Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
16



Setelah Riega membawa semua permen loli dan gulali yang Aruna beli, ia langsung bergegas lari menyusul Aruna di parkiran. Ia berjalan cepat menuju mobilnya. Ternyata Aruna sedang menunggu dirinya. Berdiri menyandar di kap depan mobilnya sambil menikmati kenikmatan peremen kapas yang sedikit lagi hanya akan tersisi gagangnya saja karena habis dilahap oleh kekasih mungilnya itu.


Riega melihat itu merasa senang dan ia nyengir menampakan deretan giginya sambil berjalan mendekati Aruna.


"Sayang?"


"Yah?"


"Ga mau pulang?"


"Mau ko"


"Ayok masuk mobil"


"Nanti dong kamu ga liat aku lagi nikmatin makan permen kapas ini yah sayang?" Ujar Aruna menunda aktifitas memakan permen itu dan mengerucutkan bibirnya.


"Hmm.. iya deeh aku tunggu kamu sampai selesai habisin itu!"


"Makasih sayang! Kamu mau ga? Ini aku suapin nih. Aaaaaaaaa!" Tawar Aruna menyodorkan permen kapas itu ke arah mulut Riega. Ia membuka mulutnya dan melahap permen yang Aruna sodorkan itu.


Rasanya sangat maniiiiiss sekali.


"Emm.. manis banget sayangg..."


"Iyah ini enak banget kan Pak"


"Terlalu manis menurutku" ujar Riega


"Aaaah.. yasudah kalau ga mau jangan bilang gitu dooong" ujar Aruna kesal karena gulali miliknya dihina terlalu manis. Padahal memang kenyataannya seperti itu.


Karena kesal dengan Riega yang mengganggu moodnya menikmati gulali. Aruna langsung mengambil gulali potongan terakhir yang masih menempel di gagangnya yang ukurannya lumayan besar, sekisaran kepalan tangan milik Riega. Lalu, Aruna melahapnya sekaligus agar cepat habis.


"Sayang ya ampuun dikit-dikit doong. Liat tuh mulut kamu muel-muel gitu kan kepenuhan!" Ujar Riega sambil terkekeh menyaksikan kekonyolan kekasihnya itu.


"Bwiiaarwiin ajjwwaa hwabwis kwamwu gangwwu akwwu mwakkwan swiuh!" Jawab Aruna dengan mulut yang penuh dengan gulali manis itu.


"Ahahahahha. Habiskan dulu sayangku!" Ujar Riega terbahak melihat kekasihnya seperti itu.


"Udah?"


"Udah!" Jawab Aruna dengan cemberut karena kesal dengan Riega.


"Iih, kenapa sayang ngambek gitu? Cantiknya berkurang tuh kalau cemberut gitu. Senyum doong!"


"Ga mau!"


"Kenapa cantik?"


"Kamu sih ganggu-ganggu aku makan gulali ini" jawab Aruna kesal.


"Ahaha, oke-oke aku minta maaf sayang. Janji deh ga akan gangguin kamu kalo lagi makan gulali. Tapi kamu harusnya tadi ajak aku kesana beli berdua makan berdua!" Ujar Riega merasa dirinya tak di ajak dan dia lebih khawatir jika Aruna sendiri tadi malah di ganggu oleh seseorang.


"Kamu lama keluarnya. Disana sudah sepi. Aku takut sayang."


"Maafin aku. Tadi aku briefing itupun aku keluar duluan khawatir kamu kenapa-napa. Tadi selesai aku ganti baju kamu juga menghilang. Aku bener-bener takut" jelas Riega yang merasa khawatir.


"Iyah ga masalah sayang. Aku tadi ketemu sama Bu Sharen jadi aku juga langsung pergi ke kursi penonton. Tapi, untungya aku tadi ketemu Wisey sama Zein jadi aku ga sendiri"


"Jadi kamu ketemu Sharen?"


"Iyah"


"Kenapa bisa sama Wisey dan Zein? Mereka juga nonton berdua?"


"Iyah Pak. Mereka dateng berdua"


"Mereka pacaran?"


"Ga Pak"


"Jadi?"


"Aah, ga pentig deh Pak. Ayo pulang!" Ajak Aruna merasa kesal Riega malah membahas Zein dan Wisey.


"Yasudah ayo pulang. Kamu pakai jaketku yah sayang" ucap Riega memakaikan jaketnya di pundak Aruna dan Riega mencium pipi Aruna. Cup.


Bibir Riega yang kenyal dan sexy itu sekilas menempel manja di pipi mulus Aruna. Aruna yang mendapatkan ciuman secara tiba-tiba langsung merasakan seperti ada aliran listrik yang mengalir di darahnya. Ia merasa salah tingkah dan langsung mandorong pelan tubuh Riega.


"Pak ayo pulang ah" ujar Aruna berlari menuju pintu mobil.


"Haiish, sayang. Yasudah ayo" jawab Riega langsung membuka pintu mobil dan mempersilahkan Aruna masuk.


