Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
53



Perlahan,


Mulai dekat,


Semakin mendekat,


Tersisa hanya beberapa centi saja,


Ujung hidung mereka mulai saling menempel,


Riega mulai memejamkan matanya,


Dan.......


(PLETAK!) Aruna menyentil dahi Riega yang sedang memejamkan matanya.


"Aaawww, sakit tau yang!" Jerit Riega sambil mengusap-usap dahinya yang terasa nyeri karena sentilan dari Aruna.


"Ahahaha, siapa suruh kamu ngambil kesempatan dalam kesempitan?! Wleee!" Aruna tertawa puas dan ia meledek kekasihnya dengan menjulurkan lidah.


"Eh-eh-eh pacarku ngeselin juga yah? Sini, aku balas kamu!" Ancam Riega sambil mendekatkan diri ke arah Aruna dan menarik lenganya. Riega mulai melancarkan aksinya. Menggelitiki perut Aruna membalas keisengan Aruna mengerjainya tadi.


"Ahahah, geli Ga! Iih, hahahah geli sayang! Ahahah-hahahah udah stop it Riega, Please!" Pinta Aruna di sela-sela tawanya menahan rasa geli di sekitar perutnya yang terus digelitiki oleh Riega.


"No! Kamu nakal Nana..." Riega tak menghentikan aktifitasnya menggelitiki Aruna.


Aruna terus memberontak, menggeliat kesana kemari meminta pada Riega agar segera berhenti.


"Sayang, udah dong! Haha aku cape yang!" Ujar Aruna agar Riega mau berhenti.


"Ga mau, kamu udah ngerjain aku!" Riega tetap keras kepala.


"Haha, iya sayang iya. Aku minta maaf stop yah?!" Pinta Aruna dengan memohon pada Riega agar segera berhenti menggelitikinya.


"Hmmz, oke..." Riega mulai berhenti melepaskan kedua tanganya yang nakal itu dan langsung bersidekap. Aruna membenarkan posisi duduknya.


"...Tapi kamu cium aku dulu!" Titah Riega.


"..." Aruna diam, ia menatap Riega dengan sangat tajam. Seperti orang yang sedang benar-benar kesal dan marah.


"Ayo, cium aku sayang!" Pinta Riega.


"..." Aruna terus diam dan menatap Riega.


"Eh, kenapa sayang?" Riega mulai menyadari Aruna mulai berubah.


"..."


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Riega khawatir menggenggam kedua lengan Aruna.


"..." Aruna terus diam dan menatap lurus ke depan.


"Sayaaaang!" Riega mulai kesal sekaligus panik.


"..." Aruna tetap diam hingga saat Riega mulai lebih intens mendekatkan wajahnya ke arah Aruna untuk menelisik kenapa Aruna seperti itu. Aruna mulai mendekatkan wajahnya ke arah Riega.


(Cup!) Satu kecupan mendarat di bibir Riega.


"Emmmh?!" Riega terkejut sekaligus bingung.


(Cup!) Aruna kembali mengecup bibir Riega yang sedang terkejoedh.


"Yang?! Kamu cium aku sadar kan?" Tanya Riega lagi.


Dengan kecepatan tangan Aruna, ia langsung menarik tengkuk Riega mendekatkan wajahnya ke wajah Riega dan....


(Cup!) Satu kecupan lagi lebih lembut di arahkan ke bibir Rieg yang basah itu.


"Ciuman untuk Khapten Riegha..." bisik Aruna dengan nada suara rendah yang begitu indah terdengar di telinga Riega.


"..." sebelum Riega menjawab ucapan Aruna, tanpa ragu-ragu Aruna kembali menarik tengkuk Riega dengan cepat hingga bibir mereka kembali menyatu sempurna. Seperti sudah diciptakan dengan amat pas dan sesuai.


"Ennggh, kamu udah... mulai berani yah.." ucap Riega disela-sela lumatan lembut Aruna. Riega sengaja memberikan kesempatan untuk Aruna memimpin aksi ciuman mereka itu.


"Itu kamu yang ajarin aku Rieghaa..." sahut Aruna dengan lembut. Saat mulut Aruna terbuka, Riega mengambil kesempatan untuk menerobos masuk ke dalamnya. Ia mengambil alih permainan memadu bibir itu. Ciuman lembut itu berubah menjadi sebuah lumatan-lumatan ganas dan begitu berenergi.


