
"Riegaaaa?" Panggil Aruna dengan lembut. Sedangkan yang dipanggil hanya diam dan memejamkan matanya.
Jujur saja, saat ini Riega benar-benar kesal dengan kekasihnya itu. Bagaimana bisa Aruna menyetujui tawaran Paman Al semudah membalikkan telapak tangan. Dan, perjanjian itu tak main-main. Semuanya menyangkut hubungan mereka.
Riega tak mau kehilangan Aruna, Riega juga hanya ingin menikah dengan Aruna bukan wanita lain. Di dalam perjanjian itu telah di katakan oleh Pamannya bahwa jika Aruna tak bisa mencapai target pelatihan, maka Aruna tak bisa menjadi calon istrinya. Calon saja tak bisa apalagi istri. Itu yang membuat Riega sangat kesal, marah dan ia benar-benar yak habis pikir juga dengan Pamannya. Semudah itu mempermainkan sebuah perjanjian.
"Ga..?" Panggil Aruna lagi.
"..." Tak ada sahutan dari sang empunya nama.
"Riega...?!" Aruna mulai menaikkan satu oktaf nada bicaranya. Kesabarannya mulai mebipis.
Riega yang mulai merasakan perubahan nada suara kekasihnya itu, membuka matanya. Melirik ke arah Aruna yang masih menatap Riega dengan raut muka yang bisa Riega definisikan ingin marah, tapi Aruna juga sadar kalau dirinya salah.
Melihat Riega mulai mau meresponnya dengan membuka mata, Aruna mulai berlutut di samping sofa yang Riega tempati untuk rebahan.
"Ga?! Aruna minta maaf yah sama kamu. Aruna tau, ga seharusnya Aruna ambil keputusan itu sendiri karena menyangkut hubungan kita. Tapi, jujur Aruna ga bilang sama kamu karena Aruna tau kalau kamu ga akan setuju. Tapi lagi, Aruna yakin Aruna bisa Riega!?" Terang Aruna dengan nada yang begitu memelas.
"Kalau kamu tau aku ga setuju kenapa tetap kamu iyain, Na?!" kesal Riega masih dengan posisi rebahan di sofa.
"I-iya karena.. Aku yakin aku bisa Ga! Kalau Paman Al aja yakin aku bisa, kenapa kamu engga?! Apa aku sebegitu lemah dan bodohnya di mata kamu, Ga?!"
"..." Riega hanya diam, ia bingung mendengar ucapan Aruna. Ia berusaha mencerna kalimat yang Aruna sampaikan.
Benar juga yang disampaikan kekasihnya itu. Kenapa ia tak bisa meyakinkan dirinya kalau Aruna bisa , dan seharusnya ia mensupport dan memberikan dukungan penuh pada Aruna. Batinnya.
"Ga.." Panggil Aruna berusaha menyadarkan Riega yang sedang melamun.
"Eh, eemm.." Riega mulai tersadar dari pikirannya.
"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Aruna lagi.
"Emm, sini!" Riega merubah posisinya menjadi duduk dan menggenggam jemari lentik Aruna. Ia menuntun Aruna dengan lembut untuk duduk disebelahnya.
Aruna yang diperlakukan begitu oleh Riega langsung menurut dan sedikit terkejut. Apakah Riega sudah memaafkannya, fikirnya.
Aruna menatap wajah Riega, air mukanya terlihat serius. Wajahnya yang tampan itu meskipun sedang serius tetap terlihat mempesona. Tak sedikitpun tersirat kemarahan. Riega kembali tenang seperti sedia kala.
"Sayang,..?!" Riega menangkup kedua pipi Aruna. Jemarinya perlahan menyisipkan rambut Aruna yang menutupi wajahnya ke belakang telinganya. Riega menatap tepat kemanik mata Aruna. Arunapun membalasnya. Begitu lembut hingga Aruna terhanyut dan tak bisa menjawab.
