
Pagi kembali tiba. Sang surya mulai muncul keperaduannya. Semua aktivitas kembali berjalan sebagaimana mestinya. Di Markas besar perkumpulan Macan Hitam. Ketua AL melepas kepergian Riega bersama Caca dan Aslan. Di ikuti dengan beberapa Anggota pegulat berbeda tingkatan.
"Riega..!"
"Ya Ketua!"
"Ingat Misi kalian bukan hanya menyelamatkan kekasihmu!"
"Siap Ketua saya mengerti!"
"Caca, Aslan!"
"Ya Ketua!" Jawab mereka berdua serempak.
"Kalian, sebisa mungkin lumpuhkan keberadaan mereka! Biarkan Kakamu yang berjuang untuk kekasihnya! Lihat seberapa tangguhnya dia! Mengerti?"
"Siap Ketua AL!" Jawab Caca dan Aslan.
Sang Ketua akhirnya memberikan pelukan perpisahan khas seorang lelaki sekaligus seorang paman yang sudah seperti Ayahnya sendiri kepada Riega. Ketua AL ingin tahu seberapa besar cinta Riega pada perkumpulannya dan juga kepada kekasihnya itu.
Misi kali ini Ketua AL lancarkan untuk membumi hanguskan Gengster murahan itu. Ketua AL sudah tahu mengenai Genster A itu. Mudah sekali melacaknya. Gengster murahan seperti itu hanya bagaikan seekor lalat bagi Ketua AL.
Ketua AL bahkan sudah mengetahui kalau Sharen yang menculik Aruna kekasih Riega itu adalah saudara tiri dari Aruna. Ibu dari Sharen adalah mantan kekasih dari Ayah Aruna. Ketua AL bahkan sudah emngetahui motif penculikan dari Aruna itu, tapi ia tak mau memberitahu pada Riega dan juga Caca. Ia hanya ingin Riega terfokus menyelamatkan kekasihnya dulu dan Ketua AL yakin, Riega akan mengetahui semuanya dengan sendirinya.
Akhirnha Riega, Caca, Aslan dan beberapa anggota lainnya berjalan memasuki sedan hitam mengkilat khas seorang mafia. Mereka membawa 4 sedan menuju bandara. Ketua AL tersenyum saat ke empat mobil sedan hitam itu melaju keluar dari gerbang besar yang terbuka secara otomatis.
Mobil sedan hitam itu melesat cepat di jalanan menuju bandara. Mereka akan menggunakan pesawat pribadi milik Perkumpulan Macan Hitam. Perjalanan lima belas menit telah di tempuh bersama. Ke empat mobil sedan hitam mengkilat itu menjadi tontonan para penumpang pesawat lainnya di bandara.
Erlan sang pilot pribadi Macan Hitam telah menunggu di kabin pesawat. Ia langsung berdiri dan memberi hormat pada Riega. Dan Riega membalasnya dengan penuh wibawa.
Riega, Caca, Aslan dan anggota lainnya langsung memasuki pesawat, mereka sudah mengambil posisi masing-masing. Sebelum berangkat, Riega mulai memberikan intruksi mengenai peralatan apa saja yang harus di persiapkan.
"Baiklah, Agent penembak jitu persiapkan semua amunisi peluru dan pistol. Setiap peluru itu sangat berharga! Sebisa mungkin kalian harus menembak tepat sasaran. Kita tidak tahu seberapa banyak pasukan mereka!"
"Mengerti Kapten!" Ke lima orang penembak jitu itu menjawab serempak dengan suara bas yang menggema di kabin pesawat.
"Oke! Pemanah, kalian membawa anak panah beracun?"
"Ya!" Jawab kelimanya serempak.
"Shuriken mata tiga? Belati?"
"Ya siap Kapten!" Jawab mereka lagi.
