
Waktu menunjukkan pukul 18.30 acara pagelaran seni teater kelas sebelas sedang di buka dengan beberapa sambutan dari orang-orang penting termasuk kepala sekolah yang memberikan banyak nasihat untuk seluruh siswa-siswi dan guru juga. Para hadirin yang menyaksikan tidak hanya dari dalam sekolah saja, mereka juga mengundang beberapa murid sekolah lain untuk menyaksikan.
Stand-stand penjualan ramai dipenuhi dengan pengunjung yang begitu antusias. Acara akhirnya di mulai dengan nomor urut satu. Ada 12 kelompok yang terdiri dari 6 kelas. Kelompok Wisey mendapat nomor urut 7, kelompok Caca mendapat nomor urut 9 sedangkan kelompok Aruna mendapat nomor urut 12 yang artinya itu adalah kelompok terakhir.
Kelompok Wisey lebih dulu bersiap untuk tampil, mereka mempersiapkan properti yang akan digunakan, kelompk Aruna juga membantu proses persiapan kelompok Wisey. Ada yang membantu menggunakan kostum, ada yang membantu mengangkat properti, ada juga yang membantu make up para pemeranya. Tak ada permusuhan antara mereka. Semua begitu kompak dan saling terjalin hubungan persahabatan.
Setelah selesai persiapan, mereka langsung menuju panggung karena yang sedang tampil saat ini adalah nomor urut 6.
"Na, gue grogi banget!" Ujar Wisey menggenggam tangan Aruna sahabatnya.
"Semangat Sey. Lo pasti bisa dan yang lainnya juga!" Ujar Aruna menyemangati Wisey.
"Iyah Na. Thanks yah" ujar Wisey mengeratkan genggamanya pada Aruna dan Aruna membalasnya juga.
"Beri tepuk tangan yang meriah untuk penampilan dari nomor urut 6!" Suara pembawa acara yang begitu bersemangat.
(Prok-prok-prok) gemuruh tepuk tangan dari para hadirin memenuhi area pagelaran.
"Selanjutnya, kita saksikan penampilan seni teater dari nomor urut 7 dengan tema Perjuangan!" Pembawa acarpun mempersilahkan kelompok Wisey untuk tampil dan ia turun dari panggung.
Wisey dan teamnya sudah mulai memainkan peran, bersandiwara sesuai dengan naskah yang telah di buat. Aruna menyaksikan dengan sangat antusias setiap kali ada adegan yang seru, maka tepuk tangan yang gemuruh terus terdengar di antara banyaknya penonton. Caca menghampiri Aruna yang sedak asyik duduk sendiri sambil menyaksikan sahabatnya itu.
"Na?"
"Eh, Caca!"
"Iyah sendiri aja lo?"
"Iya, yang lain sibuk masing-masing"
"Yaudah yang penting hati-hati yah!"
"Kenapa hati-hati?"
"Em, ga apa-apa. Disini kan lumayan ramai takut ada orang yang ga sengaja jahatin lo Na!" Jelas Caca berusaha biasa saja ekspresinya pada Nana.
"Oh, iya Ca tenang aja!" Gumam Aruna tersenyum senang ada orang yang memedulikannya.
"Oke deh gue ke kelas dulu, bentar lagi gue tampil. Pokonya lo hati-hati, jangan sendirian!" Titah Caca sambil berlalu dan menjauhi Aruna.
Caca sebenarnya sangat khawatir pada Nana kekasih dari kakanya itu. Caca sedari tadi melihat beberapa orang dengan menggunakan baju serba hitam, ia menyadari hal itu sejak ia tak sengaja melihat seseorang sedang mengintai dari ujung jendela kelas Aruna dan menggunakan masker. Ia memperhatikan ke arah orang yang mencurigakan itu ternyata sedang berbicara di balik maskernya sambil terus menatap ke arah Aruna.
Tidak hanya itu, ada tiga orang lagi yang Caca curigai. Mereka menggunakan pakaian sama dengan seseorang yang tadi pertama kali ia lihat. Mereka sedang berkeliling di sekitaran panggung. Entah sebenarnya apa yang sedang mereka incar. Feeling Caca begitu kuat. Akan ada hal buruk yang terjadi nantinya. Ia berusaha menghubungi Riega sang kakak yang sekarang sedang menjadi juri, tetapi tidak direspon karena ia mungkin sedang sibuk tak sempat membuka handphonenya. Akhirnya Caca mencari keberadaan Aruna dan menyampaikan hal tadi agar Aruna lebih waspada.
