Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
45



"Kapten! Pertempuran, Akan Segera Di mulai!" Caca berujar dengan penuh percaya diri.


"Siap!" Jawab mereka serempak terdengar di saluran alat komunikasi.


"Ca!" Panggil Riega.


"Siap Kapten!"


"Segera ganti kostum! Pakai hitam-hitam!" Titah Riega. Caca langsung berlari masuk menuju ke kamar mandi tempat teraman saat ini yang berada di dekat parkiran belakang mobil jip. Sebelumnya Rieg sudah memberi tahu kalau Aslan menunggu disana. Mereka pergi kehutan tanpa kendaraan. Memang lumayan jauh, tapi dengan kekuatan jurus ninja yang Caca dan Aslan pelajari, mereka sudah pasti akan sampai di sana bahkan bisa jadi lebih dulu mereka ketimbang mobil Jip yang Sharen tumpangi.


Setelah Caca mengganti pakaiannya, ia langsung mencari keberadaan Aslan. Tepat saat ia menoleh di antara rentetan mobil Jip, Caca melihat Aslan kekasihnya itu memberikan kode untuk mendekat dan bersembunyi.


"Ca!" Aslan memanggilnya dan ia langsung berlari mendekat.


"Cek! Kapten? Dimana posisi sekarang?" Tanya Caca.


"Saya sedang berada di bagasi mobil Jip Sharen!" Jawab Riega dengan suara berbisik.


'What? Jadi Kaka gue udah nyelundup masuk ke sana duluan? Curang!' Batin Caca geram. Padahal jika memang dirinya yang berada di mobil jip itu, ia akan segera menikam Sharen dari belakang tanpa ampun. Tapi dirinya tidak bisa merajuk karena ini posisi sedang dalam misi. Riega adalah Kaptennya bukanlah Kakanya sekarang.


"Oke Kapten! Jadi, apa bisa sekarang beraksi?" Tanya Caca dengan suara pelan.


"Jalankan Ca! Sambungkan pada team intelijen. Pasukan dari markas besar sudah standby. Kalau saatnya sudah tiba, hanya beri aba-aba 'SERANG' mereka akan segera menyerang!" Titah Riega dan Caca segera menghubungkan alat komunikasi kepada Team Intelijen.


Caca dan Aslan segera melompat ke atas mobil Jip, lalu ke atap garasi dimana mobil jip itu berjejer dan..


(Hup!) Mereka berdua lompat ke luar dari atas gerbang. Suatu cara yang mudah kabur dari gedung sebesar itu bagi seorang caca dan Aslan anggota Macan Hitam.


Setelah berhasil keluar dari gedung putih itu, Caca dan Aslan berlari mencari jalan setapak menuju hutan. Jalan itu sudah pasti adalah jalan yang di lalui oleh mobil jip Sharen. Sambil terus berlari, Caca membuka panel jam tangannya. Disana ada titik merah milik Aruna yang menandakan berada di tengah hutan. Sedangkan titik biru satunya berada di tepi hutan arahnya berpindah-pindah itu sudah pasti adalah posisi dimana Riega berada sekarang di dalam bagasi mobil Jip berjalan menuju ke tengah hutan.


Sekarang Caca bukan ingin mengikuti mobil Jip tapi ia akan segera menuju ke rumah kosong di mana Aruna berada dan secepatnya sampai ke sana. Melihat situasi dan kondisi di sana. Berapa jumlah penjaga disana, Caca sudah tahu, hanya saja Caca dan Aslan belum tahu bentuk bangunan dan keadaan rumah kosong disana. Ia harus tahu celah-celahnya agar lebih mudah merangsek masuk ke dalamnya.


(Drap-drap-drap!) Aslan berlari maju duluan ia bahkan melompat dan berpindah ke sana kemari dengan begitu cepat bagaikan seorang ninja yang terlatih. Itu hal lumrah di perkumpulan Macan Hitam bagi seorang pemanah dan ahli Shuriken. Caca yang masih berada di belakang Aslan, berpindah jalur ke arah timur berpisah dengan Aslan.


