Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
30



Bel istirahat berbunyi tanda seluruh pembelajaran harus di berhentikan terlebih dahulu untuk mengisi kembali tenaga.


Aruna dan Wisey pergi ke kantin bersama untuk membeli makanan pengganjal perut. Hari ini Aruna tak membawa bekal, karena Mamahnya sedang ada di luar kota.


"Nana, lo mau beli apa?" Tanya Wisey.


"Aku mau beli batagor aja deh plus kupat biar kenyang" jawab Aruna


"Oke deh. Kalau gue mau beli nasgor aja deh Na. Laper banget nih" ujar Wisey.


"Yaudah aku kesana dulu yah Sey" Aruna melangkah ke arah penjual batagor.


Mereka berpisah untuk membeli menu makan untuk pengganjal perut kali ini. Aruna berjalan perlahan dan menunggu antrian pesanan. Batagor Mang Idin memang sangat enak dan terasa sekali ikannya. Aruna sangat menyukai batagor itu.


Saat Aruna hendak mengambil antrian tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh seseorang yang entah sejak kapan sudah mengincar Aruna.


"Eh, eh, eh," Aruna kaget dan dia berjalan tertatih-tatih mengikuti kemana arah tangan itu menariknya. Ia belum melihat siapa yang menarik dirinya.


Aruna merasakan sakit di pergelngan tangannya. Sepertinya sekarang tangannya sudah memerah.


"Hei kamu mau apa? Lepasin tangan aku sakit tau!" Teriak Nana sambil berusaha memberontak melepaskan tangannya. Ia hanya melihat bagian belakang tubuh sang penarik tangan. Tak terasa, ternyata Aruna di tarik paksa untuk menuju ke arah belakang gedung sekolahnya. Tampat yang begitu sepi dan jarang sekali ada orang melewatinya.


"Na!"


"Eh, kamu mau apa?" Tanya Nana ketakutan karena yang menarik tangannya itu menggunakan jaket dan tutup kepala dan juga masker. Benar-benar misterius sekali.


"Nana, ini gue Caca!"


"Eh, kamu Ca!" Aruna mulai mengelus pergelangan tangannya yang sudah benar-benar memerah karena cengkeraman tangan Caca yang begitu kuat.


"Iyah ini gue!"


"Ada apa? Kenapa kamu bawa aku ke sini Ca?"


"Na, gue mau bilang sesuatu sama lo!"


"Apa? Kenapa harus disini?" Tanya Nana bingung dan mengerutkan alisnya.


"Masalah tentang Kaka gue."


"Kenapa Pa Riega? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Nana khawatir pada kekasih hatinya itu.


"Iya dia baik-baik aja kok. Lo yang lagi ga baik Na!"


"Loh, kenapa?"


"Iyah gue mau Lo jangan deketin Riega dulu. Pulang sekolah nanti gue mau lanjutin bicara sama lo."


"Kenapa? Dan dimana Ca?" Tanya Nana benar-benar bercampur aduk fikiran dan perasaanya sekarang. Nana benar-benar takut dan penasaran sekali.


"Nanti gue jelasin. Balik sekolah gue mau jalnlan dulu sama Aslan. Nanti gue mampir ke rumah lo setelah jalan. Sharelok alamat lo ke gue. Udah gue pergi dulu. Bye." Jelas Caca sangat terburu-buru dan benar-benar membuat Aruna semakin penasaran di buatnya.


Kenapa Caca sampai sebegitu mencurigakannya menggunakan jaket dan masker. Seperti sedang berkamuflase terhadap musuh. Nana benar-benar penasaran sekali. Ah, sudahlah mungkin ada sesuatu hal yang penting akan Caca rencanakan. Jadi, ia akan berusaha menuruti perkataan Caca untuk tidak mendekati Riega terlebih dahulu.


Aruna akhirnya beranjak pergi kembali menuju kantin. Antrian batagor tadi sampai sudah selesai karena Aruna pergi. Lima belas menit lagi bel masuk akan segera berbunyi dan Aruna akhirnya memesan batagor setengah porsi saja tanpa kupat. Cukup untuk mengganjal perut hingga nanti.


Mungkin pulang sekolah nanti Aruna akan mengajak Wisey untuk berbelanja sebentar bersama Pak Ramikan. Persiapan untuk makan malam.