Caca berusaha bersikap biasa saja sambil terus memantau keberadaan empat orang mencurigakan itu. Caca memutuskan untuk fokus lebih dulu ke teaternya dan setelah nanti ia tampil baru ia akan mendekati kakanya dan memberikan informasi pada Ka Riega.
*****
Riega, Sharen, Bu Ningsih dan Pa Frans yang menjadi juri pada pagelaran teater kali ini. Mereka menilai dengan begitu seksama begaimana penampilan dari setiap kelas yang perform.
Tak terasa saat ini sudah saatnya nomor urut 9 yaitu kelompok Caca yang akan tampil. Kelompok Caca menampilkan sebuah pertunjukkan unik. Karena kebanyakan dari anggota kelasnya adalah atlet karate dan anggar mak mereka menampilkan sebuah drama Action yang memukau. Caca yang begitu tomboy dan Aslan kekasihnya menjadi tokoh utama yang saling berlawanan. Diantara mereka terjadi pertikaian dan endingnya ada sebuah perdamaian diantara mereka yang begitu memukau. Diakhir penampilannya, Caca dan Aslan saling membelakangi dan Caca sempat berbisik pada Aslan sambil menatap tajam ke arah Sharen yang terus memperhatikannya dengan begitu tajam pula.
"Akan ada bahaya di sini. Tetap waspada!"
"Ok!" Jawab Aslan.
Mereka menutup penampilan mereka dengan memukau. Suara gemuruh tepuk tangan menggema di seluruh area pagelaran. Riega bahkan tak menyangka dengan penampilan dari kelompok Caca sampai bisa seperti itu. Riega tak aneh jika Caca bisa melakukan hal itu. Karena memang Caca selalu berlatih dengan tekun.
Sharen yang terpukau dengan penampilan dari kelompok Caca hanya menampilkan senyuman yang seperti biasa liciknya. Sharen hanya bertepuk tangan seadanya. Didalam hatinya ia berkata.
'Huh, kemampuan yang tak guna!' Batin Sharen.
Selesai menampilkan pertunjukan yang begitu memukau, Aslan langsung diperintahkan Caca untuk memantau keadaan Aruna dan beberapa orang mencurigakan di sana. Caca sempat menceritakan semuanya pada Aslan secara singkat, tapi karena Aslan sudah paham betul dengan hal itu maka ia langsung bergegas. Sedangkan Caca berusaha merangsek masuk ke area penonton dan ia berusaha mendekati tempat juri. Mencari kakanya dan ia akan menyeret kakanya yang sedari tadi tak membuka hpnya sama sekali.
Ia berhasil dan segera menarik lengan Riega keluar.
"Ka!"
"Apaan Dek?" Tanya Riega yang kaget karena tiba-tiba dirinya di tarik paksa.
"Lo bisa keluar bentar kan dari area penonton?"
"Iya bisa, gue izin sama Pa Frans dulu!"
"Oke gue tunggu!"
Tak berapa lama kemudian, Riega datang dan langsung ditarik oleh Caca menuju kekelasnya.
"Aslan!" Caca sempat meneriaki Aslan dan memberi kode padanya untuk mengikuti ke kelas.
Mereka bertiga akhirnya berkumpul di kelas Caca yang sudah kosong karena semuanya keluar menyaksikan teater itu.
"Ada apa De sebenernya?" Tanya Riega bingung.
"Gue liat orang mencurigakan!"
"Eh, lo nih Ka!" Bentak Caca sebal pada kakanya yang masih tak paham.
"Iya gue kenapa Ca?" Tanya Riega lagi.
"Aruna dalam bahaya Bang!" Ujar Aslan santai sambil duduk di meja guru. Aslan memang sudah akrab dengan Riega karena mereka juga tergabung dalam satu perkumpulan.
"Apa maksud kalian?" Tanya Riega mulai meninggikan suaranya.
"Lo dari tadi gue chat kaga bales!" Gerutu Caca.
"Yaudah buruan jelasin kenapa Nana?" Tanya Riega mulai tak sabaran.
