
“ Aduhh, Feli kemana si dia.. “ Sambil berjalan ia terus saja berbicara tanpa henti sampai ia bertabrakan dengan orang yang sangat mencurigakan.
Brruukk..
“ Aduh.. hei.. kau, kalau jalan tuh lihat-lihat bisa ga sih..”
“ Ah.. maaf..”
Orang tersebut pun langsung pergi meninggalkan Juli dan berjalan menuju ke arah ruangan Tama.
Juli yang merasa jika orang itu sangat mencurigakan. Ia pun sempat berfikir.
“ Orang itu, kenapa dia sangat mencurigakan. Atau jangan-jangan.. mas Tama.. “ pikirnya yang langsung menuju ke Tama.
Ia pun langsung kembali ke ruang Tama. Dan orang itu pun juga tetap berjalan lurus tanpa mengetahui jika ada orang yang juga ingin pergi ke ruang itu.
“ Orang itu, sepertinya benar ia punya suatu niat ga baik di rumah sakit ini.. Hemm.. apa aku pura-pura saja ya.. ada yang ketinggalan dan aku berjalan cepat mendahului orang itu..”
“ Sepertinya itu adalah hal yang aman dan baik.. aku hanya takut, jika apa yang kupikirkan ini adalah sebuah kebenaran..”
“ Baiklah.. oke..”
Cttaakk..
Juli pun berjalan kembali dengan langkah kaki yang cepat. Lalu, ia pun seperti sedang mencari-cari sesuatu didalam tasnya.
“ Aduh dimana ya.. lipstiknya?? Apa ketinggalan aduh, Hemm.. udahlah, balik saja lagi..” kata Juli dengan nada suara yang khawatir karena barangnya ketinggalan dan ia harus kembali.
Setelah ia berhasil melewati orang itu, ia sempat merasa ada yang tak beres dengan pria itu dan ia juga sedikit melirik dan membaca ekspresi wajahnya. Dan ekspresi wajahnya menunjukan rasa seperti gagal. Entah benar atau salah, tetap saja Juli bisa merasakan hal yang tak beres pada diri pria itu.
Lalu, ia pun langsung masuk ke ruangan Tama kembali yang didalamnya juga ada papah yang sedang menemani Tama.
“ Hah.. hah.. maaf.. aku kembali lagi..” kata Juli seperti orang yang berlari ribuan kilometer.
“ Loh.. nak.. kau kenapa?? Kau terlihat seperti sedang dikejar-kejar..”
“ Ah.. tidak, Pah.. justru aku tadi buru-buru kembali karena ada sesuatu yang tertinggal disini.. hehe”
“ Ah.. gitu..”
“ Iya..”
“ Tapi, kamu beneran kan ga terjadi apa-apa??..” tanyanya Tama.
“ Iya, kok mas.. ga papa aku..”
“ Sebenarnya aku datang kembali.. hanya ingin mengatakan pada kalian sesuatu..” jelasnya Juli sambil menurunkan nada bicaranya agar tak kedengaran sampai keluar.
“ Apa??” sahutnya mereka berdua.
Dan Juli pun langsung membisikkan sesuatu pada mereka berdua.
“ Kenapa kau bisa ada disini??” tanya Feli saat mereka sudah berada di warung bubur ayam di dekat rumah sakit.
“ Ya.. masa kau ga tau.. Hemm.. kurasa ini memang sudah pertanda bahwa kita berjodoh dan harus meresmikan hubungan ini..”
Tuukk..
“ Aduh.. kau, ya.. sudah berani ya, terus memukul diri ku.. “
“ Lagi, orang nanya serius, malah berkata begitu.. Hemm..”
“ Heh.. heh.. ko marah.. iya.. ya.. masa kamu masih ga tau si.. aku kesini ya, karena disuruh sama bos untuk nganterin dia ke rumah sakit karena dia tak mau naik dengan supirnya.. “ jelasnya Bryan pada Feli.
“ Owh.. gitu..”
“ Hemm.. apa paman bakalan melihat juga pertunjukan tadi ya??” gumamnya Feli.
“ Hei.. kau.. bicara apa?? Kau, mulai berani ya, memikirkan hal lain..” kata Bryan sambil mendekatkan wajahnya ke Feli.
“ Eh.. apa-apaan itu.. Pfftt.. kau, ini.. bukan, bukan.. hanya aku tadi melihat hal yang sangat sweet aja ko.. hehe..”
“ Hemmm. Kau, pasti tadi ngelihat ada orang yang bermesraan ya di rumah sakit?.. iya kan.. Hemm..”
“ Iihhh.. apan si.. ga tuh..” Feli menyangkal hal itu tapi wajahnya terlihat sangat jujur jika dia melihat sahabatnya sedang berciuman dengan suaminya.
“ Alah, jangan bohong.. aku bisa melihat bagaimana wajah mu tiba-tiba merona gitu.. kaya kepiting rebus.. apa kau mau melakukan itu dengan ku nanti??”
“ Hemm.. gimana?? Aku tak mengerti apa yang kau maksud Ayan??” pura-pura tak tahunya Feli.
“ Hemm.. emang susah ya buat cewek tuh jujur. Klo dia juga pengen.. “ gumam Bryan sendiri.
Hingga ia pun mendekatkan dirinya kembali tapi, kini takkan ada jarak lagi. Kini semakin dekat dan sangat dekat.
Hingga Feli pun merasa sangat kaku tak bisa bergerak, ia seperti tersihir oleh keadaan sekitar. Untungnya, di warung itu sepi pengunjung jadi Bryan merasa itu adalah waktu yang pas. Tapi, sayangnya ia tetap ga bisa melakukan itu. Hingga ia pun menjauhkan kembali wajahnya.
“ Maaf.. aku sepertinya salah tempat.. maaf ya.. nanti saja jika sudah pas waktunya dan kau sudah menjadi Sah untuk ku.. aku akan melakukannya pada mu sampai kau dan aku puas.. Hemm..”
“ ....... “ Feli yang terkejut akan perkataan Bryan, ia hanya terdiam dan terpaku disana tanpa bergerak sedikit pun.
“ Fel.. Fel.. kau tak apa kan?? Kau.. baik-baik saja kan?? Fel..” Bryan mengguncangkan badannya pelan.
“ Ah.. ya.. aku tak apa.. aku baik..”
“ Ahh.. ku pikir kau kerasukan sesuatu.. Hemm.. ya sudah, kita kembali yuk.. sekalian lihat kondisi Tama di ruangannya dan aku juga sepertinya langsung bekerja.. ayo.. “ ajaknya Bryan untuk pergi ke ruangan Tama.
“ Ya.. ayo..” ikutnya Feli.
Mereka pun pergi bersama menuju ruangan Tama. Sesampainya disana, mereka melihat orang yang mencurigakan dan pemikiran mereka menuju ke arah yang sama yaitu, orang yang sangat mencurigakan itu seperti mengincar sesuatu didekat ruangan Tama. Hingga Bryan pun memutuskan untuk memanggil para bodyguard untuk datang menuju ruangan Tama.
°°°