
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di depan rumah Aruna. Riega mempercepat laju mobilnya karena Aruna sudah tidur dengan lelap ia tak mau Arunanya terlalu lama tidur dalam posisi duduk. Itu akan membuatnya sakit badan. Riega memasukan mobilnya ke halaman rumah Aruna di bantu oleh satpam. Ia memarkirkan mobilnya dan perlahan membangunkan Arunanya.
"Sayang, bangun kita udah sampai" ujar Riega lembut sambil mengelus pipi Aruna sayang.
"Eemm.." Aruna masih dalam posisi tidurnya yang nyenyak.
Riega yang merasa tak enak untuk mengganggu tidur lelap kekasihnya langsung berinisiatif menggendongnya masuk ke dalam. Ia lihat ternyata sudah ada mobil terparkir di depan garasi samping rumah Aruna. Bisa ia pastikan bahwa calon mamah mertuanya itu sudah pulang dan menunggu di dalam.
Riega langsung menggendong Aruna ala bridalstyle dengan tubuhnya yang kekar, Riega berjalan masuk melalui pintu tanpa menunggu lama. Disana ternyata ada seorang wanita cantik namun bisa terlihat ada sebuah kerutan sebagai tanda menuanya usia. Wanita itu bisa dipastikan adalah Mamah Riris. Ia sedang membaca berkas-berkas pekerjaannya dan saat Riega masuk menggendong Aruna, ia langsung berdiri dan berjalan ke arah mereka.
"Sudah pulang kah? Eh, kenapa Aruna?" Tanya mamah Riria khawatir.
"Dia tertidur di mobil mah" jawab Riega sopan dan lembut
"Ah, tolong bawa Aruna ke kamar saja Nak!" Ujar Mamah Riris.
"Oke mah" jawab Riega langsung sigap dan membawa Aruna naik ke kamarnya.
Ia berjalan menaiki anak tangga perlahan dengan terus memperhatikan setiap langkahnya dan sesekali ia melihat wajah kekasihnya yang begitu teduh dan cantik.
'Mirip sekali dengan wanita cantik yang baru saja berbicara padaku tadi' batin Riega.
Jelas sekali. Bahwa Aruna sangatlah persis seperti Mamah Riris karena dia adalah ibu kandungnya. Ternyata kecantikan Aruna berasal dari mamahnya. Riega terus memandang takjub pada karya tuhan yang sejak pertama ia memandangnya sudah benar-benar terpesona dan jatuh hati.
Sampailah Riega di depan pintu kamar Aruna. Ia berusaha dengan perlahan membuka knop pintu kamar Aruna dengan tangan kanannya.
(Ceklek!)
Pintu berhasil di buka dan Riega langsung mendekat ke arah ranjang bernuansa pink putih itu. Riega menidurkan Arunanya di ranjang dan langsung menyelimuti tubuh mungil kekasihnya itu sampai batas dadanya.
Beberapa menit Riega duduk ditepian ranjang Aruna sambil memandang indahnya wajah kekasih hatinya itu. Tanpa sadar, tangannya mulai bergerak perlahan ke wajah Aruna. Mengelus pipi Aruna penuh kasih dan membelai rambut Aruna dengan lembut sekali.
Riega mendekatkan wajahnya berniat mencium kening Aruna.
(Cup)
(Cup)
(Cup)
Kecupan pertamanya mendarat di kening Aruna. Ia merasa ingin sekali melahap kekasihnya itu, tapi ia urungkan karena ia selalu sadar bahwa bukan sekarang waktu yang tepat.
Kecupan keduanya ia daratkan di ujung hidung Aruna yang mungil dan mancung itu. Kecupan yang ketiga mendarat tepat dibagian ternikmat untuk saat ini bagi Riega. Bibir. Ya, memang untuk saat ini adalah bibir Aruna yang paling manis untuk Riega nikmati. Ia mencium bibir Aruna cukup lama sampai akhirnya Riega tersadar ada Mamah Aruna yang menunggunya di bawah.
Tanpa sadar, ada sepasang mata yang menyaksikan perlakuan Riega pada Aruna. Riega yang tak menyadari itu, masih tetap betah duduk di samping Aruna dan ia kembali membelai pipi kekasihnya.