Rimbanya hutan dan licinya jalan di hutan yang berlumut tak mengurangi sedikitpun kegesitan dan kelincahan Caca. Ia terus berlari mendekati titik merah penanda Gps aktif yang dikenakan Aruna. Jarak mereka hanya tinggal lima puluh meter lagi. Ia kembali mengecek panel jamnya mengecek keberadaan titik biru sebagai penanda Riega.


"Ah, mereka masih berada jauh di belakang. Masih sempat untuk mengecek lokasi!" Gumam Caca sambil terus fokus menghindari tiap ranting, dan dedaunan yang menghalangi jalanya. Itu adalah medan terberat yang pernah ia lewati selama menjalankan tugas dari sang Ketua AL dan Kapten. Tampatnya yang licin dan banyak pohon dan tumbuhan-tumbuhan yang merambat membuat perjalanan lumayan sulit untuk di tempuh.


Biasanya saat menjalankan misi mereka menggunakan mobil. Tapi kali ini harus berlari dan lumayan seru menurut Caca.


Tepat saat Aslan sudah berdiri di balik sebuah pohon besar sambil bersembunyi untuk menguntit mereka, Caca mendarat di sebelahnya.


(Hup!) Perlahan dan pasti bahkan suara dedaunan yang Caca injak tak berbunyi sedikitpun. Keahliannya menguasai jurus ninja sangat berguna saat ini.


"Gimana?" Tanya Caca.


"Ca, kita harus berpisah. Rumah kosong ini dua lantai. Di lihat dari penjaga diluar berjumlah 7 orang. Untuk lantai satu dan dua belum bisa di ketahui!" Terang Aslan sambil memegang alat teropong kecil jarak jauh. Aslan sudah beberapa menit lebih dulu tiba disana.


"Serahin ke gue!" Ujar Caca langsung mengambil alih teropong kecil dan bergerak malompat ke atas pohon besar yang sudah terlihat tua dengan adanya tanaman merambat yang menjulur kebawah seperti sebuah rambut.


(Tap!)


(Tap!)


(Tap!)


Kaki Caca bertopang pada batang pohon itu. Kelincahanya tak bisa di ragukan lagi. Jarak pohon dengan rumah itu ada kurang lebih sepuluh meter. Dari pohon yang tingginya setara dengan tinggi bangunan kosong itu, Caca mengambil tanaman merembat yang menjuntai. Mencengkeramnya dengan kuat, lalu ia mengayun badannya sekuat yang ia bisa.


(Syuuuuut!) Badan Caca seperti terbang dan ia melepas tanaman merambatnya. Badanya sudah bersiap menggunakan jurus ninjanya.


(Hup!)


(Trap!) Kakinya mendarat tepat di atas atap rumah kosonh yang rapuh itu. Suara itu membuat beberapa penjaga yang ada di dalam dan di luar waspada.


"Ada apa disana?" Teriak salah satu orang di bawah.


"Periksa!" Teriak Panto salah satu anak buah Sharen yang memimpin.


Dua anak buah lain berlari memeriksa melihat-lihat suara apa tadu yang berada di atas. Salah satunya menembak ke atas.


(Dor!)


Caca yang sedari tadi bersembunyu tiarap di atas atap rapuh itu terkejut. Caca menghindar dan untungnya hanya tembakan sembarang saja tak sampai mengenai atap rapuh itu. Bisa di bayangkan jika atap itu terkena tembakkan. Hancur sudah semua rencana Caca.


"Tidak Ada apa-apa disana. Mungkin hanga hewan liar, monyet atau sejenisnya!" Teriak anak buah yang melepaskan satu tembakan itu. Mereka kembali berjaga di posisinya. Menunggu kedatangan Sharen.


"Hhuuuuhhh!" Aslan dan Caca menghembuskan nafasnya ditempat yang berbeda dengan lega.


