Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
26



Suara merdu Riega membuat hati Aruna begitu tenang..


Petikan gitar yang dimainkan olehnya membuat Aruna semkin terasa terbuai akan cinta yang begitu membuncah di hatinya..


Riega menyanyikan lagu yang ia ciptakan dengan sepenuh hati untuk kekasih hatinya itu. Aruna.


Ku.. berharap kau ada untukku..


Ku.. berharap kau jadi milikku.. houooh


Kuingin kau ada selalu..


Dalam setiap waktuku..


Kuingin kau ada selalu..


Hanya untukku...


Kekasih hatiku...


Kekasih hatiku...


Riega benar-benar tulus mencintai lagu itu. Liriknya berasal dari lubuk hatinya, mencurahkan segala rasa cinta dan sayangnya hanya pada Aruna. Ia menutup lagu itu dengan memberikan setangkai bunga mawar yang begitu indah dan harum. Warna merahnya seakan membuat Aruna terpesona, segar dan harumnya benar-benar memabukkan membuat dirinya tak visa berkata apalagi bertindak lebih.


Riega memberikan bunga mawar itu pada Aruna dengan begitu romantisnya Riega berlutut dihadapan Aruna yang terpaku di kursi taman itu.


"Aruna, untuk saat ini Riega hanya bisa mengungkapkan rasa cinta Riega dalam lagu tadi dan bunga ini sebagai tanda cinta Riega buat Aruna. Sepekat warna merah dibunga ini, sama halnya cinta Riega untuk Nana" Tutur Riega dengan begitu lembut dan penuh cinta.


"Ga..." Aruna mulai menerima mawar merah itu dan matanya mulai dipenuhi dengan buliran-buliran bening yang siap meluncur.


"Iya sayang?"


"Aku.." ucap Aruna terputus. Saat ini air matanya mulai meluncur dipipinya.


"Jangan nangis sayang. Aku ga rela matamu basah karna perbuatanku lagi" ujar Riega mulai beranjak dari posisinya dan tangannya mulai mengusap lembut pipi kekasihnya itu. Menghapus jejak-jejak air mata Aruna.


"Hmm.." Aruna menggelengkan kepala.


Riega hanya mengerutkan dahinya pertanda dia tidak mengerti.


"Aku ga sedih. Aku terharu karna kamu Ga." Jawab Aruna meneteskan air mata tetapi bibirnya menyunggingkan senyum manis.


"Uluh uluh.. kekasihku terharu ya? Sini aku peluk sayang" ujar Riega memamerkan deretan giginya. Dirinya merasa menang dan berhasil membuat gadis kecil kesayanganya itu tersenyum kembali. Riegapun langsung mendekap Aruna begitu erat seolah dirinya tak mau lagi membuat Aruna bersedih, tak ingin jika Arunanya sampai pergi meninggalkannya seperti tadi.


"Emmm.." Aruna mulai memejamkan matanya merasakan kehangatan dan kelembutan disetiap pelukan daru Riega. Begitu nyaman. Arunapun membalas pelukan Riega.


Satu menit, dua menit, tiga menit, hingga lima menit mereka saling memeluk. Saling menikmati kehangatan pelukan itu. Hening tak ada suara selin desiran angin sore yang berbisik indah di telinga mereka berdua seolah itu adalah soundtrack ter-romantis bagi mereka saat itu juga.


"Masih belum puaskah aku peluk?" Suara bas milik Riega memecahkan keheningan di taman itu.


"Emm... em..." jawab Aruna menggelengkan kepalanya lagi, masih di dalam dekapan Riega.


"Baiklah, terserah Arunaku mau sampai besok kamu pelukpun aku akan sangat rela sayang" gumam Riega dengan suara pelan hingga tak bisa terdengar oleh siapapun. Tetapi Aruna bisa mendengarnya dan Nana hanya diam dan terus memeluk Riega semakin erat.


.


.


.


"Ga..." Aruna mulai mengendurkan pelukannya dan berbicara.


"Hemm? Sudah peluknya?"


"Iyah, ayo pulang!" Ajak Aruna.


"Loh loh ko cepet banget?" Protes Riega


"Itu udah lama Pak" ujar Aruna.


"Oke, oke kita pulang sekarang?" Tanya Riega.


"He'eum" jawab Aruna dengan mengangguk.


"Oke sayang.. Maafkan aku yah" pinta Riega sambil mengusap rambut Aruna lembut.


"Iyah aku maafin ko Pak. Aku yang salah faham sama Pa Riega. Ga seharusnya aku langaung termakan omongan orang" jawab Arun menunduk dan menggenggam tangan Riega.


"Ga sayang, sudah yah kita jangan saling menyalahkan. Anggap aja, ini pembelajaran buat kita" jelas Riega membalas genggaman tanga Aruna dan mengusap-ngusapkan ibu jarinya di tangan lembut Aruna.


"Iyah Pak."


"Senyum dong!"


"Hemm.. iyah udah kan Pak?" Ujar Aruna menampakkan senyuman yang begitu manis dipandang.


"Nah begitu dong! Karena senyum adalah lengkung yang meluruskan segala hal" 😊 ujar Riega mengelus pipi Aruna yang mulai bersemu merah.


"Iyah Pak. Aku akan selalu tersenyum" uhar Aruna mantap menatap Riega.


"Oke sayang,sekarang kita pulang yah?!"


"Oke" ujar Aruna berdiri hendak berjalan


"Eits,.." cegah Riega


"Apa lagi Riega?" Tanya Aruna duduk kembali.


"Kamu belum cium aku!"


"Hmmm, sekali sayang...." rajuk Riega.


"Ga!" Jawab Aruna lantang dan mulai berjalan cepat dan berlari kearah motor Riega.


