
Di rumah sakit..
Juli masih menemani Tama, ia sama sekali tak mau pergi jauh dari orang itu. Sedangkan yang lainnya sudah pulang, Adirata pun juga sudah pulang karena ada hal yang sangat penting untuk ia urus. Bahkan Alex pun juga sudah pulang.. disana tinggal Juli yang masih menjaga Tama di dalam ruangannya.
“ Maaf.. maafkan aku mas.. seharusnya aku mencegah mas untuk keluar dari kantor dan pulang ke rumah untuk makan siang bersama.. maaf.. maaf, aku telah membuat mu mengalami kejadian seperti ini..” kata Juli sambil menangis dan menggenggam tangannya dengan erat lalu, menyandarkan kepalanya disamping Tama.
Ia memejamkan matanya sebentar, dan membuka matanya. Ia tak menyangka jika sosok mamahnya Tama ada di hadapannya ia terlihat sangat sedih melihat anak kesayangan itu terbaring tak berdaya disana. Walau ia tahu jika anaknya itu kuat dan akan bertahan tidak seperti dirinya yang tak bisa bertahan waktu itu.
“ Sudah.. nak.. kau, tak pernah bersalah dalam hal ini.. ini semua memang sudah ada yang merencanakannya bukan hanya tuhan saja.. tapi ada seseorang yang memang sudah membuat masalah ini.. kau sama sekali tak bersalah nak.. justru, saat ini kaulah yang harus lebih kuat lagi dari Tama..”
“ Maksudnya??”
“ Kau.. harus masuk kedalam perusahaan sekaligus mencari semua info dari berbagai sudut.. 2 Minggu kedepan nanti, akan ada rapat peralihan nama perusahaan dari Kakek..”
“ Kakek?? “ ( “ Apa yang dimaksud kakek itu adalah bapaknya Pak Adirata??” batinnya)
“ Ya.. dia Bapak nya, papah mertua mu.. dialah yang memegang dan membangun perusahaan Martha group ini menjadi besar dan berjaya seperti ini.. Aku ingin kau tetap bisa melindungi suami mu itu.. sebab kemungkinan besar, semua yang dipegang oleh Martha group akan diatas namakan kepada Tama. “
“ Apa!! Kenapa bisa?? Bukankah seharusnya itu kak Alex?? Kenapa bisa Tama??”
“ Karena Alex sudah berhasil membangun perusahaan nya diliar negeri dengan sukses dan memiliki banyak cabang perusahaan nya.. dan ia pun juga tak tertarik dengan perusahaan milik kakeknya ini, dan akhirnya semua itu akan jatuh pada Tama. Dan itu sudah menjadi surat wasiat dari Papah untuk Tama cucunya. Walau ia masih ada tetap saja, ia sudah mempersiapkan hal itu agar anaknya yang lain itu tak bisa mengganggu atau mengusik lagi..”
“ Tapi, bagaimana bisa aku masuk ke perusahaan sedangkan Tama masih terbaring disini..”
“ Aku akan membantu mu dalam hal ini.. tapi juga aku harus meminjam tubuh mu kembali untuk membicarakan dihadapan papah mu, Adirata. Bisakah kau melakukan hal itu untuk ku..”
“ Ya.. jika itu bisa membantu dan melindunginya aku sanggup melakukannya.”
“ Ya.. baik, Mah..”
Setelahnya Heraiyan pun menghilang dari hadapannya. Dan kini ia kembali berdua saja dengan Tama. Kesunyian itu sangatlah membuatnya mengantuk apalagi yang berbunyi hanyalah suara mesin jantung yang terus berbunyi..
Ia terlelap dalam tidurnya dan mimpinya. Ia bermimpi bahwa ia sedang berada di suatu hutan namun, hutan itu terasa sangat sejuk tapi menyeramkan. Ia terus berjalan disana tanpa tau kemana kakinya akan melangkah. Lalu, ia menemukan sebuah potongan puzzle..
Ia bingung, puzzle apa ini?? Gambar puzzle itu hanya berupa tulisan yang sebagian besarnya itu buram.. lalu dengan latar belakang yang penuh dengan warna merah dan pohon juga disana.. namun, anehnya gambar pohon itu kenapa tak tersentuh oleh warna merah itu?? Padahal warna merah itu seperti tetesan darah yang menetes jatuh ke potongan puzzle itu.
“ Kenapa potongan puzzle ini hanya satu saja ya.. dan puzzlenya pun sedikit besar. Apa ada puzzle yang lainnya juga??” tanya Juli.
Ia pun sedikit melangkahkan kakinya maju. Tapi, ia melihat sesuatu diujung sana, seperti seorang pria yang sedang menunggu diujung sana. Pria tersebut menghadap ke arah sebuah pohon yang sangat besar dan berwarna pink keunguan.
Juli yang leihatnya pun, ikut melangkahkan kakinya menuju tempat pria tersebut. Tapi, lagi-lagi ketika ia sudah hampir dekat dengan pria itu, pria itu pergi ke arah yang lain. Dia seperti menghindar darinya. Juli pun tetap mengikutinya, sampai pria itu terdiam dan berbalik kepadanya. Lalu, tiba-tiba pria itu mendekat ke arahnya. Dengan wajah Juli yang sangat terkejut melihat sosok pria itu adalah orang yang sangat ia sayangi sekarang.
Pria itu mendekat, dan lebih mendekat lagi. Lalu, ia mendekat ke arah telinganya. Dan membisikkan sesuatu padanya.
Juli yang masih tak menyangka jika ia akan bertemu dengan Tama didalam mimpi pun, membuatnya menjadi sangat bahagia ditambah Tama membisikkan sesuatu yang sangat penting baginya, bahkan karena bahagianya di aslinya ia tersenyum-senyum sambil tetap memejamkan matanya dan tetap bersandar dibahu Tama.
Hingga tak terasa waktu sudah mendekati azan subuh. Lalu terdengar suara azan..
Mendengar itu Juli pun terbangun dan ia melihat Tama yang disampingnya itu dengan wajah tersenyum cerah.
Entahlah, ia hanya merasa yakin jika apapun yang akan terjadi nanti ia akan selalu menjadi pelindung mulai sekarang.