
Sejak kejadian di taman dua hari yang lalu, Aruna merasa tenang dan begitu yakin dengan perasaanya terhadap Riega. Aruna selalu terbayang wajah tampan milik Riega di setiap waktu.
Hari ini Aruna berangkat seperti biasa diantar oleh supir mamahnya. Aruna berjalan seperti biasa dengan santai, anggun dan pastinya selalu menyunggingkan senyumnya yang manis kepada siapapun yang ia jumpai.
Aruna berjalan sendirian dikoridor sekolah yang cukup ramai. Tiba-tiba saja dari arah belakang, ada yang menepuk pundaknya dengan cukup keras.
"AAWWW!"
"Sakit Ta..u.." teriak Aruna ingi memarahi pelakunya tapi tidak jadi karena pelakunya adalah Wissey sahabatnya.
"Apa? Mau marah?"
"Iih, sakit Sey. Kamu panggil aja bisa ga? Ga usah pukul pundak aku gitu mana keras banget lagi"
"Ah elah, kaya ga biasanya aja sih Na" ujar Wissey menyenggol bahu Aruna.
"Iyah harusnya kamu jangan biasain gitu doong kan aku sakit tau!"
"Iyah deh iyah maaf yah Nana sahabatku sayang"
"Iyah aku maafin deh.."
(Brukk!)
"Aawww!" Rintih Aruna yang saat ini sudah tergeletak jatuh sembarangan dan menahan sakit.
'Sial banget sih hari ini?" batin Aruna kesal.
"ARUNA!" Teriak Wissey kaget melihat sahabatnya ditabrak oleh seorang wanita.
"Eh, eh maaf yah saya ga sengaja" ujarnya dengan nada datar.
"Ah, iyah ga apa-apa ko"
"Ada yang luka ga?" Tanya wanita itu dengan sedikit menyunggingkan senyum devil.
"Ga ko. Ga ada yang luka" ujar Aruna sambil berdiri.
"Saya Sharenina. Panggil aja Sharen, ah maksudnya Bu Sharen" ujar wanita itu mengulurkan tangan pada Aruna.
"Iyah, saya Aruna Bu"
"Ah, jadi Bu Sharen ini guru baru yah?" Tanya Wissey.
"Iyah, saya guru baru di sini. Saya mengajar di bidang sen..."
(Teeeet!) Bel berbunyi memutus perbincangan mereka bertiga. Aruna dan Wissey pamit pergi duluan ke kelas pada Bu Sharen itu. Begitupun murid-murid yang lainya. Sedangkan Sharenina atau Bu Sharen itu masih berdiri dengan melipatkan kedua tangan di dadanya sambil menyunggingkan senyum sinisnya.
"Heh, dasar gadis bodoh! Lihat nanti apa yang akan aku lakukan. Kamu merebut apa yang harusnya menjadi milikku!" Gumam Sharenina dengan senyum kecutnya itu.
Sharen berjalan menuju ruangannya. Tepat didepan pintu ruang seni, Sharen berhenti berjalan dan mematung.
'Mulai sekarang, aku akan berusaha membuatnya merasakan apa yang aku rasakan. Aku akan merebut apa yang menjadi miliknya apapun dan siapapun. Lihat saja Aruna!' batin Sharen
(Ceklek!)
Sharen membuka pintu ruang seni itu perlahan. Membuat seseorang yang ada di dalamnya menoleh terkejut.
"Astaga!"
"Eh, maaf Pak. Saya mendapat arahan kalau ruangan saya sekarang di sini"
"Oh, kamu Sharenina? Guru baru itu?"
"Iyah Pak" ujar Sharen berjalan mendekat ke meja Riega.
"Saya Riega. Kamu duduk aja dulu di sofa itu. Meja dan kursi kerja kamu belum di pindah ke sini. Jadwal ngajar kamu sudah ada di saya. Nih, boleh di lihat dulu"
"Oh iyah Pak Riega makasih. Tolong arahanya yah Pak"
"Ok, kalau ada yang kurang faham bisa di tanyakan. Saya keluar dulu untuk tanyakan meja kamu"
"Sip Pak"
'Ganteng juga nih guru' batin Sharen.
Riega berjalan keluar untuk menuju ruangan Wakasek bidang sarana prasarana untuk meminta meja kerja Sharen. Sharen adalah guru baru di bidang seni yang sengaja Riega minta kepada Kepsek untuk membantu mengajar. Karena Riega juga memiliki kesibukan lain yang ia malah keteteran jika harus mengajar 18 kelas hanya sendiri. Jam kerjanya pun jadi berantakan. Jadilah ia meminta pada sekolah untuk menambah guru seni baru dan Sharenlah yang di tunjuk oleh Kepsek.
