Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
8



(Ceklek!)



Aruna membuka pintu ruang seni. Ia mengedarkan pandanganya mencari dimana Pa Riega berada dan pandangan itu terhenti pada satu titik dimana Pa Riega sedang terduduk di sofa. Menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Aruna berjalan mendekatinya langsung duduk di sebelah kekasihnya tanpa izin.



"Ngapain Na?" Tanya Riega tanpa mengubah posisinya.



"Bapak marah sama aku?"



"Ga sayang" Riega bangun dan manatap Aruna.



"Lalu kenapa?"



"Aku kesel aja sama diri aku sendiri"



"Kenapa?"



"Aku ga bisa jagain kamu sampe kamu disentuh-sentuh cowo lain gitu" jawab Riega dengan tatapan sendu pada Aruna.



"Aku ga papah ko" ujar Aruna mendekati Riega dan menggenggam tanganya.



"Iyah kalau kamu ga apa-apa aku tenang sayang" jawab Riega membelai rambut Aruna dengan lembut.



"Berarti tadi Riega cemburu nih, sama Aruna?" Goda Aruna pada Riega yang sedang membelai rambutnya.



"Yaiyalah Aruna. Kamu nih malah godain aku sih?" Tanya Riega menghentikan kegiatan membelai rambut Aruna dan dia mengerucutkan bibirnya ngambek.



"Ahahah Bapak lucu sih udh tua ngambek" ledek Aruna.



"Jadi kamu mau pacaran sama orang tua kaya aku?"



"Mau kamu tua atau muda asalkan itu Riega aku bakal mau"



"Udah pinter jawab nih cewe aku" ujar Riega mencolek dagu kekasihnya.



"Iyah lah, kan Riega yang ajarin aku"



"Huuuh, sayangku ini makin hari makin gemesin banget siih" Riega mencubit pipi milik Aruna gemas.



"Awww sakit tau Pak"



"Hehe iyah deh yaudah sayang. Masuk kelas gih"



"Oke. Ah iyah, ini ada meja lagi punya siapa Pak?"



"Itu punya guru seni baru yang ngajar disini"



"Cewe?"



"Iyah"



"Bu Sharen?"



"Ko kamu tau sih Na?" Tanya Rieg kaget.



"Tadi pagi dia ga sengaja tabrak aku"



"Eh, yang bener? Terus kekasihku ga kenapa-kenapa kan? Ga ada yang luka kan ini?" Tanya Riega sambil memutar balikan badan Aruna mengecek khawatir ada yang terluka.



"Ga Pak, aku baik-baik aja ga ada yang luka juga ko"



"Yang bener?"



"Iyah Pak"



"Syukurlah" jawab Riega lega.



"Iyah. Eh, Bu Sharen cantik awas Bapak kepincut nanti, hehehe" ujar Aruna santai.



"Apaan sih, masih cantikan juga kamu sayang"



"Macaciih Pak?"



"Iyah sayaaang. Yaudah masuk kelas lagi yah."



"Oke Pak"



(Muach) Riega mengecup kening Aruna sekilas. Aruna langsung berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruang seni. Saat Aruna sudah dekat dan ingin membuka pintu, tiba-tiba saja dari luar ada seseorang yang membuka.



(Ceklek!)



"Eh, Aruna?"



"I,,iya Bu Sharen" jawab Aruna menyalimi tangan guru itu.



"Habis apa kesini?"



"Emm,, itu Bu habis kasih buku Pak Riega ketinggalan tadi"



"Oh, begitu"



"Iyaudh Bu, aku pamit keluar"



"Oke"



Bu Sharen langsung mesuk ke dalam dan Arunapun bergegas pergi dari sana. (Hufft) tarikan nafas lega Aruna hembuskan saat ia berjalan menuruni tangga.



"Untung saja. Bu Sharen ga liat aku sama Pak Riega tadi.




Sedangkan Pak Riega dan Bu Sharen sekarang berada di ruang seni sedang berbincang-bincang.



"Udah selesai ngajarnya Pak?" Tanya Sharen langsung duduk di sebelah Riega.



"Belum. Saya lagi pusing aja jadi izin keluar tadi"



"Oh begitu Pak. Ada yang bisa saya bantu buat Bapak? Atau mau saya pijitin Pak?"



"Eh, ga usah Bu. Saya ga lagi sibuk dan juga ga begitu pusing"



"Oh, oke Pak Riega. Saya setelah ini juga ada jam ngajar jadi Bapa bisa istirahat disini"



"Oh, iya sudah semangat ngajarnya Bu"



"Makasih Pak. Ah iya Pak, bisa ga panggilnya jangan ada embel-embel 'Bu' kalau kesaya?"