"Emmnghh.. Gaa.." Aruna kembali mengeluarkan suara indahnya yang membuat Riega bersemangat.


Tapi tiba-tiba Aruna mendorong-dorong dada Riega. Aruna meminta untuk menghentikan aktivitas itu. Riega yang merasa terganggu akhirnya melepaskan bibir Aruna dengan perlahan.


"Huufft.. kenapa sayanghh,,, eemm?" Tanya Riega bingung sambil merapihkan rambut Aruna yang sedikit berantakan.


"Ghaa..." panggil Aruna sambil mengatur ulang nafasnya.


"Hem?" Sahut Riega sambil menatap wajah indah Aruna.


"Aku... mau tanya beberapa hal sama kamu" ujar Aruna


"Tanya apa sayang?"


"Emm, sebenernya... mereka semua itu siapa? Termasuk kamu sih Ga? Terus Caca dan Aslan, aku bingung sama kalian semua?" Aruna bertenya dengan kebingunganya.


"Ooh, aku tau pasti kamu bakal tanya itu sayang. Emm, aku jelasinya dari mana yah?" Gumam Riega ikut bingung.


"Terserah kamu"


"Oke! Jadi, kita sekarang ini ada di markas besar Macan Hitam. Nah, Macan Hitam itu sendiri adalah nama perkumpulan kita. Bisa di sebut sebagai Mafia sih..."


"Apa? Mafia?" Tanya Aruna kaget.


"He'em! Tapi, kita bukan seperti mafia pada umumnya sih Na. Emm, kayanya itu bisa kamu tahu sendiri ko yang. Ah iya, yang tadi di atas podium itu Ketua AL. Dia adalah pemimpin disini. Namanya Ronan Al Daniel, dia adalah kakak tertua dari papah. Gimana perkumpulan ini bisa didirikan aku hanya tahu beberapa, ga bisa aku ceritain juga ke kamu Nana sayang. Tapi yang jelas, kami bukan Mafia sembarangan. Kita semua disini dilatih sedemikian rupa. Banyak tingkatan-tingkatan yang harus kita lewatin, tapi kami semua disini adalah keluarga. Paman AL, merekrut mereka semua bukan dari orang-orang yang terpandang. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak jalanan yang ga punya tujuan hidup, tapi Paman AL merekrut mereka dan memberikan mereka semua yang mereka butuhkan. Asalkan mereka mampu memenuhi semua peraturan di sini dan mampu untuk menjunjung tinggi kesetiaan." Terang Riega.


"Emm, apa kalian sama seperti keluarga Sharen?"


"Sayang, kita disini bukan gengster abal-abal kaya mereka. Mereka melakukan tindak kejahatan sedangkan kita menumpas kejahatan. Kebanyakan misi yang Paman AL terima adalah berkaitan dengan politik uang, penyanderaan petinggi negara, penyelesaian pertikaian antar negara dan lain-lain. Kalau mereka punya lima ratus orang lebih hanya untuk melindungi tempat mereka dan melakukan kejahatan. Tapi Kita disini punya ribuan anggota yang siap di terjunkan langsung untuk menyelesaikan misi-misi yang seru sayang!" Jelas Riega.


"Ooh begitu yah.. tapi aku masih bingung Riega!"


"Bingung? Hmm, nanti kalau Nana sering kesini dan berlatih disini pasti tau koo jawaban dari kebingungan itu" ujar Riega.


"Em, terus kenapa kamu ga cerita ke aku tentang sisi kehidupan kamu yang berbeda ini Ga?"


'Eh, mampus lo Ga! Ini nih pertenyaan yang gue takutin' batin Riega mengutuk dirinya sendiri.


"Emmm, sayang... Aku rasa itu bukan hal yang penting buat kamu tahu..." jawab Riega sedikit takut.


"Loh, ko ga penting?!" Tanya Aruna lagi.


"Iyah... em-kan kalau Riega ceritain ini, apa Aruna masih mau untuk jadi kekasih Riega? Riega ini pembunuh berdarah dingin dan sekali pistol melekat di tangan Riega, musuh di depan mata tumbang seketika!" Ujar Riega.


"Kamu ragu sama aku?"


"Eeh,eeh! Bu-bukan gitu sayang... Tapi, aku ngerasa butuh waktu yang tepat untuk kamu tahu semua itu Aruna sayang..." jelas Riega berusaha mencari kata yang tepat agar Aruna tak merasa kesal dan ia akan menjadi serba salah.


