
Tidak seperti biasanya Aruna duduk lebih jauh dari Riega. Aruna yang biasanya selalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang kekasihnya itu, sekarang malah memilih untuk lebih menjaga jarak dari Riega. Karena memang Riega sekarang sedang menggendong tas Gitar akustik miliknya.
Riega yang menyadari hal itu tidak seperti biasanya, langsung berusaha menjangkau tangan Aruna dan menariknya perlahan agar Aruna berpegangan padanya. Aruna mulai mendekat dan dirinya mulai berpegangan pada Riega tapi tidak merangkul. Aruna hanya mencengkeram sisi sebelah kiri dan kanan jaket milik Riega. Sangat berbeda dari biasanya.
'Baiklah sayang. Aku tahu kamu benar-benar marah padaku' batin Riega.
Riega memilih mengalah dan membiarkan Aruna berpegangan seperti itu saja. Ia tak mau membahayakan kekasihnya jika ia mempermasalahkan hal kecil seperti itu. Apa lagi dirinya ssdang membawa gitar uang lumayan ukuranya.
Perjalanan yang biasanya Riega dan Aruna tempuh dengan kemesraan sekarang terasa begitu garing. Riega benar-benar rindu dengan sifat manja dari Nananya itu. Aruna benar-benar membuatnya rindu meskipun dirinya berada di dekat Riega.
Mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Yah, Aruna langsung turun dari motor ninja milik Riega. Seperti biasa Riega selalu melepaskan helmet yang dikenakan Aruna dengan penuh cinta dan kasih. Rieg meletakkan Gitarnya di atas jok Ninjanya itu. Setelah itu mereka berjalan bersama menuju tengah Taman yang disana terletak kursi yang telah menjadi saksi cinta antara keduanya.
Saat mereka menduduki kursi itu, mereka sama-sama saling memejamkan mata. merasakan dan meresapi setiap kenangan kenangan indah yang pernah mereka lewati ditaman itu. Moment dimana mereka saling menyatukan bibir saat senja mulai menghilang. Bukan mereka yang menjadi saksi indahnya senja, tapi senjalah yang menjadi saksi betapa romantisnya kisah cinta mereka.
Saat itu mereka mulai menarik nafas dalam-dalam dan mengehembuskannya kembali berusaha menenangkan jiwa dan membuang ego masing-masing.
Riega sudah mulai membuka matanya dan menoleh kesamping. Menyaksikan betapa indahnya makhluk ciptaan tuhan yang saat inu menjadi kekasihnya itu. Ia memandanginya dengan begitu takjub. Hatinya perlahan berdesir. Tangannya mulai perlahan menyentuh jari-jemari lentik milik Nana. Membuat sang pemilik yang meraskaan sentuhan itupun membuka matanya dan menoleh membalas tatapan mata sang kekasih.
"sayang..?" panggil Riega.
"emm..?" gumam Aruna
"Boleh aku bicara?"
"Silahkan Pa. Aku akan mendengar tanpa menyela" Aruna mempersilahlan Riega untuk bercerita.
"Baiklah Syaang...."
Riega pun mulai menceritakan bagaimana permasalahn itu bisa tejadi. Mulai dari dirinya yang ketiduran saat sedang menulis dan dirinya terbangun karena ternyata Sharen tertidur di atas dadanya, hingga ia menceritakan bagaimana Sharen di dorong oleh dirinya hingga terpental dan membentur sandaran sofa dan Riega merasa bersalah hingga ia harus memapah Sharen ke UKS sampi kejadian dimana Bu Zeze bisa mengambil gambar dirinya dan Sharen dengan keadaan sedekat itu. Semua Riega ceritakan tanpaa terkecuali.
"Begitu sayang kejadiannya. Aku sudah menceritakan semuanya dengan rinci tanpa ada yang aku sembunyikan darimu Nana" ujar Riega.
"..." tak ada jawaban dari Aruna.
"Sayang beri aku tanggapan cantik!" rajuk Riega.
"Baiklah aku percaya sama kamu Pak. Lalu kenapa sebelum latihan lama sekali sampai ke ruangan?" tanya Aruna dengan wajah sdihnya itu
"Aku setelah mengajar hanya mau memastikan apa Sharen sudah baikan atau belum. Ternyata Bu Zeze bilang Sharen tidak apa-apa dan bahkan dia sudah pulang"
"Jadi segitu khawatirnya kah kamu sama Sharen?" Tanya Aruna
"Bukan begitu sayang."
"Lalu apa?" tanya Aruna mulai tak suka.
"Aku hanya merasa bersalah aja cantik!" hjar Riega menegaskan kembali.
"Tapi kamu ga seperti.."
"sssstttt.." potong Riega dengan mengacungkan jari telunjuknya ke arah bibir Aruna dan menempelkanya.
"Apa kekasihku ini sebegitu cemburunya kah?" Tanya Riega.
"Siapa yang bilang?" Elak Aruna.