"Maafin aku yah. Benar kata kamu, Na. Seharusnya aku percaya dan yakin sama kamu. Tapi aku marah begitu bukan berarti aku ga dukung kamu sayang. Hanya saja aku ga habis fikir kenapa Paman kasih syarat yang berat buat kamu dan ini menyangkut dengan hub---" Kalimat Riega terhenti. Jari telunjut Aruna yang indah nan lentik itu menempel tepat di bibir Riega.
"Sst! Aku yakin, Paman Al punya alasanu tersendiri yang ga perlu kita tahu, sayang. Dan, aku yakin Paman hanya mau yang terbaik untuk kita.." Tutur Aruna dengan begitu lembutnya memberikan pengertian kepada kekasihnya itu.
Ia sudah berusaha sebisa mungkin agar Riega yakin. Ia berusaha menghilangkan sifat manjanya, berusaha mengabaikan sikap kekanak-kanakannya sekarang. Aruna tak boleh menjaadi wanita yang lemah. Tapi bukan berarti Aruna akan menjadi wanita kejam seperti Sharen, saudara tirinya itu.
Riega menatap manik mata indah Aruna. Ia melihat dari sorot mata itu, ada sebuah keyakinan dan kekuatan yang Aruna tampilkan. Semangat yang terpancar dari jendela hati milik Aruna yang lembut, mulai membangkitkan pula rasa percaya dan semangat pada hati Riega.
"Ya sayang, iya. Makasih udah berusaha yakinin aku, dan tenangin aku yah.." Riega langsung menarik tubuh Aruna dengan begitu lembut dan ia mendekapnya. Menyalurkan kehangatan dan kekuatan untuk kekasihnya.
Aruna mengangguk dalam peluk dan membalasnya, meresapi tiap rasa hangat yang menjalar dari tubuh Riega. Nyaman dan tenang. Itu yang Aruna rasakan. Dirinya yakin kalau ia akan bisa mencapai target.
"I love you, Nana" Bisik Riega tepat di telinga Aruna di sela-sela pelukan mereka.
"I love you to, Ga.." Aruna membalasnya tersenyum dengan begitu manisnya di dalam pelukan sang kekasih hati.
****
Setelahnya, Aruna dan Riega menghampiri Caca dan Aksa yang ternayat mereka sedang duduk berdua di tempat khusus latihan yang akan Aruna gunakan.
Entah apa yang mereka bicarakan. Aruna dan Riega langsung bergabung disana.
"Gimana Ka? Udah ga ngambek niih?" Tanya Caca melihat raut wajah Kakanya itu dengan seksama.
"Ga" Jawab Riega singkat.
"Yaelah Bang, jan mengkerut mulu nanti makin tua, hahahaha" Ledek Aslan pada calon kaka iparnya.
"Huush, jan gitu ah Ca, Lan! Dia udah baikan ko sama aku, heheh" Jelas Aruna dengan kekehan khasnya.
"Iya gue udah ga kesel lagi..." Ujar Riega mencubit pelan pipi Aruna.
"Aaw, sakit tau Ga!" Aruna memukul pelan tangan Rieg dan berusaha melepaskan cubitan di pipinya.
"Ahahah, yaudah-yaudah sekarang kita mulai aja latihannya. Aslan, hari ini bagian lo kan ngelatih? Sono siap-siap lo!" Titah Riega kembali menunjukkan sikap kepemimpinan mafianya.
"Ai-ai Capten!" Sahut Aslan menirukan kalimat yang ada pada sebuah kartun kesukaannya. Aslan-pun bergegas mengganti pakaianya.
***
Hari ini Aslan telah mempersiapkan segala materi yang akan ia berikan pada Aruna. Aslan melatih Aruna untuk menjadi seorang ninjutsu jika itu laki-laki. Tapi, karena Aruna adalah perempuan maka akan melatih Aruna menjadi seorang Kunoichi.
