Life

Life
Lelah.



Ceklekk...


Suara pintu terbuka..


" Permisi, Pak.. ini ada Ibu Juli.." Kata sekretaris Tama.


" Ya.. suruh masuk saja.."


" Assalamualaikum.. Mas.."


" Ya.. Apa ada sesuatu yang membuat mu harus datang ke sini??"


" Emm.. maaf, jika sudah mengganggu.. Aku hanya ingin membawakan makan siang Mas saja.."


" Emm.. makasih.."


" Apakah, aku sudah mengganggu mu?? jika ganggu aku akan segera kembali.. maaf.."


" Eh.. tunggu.. aku tak bermaksud seperti itu.." sambil menahan tangannya Juli.


" Temani aku makan siang.."


" Emm.. ya.."


Juli pun menyiapkannya, Ia membuka semua rantang yang sudah dibawanya. Lalu, mereka pun makan bersama.


" Apakah rasanya enak?? kau suka??" tanya Juli.


" Emm.. ini.. sangat lezat.. aku tak menyangka jika kau akan ke kantor untuk memberi ku makan siang ini.."


" Ya.. sebenarnya sejak kemarin aku ingin mengantarnya.. tapi, aku tak bisa.. aku malu jika orang dikantor mu tak suka.. dan aku juga ingin berterimakasih karena mu, aku dan keluarga ku bisa lebih baik lagi.. aku hanya ingin membalas budi.. "


" Ya.. jika gitu.. Tak apa dong, kita mulai hubungan baru lagi dan lebih mengenal satu sama lain.. aku juga masih tak tau, kenapa aku selalu ingin kau bisa terus disamping ku.. aku juga masih belum mengerti mengapa aku bisa kekeh untuk menikahi mu.. entahlah, itu masih tak bisa ku ungkap kan.."


" Dia, ternyata.. memiliki pemikiran seperti itu.. ku pikir dia pria yang sangat dingin dan tak bisa merasakan perasaannya. tapi, ternyata, ah.. aku juga memiliki pemikiran seperti itu juga.. tapi, aku masih ragu.. Apakah suatu saat kita bisa menyatakan perasaan ini dan menjadi pasangan sungguhan??.." Batinnya Juli.


" Pfftt.. "


" Kenapa??"


" Haha.. kau terlihat sangat berbeda dari biasanya.. kau yang seperti ini.. terlihat sangat baik.. "


" Memang aku selama ini tak baik??"


" Eh.. ngga, ngga gitu.. Emm.. bolehkah ku anggap sebagai Kakak dulu.. karena kau terlihat seperti seorang Kakak.."


" Apakah tak ada pilihan lainnya??" Tanya Tama mendekat ke arah Juli.


" Emm.. kalau tidak.." Seketika Juli tersentak dan diam.


" Hah..." Helaan panjang Tama.


" Yah.. tak apa, untuk kali ini.. tapi, untuk seterusnya.. kau tak boleh.."


"......" ( " Apa maksudnya??" tanyanya dalam hati.)


" Ya.. sudah.. sekarang, maukah kau, menemani ku disini adik kecil manis.."


" Eh.. " Juli terkejut mendengar panggilan itu.


" Loh, kok ga di jawab.. gimana?? mau kah kau menemani Kakak mu yang ganteng ini??"


" Hah.. apa??" Juli masih tetap belum bisa mencerna kata-kata itu. Rasanya sungguh tak menyangka ia bisa berekspresi dan berkata seperti itu, seperti sebuah mimpi.


" Hey.. gimana?? kau akan menemani ku disini dulu kan.. sampai aku pulang.." Tama mendekat, karena dari tadi Juli hanya diam terpaku dan tak menjawab apapun juga.


" Hah.. ya.."


" Gitu dong.."


" Ta.. Tapi.. aku harus melakukan apa?? aku belum pernah kerja kantoran gini.. dan belum tau apa yang harus ku kerjakan.."


" Hemm.. kau, tak perlu mengerjakan apapun disini.. Emm.. bisakah kau duduk disini??" Sambil menepuk-nepuk pahanya agar Juli mengerti.


" Kenapa?? Lagi pula takkan ada yang berani.. sudah tak apa.. sekalian kau juga bisa lihat kerjaan ku seperti apa.."


" Haruskah.. tapi, kalau tidak dituruti, ku takut akan seperti waktu itu lagi.. Hemm.. menyebalkan.." batinnya Juli.


" Baiklah.. tapi aku bereskan ini dulu.."


" Ya.."


Juli pun akhirnya menurut apa yang sudah dikatakan Tama tadi.


