Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
51



"Eemmmh,," Aruna terus mendesah, bibirnya terus Riega ***** dengan penuh kelembutan.


"Sayaang," Riega mengerang, merasakan miliknya mulai mengeras dan tertahan di dalam celananya. Apa lagi sekarang dengan posisi Aruna yang berada di atas pangkuanya. Membuat miliknya semakin mengeras karena tertindih oleh Aruna.


"Yaah," Aruna menjawab dengan suara seraknya yang sexy di sela-sela lumatan itu, dengan gerakan cepat, Riega mengambil kesempatan untuk menerobos masuk ke dalam mulut Aruna.


"Emmmhh... Riegaa.." Aruna semakin menikmati setiap gerakan lincah dari lidah Riega yang mulai mengabsen satu persatu mulut Aruna. Mereka saling menautkan lidah, bertukar saliva. Sungguh sesuatu yang membuat fikiran Riega yang sempat setres karena hilangnya Aruna menjadi begitu lepas dan tenang. Seperti sebuah obat depresi yang sangat ampuh baginya.


Mereka terus menikmati waktu-waktu berdua dengan saling berciuman panas. Tangan Riega yang sedari tadi merangkul pinggang Aruna dengan intens, mulai mengelus pelan. Perlahan dan sangat lembut, terasa begitu nikmat bagi Aruna di perlakukan seperti itu. Aruna semakin mendesah dengan kuat di sela-sela lumatanya.


"Eennggghhh, Ga...." Aruna mencengkeram tengkuk belakang Riega, semakin Aruna tekan semakin buas Riega mencium bibir mungil nan sexy itu.


"Naaa, you're so sweet baby..." Riega mengeluarkan suaranya dengan sangat sexy. Serak, begitu indah terdengar oleh Aruna.


"Eemmmh, kamu nakal Ghaaa... enngghhh..." Aruna semakin mengerang ketika tangan Riega yang semula memeluk pinggangnya sekarang perlahan mulai semakin jahil mengelus punggung belakangnya. Begitu sexy dan intens. Telapak tangan Riega semakin lincah menelusup masuk kecelah belakang baju Aruna. Merabanya dengan penuh gairah.


"Rie.. Ghaaa..." Aruna semakin terbawa suasana, hingga bibir Riega terlepas dan mulai menjelajahi leher Aruna. Menciuminya dengan lembut. Bibir Riega yang basah semakin membuat Aruna melayang. Bibirnya dengan perlahan menghisap kulit putih nan mulus itu, membuat tanda merah tercetak di sana. Aruna hanya bisa memejamkan matanya. Merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa itu sambil terus mencengkeram tengkuk belakang Riega dan mengacak rambut Riega dengan manja.


Tangan Riega terus meraba hingga tepat di bagian punggung atas Aruna, ia baru menyadari ada sesuatu yang janggal disana. Sesuatu yang seharusnya menjadi pelindung bagi benda sintal milik Aruna itu tak ada. Dalam sepersekian detik, Riega melepas ciumanya pada leher Aruna. Dengan nafas yang memburu, ia bertanya.


"Kha..khamu ghak pakhai dalaman aphapun shayhaangg? Heem?" Tanya Riega to the point sambil menatap Aruna dengan lekat.


"Hhuufft, yhaa engga lah shayaangh" jawab Aruna yang nafasnya juga memburu dengan cepat. Ia terkejut juga karena Riega bertanya seperti itu dan juga tiba-tiba berhenti melancarkan aksinya.


"Kenapa ga bilang aku sayang? Hem?" Tanya Riega merapihkan rambut Aruna yang menjuntai kedepan menutupi wajahnya. Menyelipkan ke belakang telinganya.


"Aku malu..." Aruna menundukkan wajahnya dan memerah. Ia tak berani menatap Riega.


"Kenapa harus malu sayang? Jadi kamu ga pakai bra sekarang?"


"He'eum.." jawab Aruna mengangguk sambil terus menunduk.


"Cantiiik?..." Panggil Riega sambil mengangkat dagu Aruna agar bisa saling pandang.


"Apa Ga?" Sahut Aruna menatap manik mata indah milik Riega.


"Aku ini laki-laki sayang" ujar Riega membuat Aruna mengerutkan dahinya.


