
Semua para tamu undangan dan sekeluarga mempelai pria dan wanita pun sudah duduk ditempatnya masing-masing, Tama yang untuk pertama kalinya sejak terakhir bertemu dengan Juli gara-gara goresan di mobilnya, tampak terkejut dengan penampilan Juli saat ini.
Juli yang melihatnya pun juga tampak terkejut dan menerka-nerka apa yang dipikirkan oleh Tama saat ini. Ada sedikit khawatir jika pernikahan ini akan gagal, namun jika gagal pun tak masalah karena harapan terbesarnya adalah itu.
" Apa yang sedang ia pikirkan?? kenapa menatap ku seperti itu? apa ia akan membatalkan pernikahan ini secara langsung??" batin Juli yang sedikit gelisah namun ada rasa bahagia juga melihat wajah Tama yang seakan iya dan tidak.
Ia pun duduk disamping Tama. yang sudah berpakaian rapih dengan peci putih dan duduk dengan gagahnya. Dan acara akad pun dimulai dengan kedua mempelai ditutupi selendang putih yang menutupi kepala mereka.
Lalu, selama Ijab Kabul berlangsung Juli hanya diam dan terus bergumam dalam hatinya.
" Apa ini takdir ku... Takdir ku harus bersamanya seperti ini?? Apa ia merasakan hal yang sama dengan ku?? Aku, masih tak mengerti kenapa ini semua bisa terjadi?? aku hanya ingin bisa membahagiakan orang tersayang ku, apakah ini adalah hal yang sudah benar??"
Hingga sampai Tama menyelesaikan Ijab Kabulnya dengan lancar hanya dalam satu tarikan nafas. Juli masih tetap bergumam dalam hati dan pikirannya, sampai ia tak sadar jika semua orang sudah berkata SAH untuk mereka berdua.
" Jadi, gimana para saksi?? SAH??" Tanya penghulunya.
" SAH!!..." Jawab serentak semua para tamu dan keluarga.
Sampai membuat Juli tersadar jika ia sudah Sah dengan Tama sekarang.
" Hah! jadi, dia tetap melanjutkannya dan dia mengatakan ijab Kabulnya dengan lantang dan lancar dalam satu tarikan nafas.. Apa ini mimpi?? tapi, ini jelas bukan mimpi.. Aku sudah menjadi istrinya.." Gumam Juli dalam hati sambil mencium tangan Tama yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Begitu pun juga dengan Tama ia seperti sudah menerima hal ini semua dan seperti ia sudah menerima Juli sebagai istrinya, ia pun mencium keningnya tanda bahwa ia telah menerimanya.
Setelahnya mereka pun pergi ke tempat istirahat untuk mengganti gaun untuk resepsinya.
Mereka berdua sudah disiapkan satu kamar untuk mengganti bajunya. Baik Juli maupun Tama sama-sama saling gugup dan ga tau harus gimana.
" Emm.. Apa kau ingin duluan mengganti pakaiannya?? jika kau ingin, silahkan.. aku akan tunggu disini.. lagi pula aku gantinya cepat.."
" Emm, baiklah.."
Setelahnya ia pun sudah mengganti baju dengan gaunnya. Ketika ia sudah keluar dari kamar ia tak melihat Tama di sofa.
" Loh, Dia kemana?? bukannya dia bilang ingin mengganti juga?" Sambil celingak-celinguk mencari Tama.
" Ah, sudahlah mungkin dia sedang mengganti di kamar lain.."
" Tunggu.. aku masih tak menyangka dia akan seperti itu, setelah kejadian kemarin ku pikir, ia akan membatalkan pernikahan ini, tapi.." Ucapannya terhenti saat tiba-tiba dibelakang Juli ada seseorang.
" Jangan berfikir jika kau sudah menjadi istri ku maka kau akan hidup dengan senang dan bahagia..."
Suara ancaman itu terdengar sangat dingin dan angkuh.
" Hah! Apa yang baru saja ia katakan??" Batinnya Juli.
Lalu ia menoleh ke belakangnya dan ya, Juli sedang mendapatkan tatapan yang sangat tajam seperti waktu kemarin ia dimarahi olehnya.