Aslan mengenakan yang berwarna hitam, sedangkan Aruna mengenakan yang berwarna putih. Sebenarnya ada lagi yang berwarna hijau dan fungsinya sudah jelas berbeda-beda dari tiap warna.
Shinobi Shozoko yang berwarna hitam digunakan ketika akan menjalankan misi tengah malam, yang berwarna putih di gunakan ketika menjalankan misi pada saat musim salju, sedangkan yang berwarna hijau dikenakan ketika akan menjalankan misi pada siang hari dan tempatnya seperti di hutan. Singkatnya seperti itu.
Selesai mengganti pakaiannya, Aruna segera mendekati Aslan. Riega dan Caca hanya melihat dari kejauhan sambil sedikit berbincang.
"Udah siap Na?!" Tanya Aslan memastikan kalau Caca memang benar-benar siap.
"Siap!" Sahut Aruna antusias jelas terpancar dari kedua bola matanya yang indah.
Sebelum melakukan praktik, Aslan lebih dulu menjelaskan beberapa teori-teori dasar dalam.pelatihan shuriken kali ini.
"Jadi gini Na, gue ngajar lo disini untuk nguasain teknik dasar shuriken dan yang pastinya itu berkaitan banget sama yang namanya ninja gitu lah simplenya. Gue mau kasih tau lo ilmunya dulu nih kalau lo udah paham seenggaknya apa aja yang nanti bakal gue latih ke lo, gue yakin lo bakal cepet jago. Apa lagi lo kan termasuk murid pinter kan di sekolah, hahaha!" Tawa Aslan membuat suasana agar sedikit tidak tegang. Ia tau pasti Aruna merasa gugup meskipun sangat bersemangat.
"Heheh, yah aku bakal berusaha ko Lan untuk ingat semua teori yang bakal kamu sampein. Tapi, sekarang aku ga bawa catatan?" Uhar Aruna.
"Ga perlu di catat Na, cukup di simpan dalam ingatan dan hati. Karena jadi ninja sejati harus punya kekuatan insting yang mumpuni, kecerdikan, dan kewaspadaan yang mumpuni." Terang Aslan.
Aruna mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Aslan terus melanjutkan penjelasanya seputar ilmu per-ninja-an. Sesekali berjalan mengitari lapangan pelatihan itu dengan santai sambil menggerak-gerakkan tangannya seolah ada satu benda yang ia gerakkan.
Aruna mengekor di belakang Aslan. berusaha mencerna, mendengar dan mengingat dengan seksama.
"Dalam tahapan pelatihan kita kali ini, yang pertama akan kita pelajari adalah latihan ketangkasan dan keseimbangan tubuh dengan beberapa rintangan yang akan kamu lewatin nanti. Tahao selanjutnya, kamu akan dilatih untuk kelenturan otot, yang kedua ini gampang lo cuma bakal berguling sama loncat. Tahap ke-tiga, lo bakal gue ajarin untuk teknik memukul dan menendang, udah di sediain juga untuk simulasinya. Tahap berikutnya bakal gue ajarin kepelatihan seni beladiri tanpa senjata, gampang-gampang susah nih tapi gue harap lo bisa ya, Na!" Aslan berhenti menjelaskan sejenak.
"Yups, aku juga harap aku bisa Lan!" Sahut Aruna menyunggingkan senyumannya meskipun tak terlihat karena mengenakan tutup wajah khas ninja.
"Tahap berikutnya lo bakal gue latih buat gunain senjata khas ninja yang paling umum seperti shuriken, pisau dan lainnya. Ditahap itu juga gue bakal ajarin lo gimana caranya gelantungan di tali, teknik penyembunyian diri dan lainnya. Nah, baru terakhir lo bakal gue ajarin Gimana caranya gerak tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan lari jarak jauh seperti keceparan cahaya. Ga terlihat meski hanya sekilas, Na!" Jelas Aslan dengan berbinar. Ia sangat semangat dan menaruh harapan besar pada Aruna agar dia bisa dan mampu melahap semua materi yang akan ia berikan dalam waktu 5 bulan.
