
Semua misi telah dijalankan dengan mulus dan sempurna. Anggota Perkumpulan Macan Hitam yang mendapatkan misi ini, menyelesaikan tugas akhir. Menghapus jejak-jejak pertempuran dengan sangat rapih dan bersih. Semua aman terkendali, penculikan Aruna tak sampai sedikitpun terlibat dengan pihak yang berwajib.
Jasad Tn. Defandra yaitu Ayah kandung Aruna dan Sharen telah di temukan di balik tembok rumah tua di tengah hutan itu. Jasad itu hanya tinggal tulang belulang. Hanya saja, Riega mau Mamah Riris dan Aruna menguburkan Tn. Defandra dengan layak. Bagaimanapun, itu adalah Ayah kandung Aruna dan sudah pasti calon mertuanya.
Riega yang sudah berhasil menggendong Aruna samapai di Mobil Sedan hitamnya merangsek masuk ketempat duduk penumpang. Disana ada Sarah dan Lira selaku Team Intelijen yang terlibat dalam misi penyelamatan Aruna dan membumi hanguskan Gengster abal-abal itu.
Sarah dan Lira langsung paham dan mereka keluar dari mobil itu untuk memberikan ruang dan waktu berdua khusus untuk Kaptenya itu.
"Silahkan Kapten!" Uhar Sarah dan Lira yang langsung merangsek keluar dari mobil dan memberikan jalan masuk ke pada Riega yang tengah menggendong kekasihnya.
"Terima kasih! Jangan panggil saya Kapten lagi, tugas telah di tunaikan. Kalian bisa naik ke mobil jip bersama agent lainya! Kita bertemu di bandara!" Terang Riega pada keduanya.
"Oke Riega!" Jawab mereka berdua serempak.
Riega merangsek masuk ke dalam mobil dengan perlahan. Di depan sudah ada salah satu anggotanya yang menjadi supir. Aruna sekarang berada dalam pangkuan Riega. Merekapun melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan menuju ke bandara untuk kembali ke kota dimana mereka tinggal.
Aruna masih dalam keadaan yang berantakan. Riega sendiri masih menggunakan baju hitam-hitam. Tidak mungkin kalau mereka akan kembali kekota asalnya dengan keadaan seperti itu.
"Sayang...?"
"Emmm?" Sahut Aruna yang masih bersandar di dada bidang milik Riega sambil terus memejamkan matanya.
"Bisa buka mata sekarang!" Ujar Riega.
"..." Aruna membuka matanya tanpa bersuara. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya ternyata ia sudah berada di dalam mobil sekarang. Tatapan matanya langsung tertuju pada wajah Riega.
"Sayang, maafin aku yah ga bisa lindungin kamu sampe semua ini bisa terjadi!" Tutur Riega dengan wajah yang begitu iba melihat keadaan Aruna yang penuh luka bekas tamparan. Kulitnya penuh lecet. Riega mengelus pipi Aruna penuh cinta.
"..." Aruna diam sejenak, memejamkan matanya sambil menghirup udara. Ia menikmati kelembutan tangan Riega yang sedang mengelus pipinya. Wajahnya yang nyeri seolah tak sakit dan terasa kembali seperti semula dengan sentuhan dari tangan Riega.
"Ini bukan salah kamu Ga." Jawab Aruna membuka matanya menatap manik mata yang sendu milik Riega dan dengan lembut menggenggam tangan Riega yang sedang mengelus pipinya.
"Ini pasti sakit kan sayang?" Tanya Riega mengusap ibu jarinya di atas luka lebam dipipi Aruna.
"Iya sakit. Tapi saat kamu sentuh sakitnya ga terasa. Kamu..." Jawab Aruna menjedanya.
"Kamu apa?" Tanya Riega mengerutkan dahinya.
"Kayanya kamu obat penyembuh buat aku!" Ujar Aruna dengan cepat dan ia langsung memeluk Riega.
"Hemmm, pacarku ini yah gemesein banget sih habis di culik malah gombalin aku?!" Ujar Riega sambil tersenyum membalas dekapan Aruna. Ia senang, bahagia, bercampur sedih. Perasaanya sekarang ini tak bisa di jelaskan.
"..." Aruna tak menjawab, ia masih sibuk memeluk kekasihnya. Menghirup harum khas yang keluar dari tubuh Riega. Harum yang selalu ia rindukan. Membuatnya seperti selalu dimabuk cinta. Tangan Aruna menggelayut di tengkuk Riega. Tanpa sengaja tanganya memegang pundak Riega merasakan ada sesuatu yang lembab dan terasa sedikit bau anyir.
"Ini, ini kenapa ada darah?" Tanya Aruna terkejut
"Ah, ini cuma luka kecil aja sayang"
"Ngga! Ini bukan luka kecil Riega!" Ujar Aruna khawatir.
"Ini tadi kena peluru aja sedikit nyerempet sayang, ga sakit kok hehe!" Riega berusaha meyakinkan Aruna.
"Tapi,.. tapi ini berdarah Ga?" Aruna benar-benar khawatir.
"Ini cuma sedikit aja ko sayang" ujar Riega dengan lembut meyakinkan Aruna.
"Riega. Ini pasti karena tadi kan? Karena aku?"
"Bukan karena kamu sayang. Udah deh kekasihku jangan sedih. Aku ga mau liat kamu nangis. Sekarang harus senyum! Ayo senyum sayang!" Pinta Riega menangkup wajah Aruna.