"Ada orang mencurigakan semuanya serba hitam. Mereka berjumlah 4 orang. Gue baru sadar itu karena mereka pakai masker dan ngomong dibalik masker. Kaya ada alat penghubung di antara mereka. 1 orang selalu ngintai Aruna dan 3 orang lagi selalu jaga di belakang panggung" Ungkap Caca cepat.
"Apa? Kenapa mereka ngincer Aruna? Dan siapa mereka?" Tanya Riega lagi.
"Gue masih belum tau motifnya apa, tapi sebelum gue tampil dan siap-siap di belakang panggung, gue sengaja tabrak dia dan dia sempet jatohin sapu tangan terus dia buru-buru buat ngambil itu!" Terang Aslan.
"Jadi, gue rasa dia mau ada berbuat macem-macem sama Nana bang!" Sambung Aslan lagi.
"Sama, gue dari tadi juga mikir gitu yang!" Saut Caca.
"Gue ga tau rencana mereka apaan, tapi gue bener-bener haru samperin Aruna sekarang!" Riega langsung berjalan keluar menuju pintu.
"Bang, lo jangan gegabah!"
"Ka lo harus punya strategi juga!"
Mereka berdua menahan Riega.
"Oke, terus apa rencananya?" Tanya Riega lagi.
"Gue udah berusaha hubungin agent kita, mereka udah hampir sampe kesini. Gue merintahin mereka buat berjaga di luar gerbang takut-takut Aruna bakal di culik mereka yang harus cegat. Gue juga udah minta bantuan sama Ketua buat selidikin siapa dalang dari semua ini!" Jelas Caca.
"Jadi, apa udah ada info?"
"Belum! Ketua bilang, biarin mereka jalanin siasat mereka. Setelah itu baru kita turun tangan!"
"Ga! Ga bisa Ca, gue ga mau mereka jalanin siasat mereka buat nyulik atau bahayain Nana!" Teriak Riega lagi.
"Bang dengerin Caca dulu!" Tahan Aslan.
"Ka, semua bakal berjalan baik lo tenang aja, ketua udah kasih semua strateginya. Menurut dia pasti ada orang dalam yang bantu mereka sampai bisa masuk ke dalam sekolah tanpa ada yang curiga. Kita cari tau dulu orang dalamnya dan interogasi dia sampai saatnya, kita akan tau dari mana mereka!" Ujar Caca dengan mantap.
"Tapi Aruna..."
"Bang lo yakin deh!" Ujar Aslan meyakinkan Riega.
"Oke!" Jawab Riega singkat dan lesu.
"Yaudah lo balik dulu aja ketempat juri kalau ada info gue kasih tau. Handphone lo standby!" Ujar Caca.
"Ya! Apa ada orang yang lo curigain?"
"Ada!" Jawab Caca singkat dan cepat.
"Siapa?" Tanya Riega
"Nenek lampir!"
"Kenapa?" Tanya Riega lagi.
"Cukup gue yang tau Ka! Lo sekarng balik ke meja juri dan perhatiin Sharen. Jangan lupa hafalin bajunya!"
"Oke!" Jawab Riega singkat dan ia berjalan cepat. Akhirnya Riega pun keluar dari kelas Caca berjalan dengan biasa dan ia melewati kelas Aruna.
Benar apa yang di katakan Caca ada seseorang yang dengan sembunyi-sembunyi mengintai, hanya saja tak ada yang menyadari semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jika saja Caca tidak menyarankan menahan semuanya, sudah pasti akan langsung Riega hajar orang-orang berbaju hitam itu. Mereka berempat bukanlah lawan yang sebanding dengan Riega. Mereka hanya ibaratkan 4 ekor semut yang melawan satu raksasa.
Hatinya benar-benar panas dan tak tahan, tapi ia harua menuruti apa kata ketua. Semua sudah terkendali dan Riega terlambat menyadari semuanya. Sekarang ia hanya harus fokus mencari siapa orang dalamnya dan dalang di balik semua ini.
To be Continue...
Guysss..... 😍
Maaf keeeuuuuunnn lama yah 😍
Aku baru isi kuota siang ini dan lanjutin ngetik episode pagi tadi, ini juga lumayan 😶
Melelahkan dan agak mumet sih mengatur strategi 😂
Oke jangan lupa likenya yah. Tiap Episode di like jangan salah satunya saja 😂
Author pecinta Like nih akuuu 😳