Life

Life
Kebakaran 2.



Ketika Tama dan Juli ingin berusaha keluar dari tempat itu. Tiba-tiba saja salah satu bodyguard itu memberitahu jika api yang berada di koridor samping itu sudah penuh dengan api.


“ Apa tidak ada jalan keluar selain melalui koridor itu??” tanya Juli.


“ Iya.. Non, pak tadi saya mengecek disana dan ternyata apinya memang dari sana, saya pun kurang tau mengapa api itu berasal dari sana.. Tapi, saya rasa ada jalan keluar.. namun sayangnya itu terlalu beresiko.. melihat kondisi Bapak yang seperti ini dan kami pun juga takkan mungkin bisa keluar bersama.. “


“ Apa itu??!!”


“ Apa pak?”


“ Apa yang bisa membawa saya dan istri saya keluar dari sini??” tanya Tama tegas.


“ Mungkin dengan menggunakan tali lalu turun ke bawah..”


“ Baiklah.. cepat carikan tali segera cari tali yang kuat..”


“ Ta.. tapi pak.. sulit untuk mendapatkan tali disituasi seperti ini..”


Keadaan yang sangat sulit ini, dan mereka harus segera mengatasi hal ini dengan cepat bagaimana pun caranya. Pri itu pun datang menghampiri mereka semua di koridor yang hampir dipenuhi oleh asap kebakaran.


Disamping itu, berita tentang kebakaran di rumah sakit Martha tempat Tama dirawat. Sudah masuk ke seluruh berita Nusantara. Dan itu pun sudah dilihat oleh Bryan dan Adirata lewat tv kantor.


“ Pak.. pak.. lihat.. itu rumah sakit Pak Tama kebakaran..” paniknya Bryan yang melihat berita tersebut.


“ Apa!?? Bagaimana itu bisa terjadi.. apa ini semua ada sangkut pautnya dengan kasus kemarin.. ya ampun.. bagaimana ini semua bisa diluar kendali.. ayo Ayan.. kita harus segera kesana.. dan tolong cepat kau hubungi dinas kebakaran dan bala bantuan yang ada.. yang paling penting adalah Tama selamat terlebih dahulu..”


“ Baik.. pak..”


Mereka pun segera pergi dari sana. Bryan terus menghubungi semua pihak penyelamat dan pemadam kebakaran. Dalam perjalanan Adirata hanya berharap semoga anaknya tak terjadi apapun. Ia hanya ingin anaknya baik-baik saja.


“ Ayo Ayan.. cepat!..” kata Adirata sambil berlari masuk ke dalam rumah sakit itu.


Namun, sebelum Bryan masuk juga kedalam, dia melihat jika Tama sedang ingin keluar dari jendela bersama dengan Juli.


“ Pak.. pak.. tunggu, jangan masuk dulu.. “ Bryan mencoba untuk memanggil Adirata namun Adirata sudah menjauh dari jangkauannya.


Hingga ia pun kembali keluar dan meminjam pengeras suara dari salah satu orang yang membawanya.


“ Pak Tama.. bapak tolong jangan nekat.. kami disini akan mengupayakan bapak agar bapak bisa keluar dari sana!!! “ kata Bryan.


Setelahnya ia pun langsung menghubungi Adirata untuk segera keluar dari sana. Untungnya panggilan itu pun dijawab olehnya.


“ Ya.. ada apa Yan??”


“ Pak.. pak, Tama sedang ingin keluar dari dalam sana.. bapak tidak usah naik ke sana bahkan pak Tama dan Juli pun juga sudah hampir ingin keluar dari jendela..”


“ Ya.. pak.. baiklah..”


“ Ya..”


Telfon pun dimatikan dan Bryan segera memberi tahu ke petugas penyelamat untuk menyelamatkan bos nya. Yang berada di ruang atas gedung.


Berpindah ke sisi lainnya. Rivaldi begitu senangnya saat diberi tahu jika rencana itu berhasil dan Tama keponakannya sendiri pun terjebak dalam kobaran api tersebut.


“ Bagus.. kerja bagus.. pastikan jika dia tak bisa keluar dari sana dan jika kau berhasil membuat anak buah mu itu melakukan hal ini, aku akan memberikan kalian bonus tambahan..”


“ Baik bos.. akan saya kerjakan dengan baik..” kata anak buahnya yang sedang mengawasi disekitar rumah sakit itu.


Anak buah itu masih mengawasi keadaan sekitar sana. Namun di dalam ruangan itu baik Tama maupun Juli sudah benar-benar terkepung oleh api. Sosok pria itu pun datang dengan membawa kain tebal yang sudah dibasahkan dengan air.


“ Pak.. Buk.. tolong kalian keluar dengan kain ini.. saya rasa ini bisa untuk menyelamatkan kalian berdua.. maaf untuk sebelumnya..”


“ Kau.. bukankah.. kau bapak-bapak tadi.. Lalu, bapak sendiri gimana?? “ tanya Juli serius.


“ Ya.. buk.. itu benar.. dan saya berterima kasih pada ibu.. karena ibu telah menyadarkan saya.. maaf.. ibuk dan bapak harus cepat keluar dari sini..”


“ Ayo, Jul.. kita keluar.. dan kalian.. semua tunggu sebentar.. bala bantuan sebentar lagi akan datang.. apa kalian bisa menunggu disini.. dan untuk bapak.. terimakasih.” Kata Tama sambil dibopong oleh Juli dan pergi keluar menembus api dengan kain basah itu.


“ Baik pak..”


Keadaan disamping itu pun begitu mengkhawatirkan hingga Bryan pun sudah sangat cemas dan gelisah. Melihat Tama dan yang lainnya menghilang dari jendela tersebut.


“ Aduh.. bagaimana ini.. pak Tama dan Juli mengapa menghilang apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mereka?? Wahh.. ini sangat gawat..”


Dan tiba-tiba Adirata pun datang menemui Bryan.


“ Bagaimana keadaan Tama, Ayan??”


“ Ah.. pak.. Tama.. pak Tama menghilang dari jendela itu pak..”


“ Waduh.. bagaimana bisa?? Lalu, bagaimana dengan bala bantuan yang ada apa mereka sudah masuk dan menyelamatkan semua yang didalam??”


“ Su.. sudah pak.. sudah, mereka sudah masuk dan menyelamatkan korban didalam..”


Setelah semua orang khawatir bagaimana dengan keadaan Tama dan Juli. Tak lama mereka pun keluar dengan jalan yang tertatih dan Juli yang terus merangkul Tama agar ia bisa berdiri dan berjalan. Namun disisi itu para bodyguard nya semua keluar melalu jendela itu dan turun bebas ke bawah dengan alas seperti gelembung balon yang besar disiapkan di bawah mereka agar mereka selamat.


°°°