"Na, kemana aja lo? Lama banget antri batagor aja. Perasaan tadi juga udah sepi!" Teriak Wisey yang sudah sedari tadi duduk dan menyantap nasgornya. Hingga saat ini tinggal seperempat lagi nasi goreng milik Wisey.


"Eh, iyah Sey sory aku sakit perut jadi ketoilet bentar sambil tunggu antrian sepi. Eh, ternyata kelamaan jadi aku pesen setengah porsi aja biar agak cepet makannya" jelas Aruna.


"Ooh gitu. Yaudah makan gih buruan Na. Bentar lagi masuk. Kasian perut lo kalo belum keisi makanan!" Ujar Wisey perhatian pada Nana.


"Oke Sey sip deh!" Balas Nana langsung menyuapkan sesendok batagor kemulut mungilnya.


Selesai makan di kantin, seluruh murid termasuj Aruna dan Wisey kembli lagi ke kelas masing-masing untuk jam pelajaran selanjutnya, karena bel masuk sudah berdengun.


'Eh, aku sharelok alamatku dulu aja ke Caca biar ga lupa!' Batin Nana sambil membuka smartphonenya dan mengetikkan beberapa kata dimana alamatnya berada dan menyambungkannya dengan google maps. Lalu ia mengirim alamat dirinya pada Caca.


(Send) pesan itu langsung di baca oleh Caca.


"Oke thx Na! Tunggu gue dateng ke rumah Lo!"(Read)


"Oke Ca!" (Send)


Dan pesan itu habya di baca oleh Caca. Tepat di saat itu juga guru pelajaran yang mengajar di kelas Aruna datang. Mulailah kegiatan belajar mengajar.


*****


Ditempat lain, namun di satu sekolah yang sama dengan Aruna belajar. Tepatnya di dalam ruang seni, terjadilah perbuncangan yang cukup menarik antara dua orang guru seni. Dimana sabg wanita begitu mengagumi sang lelaki, namun sang lelaki sangat merasa risih terhadap sang wanita.


"Ga, kamu udah aga ada jam ngajar lagi kan sampai pulang?" Tanya Sharen.


"Ga" jawab Riega singkat sambil menundukkan kepala menulis sesuatu di bukunya.


"Saya sibuk Ren!" Jawab Riega mulai tak suka karena ketenangannya terusik.


"Jangan terlalu sibuk dong Ga. Kamu kan butuh istirahat" uhar Sharen.


"Kamu mau apa si Sharen? Kalau senggang jangan ganggu kesibukan orang!" Jawab riega dengan begitu dingin tanpa ekspresi. Membuat Sharen yang mendengar dan melihat sikap Riega terhadapnya sangatlah sakit


"Aku mau ngobrol sama kamu Riega! Kamu kenapa sih kalau sama aku selalu begitu? Dingin!" Jawab Sharen mulai ngambek dan dirinya berjalan menjauhi tempat kerja Riega dan duduk di sofa.


"Biasa aja. Aku memang begini!" Jawab riega datar masih terus fokus dengan beberapa buku rekab nilainya.


"Gak! Kamu gak begitu kalu sama wanita lain. Kamu bahkan sangat lembut dengan dia!" Ujar Sharen dengan kesalnya.


"Dia siapa?" Tanya Riega lagi dengan begitu santainya.


"Dia! Perempuan yang tadi pagi berangkat bareng kamu!" Jawab Sharen dengan begitu kerasnya dan membuat Riega refleks mengangkat wajahnya dan menatap ke arah manik mata Sharen yang terlihat begitu marah sepertinya.


"Jelas saja...." ucapan Riega terputus karena ia hampir saja keceplosan dan ia melanjutkan dalam hatinya. 'Dia adalah adik kandundku!' Batin riega melanjutkan perkataannya tadi.


"Jelas saja apa?" Tanya Sharen lagi.


"Dia kekasihku!" Jawab Riega santai dan benar-benar datar sekali. Sengaja ia mengucapkan itu karena Caca telah menyuruhnya dan Riega yakin bahwa Caca memiliki rencana yang begitu apik.


"Apa? Dia kekasihmu? Apa kamu gila? Kamu pedofil Riega?" Teriak Sharen terkaget-kaget.


"Kalau iya memang kenapa?" Tanya Riega datar dan mulai menatap mata Sharen dengan begitu yakin dan tatapan yang mengejek.


"Kamu.. apa kamu ga bisa liag aku Ga?" Tanya Sharen mulai menundukkan wajahnya.