"Iyah iyah aku ga nangis lagi. Nanti sampai di pesawat harus langsung diobatin. Aku yang obatin yah?!" Pinta Aruna.
"Iya sayang, aku juga maunya kamu kok!" Sahut Riega dengan menyunggingkan senyuman manisnya. Membuat Aruna yang melihatnya terpancing untuk menarik garis lengkung di bibirnya ikut tersenyum. Senyuman yang sungguh manis dari Guru sekaligus kekasih dan pangeran berkuda putihnya itu.
Sedangkan Riega hanya memandang dan menikmati keindahan ciptaan tuhan yang terpati dalam bentuk wajah kekasihnya itu Aruna. Teduh wajahnya selalu tergambar meskipun saat ini penuh luka lebam dan tak sebersih biasanya. Tapi, Riega selalu mencintai Arunanya. Hanya dia yang harus bisa memiliki Aruna seutuhnya. Ia tidak akan mau lagi melihat Arunanya tersakiti, menjadi lemah seperti beberapa waktu tadi. Ia akan selalu berusaha ada untuk Aruna.
Hatinya berdesir. Tanganya seolah mendapat dorongan untuk tetap mendekap tubuh Aruna. Seketika tanpa sadar, wajahnya perlahan mendekat ke arah wajah Aruna.
(Cup!) Bibir sexy Riega mendarat empuk di dahi Aruna. Penuh cinta. Ada sebuah rindu yang tersalurkan melalui kecupan singkat dari Riega. Membuat Aruna yang masih setengah sadar, merasakan hangat di hatinya. Ia semakin nyaman berada di dekat Riega.
****
Perjalanan duapuluh lima menit telah di tempuh. Mobil sedan hitam yang di ikuti dengan beberapa mobil jip telah sampai di bandara Kota K. Mobil sedan hitam dan mobil jip mereka langsung berhenti di dekat badan pesawat. Caca dan Aslan sudah lebih dulu turun dari mobilnya. Riega dan Aruna yang berada di mobil masih berdebat di dalam.
"Aku bisa jalan sendiri loh sayang..." Rengek Aruna saat terbangun dari tidurnya karena mobil sudah berhenti.
"Ga, kamu masih lemah sayang!" Tegas Riega melarang Aruna.
"Iih, Riega! Yaudah aku ga mau turun!" Ancam Aruna.
"Turun dong sayang aku gendong. Kamu masih lemah..." bujuk Riega dengan lembut.
"Ngga! Aku ga malu diliatin banyak mata.." Tolak Aruna yang masih berada di pangkuan Riega
"Yah kenapa? Biar mereka semua tau kalau kamu milik Aku" Riega menekankan kata 'Aku' pada Aruna.
"Pak, ga usah lebay deh. Aku mau jalan sendiri. Aku ga selemah itu!" Aruna merajuk.
"Hmm, aku masih mau gendong kamu sayang!" Uhar Riega lembut.
"Yaudah aku ga mau turun!" Ancam Aruna lagi.
"Yaudah terserah. Kalau ga mau ketemu sama Mamah ya disini aja!" Riega mulai berpura-pura kesal juga dan mengancam Aruna.
"Iiih, jahat! Pa Riega JAHAT!" Teriak Aruna memukul dada Riega.
"Aw-aw sakit sayang. Kalau aku jahat aku ga akan susul kamu kesini sayangku.. udah yah aku gendong, nurut sama aku!" Tegas Riega.
"Iya iya iya." Aruna mengerucutkan bibirnya pertanda ia sangat kesal.
"Ga usah gitu bibirnya! Mau aku gigit? Hem?" Goda Riega.
"Huup!" Aruna membekap bibirnya sendiri dan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Riega.
"Ahahahha. Aku juga ga akan gigit bibir kamu sayang. Kamu lagi lemah gini, mana bisa kamu balas ciuman aku yang ganas?" Ledek Riega tersenyum sumringah berhasil menggoda Aruna lagi.
"Apaan sih Pak ih!" Aruna kembali memukul Riega dan wajahnya mulai memerah.
"Ahahah, lucu deh! Yaudah kita turun yah, biar cepet balik dan bawa kamu ke rumah sayang!" Ujar Riega mulai membuka pintu mobilnya dan melangkah turun sambik menggendong Aruna.
Ia mekihat Aslan dan Caca serta anggota lainnya yang menjalankan misi ini. Mereka menggu sang Kapten untuk memasuki pesawat lebih dulu. Setelah Riega keluar dari mobil, mereka semua memberi hormat dan dengan Sigap, Riega membalas dengan anggukan.
Riega dan Aruna memasuki kabis pesawat lebih dulu dan di ikuti ileh Caca dan Aslan serta anggota lainnya. Erwin sang pilot pesawat telah menunggu di kokpit dan memberikan salam serta ucapan selamatnya kepada sang Kapt!.
Riega mengambil kursi di ruangan Privat miliknya agar ia bisa berduaan dengan Aruna tanpa membuat Aruna canggung berada di dekat anggota lainnya.
Setelah semua masuk dan pesawat sudah mendapat persetujuan untuk terbang, Erwin langsung menarik tuas kemudi dan pesawat secara perlahan meninggalkan bandara Kota K itu dan mulai mengangkasa untuk kembali ke Kota tempat mereka tinggal.
To be Continue..
Guyss, sebagai kompensasi dari akuuu karena keterlambatan Update aku kasih beberapa episode supaya kalian senang dan tetap terus membaca Novelku ini 😍
Jangan lupa Like dan Coment yah 😇