" Dia, terlihat berbeda dari tadi ku lihat.." Batinnya.
" Ka-kau.. "
" Ayo, keluar sudah banyak tamu yang menunggu kita." Kata Tama dengan dinginnya.
Sebelum Tama keluar dari kamar itu, sekilas Juli melihat kalung kotak itu lagi. Walaupun orang lain ga bisa melihat itu, namun Juli bisa melihat benda itu kembali.
" Benda itu kembali.. Sebenarnya benda apa itu dan mengapa setiap benda itu ada di dirinya ia seperti orang yang aneh dan dingin bahkan sangat dingin dari pertama kali ku bertemu dengannya, Apa benda itu memiliki kekuatan?? Tapi.. atau, dia memiliki 2 kepribadian ganda atau lebih??"
" Ahhk, sudahlah.. aku harus menyusulnya para tamu sudah menunggu.. kau harus kuat apapun resikonya Jul.. Fighting.."
....
Feli yang baru saja datang, dan ia tak sempat melihat tamannya akad nikah itu berjalan dengan sangat terburu-buru hingga high heels yang ia pakai patah kakinya karena ia menyandung sesuatu.
Hingga badannya menjadi tak seimbang dan jatuh.
Eits, dia ga jatuh seperti yang dirinya duga.
Hupp..
" Ahh.. "
" Eh.. kok ga sakit ya?? Seperti ada yang menangkap ku?.." Feli membuka matanya.
" Hah!!.. "
Feli memberontak saat ia tahu bahwa orang yang menangkapnya itu seorang yang ia kenal dan itu membuat ia terkejut hingga hampir jatuh kembali.
" Eiittss.. kau, tak bisa diam dulu sebentar. Tenang ini aku Bryan.. kau tak perlu khawatir.."
" Gimana kaki mu apakah kau bisa berjalan??" Kata Bryan sambil memeriksa pergelangan kakinya dan high heels miliknya.
Namun hal itu langsung ditolak oleh Feli karena ia merasa itu sangat tidak pantas dan tak enak juga jika dilihat oleh para tamu lainnya karena ia wanita berhijab.
" Ah, tidak.. aku baik-baik saja hanya saja memang High heels ini yang patah kakinya, kau tak perlu seperti itu tadi.. Terimakasih.. sudah menolong ku.." Feli langsung mengambil sepatunya dan pergi dari sana dengan tak menggunakan alas kaki hanya menggunakan kaus kaki.
" Eh.. tunggu dulu.." Bryan menahan Feli untuk pergi darinya karena ia tak tega jika teman lamanya itu pergi tanpa alas kaki.
" Kau tak bisa memakai itu untuk pergi kesana.."
" Aku akan pergi untuk membeli sepatu secepatnya.."
" Sudah.. ayo ikut aku.. aku akan belikan untuk mu.." ajaknya Bryan yang langsung menariknya pergi dari tempat itu.
Mereka pun pergi dari tempat itu menuju mall terdekat dari sana.
Setelah sampai Bryan langsung membelikan sepatu yang sangat pas dengan kakinya. Ia tau walau hanya melihat sekilas sepatunya.
" Ini, coba pakai.."
" Ya.. Ini sangat pas.." Jawab Feli saat memakai sepatunya.
"Bagaimana bisa kau tau ukuran sepatu ku, aku tak pernah bilang pada mu tentang ukuran sepatu ku.."
" Ya Taulah.. sudah kau pakai saja.. itu sangat cocok pada mu.. terlihat manis.."
" Emm.. ngomong-ngomong, kenapa kau terlihat selalu menghindari ku saat kau sudah kembali.. sebenernya apa salah ku sampai kau harus menghindar dari ku??" kata Bryan yang meminta penjelasan pada Feli.
" Tidak.. kau salah mengartikan itu semua.. Aku hanya ingin fokus saja pada karir ku jadi aku memutuskan untuk melanjutkannya di luar.."
" Tidak, ada sesuatu yang membuat mu memilih hal itu.. apa kau sudah lupa bagaimana kita berjanji dahulu?? Ah.. kau pasti lupa.. haha.. sudahlah.. ayo kita pergi saja dan kembali ke sana.."
" Ya.."
***