Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
41



Helikopter A088 lepas landas di helipet Markas Gedung Putih A. Sharen dan ketiga agent yang tersisa turun dari helikopter membopong Aruna yang masih tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Mereka turun dari helikopter dan seluruh bodyguard dengan tubuh yang besar dan tegap memberi hormat kepada Sharen.


"Bawa perempuan jalang itu ke penjara bawah tanah! Ikat dan tutup mulutnya! Jika sudah sadar, jangan beri apapun makan atau minum sampai saya datang!" Titah Sharen dengan nada begitu angkuh.


"Siap Tuan!" Jawab ketiga anggota yang membopong Aruna itu. Mereka langsung melaksanakan tugas dari Sharen.


Sharen masih berdiri di sana bersama para anggota lainnya yang memberi hormat. Sharen adalah Ketua tingkat Tiga disana.


"Dimana Mr.A?" Tanya Sharen kepada mereka yang tunduk disana.


"Mr.A sedang bersama Mis. R diruangan Tuan!" Jawab salah satu bodyguard dengan badan tegap dan berkulit gelap itu.


Tanpa menjawab, Sharen langsung berjalan menuju kedalam ruangan yang bodyguard itu maksud. Dengan gaya berjalan seperti seorang Tuan yang angkuh dan memang harus dihormati, Sharen membuka pintu ruangan dan masuk ke dalamnya. Disana ia mendapati Mr.A dan Mis.R yang bodyguard itu maksud.


"Mom, Dad?" Sapa Sharen pada mereka berdua yang sedang asyik berbincang dan menikmati kepulan asap rokok masing-masing.


"Bagaimana baby? Misi berhasil?" Tanya wanita yang Sharen panggil Momy itu sambil mengeluarkan kepulan asap rokok yang ia hisap barusan.


"Well, rencana berhasil. Tapi tidak begitu mulus Mom, Dad!" Tutur Sharen sambil berjalan dan mengambil posisi duduk di sofa yang berseberangan dengan kedua orang tuanya itu.


"Kenapa tidak mulus Nak?" Tanya Pria yang di sebut sebagai Dad oleh Sharen.


"Ada beberapa orang tak dikenal mengejar dan menyerang kita. Salah satu diantara kita berhasil mereka tangkap karena terkena anak panah!"


"Anak panah?" Tanya Mr.A


"Yups!"


"Siapa mereka?" Tanya Mis.R


"Entahlah Mom" jawab Sharen tak peduli karena ia tahu bagimana peraturan di dalam Gengster mereka. Barang siapa yang tertangkap oleh kubu musuh mereka tidak boleh membocorkan mengenai identitasnya. Bila keadaan sudah mendesak, para anggota gengster harus memilih nyawa di banding membocorkannya. Karena kesetiaan lebih berharga daripada nyawa.


Itulah kenapa Sharen merasa tenang-tenang saja mengenai hal itu. Yah, tak ada yang perlu di khawatirkan.


"Ga usah dipikirin. Mereka ga akan bisa dan ga akan pernah bisa menemukan kita!" Ujar Mr.A dengan nada yang begitu dingin.


"Yups Dad!"


"Lalu, apa yang mau kamu lakuin sama gadis itu Baby?" Tanya Mis.R


"Aku sudah punya banyak pilihan cara menyiksanya Mom. Tunggu aku bersantai dulu sampai saatnya nanti, anak jalang dari wanita jalang itu akan hidup jauh lebih menderita daripada Kita!" Ujar Sharen dengan sorot mata membara penuh dengan emosi.


"Kamu terlalu bersemangat Nak!" Sahut Mr.A


"Biarakn sayang! Sharen benar. Aku pun ingin melihat wajah gadis jalang itu untuk yang terakhir kalinya, apakah mirip seperti wanita itu?" Gumam Mis.R dengan senyuman liciknya sambil merangkul manja Mr.A.


"Mom, sudahlah dia urusanku! Aku keluar dulu kalian bersantai lah Mom, Dad!" Ujar Sharen berjalan keluar menuju ke tempat istirahatnya. Ia sangat lelah karena aksi kejar-kejaranya tadi dan ia harus mengumpulkan tenaga ekstra untuk menyiksa gadis kecil itu.