"Kenapa memang?"



"Saya belum setua itu Pak"



"Oh, jadi saya harus panggil kamu Sharen?"



"Iyah boleh ko Pak"



"Kalau begitu panggil saya Riega aja" ujar Riega.



"Oke Riega" saut Sharen sambil mengedipkan sebelah matanya tanda setuju.



Sharen pun berjalan keluar untuk mengajar ke kelas. Sedangakan Riega duduk bersantai menunggu jam istirahat tiba. Kepalanya sedang pusing karena memikirkan banyak sekali tugas yang harus dia kerjakan. Esok akan ada jadwal latihan Vocal sedangkan malam nanti adalah jadwalnya untuk menjadi penyanyi latar dalam teater yang di adakan di Alun-Alun kota. Tapi di fikirannya sekarang dipenuhi dengan gadis kecilnya itu. Aruna Melati Defandra.



Dalam fikiran dan hatinya sekarang ada rasa khawatir pada Aruna. Riega mengubah posisinya dari sofa dan berjalan menuju ke meja kerjanya. Ia membuka laci dan mengambil sesuatu yang terselip di dalamnya. Rokok.



Benda yang paling di benci oleh kekasihnya. Aruna sangat tidak suka dengan benda itu. Karena menurut Aruna rokok itu berbahaya dan dia sangat tidak suka dengan asapnya.



Pernah satu waktu sebelum latihan Vocal Group berlangsung, Aruna yang biasanya lebih dulu masuk ke ruang seni melihat Riega sedang asyik mengepulkan asap rokonya sambil duduk dan memainkan keyboard miliknya.



Aruna melihat hal itu langsung menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tanganya dan berhenti di tengah pintu membuat Riega kebingungan.



"Kenapa sayang? Ayo sini masuk!"



"Eemmm.. Gwak mwawuu" jawab Aruna membekap mulutnya sendiri.



"Kenapa?"



"Kamu ngerokok Ga!" Teriak Nana.



"Iyah aku taro deh" Riega menaruh puntung roko di pinggir jendela yang terbuka. Setelah itu, Nana yang tadinya berdiri mematung di depan pintu langsung bergegas duduk di hadapan Pa Riega.



"Kamu ngerokok juga yah ternyata?"



"Iyah kalau lagi pening"



"Bukannya nambah pening?"



"Yah ga tau deh sayang. Aku paling kalo lagi pusing banyak pikiran frustasi gini pasti ngerokok." Jawab Riega santai



"Jadi sekarang lagi frustasi?"



"Iyah sayang"



"Sudah habis berapa?"



"Baru setengah itu"



"Kenapa ga sekalian sebungkus Pak?"



"Kamu mau aku mati yah sayang?" Tanya Riega kaget



"Yah udah tau bahaya masih aja di beli"



"Yah, aku ngerokok ga tiap hari sayang. Aku ngeroko kadang pas lagi kesel aja sendirian, pusing, pokonya banyak pikiran deh. Paling banyak juga satu batang. Kalau kebanyakan ga kuat juga dan pasti ganggu pernafasan"



"Yaudah deh tapi jangan keseringan yah Pak. Aku bener-bener ga suka"



"Iyah deh sayang" jawab Riega menowel dagu Aruna.



"Apaan sih Pak. Bau rokok tau" tolak Aruna menjauhi Riega dan pergi.




Begitulah sikap Aruna yang sangat tidak senang dengan benda kecil putih yang bisa mengeluarkan asap bila di konsumsi itu. Saat ini Riega mengambil sebatang rokok dan menikmatinya. Ia hanya berani mengonsumsinya bila ia sedang frustasi dan jauh dari Aruna. Bila dia sedang frustasi dan dekat dengan Aruna, ia tak akan mungkin merokok karena Arunalah obat penenang baginya. Hanya Aruna yang bisa membuat hati dan fikirannya begitu tenang nyaman dan damai.



"I love you Aruna sayang(Huufft)" kepulan asap putih itu ia hembuskan sebagai tanda berkuranglah beban-beban pikirannya.



'Malam ini aku akan ajak kamu sayang' batinya.






To be Continue..




Beri aku like dan coment 💛


Maaf banget yah aku Upnya lama banget.. lagi banyak kerjaan dan bener-bener ga sempet ngetik kemarin.



Karena kalian sabar menunggu jadi aku akan kasih kalian dua episode. Maka lebih seringkah kalian menekan jempol😄