Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
66



Sesampainya Riega dan Will di perusahaan yang di naungi oleh Macan Hitam, mereka di sambut oleh seluruh karyawan disana dan juga beberapa petinggi yang bisa hadir. Mereka semua mengenakan setelan rapih layaknya seorang pekerja kantoran. Perbedaannya hanya pada petingginya saja yang mereka kenakan adalah tuxedo necis yang begitu memikat mata.


Begitu Riega turun dari mobil dan di ikuti oleh Will dibelakangnya, semua mata tertuju padanya. Seorang utusan dari sang Ketua, tangan kanan kepercayaan dari Ketua Macam Hitam. Auranya yang begitu terpancar membuat seluruh pasang mata langsung terkesima dan takjub sekaligus.


Dengan sekali hentakan, seluruh pegawai disana menunduk memberikan salam hormat kepada Riega. Sepersekian detik saja, Riega mulai melangkahkan kakinya diatas karpet merah. Berjalan layaknya pria yang sedang catwalk. Mata para wanita yang melihatnya begitu terkagum-kagum.


Majulah seorang Wakil Direktur perusahaan yang ada disana untuk menyalami dan turut menjadi pemandu Riega yang ingin bertemu dengan korban kejadian tak mengenakkan yang di lakukan oleh istri dari Tao.


"Bagaimana keadaan pegawai yang menjadi korban kekerasan itu?" Tanya Riega membuka percakapan.


"Sudah mendapatkan penanganan dan sudah lebih baik. Mari saya antarkan ke ruangannya Tuan." ujar Wakil Direktur dengan ramah, sekaligus memimpin jalan untuk menghantarkan Riega menuju ke ruangan perswatan pegawai.


Sesampainya disana, Riega langsung melihat seorang wanita yang di kepalanya terdapat perban. Ada sedikit bercak darah disana dan juga tangan yang banyak sekali luka bekas cakaran.


Wakil Direktur itu memberikan isyarat agar si pegawai memberikan salam hormat pada Riega. Tapi Riega yang melihat kondisi wanita itu memang sedang tak baik, akhirnya ia langsung menyela dan mengajak si wanita itu berbincang.


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Riega ramah.


"Sudah lebih baik dari sebelumnya, Tuan" jawab si wanita itu.


"Syukurlah, jika kau membutuhkan sesuatu bicaralah jangan sungkan. Perusahaan juga akan memberikan kompensasi penuh atas insiden yang terjadi kemarin" Ujar Riega.


Tapi belum sempat wanita bernama Ningning itu menjawab, Riega sudah menyambung lagi ucapannya.


"Tapi Bisakah kau menjelaskan kejadian itu secara detail tanpai berkurang sedikitpun?" Pinta Riega.


Tanpa ragu, pegawai wanita bernama Ningning itu menjawab.


Riega yang mendengarkan hal itu, kepalanya langsung merasa panas. Rasanya ia ingin sesegera mungkin membalaskan segala kelancangan dari Istri Gembong Mafia Jun Tao Liau itu. Tanpa seluruh orang yang ada di ruangan itu tau, kecuali William. Riega sedari tadi sudah mengepalkan tangannya dengan begitu kuat. Hingga terlihat urat-urat yang menonjol di tangannya itu. Telinganya sudah begitu memerah dan matanya sudah memancarkan aura mematikan.


"Baiklah kalau begitu, cepat cari tahu apa penyebab wanita tua sialan itu sampai melukai karyawanku. Jangan sampai ada hal sekecil apapun terlewat!" Tegas Riega memerintahkan William dan Wakil Direktur untuk segera mencari tahu dan mereka berdua segera bergegas kelusr dari ruang perswatan itu.


"Kau istirahatlah sampai benar-benar pulih. Jangan khawatirkan tentang salary, semuanya akan tetap utuh meskipun kau tak bekerja sementara dan uang kompensasi akan segera masuk ke rekeningmu" Tegas Riega dengan amarah yang sedari tadi ia tahan.


Setelah beranjak dari ruang perawatan, Riega berjalan menuju ke ruangan wakil direktur di dampingi beberapa bodyguard di belakangnya. Para wanita yang bekerja disana tetap terkesima melihat betapa tampannya utusan dari Bos besar mereka. Dengan wajah yang begitu serius saja Riega terlihat tampan apalagi saat dia dalam mode ramah pasti akan terlihat lebih tampan berkali-kali lipat. Betapa beruntungnya wanita yang dimilikinya. Pikir para wanita yang sedang asyiknya mencuri-curi kesempatan menikmati keindahan dari ciptaan tuhan secara cuma-cuma.


"Bagaimana? Apa alasan spesifiknya sampai wanita itu mengamuk di wilayah perusahaan kita?" Tanya Riega dengan tatapan serius.


"Xiaolin, adalah anak tunggal dari Tuan Tao itu memiliki beberapa sangkutan hutang yang lumayan terbilang besar. Dan memang untuk pembayaran tagihan hutang dari Xiaolin beberapa kali tertunda. Pihak perusahaan sudah berusaha mematuhi segala SOP yang berlaku di perusahaan untuk menagih kepada pihak yang berhutang. Namun, beberapa kali juga malah pegawai kami yang menagih di lapangan malah dihajar habis-habisan oleh beberapa anak buah dari Xiaolin ini. Akhirnya karena hal itu memicu keributan, pegawai kita meminta bantuan juga untuk memukul mundur anak buah Xiaolin. Akhirnya kami berhasim itupun tidak sampai menyakiti si anak tunggal itu. Dan beberapa hari kemudian Ibu dari Xiaolin, alias istri dari Tuan Tao datang ke perusahaan kita untuk melampiaskan amarahnya dan berusaha menyerang karyawan kita yang sedang bertugas di meja teller. Kurang lebih begitu Tuan Riega alasan yang sudah saya dapatkan" Jelas sang wakil direktur dengan nada yang begitu lugas.


Riega yang mendengar dengan seksama agar mampu memahami kondisi, sekaligus berusaha menyusun rencana tambahan untuk membalaskan perbuatan merendahkan Perkumpulan Macan Hitam.


"Baik, terima kasih penjelasannya. Saya percayakan tanggung jawab perusahaan pada Anda. Berikan hak-hak korban yang sudah saya sebutkan tadi. Dan tetap waspada untuk beberapa hari kedepan. Perketat keamanan di sekitar gedung juga. Tambah petugas keamanan dan beberapa body guard. Karena orang yang kita hadapi bukan orang sembarangan. Paham?!" Titah Riega tegas.


"SIAP TUAN!" Sahut Wakil Direktur.


Setelah pertemuan singkat itu, Riega mulai menambah beberapa rencana baru. Riega dan William mulai berjalan keluar dari gedung perusahaan itu, di ikuti beberaoa body guard. Sambil berjaln tatapan tajam dan wajah dingin yang sangat serius ia tampakkan, namun tak membuat para karyawan wanita disana merasa ngeri atau takut. Malah membuat mereka semakin jatuh hati dan ingin terus memandangnya.


William yang berjalan sedikit di belakang Riega tak berani membuka percakapan meski banyak hal yang ingin ia ungkapkan sekaligus tanyakan pada tangan kanan dari atasannya ini. Karena menurut William, Riega saat ini pasti sedang sangat - sangat emosi.


Dan memang benar, Riega saat ini memang sedang diam membisu. Namun, fikirannya sedang menyusun beribu-ribu strategi untuk pembalasan atas semua perlakuan yang sangat merendahkan itu.