'Sampai bertemu esok Nanaku.. Hari esok akan menjadi hari-hari terakhir yang paling menyiksa hidupmu!' Batin Sharen memasuki kamarnya itu.


Keadaan di Gedung Putih A yang terletak di Kota K begitu sunyi dan mencekam. Kota terpencil dengan banyak hutan-hutan rimbun yang masih hijau dan lebat. Dipenuhi dengan hewan-hewan liar yang memang masih buas. Di situlah markas dari Gengster A.


Tuan utama yang mendirikan dan membentuk Gengster A adalah Mr. Alexander Dex. Inisialnya lah yang di jadikan nama Gengster itu. Lambang dari persatuan itu adalah sebuah bendera yang terukirkan symbol AX.


Alexander Dex adalah ayah tiri Sharen yang sudah pasti Mr.A adalah suami atau pasangan dari Mis.R yang Sharen sebut sebagai Momynya.


Mis. Roselina Dex adalah Ibu kandung dari Sharen yang sangat mencintai putri satu-satunya itu. Sharen di lahirkan tanpa seorang ayah kandung. Hingga suatu hari, Roselin pergi atau bermigrasi ke kota K karena di kota kelahiran putrinya itu, Sharen selalu di injak-injak di rendahkan karena tak punya Ayah kandung. Alhasil Roselin memutuskan pindah menuju Kota K dan ia akhirnya bertemu dengan Mr. Alexander Dex dan ia akhirnya menikah denganya.


*****


Waktu berlalu begitu lambat, Riega merasakannya sangat lambat. Setelah berbincang dengan Ketua AL, Riega tak sedikitpun di izinkan untuk pergi ke ruang interogasi menemui sang pelaku. Alhasil, Riega memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya mengembalikan kekuatan-kekuatan untuk esok menjalankan misi. Mencari dimana keberadaan sang kekasih hati.


Riega merebahkan tubuh kekarnya di ranjang King Size sendiri, berteman dengan sepi dan rindu. Sakit di dalam hatinya semakin terasa, mengingat gadis yang paling ia sayangi dan cintai berada di tangan orang lain. Ia sangat khawatir. Bahaya pasti sedang mengelilingi Aruna. Riega benar-benar kalut memikirkan Aruna. Bahkan matanya yang ia paksa untuk dipejamkan selalu terlintas wajah Aruna yang ketakutan, menangis, dan berteriak meminta tolong.


Riega benar-benar tak berfikir dengan baik. Ia memutuskan untuk duduk di sofa. Duduk dan meminum segelas soft drink yang ada disana. Ia meneguknya membasahi tenggorokannya yang sangat kering. Riega kembali menyandarkan tubuh kekarnya itu di sandaran sofa.


Hatinya berdesir mengingat setiap kenangan indah beberapa hari kemarin saat terakhir ia jalan berdua bersama Aruna. Senyuman manjanya, teriakan Aruna yang memanggil namanya, pelukan hangatnya, rasa manis dari bibir mungil Aruna yang selalu menjadi candu untuk Riega terbayang jelas di fikiranya. Matanya terpejam dan muncul setetes cairan bening di ujung matanya. Riega menangis. Titik terlemahnya adalah Aruna. Kenapa ia sampai bisa begitu cerobohnya dengan keberadaan Sharen.


'Aaaarrrrggggh' batinya berteriak merasakan hatinya tercabik-cabik. Separuh dari kehidupanya sedang dalam bahaya tapi dirinya bahkan begitu bodoh tak menyadari akan hal itu.


Ia teringat kembali moment dimana Aruna begitu menggemaskannya memakan gulali sendirian di alun-alun saat acara teater. Sifat kekanak-kanakannya yang membuat Riega semakin cinta dan sayang pada Aruna. Saat ia mencuri-curu kesempatan mencium pipi Aruna di kap mobilnya sambil memakan gulali. Ia mengingat semua moment kemesraan dengan Aruna.