"Oh, baiklah Na. Kamu menantangku!" Gumam Riega tersenyum licik sambil membungkus kembali gitar miliknya. Riegapun mulai berjalan santai menyusul Aruna yang sudah berdiri sambil bersandar di motornya seolah meledek dirinya dari kejauhan.


"Lihat saja cantik!" Gumam Riega sambil berjalan mendekat.


"Jangan nakal deh Pak. Ayo buruan balik ah!"


"Iyah yaudah sini pakai helm dulu biar aman" ucap Riega mengambil alih helm Aruna yang berwarna pink itu.


"Eh, aku bisa sendiri Pak! Siniin ah!" Aruna mulai berusaha meraih helm miliknya yang di pegang Riega. Riega mengacungkan tangannya agar Aruna tak bisa meraih helmbya itu.


"Biar aku yang bantu pakai! Ayo mau pulang ga sayang?!" Tawar Riega.


"Iya iya Pak! Jangan macem-macem" Aruna mencium bau-bau mencurigakan dari kekasihnya itu.


"Ga janji sayang!" Ujar Riega mulai membantu mengenakan helm pada kepala Aruna dan tiba-tiba saja.


"Hmmpp" Aruna berusaha memberontak dari kungkungan Pria yang menjabat sebagai kekasihnya itu. Tangannya memukul-mukul dada bidangnya dan berusaha mendorongnya jauh.


"Emmm..."


"Hufftt...huffft..." Nafas mereka saling memburu. Ciuman panas yang Riega lakukan dengan memaksa Aruna itu pun berakhir. Sudah di pastikan Aruna akan kalah. Bahkan Riega sempat mengigit bibir Aruna sehingga menimbulkan luka merah dibibirnya itu.


"Uuh! Aku bilang jangan Pak!" Geram Aruna memukul dada Riega.


"Kamu yang nantangin aku sih! Yaudah balik yah sayang" ujar Riega mengambil helm Aruna yang sempat terjatuh tadi karena aktivitas berciuman itu dan membantu mengenakannya pada Aruna.


"Udah Siap?" Tanya Riega yang sudah mulai menstater motornya.


"UDAH PAK RIEGA!" Teriak Aruna kencang.


"Ha-ha-ha" Riega merasa menang berhasil mencium Aruna dan dirinya merasa benar-venar puas.


*****


Sepanjang perjalanan hanya terdengar suara knalpot motor Riega yang mengiringi. Mereka tak saling berbincang. Aruna terus mengulang kembali memorinya beberapa mebnit yang lalu saat di taman. Bagaimana Riega menjelaskan semua permasalahan itu. Bagaimana Riega menyanyikan lagu yang Riega ciptakan sendiri untuknya. Bagaimana Riega memberikan sekuntum bunga mawar merah tadi, dan bagaimana Riega memaksanya untuk berciuman hingga berbekas sebuah luka merah di bibirnya itu.


Aruna mengusap perlahan bibirnya dengan jari.


'Emm, sakit. Tapi aku selalu merindukan ciumanmu Pak!' Batin Aruna sambil tersenyum malu memikirkan bagaimana bisa ia selalu terkalahkan oleh Riega. Ia berfikir kembali.


'Ah, aku coba kerjain Pa Riega deh kapan-kapan. Hehehe' batin Aruna lagi sambil terkekeh dan memikirkan hal licik yang akan dia lakukan untuk mengerjai Kekasih hatinya itu.


"Sayang, udah sampe. Apa masih mau duduk terus di motorku?" Tanha Riega.


"Eh, iyah Pak aku turun nih!" Aruna turun dari motor Riega dan mulai melepaskan heletnya di bantu oleh Riega.


"Dah Pak. Makasih yah lagunya, bunganya, pelukannya, ciumannya, dan lukanya nih!" Ujar Aruna dengan nada suara yang pelan sambil memainkan jemarinya seperti sedang mengabsen beberapa hal penting.


"Ahahahh, iyah sayang terima kasih kembali. Maaf yah lukanya aku ga akan lakuin itu kalau kamu ga berontak terus!" Ujar Riega mengusap bibir Aruna dengan ibu jarinya.


"Iyah deh Pak. Yasudah pulang. Hati-hati Riega!"


"Siap sayang. I love you"


"I love you to" jawab Aruna menyunggingkan senyuman.


Riega mulai tancap gas dan menghilang dari pandangan Aruna dan Arunapun berjalan masuk ke rumahnya. Matanya yang masih sedikit sembab terlihat jelas oleh mamahnya yang saat pulang sudah menunggu di ruang tv.


"Matamu kenapa sayang? Habis menangis kah?"


"He'em.." jawab Aruna


"Kenapa menangis sayang? Ada masalah apa?" Tanya Mamah Riris khawatir.


"Nanti aku ceritain mah. Aruna mandi dan ganti baju dulu yah" ujar Aruna lembut.


"Oke sayang mamah tunggu yah"


"Oke" Aruna berjalan ke atas menuju kamarnya. Perlahan ia melangkah menaiki tangva demi tangga.


'Mungkin saatnya aku cerita sama Mamah dan Wisey supaya mereka bisa mengerti aku dan ga perlu ada yang aku tutup-tutupin lagi dari orang-orang terdekatku' batin Aruna.


To be contiue...


Halooooo.....


Lama update nya niih 😅


Maafkeuun yah🙏


Alhamdulillah aku lulus kompetensi 😇


Senang rasanya 😊😇


Eh guyss... itu lagu beneran ada yah di ytb ciptaan someone 😂 😅


Aku bener-bener syukak lagunya.. 💖


Jangan lupa like coment dan vote akuuu😘😍


Thnx guys🙏