"Aku tau Pak. Kalau kamu wanita, aku ga akan pacaran sama kamu!" Jawab Aruna dengan polosnya.


"Hey cantik, kamu masih belum paham?" Tanya Riega.


"..." Aruna menggeleng.


"Aku bisa kapanpun melahap kamu sayang, kalau kamu seperti ini bisa-bisa aku khilaf sayang" jelas Riega mengelus pipi Aruna dengan lembut.


"Aku, aku kan ga bawa dalaman sama sekali Ga. Jadi yah...."


"Astaga Sayang?!" Pekik Riega memangkup wajah Aruna dengan kedua tanganya. Matanya mendelik ia benar-benar terkejut dan membuat Aruna juga terkejut.


"Kenapa si Riega!?" Ujar Aruna ikut kaget.


"Kamu, kamu juga ga pakai..." Tanya Riega terjeda dan langsung di sahuti Aruna.


"Iya sayang, aku ga pakai dalaman sama sekali! Aku bilang jangan peluk aku yah karena itu, tapi kamu malah maksa dan berasumsi sendiri!" Omel Aruna pada Riega yang saat ini benar-benar tak habis pikir pada kekasihnya yang terlalu polos itu.


Saat ini Riega hanya diam, merasakan miliknya semakin menegang, benar-benar tak bisa dikendalikan. Pandanganya mulai tak bisa terkendali ia mulai melihat dengan seksama, seperti menerawang ke dalam kemeja putih miliknya yang sedang Aruna kenakan. Ada benda sintal nan kenyal yang pasti sangat disukai oleh setiap pria. Tanpa pelindung dan itu sudah tepat berada di hadapanya. Apalagi yang harus ia lakukan jika bukan melahapnya? Pikiran kotornya sudah mulai merasuk kedalam otaknya. Saat ini perasaanya tak bisa di kendalikan. Nafsu lelakinya memuncak.


Posisi Aruna yang berada tepat di atas miliknya dan menindihnya, semakin mendukung niatnya untuk melahap Aruna saat itu juga. Riega terus berkecamuk dengan fikiranya. Ia hanya diam memandang ke arah dada Aruna yang masih terhalang dengan selembar kain putih miliknya.


"Sayang?" Aruna melambaikan tanganya di depan wajah Riega.


"Riega? Sayang?" Panggil Aruna lagi berusaha menyadarkan Riega.


"Pak!" Pekik Aruna membuat Riega yang melongo kembali tersadar.


"Eh, iya sayang? Aarrgghhh!" Riega mengerang merasakan miliknya semakin mengeras.


"Kamu kenapa?" Tanya Aruna lagi.


"Ga apa-apa sayang..." Riega mulai kembali merangkul Pinggang Aruna, perlahan dan sangat sensual pergerakanya. Mendekatkan tubuh Aruna agar semakin tak ada jarak di antara keduanya. Aruna menggelayutkan kedua tanganya di leher Riega.


"Mau apa Ga?" Tanya Aruna ragu-ragu.


Tanoa menjawab, tangan Riega mulai menuntun kaki jenjang Aruna untuk saling bertautan di pinggangnya dan dalam sekejap, Riega sudah dalam posisi berdiri. Aruna digendong olehnya menuju ke ranjang yang ada diruang privat kabin pesawat pribadi milik Perkumpulan Macan Hitam itu.


"Mau kemana Ga?" Tanya Aruna lagi sambil menatap manik mata kekasihnya yang sudah penuh dengan nafsu yang membara.


"..." Riega tidak menjawab sama sekali. Ia terus berjalan dan sampailah di ranjang berukuran sedang yang hanya cukup untuk dua orang saja.


Tanpa berlama-lama lagi, Riega sudah menidurkan Aruna di atas ranjang. Aruna tidur telentang di atas ranjang itu, dengan baju kemeja kedodoran yang ia kenakan. Tanpa sehelaipun dalaman yang melekat, bagian bawah kemeja itu tersibak ke atas sedikit membuat paha mulus Aruna terlihat begitu menggoda bagi Riega.


"Sayang..." Riega mengeluarkan suara beratnya.


"Ehmm?"