Tak butuh waktu lama, Caca dengan hati-hati memijak atap rapuh itu mulai mencari celah dan memantau menggunakan teropongnya.


Ia melihat di lantai atas ada 4 orang berjaga dengan pistol masing-masing di tanganya. Memeriksa lagi di tengah ruangan lantai atas, ada Aruna disana.


'Bangsatt kau Sharen!' Geram Aruna di dalam hatinya mengutuk Share itu.


Dari atas sana, Caca sudah bisa sekaligus mengetahui berapa jumlah orang di lantai bawah. Pasti ada empat penjaga. Karena Sharen hanya membawa 15 pasukan. 7 di luar rumah kosong itu, 4 orang di lantai atas, dan 4 orang lagi di lantai bawah tentunya. Genap 15 orang. Ia meletakkan teropong kecil itu di sakunya. Ia standby di atas, melihat panel jamnya sebentar lagi tanda titik biru akan tiba. Tandanya Sharen akan segera datang.


"Cek, Kapten! Saya sudah bersiap di posisi!" Ujar Caca.


"Cek, Kapten! Saya juga sudah bersiap di posisi!" Ujar Aslan yang sudab berhasil berpindah posisi di balik batu besar berjarak hanya tiga meter dari para penjaga.


"Ok! Mobil berhenti. Tunggu Sharen turun, saya akan keluar dari sini!" Bisik Riega dari dalam sana. Ia sudah bisa merasakan mesin mobil jip itu mati. Suara samar-samar terdengar Sharen sudah berjalan menjauhi mobil. Riega langsung sigap keluar dan merunduk bersembunyi di bawah mobil. Tiarap dan ia mulai merangkak perlahan dengan baju hitam yang sangat membantu penyamaran.


(Zzzt, zzzzt, zzzzt) suara Tanah dan tubuh Riega yang bersentuhan. Ia terus tiarap hingga mendekati sebuah pohon dan langsung bersembunyi mengubah posisi menjadi setengah berdiri. Menumpu tubuhnya dengan lutut.


Ia menyambungkan alat komunikasi dengan semua anggota yang ada di markas termasuk Caca dan Aslan.


"Cek, tersambung ke semua! Standby on position! Komando berada di saya, sekali saya katakan Serang, maka beraksi! Mengerti?!" Ujar Riega tegas.


"Siap Mengerti Kapten!" Jawab mereka serempak.


****


Sharen sudah sampai di dalam rumah kosong itu. Menaiki tiap anak tangga reot menuju lantai atas bangunan tua itu.


(Tak-tak-tak!) Derap Kaki Sharen terdengar memenuhi ruangan itu di ikuti dengan pengendara mobil jip tadi.


"Halo gadis Jalang?!" Ucap Sharen menyapa Aruna dan mulai mendekat.


"..." Aruna tidak menjawab hanya menatap marah ke arah Sharen.


"Kenapa? Sakit? Hah, ini tidak sesakit kehidupanku!" Ujar Sharen mencengkeram kuat dagu Aruna dan membuangnya ke sembarang arah membuat wajah Aruna terpental ke samping.


"Ssshhh!" Aruna mendesis merasakan sakit.


"Apa kamu mau tau alasanku menculikmu? Atau kamu mau mendengar kisah pilu masa laluku? Atau... Kamu mau mendengar bagaimana Ayahmu mati di tanganku? Hem?" Tanya Sharen dengan senyuman iblis ke arah Aruna.


"Apa? Ka.. kamu membunuh Ayahku? Kenapa?" Aruna langsung berseru kaget mendengar ucapan Sharen. Selama ini ia tidak mengetahui kabar dimana keberadaan Ayahnya. Ia bahkan sangat tidak mau bertemu dengan Ayahnya sejak ia dan Mamahnya di usir dari rumah masa kecilnya dulu. Tapi, saat ia sekarang mendengar Ayahnya telah tiada, hatinya semakin sakit.


