Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
1



"Hmph... Ga..udah..Ga..emm..Ga..Stop it!" Desahan gadisnya itu terdengar indah. Ia bersusah payah mencuri nafas disela lumatan-lumatan lembut dari lelakinya. Sambil berusaha mendorong perlahan dada bidang milik lelaki yang sekarang sedang menikmati bibir mungil nan sexynya itu.



"Bibir kamu.. huufft.. manis sayang.. hufft.." ujar lelaki itu ngos-ngosan setelah melumat habis bibir gadisnya. Mengelus setiap inci bibir mungil itu. Nikmat! Itu yang ia rasakan. Untuk pertama kalinya ia berani mencium gadis lugu itu.



"Ja..jangan gitu lagi yah Pak. Masih di sekitar sekolah"



"Jadi kalau di luar sekolah boleh ni?" Godanya



"Bu..bukan gitu Pak. Ma..maksudku, yah jangan lakuin itu lagi" ujarnya malu-malu karena itu adalah ciuman pertama yang ia rasakan dari seorang lelaki. Kaku! Hanya itu yang dia rasakan.



"Kenapa jangan? Kamu ga suka?"



"Iyah, aku ga suka Bapak sembarang cium aja.. Iih, nyebelin!" Ucap gadis itu merajuk sambil memukul-mukul pelan dada bidang lelakinya.



"Hihi,, iyah aku minta maaf Nana sayang. Habis kamu selalu buat aku ga bisa tahan sih kalo liat bibir kamu" jelasnya sambil menarik tubuh gadisnya ke pelukannya dan gadis itu membenamkan wajah di tempat ternyaman miliknya itu.



"Eeemmmm.." desahnya menikmati kehangatan yang ia rasakan setiap kali lelaki itu mendekapnya.




***




Yah, Riega Ali Daniel lelaki usia 27 tahun yang bekerja sebagai guru seni sekaligus pelatih Vocal Group. Ia memulai karirnya di SMA Negeri XIX dan tak menyangka ternyata dia di pertemukan dengan seorang gadis cantik nan imut yang selalu membuatnya terpesona akan keanggunanya.



Aruna Melati Defandra murid kelas 2 atau sebelas. Biasa di panggil oleh teman-temanya Nana. Gadis cantik yang memiliki kulit putih nan mulus. Bermata bening bak tetesan embun di pagi hari. Berhidung mancung. Bibir yang pink mungil, ranum nan sexy. Juga memiliki gingsul yang membuat kecantikanya semakin bertambah.



Siapa lelaki yang tak mengejarnya?. Setiap hari ia selalu di kejutkan dengan kotak-kotak hadiah yang sudah tergeletak di meja miliknya. Surat-surat cinta dengan amplop warna-warni selalu menghiasi mejanya. Tak jarang ada yang mengirimkan cokelat dan beberapa makanan-makanan lainnya. Semua itu karena pesona kecantikannya yang memancar kuat.



Tapi, Aruna selalu memberikan setiap hadiah-hadiah itu kepada teman-teman cewe sekelasnya. Karena dia tidak tertarik sama sekali dengan siapapun lelaki yang mendekatinya. Bahkan, kapten basket yang terkenal super duper tampan dan kece di sekolah pun pernah ia tolak mentah-mentah saat menyatakan cinta secara Live di lapangan basket.



Bukan karena dia sombong, bukan karena dia gengsi, bukan juga karena dia mau jual mahal. Tapi Aruna memang memiliki alasan tersendiri untuk menolak itu semua mentah-mentah. Alasan yang bahkan sahabat dekatnya sendiripun tidak mengerti.



Hanya Riega yang mampu menaklukan gadis cantik itu. Aruna. Gadis yang selalu terbayang di fikiranya tiap malam. Bagaimana anehnya mereka bertemu. Saling mengenal. Hingga akhirnya Riega memberanikan diri menyatakan perasaanya pada Nana.



Back to topik.




"Jangan mesum Pa" ujar Aruna mendongakan wajahnya membut mereka beradu pandang



"Aku ga mesum sayang. Kamu yang terlalu cantik. Imanku ga kuat" jawab Riega guru seni sekaligus pelatih vocal groupnya itu.



"Apa aku harus jauh dari kamu biar iman kamu kuat?"



"Jangan lah! Aku ga mau!" Jawab Riega dengan nada sedikit tinggi. Menarik pelan dagu milik Aruna dan "Cup" Kecupan sekilas di daratkan di bibir mungil milik Aruna.




"Ahahahah" tawanya pecah



"Eh, kamu ga ada jam sekarang?"



"Ga ada Pa. Kenapa?"



"Aku ada jam ngajar. Tapi kalo kamu minta aku temenin kamu disini aku izin ga ngajar"



"Ga usah di temenin Pa. Nanti sore ada ekskul Vocal Group kan?"



"Iyah"



"Cup. Yaudah sampai ketemu nanti sore Pa Riega" Aruna memberanikan diri mengecup bibir milik guru sekaligus kekasihnya itu. Meskipun takut-takut tapi dia menyukai ekspresi saltingnya itu. Sudah terhitung tiga kali dalam sehari mereka menyatukan bibir.



'Seperti minum obat saja, haha' batin Aruna



"Nana..." ujar Riega mendekatkan wajahnya ke Aruna.



"Pa... udah sana ngajar dulu nanti telat" kata Aruna menahan pipi milik Riega yang semakin mendekat.



"Sekali lagi sayang... Ciuman semangat buat aku"



"Ga.."



"Arunaa..."



"Emmm.. Riega..." lumatan kecil kembali diberikan oleh Riega membuat Aruna mulai menikmati hal itu.



"Gimana?"



"Iih, nakal" pipi Aruna memerah karena perlakuan Riega yang terus menggodanya. Ia memukul lengan kekar milik gurunya dan mendorong keluar tubuh gurunya itu dari ruang seni yang hanya ada mereka berdua itu.



'Bahkan empat kali. Aah, dasar guru mesum! Tapi aku cinta sama dia. Heheh' batin Aruna bahagia.



Pa Riega memang selalu ada di ruang seni. Karena memang ruanganya terpisah sendiri dari guru-guru lain. Sedangkan Aruna memang selalu ada di sana jika jam kosong atau sepulang sekolah.



Tidak ada yang tau mengenai hubungan mereka. Bahkan Wissey sahabat dekat Aruna pun tidak mengetahuinya. Hanya Aruna, Riega dan Caca adik kandung Riega yang bersekolah di situ yang tau.






To be Continue