"Team intelijen tetap pantau dari kejauhan di dalam mobil. Buat mobil ini tak mencolok perhatian. Team pemodifikasi persiapkan semua peralatan yang bisa kami gunakan dengan efisien dan tersembunyi. Misi akan kita lancarkan malam nanti. Semua agent termasuk saya, akan menyelundup masuk dan menyamar menjadi anggota mereka! Ketahui semua kondisi dan situasi di dalam. Beradaptasi secepatnya! Informasi sekecil apapun beri tahukan! Gunakan alat komunikasi nyalakan gps aktif yang sudah saya berikan! Target yang kita selamatkan adalah Aruna! Paham?"
"Paham Kapten!" Jawab mereka cepat.
"Caca dan Aslan! Kalian menyamar jadi pelayan dan Tukang masak! Perintah dari Ketua AL semua agent menjadi anggota mereka gunakan pakaian serba hitam. Caca, kamu kenakan ini! Aslan kamu juga kenakan ini!" Riega melemparkan baju pelayan hitam putih kepada Caca dan memberikan setelan baju hitam putih kepada Aslan serta topi koki kepada Aslan. Mereka disamarkan menjadi pelayan dan koki baru di sana.
Ketua AL san Riega sudah mempersiapkannya dengan matang dalam waktu beberapa jam saja. Itu berkat bantuan sekretaris dan team Intelijen dari Macan Hitam. Mereka bekerja cepat dalam waktu semalam.
"Siap Kapten!" Mereka berdua langsung menuju kebelakang kabin pesawat untuk mengganti pakaian mereka.
Selang beberapa menit semua telah berganti kostum penyamaran dengan apik. Riega sendiri menyamar sebagai anggota dan ia menggunakan baju serba hitam yang lumayan ketat karena tubuhnya yang besar dan kekar. Memunculkan otot-otot miliknya. Terlihat semakin gagah dan tampan dilengkapi dengan kaca mata hitam infrared yang bila dibutuhkan akan diaktifkan secepatnya.
Team intelijen yang saat ini ikut adalah Sarah dan Lira ikut bersama mereka untuk mengoperasikan system pengendali gps dan system komunikasi mereka. Team intelijen juga memberikan kacamata infrared kepada semua agent-agent yang ikut pada misi ini. Tak lupa juga Sarah memberikan sebuah senjata modifikasi pada setiap agent berbeda-beda.
"Kapten Riega! Ini adalah kartu Atm dan kartu nama bertuliskan nama anda, ini bisa anda gunakan saat keadaan mendesak. Ini adalah shuriken mata tiga hasil modifikasi dari team. Secara kasat mata hanyalah kertas pipih sepersekian milimeter, tapi di dalamnya adalah logam titanium. Saat kartu itu di lempar dengan kekuatan penuh, kertas kecil itu bisa menjadi senjata mematikan yang melesat cepat!" Jelas Lira sambil menyodorkan dua kartu itu.
"Baik, terima kasih!" Riega menerima kedua kartu yang sungguh hasil modifikasi luar biasa dari teamnya.
"Caca dan Aslan, karena kalian adalah kedua anggota pemanah, tidak mungkin kalian membawa busur dan panah yang berukuran besar saat menyamar. Tapi kalian bisa sembunyikan senjata kalian terlebih dahulu di suatu tempat. Dan kalian bawa ini untuk berjaga-jaga. Ini adalah alat modifikasi berupa spatula serta box nasi stainles. Spatula ini bisa berubah menjadi pedang, Aslan. Box nasi stainles ini di dalamnya sudah ada senjata mitraliur, Thompson Sub Machine Gun yang bisa memuntahkan ratusan peluru dalam semenit. Alat ini bisa menghabiskan bahkan semua anggota Gengster murahan itu Ca!" Jelas Sarah kepada Caca dan Aslan.
"Woaah, keren!" Ujar Caca langsung menerima box nasi stainles yang ternyata adalah senjata modifikasi yang sangat keren itu. Dan Sarah menyerahkan spatula kepada Aslan.
"...Dan untuk para Agent lainya, ini adalah sebuah pena kecil berwarna hitam dihiasi dengan emas 24 karat. Kecil tapi sekali tekan, pena ini akan berubah menjadi sebuah belati tajam. Gunakan ini saat keadaan peluru atau senjata kalian habis. Gunakan juga saat keadaan genting dan mendesak. Mengerti Agent!?" Ujar Lira lantang.