"Tapi..."


"He'em iya deh Ga" jawab Aruna.


Riega langsung merangkul Aruna dan menggendongnya ala bridal style. Arunapun langsung melingkarkan tanganya di leher Riega agar tak terjatuh. Riega membawa Aruna ke atas ranjang dan membaringkanya disana dengan sangat lembut.


"Nah, sekarang Arunaku harus istirahat yah!" Riega menyelimuti Aruna hingga menutupi dada Aruna.


"Siap Kapten!" Jawab Aruna sambil menyunggingkan senyumanya.


"Heheheh, oke Nanaku! Selamat tidur, mimpiin Riega yah?!" Kekeh Riega sambil mengelus puncak kepala Aruna dengan lembut dan penuh cinta. Tatapanya tertuju pada manik mata indah Aruna dan Aruna memejamkan matanya. (Cup!)


Satu kecupan mendarat tepat di dahi Nana. Riega mengelus kembali puncak kepala Aruna.


"Aku keluar yah sayang. Tidur yang nyenyak! I love you so much"


"He'eum. I Love you more Ga.." gumam Aruna dan ia memejamkan matanya.


Riega berlalu dan tak lupa mematikan lampu ruangan dan menyalakan lampu tidur. Ia keluar untuk menuju ruangan Pamannya. Membicarakan suatu hal yang penting mengenai Aruna. Sebenarnya sudah sejak tadi ia mendapat panggilan dari Sang Ketua, tapi karena Aruna masih banyak bertanya akhirnya Riega meminta waktu sebentar untuk meladeni kekasih kecilnya yang manja itu.


*****


Setelah keluar dari kamar miliknya yang saat ini di tempati oleh Aruna, ia berjalan menuju ke ruang baca Ketua AL. Ada hal penting yang akan ia bicarakan dengan Pamanya itu. Bersama dengan Caca dan Aslan mengenai Aruna.


(Tok-tok) Riega mengetuk pintu ruang baca itu beberapa kali.


"Masuk!" Suara sahutan dari dalam terdengar dan Riega membuka pintu itu perlahan.


"Salam Ketua!" Uhar Riega menundukkan kepalanya.


"Kemari Nak!"


Disana sudah ada Caca dan Aslan serta Assistant pribadi Ketua AL yaitu William di sampingnya. Riega mengambil tempat duduk berseberangan dengan Ketua AL di sofa yang sama dengan Caca dan Aslan.


"Riega?!"


"Ya Paman?"


"Mengenai kekasihmu, apa dia bertanya-tanya tentang kita?"


"Ya Paman. Banyak yang ingin dia ketahui tentang kita. Saya hanya menjelaskan hal-hal umum saja yang ada disini. Lagipula, lambat laun Aruna akan mengetahui dengan jelas bagaimana keadaan disini" jawab Riega dengan sopan.


"Baiklah, itu sudah pasti. Tapi, apa dia mau berlatih dengan keras?"


"Em, saya belum membahas hal itu Ketua!"


"Apa menurutmu dia mau, Nak?" Tanya Ketua AL.


"Emm, saya belum bisa berasumsi Ketua!" Tutur Riega jujur karena sejak tadi, Riega tak membahas mengenai latihan-latihan yang akan Aruna lakukan.


"Oke! Caca?!" Panggil Ketua AL.


"Ya Paman?"


"Menurutmu, siapa guru yang tepat untuk mendidik Aruna?"


"Maaf Ketua, apa boleh saya sendiri yang mengajar Aruna?"


"Kenapa?"


"Aruna tipikal orang yang canggung dan lama untuk berbaur. Yang Caca ketahui, dia hanya memiliki satu teman dekat. Saya rasa, Aruna akan lebih cepat menguasai semua teknik pelatihan bila orang terdekat yang melatihnya." Terang Caca menjelaskan semua hal yang selama ini ia amati dari Aruna kekasih Kakanya itu.


"Apa itu tidak memberatkanmu?"