"Aku mau kamu sayang..." Pinta Riega dengan lembut sambil menatap Aruna.


"Engga bisa sekarang Riega.." jawab Aruna membalas tatapan matanya.


"Kapan? Kamu selalu menggoda aku Na. Aku ga tahan lagi..." Ujar Riega frustasi terus menahan penetrasinya.


"Sayang, sekarang kamu mandi dulu gih. Aku lapar banget nih, apa kamu mau aku mati kelaparan, heum?" Ujar Nana berusaha mengalihkan perhatian dan pembicaraan Riega mengenai making love itu. Aruna membelai lembut pipi Riega yang terlihat sangat kecewa karena permintaan anehnya itu tidak ia turuti.


"Huuuffft..." Riega membuang nafas dengan kasar. Lagi-lagi ia harus menjinakkan miliknya sendiri, mengingat Aruna begitu polosnya jika harus membahas hal itu. Tapi, ia juga harus bisa menahan nafsu sebenarnya. Entah tadi ia kerasukan setan apa hingga berani-beraninya meminta langsung pada Aruna.


"Kita belum bisa lakuin hal itu Pak... Euum, sekarang kamu mandi yah Ga dan aku akan minta maid untuk antar makanan kesini aku benar-benar lapar!" Ujar Aruna mendorong dada Riega dari atasnya dan ia langsung merubah posisi menjadi duduk.


"Yaudah deh yang..." Sahut Riega lesu dan ia langsung berjalan pergi menuju kamar mandi meninggalakan Aruna sendirian di atas ranjang. Aruna hanya bisa melihat punggung Riega yang sebelahnya masih di bebat oleh perban bekas luka terserempet peluru itu mulai menghilang di balik pintu kamar mandi.


Setelah Riega benar-benar trlah masuk ke kamar mandi, Aruna segera berjalan menuju pintu untuk memanggil salah satu maid untuk meminta bantuan menyiapkan makanan untuk makan dirinya dan juga kekasihnya yang sedang melaksanakan ritual mandi.


Sambil menunggu makanan yang di siapkan oleh maid datang ke ruangan privat itu, Aruna hanya duduk-duduk saja di sofa sambil membaca beberapa buku bacaan yang ada disana. Sambil terus membulak-balik lembaran kertas dan bersenandung-senandung kecil, tiba-tiba saja dengan tanpa sengaja Aruna melihat ke arah pojok sofa. Disana ada handphone milik Riega.


Aruna meletakkan buku dan bergeser ke ujung sofa untuk meraih handphone milik Riega disana. Ia penasaran dengan isi handphone milik kekasihnya itu. Bukan karena Aruna curiga ada wanita lain yang bersamanya, tapi lebih penasaran dengan siapa orang-orang yang membantu menyelamatkan dirinya dari kematian itu. Jika di ingat-ingat, mereka bukan seperti polisi, tentara atau aparatur negara lainnya.


Mereka berbeda. Seperti sudah sangat terlatih dan handal. Aruna semakin penasaran di buatnya karena Riega bahkan tidak sedikitpun membahas perihal orang-orang itu. Aruna juga tidak mengetahui kalau kekasihnya itu jago sekali dalam menembak dan bertarung. Aruna juga bingung kenapa Caca dan juga Aslan kekasih Caca itu juga bisa handal sekali dalam bertarung. Ini benar-benar di luar dugaan Aruna. Meskipun ia yakin kalau Riega akan menyelamatkannya, tapi ia tak berekspektasi kalau Mereka bertiga dan semua orang yang memanggil Riega Kapten itu bisa ada dan menyelamatkan dirinya.


Aruna mulai membuka handphone Riega, lockscreenya terlihat gambar dirinya dan juga Riega yang sedang berpose berdua di taman waktu itu. Sedangkan wallpapernya terdapat foto Aruna sendiri sedang tersenyum sambil memakan gulali. Sepertinya gambar itu di ambil oleh Riega di alun-alun kota saat ia sedang tak sadar menikmati gulali.


Nana bersemu merah melihat foto dirinha itu. Ini suatu hal yang baru ia ketahui dan ia jadi tersipu.


'Ah, Pa Riega ternyata paparazi banget,-' batin Aruna.