Tapi sekarang, bahkan untuk melihatnya saja Riega tak bisa. Entah dimana keberadaan Aruna sekarang. Riega benar-benar takut. Takut jika ia terlambat menyelamatkan kekasihnya. Sebenarnya ia ingin malam ini juga segera meluncur mencari Aruna dan membawa Aruna pulang dengan selamat tanpa lecet sedikitpun di tubuhnya. Tapi, Ketua AL menahan Riega. Ketua AL bilang, sesuatu yang di jalankan dengan emosi akan berakhir buruk. Tanpa adanya strategi dan rencana yang baik semua tak akan berhasil. Riega juga selalu menanamkan dihatinya kalimat itu. Tapi, sekarang berbeda. Ini berkaitan dengan Aruna. Jantung hatinya.


Meskipun dorongan di hati Riega begitu besar untuk mencari malam ini juga dimana Aruna, tetap saja semua perkataan Ketua AL itu benar. Ia tak mau mengambil resiko jika ia mengikuti emosinya. Bisa jadi Aruna malah akan menjadi korbanya. Ia tak bisa membayangkan jika itu benar-benar terjadi.


Caca dan Aslan yang sedari tadi berada di ruang interogasi bersama lima orang anggota pegulat berbeda level. Satu anggota pegulat level 10, satu anggota pemanah, satu anggota penembak jitu dan dua anggoa team intelijen. Mereka berkumpul disana mengelilingi satu orang pelaku penculikan Aruna yang dikakinya masih mengalir darah segar.


Mukanya sudah mulai pucat, tenaganya sudah melemah, karena sadari tadi darahnya semakin berkurang. Tapi tetap saja ia tak mau bicara. Caca dan Aslan sudah menanyakan siapa Sharen sebenarnya, darimana dia berasal, bahkan Aslan menanyakan apa motif penculikan dari Aruna. Tetap saja, pelaku tak menjawab. Ia hanya diam, tertawa dan meringis kesakitan.


Anggota team intelijen memanggil Caca untuk ikut keluar terlebih dahulu dari ruangan. Caca mengikuti kedua team intelijen dan meninggalkan Aslan bersama pelaku dan ketigal agent lainya. Ternyata team intelijen memberikan kabar yang sangat mengejutkan.


"Ada apa?"


"Caca, orang ini adalah anggota dari salah satu gengster. Dari tempat dimana gps aktif itu berada, titik merah yang muncul di sini terletak di Kota K dan disana sepertinya ada sebuah gengster terkenal, tapi jika dibandingkan dengan Mafia seperti kita, mereka hanya sebuah debu tak berarti!" Jeda salah satu Team intelijen bernama Sarah itu.


"Haha, berani-beraninya mereka berurusan dengan kita!" Gumam Caca dengan senyuman dan nada mengejek.


"Ya! Hal yang penting saya harus beri tahu adalah di dalam lengan baju pelaku tadi, terdapat sebuah kantong kecil. Didalamnya ada sebuah serbuk pemicu racun. Bisa jadi itu adalah salah satu cara mereka untuk memilih mati dari pada di interogasi. Alat Thermal-imaging yang mendeteksi keberadaan racun memberikan informasi bahwa serbuk itu mengandung senyawa panas dan dalam hitungan detik saja akan mematikan!" Jelas Lira team intelijen lainya.


"Oke. Kalau gitu gue yang bakal ambil racun itu!" Gumam Caca merasa puas.


"Tapi tunggu dulu. Pemicu racun itu bukan cuma di konsumsi. Serbuknya sangat halus, kalau serbuk itu sampai bertebaran dan terhirup, kita yang menghirupnya akan mati juga. Hati-hati jangan sampai dia sengaja membuat kita mati bersama dia!" Uhar Sarah lagi.


"Tenang saja!" Ujar Caca mantap.


To be Continue...


Gimana-gimana guys? 😂


Kalian menunggu romantis-romantisnya yah?


Ah, aku mau mempermainkan kalian dulu 😆


Sabar yah, orang sabar di sayang pacar 😍


Scene romantisnya di tunda dulu sampai Riega berhasil nemuin dan selamatin Aruna yah.. Pasti kalian juga mau tau dong segimana besarnya perjuangan Riega? Sama ko, Aku juga! 😄


Kan kalau Romantis-romantis ga ada perjuangannya kaya sayur tanpa garam 😂😆


Ah, pokoknya harus selalu sabar menunggu 😍😘