"Tidak Ketua! Jika Ketua memanggil Guru Edwin datang kesini untuk mengajar Aruna pistol, mungkin akan sulit karena Arunapun belum tentu bisa datang ke markas tiap hari. Jika Ketua memanggil Guru Oisir untuk melatih memanah, itupun akan sia-sia. Jika Ketua memanggil Sensei datang kesini untuk melatih shuriken, mungkin hal sama akan terjadi. Lebih baik Guru Edwin digantikan oleh Ka Riega dan Sensei digantikan oleh Aslan, sedangkan Caca akan menggantikan Guru Oisir melatih Aruna memanah." Jawab Caca dengan lugas.


"Benar juga, kalian bertiga adalah paket komplit yang Paman miliki!" Pungkas Ketua AL dengan senyuman bangga.


"Will, atur jadwal latihan Aruna. Buat surat izin pada sekolahnya untuk Aruna dengan format 'Pelatihan Khusus Kewirausahaan' setiap hari Jumat!" Titah Ketua AL kepada William yang sudah sedari tadi duduk diam di sampingnya sambil mengutak-atik tablet khusus miliknya yang di design oleh Macan Hitam.


"Siap Ketua! Jadwal latihan untuk Aruna : Jumat akan dilatih oleh Aslan teknik dasar dan lanjutan Shuriken. Hari Sabtu, akan dilatih oleh Caca teknik dasar dan lanjutan memanah. Hari Minggu akan di latih oleh Riega teknik menembak dasar dan lanjutan." William menyebutkan langsung jadwal pelatihan Aruna.


"Tepat! Seperti yang saya mau, target Aruna menguasai semua teknik itu adalah lima bulan. Dengan latihan rutin dan tekun, jika Aruna cepat tanggap ia akan mampu menguasai semuanya. Saya harap, wanita yang Riega cintai ini mampu!" Tegas Ketua AL.


Riega, Caca, Aslan dan William yang berada di ruangan itu semua mengangguk dengan raut wajah yang berbeda-beda. Di dalam hati dan fikiran mereka terngiang jika mereka saja bisa menguasai teknik itu selama beberapa tahun, tapi Aruna malah Ketua AL targetkan selama 5 bulan saja? Apa mungkin bisa?! Batin mereka.


"Will, sediakan tempat latihan khusus untuk Aruna! Semuanya harus di design sedemikian rupa. Perintahkan Team Modifikasi untuk merampungkan. Sediakan semua peralatanya. Saya mau, semua berjalan baik! Besok, surat izin itu sudah harus di berikan pada pihak sekolah!"


"Siap Ketua!" Sahut William lagi.


"Oke, kalian semua bisa beristirahat!"


Ketua AL berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke arah jendela melihat pemandangan dari sana. Riega, Caca dan Aslan berdiri berpamitan.


"Kami undur diri Ketua!" Mereka bertiga berjalan keluar dan hilang di balik pintu ruang baca itu.


Disana hanya tersisa Ketua AL dan William. William yang sejak tadi bertanya-tanya di benaknya langsung mengajukan pertanyaan pada tetuanya itu.


"Maaf Ketua, saya lancang. Apa tujuan Ketua melakukan pelatihan ini? Bukankah ini adalah target pelatihan yang sangat berat?!" Tanya William selaku Assistant pribadi Ketua AL.


"Will, di usia saya yang hampir menginjak kepala tujuh ini, saya rasa adalah masa-masa yang rentan. Apa lagi dengan kondisi fisik saya yang semakin menurun. Riega, adalah satu-satunya kandidat pengganti sebagai Ketua disini. Keponakan yang sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri, dia telah berbakti pada saya selama belasan tahun ini, mendampingi dan mengikuti saya sejak dia di bangku SMP. Dia rela hidup mandiri dan memilih ikut saya daripada Ayahnya. Tapi dia selalu bisa membagi kasih sayang pada kami berdua. Dia adalah anak yang tangguh, kuat dan dapat di andalkan... Uhuk-uhuk" Ketua AL berhenti sejenak karena batuknya mulai kambuh. Ia terus membelakangi William dan melihat ke luar jendela.


"Ketua?! Apa Ketua Baik-baik saja?!" Tanya William khawatir.


Ketua AL menganggukkan kepalanya.


"...Riega akan menjadi Ketua selanjutnya. Saya takut dia akan menjadi lemah jika memiliki wanita lemah yang mendampinginya. Kamu tahu Will? Saya adalah Pria lemah itu..." Ketua AL kembali menjeda kalimatnya.


William hanya diam taknbergeming.