"Waah, keren banget Lan.. Ga sabar mau cepet-cepet latihan ni.." Tanggap Aruna melihat ke arahn Aslan yang juga melihat pada Aruna.
"Hahaha, bagus lo harus semangat ya Na. Jangan sampe lo gagal, gue ga mau liaat Bang Riega merana. Hahahah" Tawa Aslan terbahak-bahak sambil menunjuk-nunjuk Riega yang sedari tadi duduk memperthatikan terus ke arah dimana mereka berdiri.
"Hahaha, iya Aslan aku bakal berusaha sekuat yang aku bisa ko. Heheh" sahut Aruna penuh semangat dan kegembiraan di dalam hatinya.
Setelah selesai menjelaskan teori dasar mengenai ninjutsu yang akan Aruna pelajari, Aslan langsung gerak cepat mengajak Aruna menuju arena pelatihan tahap pertama. Yaitu latihan Ketangkasan dan Keseimbangan. Arena yang telah di sediakan adalah. Sebuah papan titian yang sangat kecil. Itu adalah rintangan pertamanya. Aruna harus mampu melewati papan titian yang berukuran sangat kecil, berjalan di atasnya menjaga keseimbangan. Kemudian ada sebuah papan yang terjal dan Aruna harus mendakinya dengan tanpa alat bantuan. Setelah melewati kedua rintangan itu, Aruna harus melewati semak-semak berduri dengan cara melompatinya. Aruna harus bisa melewati itu semua.
"Lo siap, Na?!" tanya Aslan menatap Aruna dan dibalas dengan mantap oleh Aruna. Ia mengangguk dan mulai perlahan naik ke atas papan titian pertama.
Aslan memposisikan dirinya memperhatikan Aruna. Sedangkan Riega sedang berjalan mendekat ke arena pelatihan itu bersama Caca. Ia khawatir takut Aruna terjatuh dari papan titian yang kecil dan tingginya sekisar 2 meter. Dibawahnya tak diberi matras hanya rumput-rumput lapangan saja. Jika jatuh memang tak terlalu sakit seperti jatuh di tanah, tapi yang namanya jatuh ya pasti sakit. Fikir Riega.
Aruna meniti papan itu selangkah demi selangkah, perlahan namun pasti. Tangannya ia rentangkan agar menjaga keseimbangan tubuhnya, nafasnya berhembus beraturan. Matanya terus fokus dan tertuju pada arah tujuannya, sampai ia tak sadar kalau Riega ada tepat di bawah bagian belakang Aruna.
Riega mengikuti langkah Aruna dari bawah, menjaga Aruna. Khawatir kekasihnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh, ia bisa langsung tanggap menangkap tubuh mungil Aruna.
Hingga sampai ke ujung papan titian itu, Aruna sempat goyah dan hampir terjatuh. Tapi Riega dari bawah memberi arahan.
"Fokus Sayang!" Teriak Riega dari bawah.
"Huufft!!" Aruna membuang nafas berusaha tenang dan tak panik. Ia baru sadar jika ada Riega disana.
Riega langsung berlari ke depan ke ujung papan titian dimana Aruna akan berhenti. Riega sudah bersiap menyambut keberhasilan Aruna dengan menampilkan cengiran khasnya.
Aruna melihat itu semakin bersemangat. Hingga langkah terakhir, Riega menjulurkan tangannya agar Aruna bisa meraih tangannya dan 'Hap!'
Tangan mereka saling bertaut. Aruna berhasil melewati rintangan pertama.
"Kamu berhasil, Na!" Riega langsung mendekap Aruna.
"Iyah Ga!" Aruna merasa lega.
"Nah, rintangan selanjutnya lebih susah. Kamu harus fokus, minta arahan sama Aslan. Oke?!"
"Siap!" Aruna langsung bergegas menghampiri Aslan bersiap ke Papan Terjal dan mendakinya.
.
.
.
.
.
.
To be Continue..