Life

Life
Penyerangan.



Hari yang sangat melelahkan, ya bagaimana tidak. Semua orang yang sangat sibuk dihari ini, entah apa yang akan terjadi nantinya, tapi di hari ini mereka sangatlah sibuk dengan masing-masing kerjaannya.


" Hah.. akhirnya selesai juga.. huh.. capeknya.. cuacanya sangat tidak bersahabat.. ah.. sudahlah, lebih baik aku menyiapkan bahan-bahan untuk mulai memasak makan siang.." kata Juli.


Tapi nyatanya ia tak juga mengerjakan apa yang sudah ia katakan tadi. Justru sekarang ia sedang duduk santai sambil mengembalikan tenaganya dengan makan cemilan sendiri.


Sementara di kantor tempat Tama bekerja..


" Hemm.. Apakah akhir pekan nanti masih ada kerjaan yang harus di diskusikan dengan Paman ku, Cana??" tanya Tama pada asistennya yang sedang membereskan file yang ada di mejanya.


" Emm.. sepertinya tak ada pak.." jawabnya.


" Ah.. gitu ya.. ya sudah.. bisakah kau mencari tau info mengenai kejadian 20 tahun yang lalu saat kau masih bekerja dengan Papah??"


" Ta.. tapi, pak.. bukankah kejadian itu tak boleh diungkap lagi, sebab Bapak tau kan bagaimana nanti ke adaannya??.." kata Cana dengan nada serius.


" Tapi, aku sangat membutuhkan hal itu.. Oke.. baiklah.. tapi bisakah kau menyelidiki hal ini secara diam-diam dan jika ada info apapun itu kau harus segera memberi tahu ku.. aku akan menambahkan gaji mu.."


" 10% pak??"


" Ya.. aku akan tambahkan segitu.. bahkan jika kau mengerjakan lebih bagus lagi akan ku tambahi lagi.."


" Baik.. siap pak.."


Cana.. seorang asisten Tama yang menemani dia dari kecil, ia sudah seperti seorang kakak kedua bagi Tama, jarak usia mereka hanya berkisar 5 tahun saja. walau sudah dari kecil bersama tetap saja ia merasa harus profesional dalam kerja. Ia menjadi anak angkat dari papah dan mamah nya.


Awalnya dia diangkat karena ia memiliki bakat yang sangat langka, diusianya yang masih muda ia sudah bisa memecahkan masalah dalam usaha papahnya dan ikut membantu juga dalam membangun perusahan papahnya bersama Alex.


Setelahnya, Tama pun keluar karena ia ingin pulang untuk makan siang, dan ada janji khusus dengan istrinya dirumah.


Namun, ada hal yang sangat tidak baik di hari ini. Entah mengapa perasaan Juli dirumah tiba-tiba tak enak dan tak biasanya. Hingga ia pun mengambil segelas air dan meminumnya, tapi hal itu tetap saja tak membuatnya menjadi tenang. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi sekaligus membawa bekal yang ia buat ke kantor Tama.


“ Kenapa aku masih tidak tenang juga si.. ada apa ini sebenarnya??..” batinnya Juli yang semakin tidak tenang.


Sementara di sisi lain.. Tama yang sudah keluar dan ia sedang berada di parkiran mobilnya. Ada seseorang yang sedari tadi sedang mengintainya seakan ia ingin menyerang dengan tiba-tiba. Orang yang berbaju hitam itu terus saja mengawasi keadaan sekitar. Bahkan di sisi lain pun sudah ada dua orang yang mengawasinya juga..


Dan saat situasi sudah cukup sepi dan tepat mereka pun melancarkan aksinya. Pertama mereka lakukan adalah membuat Tama lengah sedikit. Lalu salah satu dari mereka langsung berlari dan menikam Tama dengan ayunan yang sangat kencang.


Tepat saat itu terjadi Juli sampai disana dan melihat seseorang sedang menuju ke arah Tama dan langsung..


Namun dilain sisi, Juli pun sampai pas sekali ia sampai didekat parkir mobil Tama. Lalu ia melihat Tama sedang berjalan menuju mobilnya.


“ Mas. Mas Tama.. tapi, pria itu.. apa yang ia bawa??” Juli melihat seorang pria itu menuju ke arah Tama dengan membawa benda di tangannya.


“ Tidak.. tidak. Mas.. Mas Tama, awas.. dibelakang mu!!” serunya Juli seraya berlari menuju Tama.


Namun karena Tama terkejut dan ia masih belum jelas Juli bilang apa ia pun menengok dan melihat Juli yang berlari ke arahnya, dengan wajah senangnya ia terus tersenyum namun..


Jlebb..


“ Ahhkk.. ahh.. ahhkk..”


Keluarlah darah segar dari perutnya yang hampir dekat dengan tulang rusuk kirinya. Terlihat darah terus bercucuran karena tusukan itu yang sangat dalam. Juli yang melihat itu pun langsung berteriak meminta tolong pada siapapun yang ada disana. Sedangkan pelakunya kabur begitu saja.


Juli yang memang ku kepala Tama pun terus saja menangis ia tak sanggup melihat Tama seperti itu.


“ Sudah.. su.. Sud.. sudaahh.. ja.. jangan menangis.. aku akan baik-baik saja.. ahhkk..” kata Tama sambil mencoba tuk mengusap air matanya Juli.


“Apa sih mas.. udah mas ga usah terlalu banyak bicara mas masih dalam keadaan seperti ini.. huhu.. hiks.. aku tau mas akan baik-baik saja.. tapi.. tapi tetap saja.. darahnya keluar banyak.. sudah.. tolong!!! Tolong.. hikss.. hikss.. tolong kami..”


Tak lama ada seorang yang akhirnya membantu mereka dan membawa mereka ke rumah sakit.


“ Mas.. bertahan ya, mas.. kita akan segera sampai ya, kita akan sampai.. bertahan tunggu sebentar lagi.. kau akan baik-baik saja. Hikss.. hikss.. “


“ Sa.. yang.. ka...” ucapannya terhenti karena Tama sudah pingsan sebelum ia sampai di rumah sakit terdekat.


“ Mas.. mas.. bangunlah mas.. mas.. mas.. kau mau bilang apa mas.. mas.. jawab aku.. mas!!.. mas.. huhu.. hikss.. hikss..” tangisnya Juli yang menjadi-jadi karena Tama tak sadarkan diri.


Dan mereka pun akhirnya sampai kerumah sakit. Tama pun langsung dibawa ke unit gawat darurat. Untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Keadaan pun semakin menegang karena sedari tadi Tama masuk ke ruang UGD belum satu pun dokter atau suster yang keluar mengabari keadaan suaminya itu. Juli pun sudah menghubungi Adirata ia juga menghubungi Feli dan lainnya.


Hingga akhirnya salah seorang dokter pun keluar.


“ Apa saya bisa bicara dengan keluarga pasien??”


“ Ya.. saya, Dok.. suami saya gimana Dok.. ia baik-baik saja kan dok.. hikss.. jawab cepat dok.. gimana keadaan suami saya??”


“ Pasien, sedang mengalami masa kritis.. dan ia kehilangan banyak sekali darah.. kami membutuhkan transfusi darah.. Apakah ada dari keluarga pasien yang memiliki darah golongan B??”


“ Ya.. ya.. saya memiliki golongan darah yang sama Dok, apakah akan cocok dengannya..??”


“ Baiklah.. kita tes dulu ya, Bu.. semoga saja cocok.. karena hal ini butuh penanganan yang cepat.. baiklah.. mari masuk..” Dokter pun mempersilahkan Juli untuk masuk ke ruangan untuk diambil darahnya.


•••