"Mengerti!" Jawab mereka serempak. Terhitung ada dua puluh anggota di bawah Kapten Riega termasuk Caca dan Aslan.
"Pagi hingga sore cari informasi sebanyak-banyaknya. Malam nanti, berkumpul ke tempat yang saya beritahukan dan kita akan lancarkan misi!" Teriak Riega dengan lantangnya.
"Siap Kapten!" Teriak mereka serempak.
Riega berjalan menuju kokpit pesawat. Menghampiri Erlan disana dan duduk memasang alat kimunikasi.
"Sudah siap semua?"
Menunggu beberapa detik. Lampu hijau sudah berkedut di layar panel Erlan menggerakkan tuas kemudi dan berbicara dengan menara pengawas penerbangan.
Pesawat pribadi Macan Hitam bergerak cantik menuju runaway. Erlan kembli mengonfirmasi ke menara pengawas penerbangan meminta izun untuk terakhir kalinya take off, dan izin pun di berikan.
"Clear!" Jawaban dari menara pengawas terdemgar dan tombol di tekan, mesin pesawat mulai menyala lalu meluncur di aspal dengan cepat. Saat sudah mencapai kecepatan yang di butuhkan untuk mengudara, tangan Erlan sudah mulai menggerakkan tuas dn pesawat mulai naik, melesat ke angkasa.
****
Sedangkan di Markas Gengster A. Semua berjalan sebagai mana mestinya. Sejak malam tadi, Aruna sudah tersadar. Badanya lemah dan pucat. Tubuhnya di ikat kuat di sebuah kursi tangan dan kakinya pun di ikat. Mulutnya juga di ikat dengan kain putih. Kulit putihnya yang mulus dan masih menggunakan gaun kostum teater semalam, mulai menampakkan lecet-lecet merah disana. Perih dan terasa panas.
Aruna sudah sejak malam tadi memberontak dengan kuat. Dirinya menangis dan teriak namun tak bisa mengeluarkan kata dengan jelas dari bibirnya karena di ikat kain.
Sedangkan Sharen yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung mendapatkan informasi dari anak buahnya tentang Aruna yang sudah sadarkan diri sejak malam tadi. Ia marah dan langsung membentak-bentak anak buahnya.
"Apa? Kenapa tidal bilang dari semalam? Dasar bodoh!" Teriak Sharen marah.
"Saya takut mengganggu istirahat anda Tuan!" Ujar anak buah itu ketakutan pada Sharen.
"Sudah cepat buka ikatan mulutnya biarkan dia berkata apapun! Tunggu saya hingga selesi bersiap!" Ujar Sharen mulai mereda dan ia mulai tersenyum sinis. Beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi.
Sedabgkan anak buah tadi langsung bergegas menuju ke penjara bawah tanah. Setibanya ia di sana, anak buah itu langsung membuka ikatan penutup mulut Aruna dengan sangat kasar. Ketiga anak buah lainnya melihat ke arah Aruna dengan tatapan tajam. Aruna sedari tadi meraung-raung tapi tidak jelas berbicara apa. Saat penutup mulut itu di buka, Aruna langsung berteriak sambil menangis dengan tenaga-tenaganya yang tersisa.
"Apa? Apa sebenarnya yang kalian inginkan? Lepaskan saya!" Teriak Aruna kencang, air matanya sudah sejak malam tadi terus mengalir. Tubuhnya penuh dengan tanda merah pertanda lecet.
"DIAM!" teriak anak buah itu.
"Siapa kalian? Kenapa kalian menculik saya?" Teriak Aruna lagi dirinya sebenarnya sudah sangat lemah tapi ia benar-benar ingin tahu siapa yang menculik dirinya, kenapa bisa Aruna yang mereka culik.
"DIAM!" Salah satu anak buah Sharen itu mulai mendekat dan ingin menampar pipi Aruna, tapi terhenti saat suara lantang menggema di ruangan itu. Anak buah itu mulai mundur kembali ke tempatnya tadi.
"Berhenti!" Teriak Sharen masuk dengan menggunakan pakaian merah dan hitamnya begitu cantik dan anggun. Memperlihatkan sesosok anak Gengeter yang oaling di takuti di Kota K itu.