Setelah meminta meja. Riega menyempatkan diri ke kantin membeli dua air mineral dan roti. Riega belum sarapan dan siapa tau juga Sharen belum sarapan maka dia membeli dua untuk berbagi.
"Mejanya udah dateng Bu Sharen?"
"Belum Pak"
"Yasudah palingan sebentar lagi. Nih ada roti dimakan Bu, siapa tau belum sarapan jadi saya belikan sekalian"
"Ah, iya makasih Pa"
"Sama-sama. Gimana ada yang mau di tanyakan?" Ucap Riega menduduki sofa bersama Sharen.
"Ah, ga ada ko Pak saya faham"
"Oh oke kalau gtu" kata Riega sambil merobek bungkus roti dan melahapnya.
Sharen hanya menganggukkan kepala dan kembali membaca schedjul miliknya. Sebentar-sebentar Sharen melirik ke arah Riega yang sedang asyik memakan rotinya itu.
'Ah, tampan sekali' batin Sharen
'Eh, kenapa gue jadi ga fokus gini? Ah,sekarang bukan waktunya mikirin begituan. Lo harus lancarkan misi lo dulu baru lo bisa mikirin cowo Ren' batinya lagi.
"Permisi?" Sapa seseorang meminta izin masuk ke dalam.
"Iya?!" Sahut Sharen dan Riega berbarengan.
"Eh, biar saya aja Pak"
"Oke"
Sharen berjalan menuju pintu dan membukanya. Ternyata yang datang adalah dua pria yang Sharen tidak mengenalnya. Mereka mengangkat meja dan memasukanya ke dalam ruang seni. Menatanya sedemikian rupa untuk Sharen tempati.
"Makasih yah Mas!"
"Sama-sama Bu" ujar dua pria tadi dan berlalu begitu saja.
Riega yang sudah selesai makan roti, langsung bergegas mengambil buku-buku mengajarnya untuk jam pelajaran ke dua yang akan segera di mulai dan dia akan mengajar di kelas kekasihnya.Aruna. Sang pujaan hatinya.
"Mau kemana Pak?"
"Ngajar Bu Sharen"
"Oke, makasih" Riega langsung bergegas tak sabaran untuk segera bertemu dengan kekasihnya itu. Yah, meskipun saat di kelas mereka tidak bisa berinteraksi layaknya kekasih, tapi dengan memandangnya saja Riega bisa merasa tenang dan bahagia.
"Selamat Pagi!" Sapa Riega saat memasuki kelas
"Pagi Pak Riega" sapa kembali murid-murid di kelas itu.
"Sekarang materi pembelajaran kita adalah Seni Teater atau sebuah pertunjukan seni yang mengandung drama dan tokoh pewayangan. Saya akan membagi kalian dalam dua kelompok saja. Karena dalam teater pasti membutuhkan banyak peran. Silahkan kalian berhitung dengam urut angka 1 dan 2 saja"
Semua murid mulai menghitung hingga selesai dan hasil akhirnya sudah jelas Aruna dan Wissey terpisah karena mereka duduk satu bangku. Jelas saja Aruna harus sekelompok dengan teman cowonya yang bernama Zein. Dia adalah atlet Taekwondo yang juga tergila-gila dengan Aruna.
"Hai Na?"
"Yah Zein"
"Kita satu kelompok loh cantik"
"Iyah nih hehe" jawab Aruna sambil tersenyum kikuk.
'Aduh, padahal aku ga mau satu kelompok sama si Zein' batin Aruna.
Dia terkenal paling tampan di kelas juga terkenal dengan jurus-jurus Taekwondonya yang keren. Bukan hanya itu, Naufal Zein yang biasa di sapa Zein ini juga terkenal dengan jurus-jurus gombalnya, alias playboy.
"Baik, semua sudah mendapatkan kelompok masing-masing. Silahkan kalian semua bergabung dengan kelompoknya dan tentukan tema terlebih dahulu. Kalian bisa duduk di atas atau pun lesehan di bawah saat diskusi. Lalu kalian bisa buat konsep teater kalian dan selanjutnya bisa menentukan siapa saja yang harus memerankanya"
"Siap Pak"
Seketika kelas menjadi ramai dengan bergabungnya mereka manjadi kelompok dan suara saut menyaut yang mereka keluarkan untuk saling berdiskusi.
Terbagi menjadi dua kubu. Kubu yang dipimpin oleh Wissey dan kubu yang dipimpin oleh Zein. Mereka memilih lesehan dan kelompok Wissey di bagian depan dekat papan tulis sedangkan kelompok Zein memilih di space belakang.
