Life

Life
Kekasihku.



Disaat, semua orang sedang mengalami masalahnya masing-masing. Kini Safa dan mamahnya sudah hidup tenang dan bahagia. Walaupun mereka hanya makan seadanya dan hidup seadanya. Tetap saat ini mereka sangat bahagia menjalan kehidupan sehari-hari.


Bahkan hal ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Bagi Safa hanya mamahnya lah yang bisa membuatnya merasa nyaman dan tenang saat berada di pangkuannya.


Safa yang tertidur pulas di pangkuan mamah nya tak menyadari jika Vian dan kawan-kawan yang lainnya datang ke rumahnya.


Tok.. tok..


“ Safa.. Safa..” panggilnya kawan-kawan Safa dari luar pintu rumah.


“ Iya.. sebentar ya.. “


“ Fa.. nak.. ada teman mu yang datang.. ayo bangun.. mungkin mereka ingin main dengan mu karena ini hari libur..” kata mamahnya sambil mencoba untuk membangunkan Safa dari pangkuannya.


“ Emm... Emmhh.. ada apa mah??” Kat Safa yang masih belum membuka matanya.


“ Itu ada teman mu diluar.. “


“ Aiihh.. kenapa mereka semua pada disini?? Aku hanya ingin tidur dipangkuan mah..”


“ Eh.. sudah sana.. keluar main.. dari pada di rumah terus.. tidur terus ga baik Safa..”


“ Emm.. ya.. baiklah.. aku akan cuci muka dulu..” kata Safa sambil bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


“ Cepatlah.. teman-teman mu sedang menunggu..”


Tak lama, akhirnya Safa pun membuka pintunya dan melihat teman-temannya sedang menunggunya diluar.


“ Nah.. nie dia nih.. anaknya.. dari kemarin ga nongol-nongol.. sekalinya nongol kelihatan banget mukanya abis bangun tidur..” kata salah satu anak.


“ Fa.. kamu dari kemarin kemana aja sih.. aku dan yang lainnya kan pengen main sama kamu tapi kamu ya ga kelihatan dari kemarin..” Kata Vian.


“ Iya.. maaf ya.. kemarin aku memang pergi ke rumah nenek.. jadi ya aku ga ada dirumah..”


“ Ya udah.. daripada kita tetap disini dan ga kemana-mana, mending sekarang aja deh.. kita rencanakan sesuatu yang kerena sambil bikin api unggun buat malamnya didekat sini.. oke ga??” tanya Iman pada yang lainnya.


“ Ah.. bagus juga tuh bagus.. mending kita bikin di lapangan bola dekat sini.. kita ijin dulu sama Pak Samsul, ya biar dibolehin trus kali aja kita dapet sesuatu juga.. kan anaknya juga ikut sama kita..” Kata Sasa.


“ Owh.. iya ya.. kan anaknya ikut kita juga ya.. eh.. Arif gimana?? Mau ga kau?? Emm.. daripada kita yang bilang mending Arif aja yang bilang.. ke bapaknya dibolehin ga.. ya ngga??”


“ Ya.. kita-kita mah ayo aja.. asal dapet bonus juga.. haha..” tawanya Vian.


“ Eh.. bentar ya.. aku harus bilang sama Mamah dulu.. soalnya mamah kasian dia dirumah sendiir..” kata Safa.


Safa pun masuk kembali untuk memberitahukan mamahnya, sedangkan yang lain sedang nyusun rencana untuk api unggun malam ini.


Ia sangat mencemaskan kehidupan anak-anaknya. Bahkan sekarang pun ia tau jika akan ada bahaya yang sangat besar akan menghampiri keluarganya.


Duduk termenung di samping makam istrinya sendiri. Baik Tama dan Juli mereka sudah pulang duluan karena mereka ingin ke rumah Juli menjenguk orang tuanya. Sedangkan Alex dan Dea mereka sudah pulang duluan mereka hanya sibuk masing-masing.