"Bisa. Lalu kenapa?" Tanya Riega lagi.


"Riegaa... aku... aku jatuh cinta sama kamu Ga!" Jawab Sharen dengan meneteskan air matanya.


Riega mendengar itu merasa sedikit terkejut. Sebenarnya ia sudah tahu hal itu dari adiknya. Hanya saja ia terkejut karena Sharen benar-benar berani mengungkapkan isi hatinya sendiri secara langsung.


'Apa ini artinya dia nembak gue?' Batin Riega merasa aneh.


"Terus?" Jawab Riega berusaha santai sesantai-santainya ekspresi wajah dirinya.


"Ya ga terus-terus Ga. Aku cinta sama kamu!" Jawab Sharen lagi.


"Aku ga cinta sama kamu Sharen. Aku sayangnya sama Caca." Jawab Riega dengan begitu santai semakin membuat Sharen merasakan sakit san panas di dalam hatinya.


"Riega. Aku bakal nunggu kamu sampai kamu bisa lupain dan tinggalin Caca Ga." Ujar Sharen lagi dan kini dirinya sudah berdiri dari tempat duduknya dan berlari keluar menuju ke toilet guru untuk meluapkan rasa sakitnya karena di tolak oleh Riega.


Riega yang masih merasa terkejut hanya bisa berdiam diri di posisinya sekarang.


"Huuufft.. kenapa bisa gini? Caca, gimana kamu bakal ngadepin si Sharen. Maafin gue dek nyusahin lo!" Gumam Riega merasa khawatir pada adik kandungnya.


Tapi dirinya juga merasa sedikit lega karena Aruna tak terserat ke dalam masalah itu dengan Sharen. Bisa di bayangkan betapa tidak tenangnya Riega jika Aruna yang harus menghadapi kelicikan Sharen.


Riega menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya dan mulai membuka smartphonenya. Mencari dimana Nomor adiknya itu. Caca.


"Dek, Sharen nembak gue. Gue tolak dan gue bilang lo cewe gue!" (Send)


Tak menunggu lama balasan pesan dari Sharen masuk ke ponsel Riega.


"Bagus!" Jawab Caca singkat jelas padat dan benar-benar membuat Riega semakin penasaran.


Riega hanya membaca pesan tersebut dan ia langsung ingat mengenai perintah adiknya tentang mencari tahu nama asli Sharen. Yah, dia harus mencari tahu secepatnya mengenai hal itu. Karena Caca sangat membutuhkannya begitupun dirinya.


Riega langsung bangun dari posisinya dan berjalan menuju ke arah meja kerja Sharen. Meja tempat Sharen begitu rapih, berbeda sekali dengan dirinya yang begitu berserakan karena memang Riega sedang sibuk merekab nilai-nilai murid selama satu semester ini.


Riega perlahan-lahan mendekat dan mulai membuka beberapa laci di meja Sharen. Ia melihat apa saja yang ada di dalamnya. Ia memilah-dan memilih satu persatu kertas dan berkas-berkas milik Sharen. Ia melihat map yang di selipkan dalam sebuah bindex yang lumayan besar di atas meja Sharen. Saat ia lihat sekilas tertulis 'Data Diri'. Dirinya langsung dengan cepat menyambar map berwarna kuning itu. Saat ia hendak membuka-buka isi dari map kuning bertuliskan Data Diri itu, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki yang berbunyi nyaring.


Heels yang khas dipakai seorang wanita terdengar saling beraduan dengan lantai. Pertanda ada seseorang yang mendekat ke arah ruang seni. Dengan sigap, Riega langsung berdiri dan beranjak pergi dari kursi Sharen. Ia meletakkan map kuning itu di laci mejanya dab menutupnya rapat-rapat.


'Semoga saja dia tidak sadar' batin Riega gugup.


Riega langsung membenarkan posisinya dan duduk dengan begitu tenang sambil berpura-pura kembali membaca buku rekab nilai itu.


Saat ia sudah kembali posisinya semula, pintupun terbuka dengan perlahan.


(Ceklek!")


To be Continue....


Hai hai guysss....


Seberapa penasarankah kalian dengan episode selanjutnya?😊


Mari berikan jempol kalian dengan ikhlas untuk ceritaku ini. Aku tidak meminta apapun dari kalian 😅😊


Like dan coment yah guyss 😙