
Plaaakkk...
Suara tamparan yang keras berdengung disebuah gedung kosong.
“ Kalian ini gimana si!!.. suruh apa tapi hasilnya nol besar..”
“ Maaf, bos.. maaf.. ka..”
“ Alah.. sudah!! Pokoknya jika rencana besok kalian masih belom bisa.. kalian semua akan mati.. ingat itu..”
“ Baik.. bos..”
Ia pun pergi meninggalkan mereka anah buah yang t**ol, yang tak berguna.. lalu ia menghubungi bos besarnya.
“ Hallo, Pak.. rencana besok kemungkinan akan siap.. dan semuanya sudah kami susun dengan sangat baik..” katanya.
“ Baiklah.. pokoknya besok harus bisa.. saya ga mau hal ini terus tertunda.. jika tidak berhasil juga, kalian semua harus terima resikonya..”
Tuutt.. ( suara telfon terputus )
•••
Hari pun sudah menjalang siang hari, dan anak-anak sekolah pun sudah pulang.
Diperjalanan menuju rumah..
“ Vian.. apa kau sudah mengerjakan tugas mu??” kata Safa.
“ Belum memang ada apa??”
“ Emm.. ngga, apa kau mau mengerjakan tugas bareng??”
“ Emm.. gimana ya?? Emm.. mau ga ya??”
Pleettuukk..
“ Ah.. auww.. kau.. berani sekali ya.. menjitak kepala ku.. hiiyyh..” kata Vian sambil mengusap-usap kepalanya.
“ Lagi.. kau selalu saja, meledek ku.. jadi gimana??”
“ Emang kenapa si kau ingin sekali mengerjakan tugas dengan ku?? Emang ada apa lagi??”
“ Emm.. tidak..” sambil menunduk ia menjawab pertanyaan Vian.
“ Apa kau ada masalah??” tanya Vian yang tiba-tiba.
“ Emm.. aku hanya sedikit takut dirumah..”
“ Takut apa memangnya?”
“ Aku.. takut.. takut, Bapak dan Ibu ku sedang tak akur.. mereka terus saja bertengkar.. aku sama sekali ga tau apapun.. aku hanya bisa diam melihat mereka terus saja bertengkar.. “
“ Lalu, apa yang kau takutkan??”
“ Aku.. takut jika suatu hal yang tak baik akan menimpa keluarga ku.. dan aku takut, jika aku kembali tersiksa lagi, seperti dulu.. saat aku masih kecil..”
“ Sudah.. sudah.. aku, mengerti baiklah, jika kau mau kau bisa menginap dirumah ku dan kita kerjakan tugas bersama..”
“ Makasih, Vian.. aku, hanya tak ingin mengalami hal itu kembali.. bahkan, jika itu beneran terjadi, aku tak mau mendapatkan kekerasan lagi.. mungkin jika aku bisa menghilang, aku akan menghilang dari sana dan takkan pernah lagi menunjukan wajah ku..”
“ Husshh.. jangan bicara seperti itu.. apa kau tak memikirkan kedepannya?? Hah.. sudah.. itu takkan terjadi.. aku akan selalu ada disamping mu jika kau membutuhkan ku.. apa kau mau habis ini kita langsung saja mengerjakan tugasnya??” tanya Vian.
“ Ya.. aku mau.. tapi, kali ini kau yang harus berfikir.. aku akan menerimanya saja.. hehe..”
“ Eh.. apa-apaan itu.. ngga bisa gitu dong.. itu ga adil namanya.. Fa.. Safa.. itu ga bisa begitu.. kau juga ikut berfikir juga pokoknya..”
Melihat Vian yang murka terhadapnya dan ingin menggelitiki nya Safa pun langsung lari menjauh dari nya.. dan main kejar-kejaran pun dimulai sampai rumah masing-masing mereka.
“ Hah.. huh.. sudahlah.. aku capek.. sudah.. kau masuk sana, dan ambil semua hal yang akan kita pelajari nanti.. dan jangan lupa, kau juga harus bilang.. jika kau akan menginap dirumah ku..”
“ Ya,.. ku tunggu.. ya..”
“ Ya..” sambil sama-sama melambaikan tangan mereka.
Mereka pun masuk ke rumahnya masing-masing dan segera berganti pakaian, lalu mengambil semua barang yang akan dibutuhkan. Dan karena besok pun hari Minggu, waktunya weekend Safa pun membawa permainan ular tangga juga, sekalian buat main jika merasa bosan.
Namun, berbeda dilain sisi ini. Hari pun sudah larut, dan Juli pun masih jalan dengan Feli. Bahkan sampai kedua kekasihnya itu menghubungi mereka dan mengancam jika mereka tak juga menyudahi jalan mereka, mereka akan menjemput paksa.
