puntung roko yang baru beberapa kali ia hisap.


"Terus sekarang ngapain peluk-peluk gini?" Ucap Riega dengan nada yang masih sama ketus dari sebelumnya.


Aruna mengangkat kepalanya dan masih tetap memeluk Riega seperti seorang anak kecil yang memohon dibelikan permen gulali oleh Ibunya, seraya berkata.


"Aku minta maaf Ga..." Bujuk Aruna dengan memasang wajah memohon.


"..." Riega hanya diam bahkan ia tak membalas tatapan Aruna.


"Gaa.. Aku minta maaf yaaah.." rengek Aruna mengendurkan pelukannya dan jari-jemarinya mulai menarik-narik kaos dalan Riega pelan agar sang empunya membalas tatapannya.


"Na! Kamu buat aku kecewa tau!" Sentak Riega melepaskan lingkaran tangan Aruna dan ia meninggalkan Aruna begitu saja di balkon kamarnya.


Riega langsung berjalan menuju sofa empuk miliknya dan membaringkan tubuh di atas sana. Sedangkan Aruna masih berdiri diam, berusaha membendung tangisannya. Kali ini ia tak boleh menangis, ia harus sebisa mungkin membujuk lelakinya itu agar memaafkan dirinya dan dia bisa mulai latihan tanpa ada beban di fikirannya.


Aruna memantapkan dirinya dan perlahan-lahan melangkah mendekat ke tsmpat dimana posisi Riega sekarang rebahan.


To be Continue..


Hola guys.. maaf sekali aku lama upnya 😔


tapi semoga saja kalian tetap setia membaca cerita ini dan jangan lupa beri like dan cometnnya, juga vote yaah 🤗 😇