"Sayang, aku benar-benar ingin sekali memilikimu, menjagamu, dan aku ingin kita selalu bersama sayang. Aku ingin menyembuhkan luka di hatimu, menguatkanmu disaat kamu bersedih. Tapi aku yakin dan berjanji, saat kamu ada di sampingku. Tak akan ada yang bisa membuatmu bersedih tak akan ada yang bisa menyakitimu. Percayalah Nana sayang. Aku mencintaimu!"
Riega berucap sambil terus mengelus pipi Aruna dan ia mengakhiri ucapanya dengan mengecup kembali kening Aruna.
(Cup)
Hati Riega berdesir merasakan bagaimana rasa cintanya pada Aruna akan selalu bertambah dan semakin lama, rasa cinta itu semakin lekat dalam hatinya.
Sepasang mata yang memperhatikan dari balik pintu itu telah hilang setelah kecupan terakhir yang Riega lakukan pada Aruna. Riegapun beranjak dari kamar Aruna untuk menemui Mamah Riris, yang baru saja tampa ia sadari telah menyaksikan bagaimana putrinya diperlakukan layakya seorang wanita yang begitu dicintai dan di sayangi. Riega berharap semoga saja Mamah Riris bisa menjadi mamahnya juga.
(Tak,tak,tak)
Riega menuruni anak tangga. Dengan segera ia langsung menghampiri Mamah Riris yang sedang duduk santai di sofa sambil terus membaca lembaran-lembaran kontrak kerjanya.
"Sudah Nak?" Tanya mamah Riris.
"Sudah Mah"
"Sini duduk minum dulu"
"Ah, iya Mah. Terima kasih"
"Sama-sama jangan sungkan Nak"
Riega menenggak air minum yang telah Mamah Riris suguhkan untuk dirinya. Mamah Riris sebentar-sebentar membaca tiap lembaran itu dengan seksama.
"Bagaimana tadi? Apa teaternya seru?"
"Seru sekali Mah. Aruna cerita kalau dia sempat menangis dan dia cerita kalau kisahnya sedih, juga bisa menginspirasi dia" jawab Riega.
"Apa kamu ga nonton bareng Nana?"
"Saya berperan dalam teater itu Mah. Jadi saya ga bisa duduk berdua di kursi penonton sama Nana Mah" jelas Riega.
"Oh, begitu. Nak Riega ini guru Aruna?"
"Iyah Mah. Saya juga pelatih vocal group yang Nana ikuti. Aruna memang dekat dengan saya dia sering kali curhat dengan saya"
"Apa kamu sebegitu dekat dengan Nana?"
"Emm,, iya bisa di bilang begitu Mah. Nana anak yang baik dia juga pintar dan gadis yang tegar" jawab Riega hati-hati.
"Benarkah? Dia memang begitu. Aruna adalah anak mamah satu-satunya yang paling manja. Apa dia sering menampakkan sifat manjanya?"
"Emm,, yang saya tahu jika di kelas dia tidak manja. Tapi saat dia sedang bersama saya, sifat manjanya akan muncul Mah"
"Apa... kamu.." ucapan Mamah Riris terhenti.
"Apa Mah?" Tanya Riega penasaran dengan apa yang akan di tanyakan calon mamah mertuanya itu.
"Apa kamu sayang sama Aruna?"
****
Pagi kembali menyapa, Aruna mulai terjaga dari tidur lelapnya. Semalam ia tidak sadar jika dirinya ketiduran.
"Eh, kenapa masih pake dressed ini?" Gumamnya.
"Ah iyah, semalam aku ketiduran di mobil Pa Riega" Aruna segera beranjak dari ranjangnya.
Aruna sekilas melirik jam yang bertengger cantik di atas nakasnya telah menunjukkan pukul 05.00 masih begitu pagi. Ia segera menuju ke kamar mandinya. Tidur tidak mengenakan piyama rasanya begitu sesak dan membuat kulitnya yang putih dan mulus itu terlihat bercak merah karena lecet-lecet.
Butuh waktu lumayan lama untuk Aruna mandi dan setelah tigapuluh menit lebih, Aruna keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan baju seragamnya. Ia turun kebawah untuk melihat apakah Mamah nya yang paling ia cintai dan sayangi sudah pulang atau belum.