“ Huh.. lihatlah, Jul.. lihat bagaimana mereka sama-sama menyuruh kita untuk segera pulang.. hiyy..” kata Feli yang merasa kesal atas sikap Bryan itu.
“ Haha.. iya ya.. ko bisa samaan gitu ya.. Pfftt.. jadi, kalian sudah tak bertengkar lagi setelah kejadian waktu itu?? Dan kalian sudah memutuskan hubungan kedepannya dengan lebih baik lagi..”
“ Ya, begitulah.. rasanya aku tak menyangka, jika hal ini benar terjadi pada kita.. kau, menikah dengan anak dari Bos besar, dan teman dari kekasih ku.. dan, kekasihku adalah sekretaris pribadi dari Ayah mertua mu..”
“ haha.. iya juga ya.. aku tak pernah berfikir bahwa kisah hidup ku akan seperti ini.. walau disatu sisi aku merasa takut, tapi melihat sekarang.. aku merasa seperti memiliki keberanian.. walau di selaputi oleh rasa ketakutan itu, tapi tetap saat ini aku tak bisa pergi darinya dan meninggalkan semuanya..”
“ Yah.. kau benar.. itu artinya kau sudah benar-benar memberikan hati mu padanya dan mau berjuang bersamanya. Jadi, apa kau masih tak mau mengakui perasaan mu padanya??”
“ Yah.. kurasa saat ini aku ingin melihatnya dulu.. aku ingin tahu seberapa besar ia juga merasakan hal yang sama dengan ku dan percaya pada ku..”
“ Hemm... Ya.. baiklah, kita harus segera pulang jika tidak.. mereka semua akan terus menelfon kita dan ujungnya kita yang akan kena apesnya.. ya kan..”
“ Ya.. kau benar.. Hem.. kurasa kau harus cepat-cepat menikah dengannya Fel.. kau sudah snagat cocok menyandang predikat sebagai nyonya besar Fel.. hehe..”
“ Ah.. kau bisa saja.. tidak.. mungkin nanti, saat ia sudah bisa sangat mencintai ku dan melamar ku didepan semua orang.. saat itu juga aku akan langsung memintanya untuk menikahi ku..”
“ Ya.. baiklah, Jika seperti itu.. semoga cepat ya.. aku sepertinya sudah tak sabar.. akan hal itu..”
“ Yah.. semoga..” kata Feli sambil melajukan mobilnya dengan cepat dan aman.
Sesampainya di Apartemen, Juli pun langsung keluar dan mengucapkan sampai jumpa pada Feli.
“ Dahh.. besok kita ketemuan lagi ya.. daahh..” kata Feli sambil melambaikan tangan pada Juli.
“ Ya.. daahh..”
Mereka pun terpisah didepan apartemen itu. Dan Juli pun segera masuk ke dalam. Namun suatu hal terjadi pada dirinya. Ia merasa sangat pusing dan jalannya pun terasa berat dan sempoyongan seperti sudah tak kuat untuk berjalan. Lalu..
Brruukk..
Semua orang yang melihatnya pun kaget, melihat Juli jatuh tersungkur di lantai. Ada beberapa orang yang ingin membantunya untuk menyadarkannya, tapi ia langsung bangun dan tersadar.
“ Makasih.. aku sudah tidak kenapa-kenapa.. makasih sebelumnya..”
Ia sudah tersadar dan kembali melanjutkan jalannya menuju Apartemennya.
Ting tong.. ( suara bel berbunyi tanda ada seorang datang. )
“ Hah.. kau.. kenapa kau pulang sampai malam gini.. lalu, teman mu itu dimana dia??” kata Tama yang terlihat sangat khawatir.
“ Sudah.. dia sudah tak apa.. dan justru kaulah nak.. yang harus dikhawatirkan..”
“ Mamah.. benarkah, ini mamah??” Tanya Tama yang tak menyangka jika ia akan mendengar suara mamahnya kembali.
“ Ya.. Tama.. mamah, tau.. mamah sudah tak bisa lagi terus bersama mu.. mungkin di qakhir-akhir kali ini mamah, ingin kalian semua hidup bahagia walau mamah sudah pergi.. Hanya itu yang mamah inginkan..”
“ Ya.. aku mengerti mah.. aku sudah paham.. dengannya aku sellau mendapatkan hal baru setiap harinya.. Mamah, kenapa melakukan hal seperti ini??”
“ Mamah, hanya ingin bertemu dengan mu saja.. Mamah kanget sekali..”
“ Ya.. Tama juga kangen banget sama mamah..” peluknya Tama pada tubuh Juli yang didalamnya adalah mamah nya..
Lama mereka berbincang, hingga akhirnya ia pun sudha harus berpisah kembali, karena waktunya tak bisa lebih lama lagi. Baik Tama maupun Heraiyan, mereka sama-sama tak ingin momen seperti ini berakhir, tapi hal itu harus dilakukan karena memang sudah seharusnya.
°°°