“ Apa yang harus aku lakukan sayang.. aku sama sekali tak tau harus melakukan apa??” tanyanya Adirata.


Seketika Heraiyan muncul dibelakang suaminya itu tepat di sampingnya sekarang bahkan ia memegang pundak suaminya itu walau tak bisa menepakkan tangnnya.


“ Hemm.. andai kau ada disini sayang.. aku akan sangat bersyukur jika kita bisa bertemu lagi.. dan menghadapi kehidupan ini bersama lagi..” katanya sambil meneteskan air matanya.


{ “ aku disini mas, mas.. aku disamping mu.. aku sedang memeluk mu sekarang.. bahkan aku bisa merasakan rasa sakit mu itu.. ku mohon rasakan lah kehadiran ku ini mas.. kau satu-satunya orang yang terus aku lihat sampai detik ini.. rasanya sakit mas.. sama seperti yang kau rasakan saat ini..” }


Hembusan angin yang sangat menyejukkan itu menerpa dirinya Adirata bahkan terasa sangat hangat dan nyaman.


“ Ah.. Heraiyan... Apa kau disini?? Apa kau mendengarkan ku.. apa kau berada didekat ku??”


“ Sungguhlah ini?? Aku.. aku merasakan mu Raiya.. aku.. sangat merindukan mu.. hikss..”


“ Huhu.. aku.. merindukan mu Raiya..” tangisnya Adirata dalam hatinya ia hanya memohon untuk bisa melihat Heraiyan kembali dan memeluknya.


{ “ aku pun juga ingin mas, bisa memelukmu.. aku juga merindukan mu mas.. sangat rasany seperti aku sudah tak bisa lagi menunggu..” }


Hembusan angin pun terus semakin kencang.. hingga daun kering bertebaran dimana-mana. Lalu, tiba-tiba Adirata melihat sosok yang sangat ia kenal itu berdiri dihadapannya.


“ Hah.. apakah ini benar?? Aku tak salah lihat kan.. Raiya?? Apakah itu kau??”


Adirata sangat terkejut melihat sosok wanita yang sangat dicintainya itu ada dihadapannya. Ia tak menyangka jika doanya terkabul.. ia tak menyia-nyiakan kesempatan berarti itu. Dengan cepatnya ia berlari menuju istrinya itu dan memeluknya dengan sangat erat..


Ia terus memeluknya sampai air matanya tumpah ruah. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa ia sangat merindukan istrinya itu.


“ Bisakah kau tetap disini bersama ku untuk saat ini.. aku hanya ingin hal itu saja.. aku merindukan mu Raiya.. sangat..”


“ Aku tau mas.. aku sangat tahu.. tapi, aku tak bisa berlama-lama.. mas, aku yakin.. dan sangat yakin bahwa apapun masalah yang mas hadapi mas, pasti akan mendapatkan jalan keluarnya.. mas.. aku selalu ada disamping mas dan menunggu mas disini.. dan saat waktunya tiba, kita akan bersama kembali.. aku yakin itu mas..” Kata Heraiyan sambil memegang pipinya Adirata.


Dengan senyumanya yang terus berbinar di wajahnya bahkan hal itu menjadi kekuatan untuk Adirata.


Dan seketika itu pula ia menghilang dari pandangan Adirata dengan senyuman yang terus menerus ia tampilkan agar suaminya itu bisa kuat menghadapi ini semua.


“ Jangan.. jangan.. tolong jangan pergi sayang.. sayang.. jangan pergi, aku.. hikss.. aku akan menyusul mu Raiya.. tunggu aku.. tunggu sampai aku bisa menyelesaikan masalah anak-anak kita dan melihat mereka semua bahagia.. itu kan mau mu sayang?? Ku harap kita akan bertemu kembali..”


Ia pun merelakannya walau dengan perasaan yang berat. Tapi ia pun juga harus terus menjalani hidupnya dengan benar agar istrinya yang ia sayang itu tetap senang disana.


°°°