Aruna yang menunduk menghindari pukulan dari salah satu penjaga itu perlahan mulai menoleh ke arah datangnya suara.
"Hanya aku yang boleh menyiksanya! Mengerti?" Teriak Sharen lagi membuat Aruna yang sedari tadi terdiam mulai kembali menangis.
Aruna melihat sosok gurunya itu sedang bersedekap dengan wajah menampilkan senyuman piciknya. Aruna kembali menangis dirinya begitu terkejut ternyata yang menculiknya adalah Sharen. Ia kembali berteriak dan memberontak.
"Kamu... Ternyata ini perbuatan KAMU! Kenapa kamu culik saya! Kenapa?" Teriak Aruna kencang sambil terus bergerak dan memberontak.
"Kenapa? Terkejut? Kenapa saya culik kamu? Hahhahaha, karena kamu adalah sumber penderitaan saya sejak dulu!" Ujar Sharen mencengkeram keras dagu mulus Aruna dengan satu tangannya dan mendorongnya ke kanan membuat wajah Aruna terdorong ke samping.
"Apa maksud Kamu!? Bahkan saya baru ketemu kamu!" Teriak Aruna lagi kembali menatap mata Sharen dengan tajam ia tak terima Sharen bertindak seenaknya mendorong wajah Aruna dengan kasar. Ia bahkan tak pernah di perlakukan sekeras ini.
"Cih! Dasar anak jalang! Bahkan ibumu yang jalang itu tidak memberitahu kamu?" Uhar Sharen mendecih ke arah wajah Aruna.
(Prok-prok-prok!) Sharen bertepuk tangan pertanda menghina Aruna.
"Sungguh Ibu dan Anak yang sama-sama jalang dan bodoh!" Ujar Sharen lagi sambil berdiri membelakangi Aruna.
"Jangan berani-berani menghina mamah Saya! Siapa yang jalang? Kamu-kamu lah wanita Jalang itu SHARENINA!" Teriak Aruna dengan lantang dan penuh keberanian. Aruna tak terima dengan ucapan Sharen yang menghina Mamahnya. Wanita yang paling ia cintai di hina oleh wanita rendahan seperti Sharen. Jelas saja Aruna tidak terima dan ia langsung berteriak seperti itu.
Sharen yang mendengar perkataan Aruna langsung menoleh ke belakang dan mendekat ke arah Aruna yang dengan wajah dan tatapan yang tajam penuh keberanian ke arah Sharen.
(PLAAK!) Satu tamparan mendarat di pipi kiri mulus Aruna. Membuat wajah Aruna terpental ke samping kanan dan di pipinya berbekas merah hasil tamparan dari Sharen. Aruna menangis merasakan sakit di pipinya.
"Bawa! Bawa dan seret dia ke rumah kosong di tengah hutan. Jangan ampuni dia! Ikat dengan kencang, siram bensin di sekeliling rumah kosong itu! Siapkan cambuk dan granat! Jangan lupa bawa susu putih untuknya! Bawa kamera perekam, akan ku abadikan moment berharga ini san Mamah jalangmu itu akan melihat anak jalang tersayangnya ini akan mati dengan tersiksa!" Ujar Sharen dengan tatapan membunuhnya itu.
Aruna yang mendengar semua ucapan Sharen hanya bisa menangis, ia tak tahu nasibnya akan seperti apa nantinya. Sebenarnya ia sangat takut, ia berharap Mamahnya dan Riega sang kekasih bisa menemukannya di sana entah dalam keadaan masih hidup atau sudah mati. Tapi, ia berharap bisa bertemu nantinya dengan orang terkasih di saat hari terakhirnya berada di dunia ini.
To be Continue...
Haloha guys...
Bagaimana?
Aku telat update nich.. Maaf syekaleee 😅
Aku sedang sibuk tes pembuatan SIM ternyata gagal😅
Memang jalan terbaiknya adalah nembak saja. 😂
Syudahlah Happy Reading readers kuu tercintaah😍
Jangan lupa like dan Coment positif ❤