"Aku sayang! Aku yang bilang kalau kamu cemburu sama aku" jawab Riega mulai menampilkan tampang serius.
"Aku ga cemburu. Hanya hatiku sakit liat kamu pegang-pegang gadis lain di depan publik. sampai-sampai mereka mengira kalian sepasang kekasih. Bahkan Wisey bilang kalian berdua cocok seperti putri dang pangeran."
"Begitukah sayang?"
"Iyah. Aku bahkan ga bisa bilang kalau kamu itu cuma milik aku Ga. Aku sakit Ga. Hati aku luka kalau nama kamu disebut sebagau kekasih oranglain. Tapi apa yang bisa aku lakuin supaya mereka diam dan cuma tau kalau kamu itu milik aku dan aku itu milik kamu!" Teriak Aruna meluapkan kegundahan hatinya.
"Apa kamu mau hubungan kita di expose?" tanya Riega
"Ga mau!" jawab Aruna dengan cepat.
"Ga tau. Aku sama sekali gak tahu Riega. Kalau aku tau udah dari dulu aku bakal teriak sekencang-kencangnya kemereka bahwa kamu itu punya aku!" ujar Aruna kesal mulai memukul-mukul dada Riega.
"Aww.. iyah sayang iyah. Jadi bagaimana yang kamu mau?"
"Aku ga mau apa-apa Ga. Aku cuma mau kamu setia sama aku!"
"Hati aku ga berpaling walaupun aku sentuh wanita lain sayang. Hatiku tetap cuma kamu yang bisa milikin ga ada yang lain!"
"Beneran?"
"Kapan aku pernah bohong sayang?"
(Geleng) Aruna hanya menjawab dengan gelengan sebagai tanda bahwa Riega tidak pernah berbohong pada Aruna.
"Riega..." panggil Aruna.
"hemm? Apa sayangku?" tanya Riega mengerutkan keningnya.
"Ingat yah Pak!"
"Apa?"
"Dua mata bapak bisa lihatin siapapun cewe yang ada di sekitar bapak termasuk aku! Tapi ingat Pak. Satu hati Bapak cuma boleh buat aku saja jangan ada wanita lain Pak!"
"Siap sayang. Aku pun ga akan ngizinin wanita lain untuk merebut hati aku! Cuma kamu seorang aja sayang!" jawab Riega meyakinkan Arunanya itu..
"Makasih Riega"
"Sama-sama sayang. Aku mencintai kamu Aruna Melati Defandra" ujar Riega memeluk erat tubuh kekasihnya itu.
"Aku juga mencintai kamu Riega Ali Daniel" balas Aruna memeluk Riega seperti mereka tidak mau melepaskan satu sama lainnya.
Mereka sama-sama saling menikmati kehangatan cinta mereka. Hati Aruna mulai merasa membaik. Hatinya kembali tenang dan ternyata benar apa yang ada dilubuk hatinya kalau Riega tidak seperti apa yang ada difikiranya.
Memang benar Ikuti kata hatimu karena hatimulah yang mampu menuntun kedalam kebaikan.
Riega perlahan mulai mengendurkan pelukannya. Arunapun begitu. Nana mulai menengadahkan wajahnya melihat wajah kekasih tampannya itu. menatap langsung ke manik matanya meyakinkan bahwa dirinyalah yang ada disana bukan Sharen.
"Baiklah sayang. Aku mau kasih sesuatu buat kamu. Tunggu yah jangan kemana-mana!" Titah Riega langsung berdiri dan beranjak pergi dari kursi taman menuju ke tempat motornya terparkir.
"Ah, mau apa sih Pa Riega?" gumam Aruna memperhatikan kekasihnya yang perlahan-lahan mulai mendekat kembali ke arahnya
"Taraaaaaa" teriak Riega tersenyum merekah menunjukkan gitar miliknya kepada Aruna.
"Sesuatunya itu gitar?" tanya Aruna mengerutkan keningnya.
"Bisa jadi" jawab Riega mulai kembali duduk.
"Iyah Pak? Tapi sayang banget, aku ga bisa main gitar Riega!" jawab Aruna mengerucutkan bibirnya.
"Bukan sayang, bulan gitarnya buat kamu!" jawab riega.
"Lalu apa sayang?" tanya Nana penasaran.
Riega mulai memetikkan gitar. Mengalunkan berbagai nada-nada indah dan melantunkan sebuah lirik lagu yang tak Aruna kenal. Tapi makna dari lirik terssbut benar-benar mengagumkan. Indah dan benar-benar dalam sekali maknanya
To be Continueee...
Mon maaf yang naskah awal tadi itu salah yah.. ada kesalahan tekhnis karena aku sempet ketiduran pas ngetik 😖 Ngantuk banget aku tuuuh😴😪
Tapi demi kalian aku jadi tunda tidurku.. 🙂
Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak indah berupa jempol vote dan coment akuuu😍😘😚