Riega sudah mulai menjalankan mobilnya untuk mengantar Aruna pulang. Suasana dimobil sangat canggung. Entah kenapa ada hal yang mengganjal di hati Aruna begitupun Riega.


"Sayang?" Panggil Riega.


"Hmm?"


"Kenapa diem aja? Biasanya rewel?" Tanya Riega melirik Arunanya yang cantik.


"Aku bukan bayi Pak"


"Tapi kamu seperti bayi" jawab Riega masih fokus dengan kemudinya.


"Jadi Bapak ini benar-benar pedofil akut yah?"


"Siapa bilang?" Tanya Riega menaikkan satu alisnya dan melirik Aruna lagi.


"Bapak menjadikan seorang bayi seperti ku sebagai kekasih!" Jawab Aruna mengerucutkan bibirnya.


"Hanya kamu sayang. Ga ada yang lain. Jangan menggodaku dengan bibirmu itu sayang aku sedang menyetir. Apa kamu mau kita berhenti ditepian sebentar lalu aku menikmati manisnya sisa gulali dibibirmu itu?" Goda Riega pada Aruna yang mulai ngambek.


"Apaan sih Pak?" Aruna ketus dan langsung memalingkan wajah ke arah luar kaca mobil.


"Ga apa-apa. Kamu kenapa sayang?" Tanya Riega.


"Ga kenapa-kenapa"


"Yang benar? Kamu kesel, marah, benci sama aku?"


"Ga ko. Aku seneng banget udah di ajak nonton teater tadi meskipun Riega ngisi acara dan aku nontonnya ga berdua sama Riega tapi aku bener-bener senaaaaang banget. Makasih ya sayang!" ujar Aruna berbinar-binar.


"Sama-sama sayangku. Aku senang kamu senang sayang. Maafin aku ga bisa duduk berdua dikursi penonton. Tadi kamu nangis ga?" Ujar Riega


"Nangis. Sedih banget sayang apalagi kamu nyanyiin lagunya buat merinding makin sedih tau."


"Ya ampun kekasihku baper yah?" Ujar Riega mengelus puncak kepala Aruna lembut.


"Hihi iyah nih Pak"


"Eh, tadi katanya kamu ketemu Bu Sharen?" Tanya Riega mulai menanyakan suatu hal yang sedikit mengganjal sejak Aruna bercerita tentang Sharen.


"Iyh Pak" jawab Aruna merubah nada suaranya manjadi datar.


"Dimana?"


"Ditempat aku tungguin kamu itu sayang"


"Dia ngomong sesuatu sama kamu?"


"Iya lah Pak. Gara-gara Bu Sharen aku ga ketemu kamu"


"Ko bisa?"


"Dia ngusir aku dari sana karna aku bukan team yang ikut berperan. Yah dari pada aku berdebat lebih baik aku pergi"


"Oh, pantas aja kamu menghilang. Tapi sayangku ga kenapa-kenapa kan?"


"Kalau kenapa-kenapa aku ga disini sayang"


"Oke sayang. Maafin aku yah sekali lagi" ujar Riega


"Kenapa minta maaf terus sih sayang?"


"Yah aku minta maaf saja. Dimaafin kan?"


"Iyah aku maafin kamu sayang. Lagipula kamu ga salah apapun sama aku" jelas Aruna menggenggam tangan kiri Riega yang tidak memegang setir. Riega pun membalas genggaman tangan Aruna erat.


Riega merasa benar-benar bersalah. Alasannya yang pertama pastilah karena dirinya tak bisa duduk berdua menemani Aruna menonton. Alasan keduanya adalah karena ia tak bisa menghindari Sharen yang tadi sempat menggelayut di tubuhnya. Ia tak bisa dengan segera menghindari Sharen yang seperti tadi dan iapun tak berani menceritakanya pada Aruna.


Riega takut Aruna merasa sedih dan ia tahu pasti Aruna akan kesal pada Sharen. Ia meminta maaf karena ia tak bisa jujur pada Aruna. Hati kecil Riega merasa bersalah pada kekasih mungilnya itu. Ia tak mau merusak kebahagiaan Aruna hanya karena masalah Sharen yang spele itu.


Akhirnya hanya keheningan yang menyelimuti suasana diantara mereka berdua di dalam mobil. Aruna hanya menikmati genggaman tangan dari Riega. Lembut dan benar-benar membuat Aruna sangat nyaman dengan sentuhan Riega. Aruna bersandar dan matanya mulai terserang kantuk. Jaket yang tadi Riega kenakan pada Aruna membuat Aruna semakin nyaman dan akhirnya Aruna pun terlelap tidur disebelah Riega.


To be Continue...


Selamat membaca😊 maafkan aku yang terlalu lama updatenya☺


Ada permintaan dari salah satu readersku mengenai visual Aruna. Apa kalian setuju? Tapi aku takut visual Aruna ini malah membuyarkan khayalan kalian dan tidak sesuai ekspektasinya 🙏


Bagaimana? Beri aku saran doong😌