"Bagaimana kawan-kawan? Tema apa yang mau kita ambil?" Tanya Zein.
"Kalau cinta gimna?" Saran dari Seli membuka sesi diskusi.
"Ah terlalu melow" Celetuk Fajar
"Kalau perjuangan?" Saran Fajar
"Terlalu nasionalis juga ah" ujar Lia.
"Kalau komedi gimana?" Sahut Irgi
"Hmzz, kalau garing malu-maluin doong!" Balas Seli lagi.
"Lalu bagaimana ini guys?" Tanya Zein yang kebingungan dengan diskusi tema kali ini.
"Gimana kalau temanya action kan itu ada perjuanganya, tapi bisa kita selingin dengan percintaan juga biar seru" saran Aruna angkat bicara mengenai temanya.
"Hmm, boleh juga tuh, Nana selain cantik juga memang pintar banget yah" puji Zein sambil berkedip-kedip dan menaik turunkan alisnya ke Aruna.
"Huuuuuu! Gombal!" Teriak teman sekelompok lainya pada Zein.
Riega melihat hal itu merasa sedikit cemburu karena kekasihnya di gombali oleh muridnya sendiri.
'Ah, bahkan kekasihku juga muridku' batin Riega.
"Wahahh, yaudah tema udah kita tentuin sekarang siapa yang bakal buat naskahnya?"
"Irgi lah, dia kan jago ngarang tuh!"
"Oke Irgi gue serahin ke lo dan lo juga yang nanti bakal tentuin siapa yang pantas buat peraninya jangan lupa kalo ada heronya gue harus jadi itu dan kalau ada putri yang harus di selamatkan itu harus Aruna! Ngerti? Yah gak cantik?" Goda Zein pada Aruna. Zein menowel dagu Aruna membuat Aruna memundurkan wajahnya sedikit.
"Apaan sih Zein!"
"Huuuuu! Maksa banget sih lo Zein mau jadi heronya Aruna!"
"Yee, suka-suka gue dong! Aruna aja ga marah kan ya?" Zein lagi-lagi mencolek dagu Aruna. Riega merasa kesal melihat kekasihnya di sentuh lelaki lain meskipun itu adalah temanya.
"Zein, kamu jangan pegang-pegang gitu dong. Jaga sikap kamu!"
"Eh, iyah deh Pak. Kan cuma bercanda Pak"
"Yah jangan sentuh-sentuh Aruna gitu dong"
"Aruna juga ga marah kan Pak! Kenapa Pak Riega sewot gini?"
"Pak.. udah saya ga apa-apa ko Pak" lerai Aruna memegang lengan Riega takut terjadi perkelahian antara guru dan murid yang tidak ia inginkan apalagi teman-teman sekelasnya menyaksikan itu.
"Yasudah cepat kembali ke tempat duduk masing-masing" ujar Riega melepaskan pegangan Aruna pada lenganya sedikit kasar.
Aruna yang di perlakukan seperti itu merasa sedih. Ia menjadi murung.
"Sekarang kalian bisa baca-baca materi tentang teater sambil menunggu jam pelajaran selesai. Jangan ada yang main-main lagi dan saya izin keluar karena ada urusan" ujar Riega dengan nada dan wajah yang tak kalah datarnya sambil terus melihat manik mata kekasihnya itu.
'Pa, pasti kamu marah kan sama aku. Sampai kamu kasar gitu ke aku' batin Aruna sedih dan ia menundukkan wajahnya setelah Riega bergegas keluar dari kelasnya.
"Nana, kamu kenapa murung gitu?" Tanya Wissey.
"Ga apa-apa Sey. Aku cuma ga enak aja sama Pa Riega kayanya dia marah deh gara-gara tadi Zein itu"
"Ah, santai aja kali Na. Ga mungkin juga kan Pa Riega marah ke kamu. Dia ga mau aja mungkin Zein berlebihan gitu takut terjadi sesuatu juga"
'Tapi kamu ga tau kenyataanya Sey' batin Aruna.
"Mungkin. Yaudah Sey, aku mau ke toilet yah" ujar Aruna berbohong.
"Mau gue anter?"
"Ga usah deh sendiri aja kayanya agak lama"
"Oke, jaga diri lo"
"Siap"
Aruna bergegas pergi menuju ruang seni untuk menemui kekasihnya itu. Aruna sengaja berbohong pada Wissey agar dia tidak curiga.
Aruna berjalan dengan terburu-buru sampai di depan pintu ruang seni.
(Ceklek!)
To be Continue...
Beri aku jempol yah. Coment positive juga yah😍
Thank you so much untuk kasih sayang kalian padaku..😉