Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
67



Sekembalinya Riega beserta William ke hotel, Riega meminta William ke ruangannya. Ia sudah menyusun babyaj rencana di kepalanya, dannia harus segera memberikan William gambaran besar atas rencananya itu.


"Will, tolong segera hubungi team Intelligen agar segera mengirim beberapa senjata yang telah dimodifikasi menjadi kartu namaku, beberapa alat komunikasi internal dan baju penyamaran. Kirim juga body guard tambahan untuk menjaga gedung perusahaan keuangan tadi, dan segera minta Caca dan Aslan bersiap untuk terbang ke Singapur malam nanti tepat jam 8 malam mereka sudah hsrus standby di pameran karya seni ternama. Tugas mereka adalah memantau keadaan dan mendekati ruangan penyimpanan patung itu. Sampaikan pesanku padanya melalui surrel! Kirim titik lokasinya dan setelah itu bantu aku menyempurnakan strategi malam nanti" Titah Riega bertubi-tubi.


William yang sudah terbiasa dengan hal seperti itu, dengan cekatan mengutak-atik tablet yang ada di tangannya. Semua permintaan Riega sudah ia kerjakan tanpa menyahut sepatah katapun.


"Untuk email yang sudah aku kirim sebelumnya, itu adalah email milik gedung penyelenggara pameran seni. Ada sebuah patung Kelinci di salah satu ruangan tertutuo yang nanti malam akan di lelang secara terbuka oleh beberapa kolektor. Pelelangnnya akan di mulai pukul 10 malam. Dalam waktu satu jam, patung itu sudah harus ada di tangan kita. Melalui informan yang sudah ku kirimkan ke lokasi, patung itu di letakkan di sebuah ruangan terkunci. Di lengkapi dengan keamanan yang sangat canggih--- " Terang Riega mulai sedikit menghilang aura kemarahannya dan berganti dengan wajah yang begitu penasaran sekaligus penuh teka - teki.


William menatap mata Riega dengan serius menandakan bahwa ia sedang mendengarkan dengan begitu seksama agar ia tak terlewatkan satupun detil dari rencana Riega.


"-- yang pertama, gedung yang di gunakan sebagai tempat pameran adalah sebuah Museum yang dulunya adalah bekas Barak Militer di jaman Perang Dunia 2. Bangunannya memang susah lumayan tua, namun berkat beberapa perbaikan atau renovasi bangunan itu sudah terbilang sangat megah nan istimewa. Luas bangunannya sekitar 6.4 hektaare. Dan disana terdapat juga sekitar lima restoran atau cafe untuk wisatawan yang berkunjung" Riega menjeda ucapannya.


"... Tempat patung itu di simpan adalah di tempat yang sangat rahasia. Di salah satu ruangan dengan pengamanan yang ketat dan petugas yang terlatih. Acara pelelangan di adakan di lantai 3 gedung yang bernama Gillman Barracks itu, tepat di Hall lantai tiga yang megah. Seperti yang sudah saya katakan kalau saya yang akan mengambil patung itu dengan tangan saya sendiri---" Senyuman licik Riega sudah nampak jelas ia rautkan di wajahnya.


"... Dan untuk masuk ke dalam ruangan rahasia itu, akan saya serahkan pada kamu Will untuk meretas sandi keamanannya. Ada beberapa pengamanan canggih lainnya, yaitu laser yang bisa mendeteksi gerakan jika sekali saja saya lengah ketika masuk maka alarm keamanan akan berbunyi dan dalam jangka waktu beberapa detik saja petugas keamanan pasti akan menyerang saya. Juga, hal terakhir yang harus kita tembus dari semua keamanan disana adalah, box yang melindungi patung Jeff Koons itu---" Riega sejenak berpikir.


"... Masih ada hal yang saya merasa ragu akan box itu--?" Ujar Riega memperlihatkan gestur bingungnya sambil perlahan mengalihkan pandangan ke arah William yang sedari tadi mencermari kalimat demi kalimat yang Riega lontarkan.


"Apa itu Tuan?" Tanya William yang baru kali ini ia membuka mulutnya setelah sekian lama ia mendengarkan strategi Riega.


"Akan aku coba dengan meretas sandi pintu gedung kemudian akan aku coba-" ucapan William terhenti ketika Riega dengan santai menyahut.


"Pintu itu tak perlu kau apa-apakan. Biar Caca dan Aslan yang menanganinya. Aku akan masuk melalui atap dan jangan lupa dengan kamera pengintai. Cctv di sana sudah terpasang di setiap sudut ruangan dan begitu canggih. Teknologi sensoriknya sudah mampu memindai gerakan kecil bahkan jika hanya ada selembar tisu yang jatuh dari atas meja, kamera itu mampu melihatnya dalam kondisi gelap. Tak hanya itu, bahkan suara dengan resonansi yang begitu rendah pun mampu terdeteksi oleh Cctv disana" Jelas Riega.


"Benarkah? Kalau begitu Team intelligen yang akan menangani kamera pengawas dan juga laser pengamanan disana. Aku akan membuka keamanan box pelindung patung itu. Dan kau hanya perlu berhati-hati dan tepat waktu saja saat di dalam sana. Aku yakin, dengan koordinasi team kau akan keluar dari sana tanpa kendala sedikitpun!" Ujar William dengan begitu bangga.


Wajar saja, William jarang sekali untuk di beri kepercayan terjun langsung ke medan yang berbahaya dan menegangkan. Selain karena dirinya adalah satu-satunya sekretaris andalan dari Ketua Al, William juga bisa di bilang seorang yang cerdas dan berhati lembut. Bahkan menurut Riega, untuk memukul nyamuk sekalipun William sungguh tak tega. Bagaimana bisa William harus berhadapan dengan musuh-musuh dari Macan Hitam.


"Haha, baiklah aku percayakan semuanya padamu Will!" Ujar Riega santai dengan menyunggingkan senyuman tipis.


"Siap Tuan!" Setelah perbincangan singkat itu, William kembali keruangannya masih dengan tab yang melekat ditangannya. Ia terus berkutat untuk bisa mendapatkan kode-kede rahasia agar bisa membuka box anti peluru itu. Sedangkan Riega masih duduk di sofanya sambil meminum sekaleng soda untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering karena hari ini ia banyak sekali bicara.


Sambil melihat pemandangan dari jendela kamar hotelnya, Riega menggenggam pena dan mulai menuliskan beberapa gambaran dari rencanya. Kemudian ia kirimkan pada Caca dan Aslan begitupun beberapa anghota lainnya yang akan menyusul dan bertemu di lokasi pameran seni di Singapur.


.