"Eem, gimana caranya aku bisa tau informasi tentang mereka yah?" Gumama Aruna sambil menscroll tiap bilah aplikasi di handphone kekasihnya.


"Ah, nanti aja deh aku tanyain langsung. Sekarang aku liat-liat galeri fotonya aja. Hehe siapa tau ada hal aneh lagi" ucap Aruna, tanpa sadar sudah ada lengan kekar yang melingkar di pinggangnya.


"Eh, ngagetin aja sih Riega!" Dumel Aruna.


"Ahaha, lagi apa sih sayang? Kamu liatin hp aku?" Tanya Riega menoel ujung hidung Aruna.


"Eem, aku liat-liat aja sih Ga.."


(Tok-tok!) Suara ketukan pintu terdengar. Sepertinya makanan sudah tiba. Arun langsung beranjak dari sofa dan membuka pintu untuk mengambil makananya. Ia sangat semangat karena perutnha sedari tadi sudah sangat lapar.


"Selamat menikmati..!" Maid itu menyerahkan makanan kepada Aruna dengan ramah.


"Thank you" sahut Aruna dengan sumringah. Ia langsung berjalan mendekati Riega yang sudah duduk di sofa dan meletakkan makanan itu di atas meja untuk di makan bersama. Riega yang baru selesai mandi, masih bertelanjang dada seperti sebelum mandi tadi, karena perban yang membalut lukanya itu.


"Ayo makan sayang!" Ajak Aruna mendudukan bokongnya di sofa empuk itu.


"Iyah sayang, kamu aja yang makan pasti kamu lapar banget kan?" Ujar Riega mengusap puncak kepala Aruna.


"Ayo makan bareng sayang.." Ajak Aruna lagi.


"Yaudah sini aku suapin kamu cantik!" Tawar Riega.


"No, aku aja yang suapin kamu Ga. Kan tanganmu lagi sakit!" Tolak Aruna sambil menyendokkan makanan dan mengarahkanya ke mulut Riega.


"Iya deh sayang iya. Aaa" Riega membuka mulutnya dan mulai melahap makanan itu. Aruna juga makan dengan begitu lahapnya. Mereka menghabiskan waktu berdua di atas pesawat itu tanpa ada yang mengganggu.


Ruangan privat yang khusus di buat untuk Ketua AL dan Riega itu memang sangat berguna sekali. Riega sangat bersyukur bisa kembali bersama dengan Aruna, melihat senyumanya, menggodanya hingga tersipu malu, mendengar rajukanya, melihat bibir Aruna yang dengan seketika bisa berubah-ubah sesuai moodnya. Riega sangat bersyukur sekali ia tak terlambat tiba di tempat Aruna berada. Hatinya kembali tenang, fikiranya yang kalut kembali ternetralisir dengan adanya sang kekasih hati, jantung hatinya yang sangat ia cintai.


Sebentar lagi ia akan kembali ke kota tempat mereka tinggal. Sambil di suapi makanan oleh Aruna, Riega menghubungi salah satu anggotanya untuk menyiapkan pakaian untuk Aruna tak lupa juga untuk menyiapkan pakaian dalam sesuai ukuran tubuh Aruna. Riega juga memerintahkan pada anggotanya untuk menyiapkan mobil dan jamuan makan malam di Markas besar Macan Hitam untuk perayaan keberhasilan misi mereka kali ini.


Ketua AL sebelum memberangkatkan Riega sudah meminta satu hal padanya.


"Bawa gadis kecil yang kamu cintai itu ke hadapanku Riega! Biarkan Paman mengenalnya. Dia akan menjadi anggota keluarga kita kelak, dan yang menjadi keluarga kita harus setangguh baja! Itu adalah tugasmu yang paling utama Riega!" Itu permintaan Ketua AL setelah selesai menyusun siasat di saat malam kejadian penculikan Aruna.


Dan saat ini, Aruna harus Riega bawa untuk bertemu dengan Paman tercintanya itu dan harus mengetahui tentang hal sebenarnya yang ada pada diri Riega.


To be Continue...


Hai hai...


Penasaran kan kelanjutannya?


Hayuuk, di like dan di coment yah readers tercintaaaa 😍


Salam sayang dari akuu 🤗