"...Istri saya dan dua anak saya tewas saat saya terjun langsung menyelesaikan misi di negara seberang. Mereka saya tinggalkan di markas ini dengan beberapa anggota lainya. Mereka di serang oleh musuh kita. Itu salah saya! Salah saya Will! Karena saya tidak pernah mau istri dan anak-anak saya memegang senjata. Saat saya mengetahui kabar duka bahwa mereka tewas, saya mengurung diri. Tak mau sedikitpun menyentuh makanan apapun, bahkan semua anggota saya, sudah saya biarkan tak peduli mereka mau apa. Semua misi dan tawaran pekerjaan saya abaikan. Semuanya terbengkalai. Hidup saya seakan tak ada gunanya. Wanita yang saya cintai tiada karena musuh saya. Hingga saat dimana Adik saya memberikan dorongan semangat pada saya. Dia adalah Papah dari Riega. Ia mendorong saya untuk kembali seperti sedia kala dan menitipkan anak bujangnya pada saya. Itulah pertama kalinya Riega bergabung dengan perkumpulan ini, Will!" Jelas Ketua AL dengan mata yang sedari tadi sudah berkaca-kaca. Mengingat bagaimana kejadian belasan tahun lalu. Karena kebodohannya, Istri yang paling ia cintai dan anak-anak yang mereka sayangi harus tewas dengan begitu sadis di tangan musuhnya.


"Saat Riega datang, seperti ada sebuah dorongan baru, gairah dan harapan baru untuk membalaskan dendam pada musuh. Akhirnya kami menyusun strategi dan menang telak! Dari pengalaman saya itu, saya ingin, Wanita yang Riega cintai harus benar-benar tangguh seperti dirinya. Harus bisa mendampingi Riega, dimanapun dan kapanpun. Dan yang terpenting adalah, wanita yang Riega cintai. Harus mampu untuk menjaga dan memproteksi dirinya sendiri. Saya tidak mau jikalau Riega lemah seperti saya dulu! Itu adalah tujuan saya melakukan pelatihan ini Will" Tegas Ketua AL.


"Saya mengerti Ketua! Maaf jikalau saya lancang dan membuka luka lama Ketua." William turut merasakan kesedihan yang pernah Ketua AL rasakan. Ia tak pernah tahu jika ketuanya pernah mengalami masa-masa terlemah di hidupnya.


"Tidak masalah Will! Kamu bisa keluar dan istitahat. Besok, antarkan surat izin itu langsung ke sekolah Aruna dan beri penjelasan pada pihak sekolahnya langsung. Saya tau, kamu bisa mencaru akasan yang tepat! Jaga rahasia ini!" Pungkas Ketua AL tegas.


"Siap Ketua! Saya undur diri!" William pamit dan melenggang keluar ruangan itu.


Ketua AL hanya diam tak bergeming. Masih dengan posisi yang sama, ia terus menatap ke arah luar jendela Ruang bacanya yang terletak di lantai tiga. Ia menatao gelapnya langit malam. Ribuan bintang menghias disana. Ia yakin tiga diantara ribuan bintang yabg bercahaya itu adalah mereka yang Ketua AL cintai. Istri dan kedua anaknya.


"Sinta, Arka dan Irka.. Papah rindu kalian... Maaf, maaf karena kalian harus pergi karena kebodohan Papah sendiri, Nak! Maaf Sinta!" Gumam Ketua AL dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. Telapak tangannya mengusap kaca jendela itu seolah menggenggam bintang yang menghias langit malam itu.


Seorang ketua Mafia yang terkenal berdarah dingin. Seorang Ketua Mafia yang satu kata perintahnya saja sudah mampu membumi hanguskan ratusan bahkan ribuan orang. Seorang Ketua Mafia yang saat namanya saja di sebut, satu kampung lari tunggang langgang karena ketakutan. Seorang Ketua Mafia yang bila ia hadir dan setiap langkahnya selalu di hormati. Ia memiliki satu titik lemah di dalam hatinya.


Setiap manusia, sekuat apapun dirinya pasti pernah melewati titik terlemahnya. Setangguh apapun hatinya, ia pasti memiliki satu alasan yang mampu menggoyahkannya.


To be Continue...


Hai Guysss.... jangan lupa like coment dan beri aku VoteπŸ™ ❀


Maafkeuuunn aku terlalu lama untuk up πŸ™


Aku minta maaf banget πŸ™πŸ™