Menuruni anak tangga dengan santai, Aruna mendengar ada suara di dapur yang bisa di tebak jika itu adalah Mamahnya. Seperti biasa Mamahnya pasti sedang membuatkannya sarapan.
"Mamah.." sapa Aruna semangat melihat mamahnya sudah kembali ke rumah.
"Iyh sayang, gimana tidurnya semalam? Nyenyak kah?" Tanya Mamah Riris sambil terus fokus ke roti dan selainya.
"Nyenyak Mah. Tapi semalam aku ga pakai piyama jadi ada sedikit yang lecet-lecet gitu Mah" ujar Aruna memeluk Mamahnya dari belakang.
"Jangan salahkan Mamah dong sayang"
"Iya deh ini bukan salah Mamah. Tapi siapa yang pindahin aku ke kamar aku Mah?" Tanya Aruna
"Siapa lagi kalau bukan Pria Tampan itu?"
"Maksud mamah?"
"Iyah Nana pergi dengan siapa semalam sayang?"
"Pa Riega Mah." Jawab Aruna masih dengan kepolosannya.
"Lalu?"
"Jadi Pa Riega yang angkat aku ke kamar Mah? Apa mamah ketemu dia?"
"Iyah sayang"
"Terus-terus?"
"Kamu penasaran banget sih sayang? Hmmm?" Goda Mamah Riris pada anak sematawayangnya itu.
"Ah, mamah nih. Ya sudah kalau tidak mau cerita" kesal Aruna dan dia langsung berjalan menuju ke meja makan menunggu Mamahnya selesai membuat roti selai kesukaanya.
"Apa kamu sama Pa Riega itu dekat sekali?"
"Dia guruku Mah. He is my Coach Mom"
"Begitu kah?"
"Iyah Mah"
"Baiklah sayang. Sarapan dulu yah!" Titah Mamah Riris dan Nana langsung menuruti perintah Mamahnya melahap roti selai coklat kacang kesukaanya.
Selesai sarapan, Aruna masih memiliki waktu senggang selama setengah jam sebelum ia berangkat ke sekolah ia bersantai terlebih dahulu di sofa ruang tvnya sambil menscroll handphoneya.
Ada pesan Whatsapp dari Zein yang masuk kemarin pukul 23.45 menanyakan keadaanya dan sekaligus menyanyakan tugas seni teater kemarin. Aruna hanya membalas sekadarnya saja sesuai dengan yang di tanyakan Zein.
Ada pesan masuk juga dari Riega yang masuk pagi ini tepat pukul 05.15 tadi menanyakan bagaimana tidurnya semalam dan Riega mengajak Aruna berangkat bersama dengannya.
Tak biasanya Riega ingen berangkat bersama dirinya. Aruna ragu, khawatir jika mamahnya tidak mengizinkan. Ia membalas pesan itu ragu tapi yang ia katakan di pesan itu adalah.
"Ke rumah saja sayang. Aku takut mamah suruh aku berangkat sama supir." (Send)
"Tenang saja aku yang izin ko cantik" (Receive)
"Oke aku udah siap ko sayang" (Send)
"Aku berangkat Nanaku yang cantik" (Receive)
"Hati-hati jaga hati" (Send)
"Siap cantiku" (Receive) (read)
Aruna hanya membaca pesan Riega dan ia bersandar di sofa sambil memejamkan matanya.
"Tidak berangkat sayang?"
"Sebentar lagi Mah" jawab Aruna masih memejamkan matanya
"Oke, jangan lupa sesegera mungkin pulang jika sudah waktunya"
"Hari ini ada ekskul mah Vocak Group"
"Baiklah jaga diri baik-baik. Salam untuk Pa Riega"
"Ah, emm,, iya nanti aku sampaikan Mah" jawab Aruna ragu karena sudah beberapa kali Mamahnya membicarakan Riega saja. Seperti ada hal yang sudah terjadi antara Mamahnya dan Riega tanpa sepengetahuan Aruna.
To be Continue...
Selamat membaca.
Selalu tinggalkan jejak membaca kalian dengan tekan Like/jempol dan berikan coment kalian untukku. ❤