"Kenapa? Kamu tanya kenapa? Itu karena dia tega membuang aku! Memilih kamu gadis Jalang!" Teriak Sharen tepat di depan wajah Aruna yang penuh dengan peluh, air mata, dan memar di wajahnya.


"Kamu gila Sharen!" Teriak Aruna membalas Sharen.


(PLAK!) satu tamparan mulus mendarat di pipi Aruna.


Caca melihat itu sudah geram sekali ingin terjun masuk dari atap sana dan menikam mati Sharen di tempat. Tapi semuanya tertahan. Riega tidak mengizinkan. Bukan karena Riega tega, bukan juga karena Riega menginginkan Arunanya terluka. Tapi ia ingin Sharen mengungkap semua kisah masa lalunya yang berkaitan dengan Aruna sebelum Sharen mati di tanganya.


"Awwsshh" desis Aruna menahan rasa sakit di pipinya. Sekarang ujung bibirnya sudah berdarah. Kulitnya benar-benar sakit di tampar keras oleh Sharen.


"Well, karena kamu sebentar lagi akan mati di tanganku, maka akan aku ungkap semua kisah pahit masa laluku! Kamu dengar baik-baik supaya kamu tidak mati tanpa mengetahui sebab kematianmu Aruna!" Ujar Sharen mendelik ke arahnya.


"Tunggu, tunggu! Sebelum aku bercerita, kamu harus meminum sebotol susu ini agar kamu tahan mendengarnya. Cepat bantu dia meneguk susu itu!" Titah Sharen. Dua orang maju mendekati Aruna untuk memberikan susu itu pada Aruna.


"Siap Tuan!" Jawab dua orang anak buahnya itu.


Satu orang menahan rahang Aruna dengan kasar agar ia mau membuka mulutnya dan satu lagi menyodorkan botol itu ke mulut Aruna agar di teguk habis-habis.


"Di dalam susu itu terdapat racun mematikan. Jangka waktunya satu jam. Racun itu akan bereaksi di tubuhmu perlahan-lahan menghancurkan isi perutmu, organ dalam, dan terakhir otakmu Aruna, kamu akan merasakan sakit berkali-kali lipat! Tepat saat aku selesai bercerita, kamu akan perlahan-lahan mati dengan sendirinya Aruna! Hahahahahahahhahah!" Tawa Sharen menggema memenuhi ruangan itu.


Dua anak buah Sharen sudah mulai memaksa Aruna meneguk susu itu hingga habis. Aruna terus memberontak sekuat tenaga. Sebisa mungkin Aruna bergerak diatas kursi itu. Membuat banyak susu tumpah di bajunya. Tapi lebih banyak lagi susu yang terpaksa ia telan masuk. Kasar sekali mereka memperlakukan Aruna. Caca sangat iba, tak tega melihatnya meskipun ia tahu kalau susu itu tidaklah beracun karena ia berhasil mengganti racundi dalam susu itu.


"Selesai Tuan!"


"Habis?"


"Habis Tuan!"


"Bagus! Anak yang penurut!" Ujar Sharen tersenyum sinis ke arah Aruna yang sedang ngos-ngosan. Nafasnya benar-benar tak beraturan keadaanya benar-benar berantakan. Wajah cantiknya menjadi kotor sekali.


Aruna kembali menangis dalam diam. Ia sudah pasrah jika ini adalah hari terakhirnya berada di dunia. Dengan racun yang sudah bersarang di tubuhnya, apa lagi yang bisa ia lakukan? Tak ada. Aruna sudah putus Asa. Hanya bisa mendengarkan kisah masa lalunya yang bahkan baru akan ia ketahui sebelum nyawanya direnggut.


To be Continue...


Guysss... 😍


Aku akan lanjutin lagi ngetiknya hari ini juga koo..


Kapan updatenya aku usahain hari ini juga tapi kalian harus bersabar yoooo... 😊


Like biar makin semangat! 👍