Lama ia duduk di pangkuannya dan terus melihat apa yang Tama kerjakan. Itu, membuat Juli sangat pusing karena sangking tak mengertinya dia. Ia pun lama kelamaan menjadi ngantuk, dan lagi yang ia duduki itu terasa sangat nyaman hingga ia betah duduk disana.


Hampir setengah jam mereka berdua disana, Tama pun seperti tak merasa pegal saat Juli tertidur di pangkuannya.


" Loh.. tertidur.. Hemm.. "


" Ku bawa sajalah ke sofa itu.. kasian juga kalo terus disini.. " Tama pun menggendongnya dan meletakkan sementara di Sofanya.


Lalu, ia duduk di samping Juli yang sedang terbaring. Ia melihat dengan tatapan yang sangat perhatian dan lembut. Ia sedikit mengulurkan tangannya ke jilbabnya untuk merapihkan agar tertutup kembali. Kemudian beralih ke pipinya.


Ia membelainya dengan sangat lembut agar tak mengganggu tidurnya.


" Aneh.. rasanya sangat aneh.. aku masih belum bisa menemukan jawaban atas perasaan ku ini.. melihat dia tertidur pulas seperti ini, membuat ku.. merasa tenang dan teduh.. sangat adem sekali.."


" Rasanya aku ga mau kehilangan momen seperti ini.. Ada rasa yang membuat ku.. semakin tertarik padanya.. tapi, aku tau.. diriku yang seperti ini, akan bisa membuatnya terluka lebih dalam lagi.."


" Hemm.. entah hubungan apa ini.. aku pun tak tau.. Bahkan dia pun seperti tak memiliki perasaan yang sama seperti ku.. hah.."


" Sudahlah.. setelah ini.. ku bawa saja.. pulang dan memang kerjaan ku sudah selesai.."


Ia beranjak dari sofa itu, lalu menuju meja kerjanya untuk merapihkan kembali sebelum pulang.


Belum sempat ia kembali lagi ke sofa itu untuk membopong Juli menuju mobil, Ia terbangun dari tidurnya. Dan berbarengan dengan ia mendapat pesan dari pamannya..


Isi pesan :


" Tam.. ponakan ku tersayang.. Emm.. besok kau ada waktu kosong? Paman mu ini ingin bertemu dengan mu.. tapi, sepertinya kau sangat sibuk sampai hari esok.. jadi kalau kau tak bisa ya.. tak apa.. mungkin paman akan datang menemui mu di kafe dekat Apartemen mu.. ada yang ingin paman bahas dengan mu.."


" Mas.. " Panggilnya Juli..


" Loh.. kok, aku ada di sofa.. bukannya tadi.."


" Ya.. aku tadi yang pindahin kamu... tak tega aku.. Hemm.. untung saja sudah bangun, coba belom.. aduh.. capeknya lah aku ini.. mana, belom tentu lagi ntar pas di rumah dipijitin atau apa gitu.."


" Emm.. maaf.. tapi, jika mas mau.. aku bisa pijitin kaki mas.. biar ga capek.. dan besok bisa kerja dengan semangat.."


" Pfftt.. sudahlah.. nanti saja bahasanya ketika di rumah.. aku akan lihat se-lihai apa kau melakukannya pada ku.. " Bisik-nya ditelinga Juli hingga membuat ia tak berkutik.


Mereka pun keluar ruangan. Tak lama mereka bertemu dengan para staf yang ada. Mereka sangat sopan menyapa Tama dan Juli. Berbeda saat mereka bertemu dengan Juli seorang saat ia baru pertama kali masuk ke perusahaan Tama itu.


" Hemm.. apakah rasanya begini ya.. jadi orang yang sangat tak disukai.. rasanya menjengkelkan, tapi udah lah.. ya walaupun gitu.. mereka masih bisa bersikap hormat walau palsu.. aku tau dan aku sadar bahwa aku memang sangat jauh dari kata yang berdudukan tinggi tapi.. orang-orang itu sangat membuat jengkel.. sudahlah.. biarkan saja.." batinnya Juli. Ia hanya terus berjalan sambil di gandeng Tama walau ia terus menunduk kan wajahnya.


15 menit kemudian..


Mereka sampai..


" Ingat ya.. soal tadi di kantor.. kau harus pijatin kaki ku.. jika itu sangat nyaman aku akan terus melanjutkannya.. jika tidak, kau akan tau sendiri akibatnya.."


" Tapi.. sebelum itu.. mau makan malam dulu.. apa kau ingin masak saja di dalam?? aku akan menunggunya jika kau ingin masak.." Kata Tama sambil berjalan menuju apartemennya.


" Sepertinya aku masak saja.. lagi pula.. di dalam masih ada yang bisa ku masak.. "


" Baiklah.. ayo cepat jalannya.. aku sudah lapar.." kata Tama sambil menggandeng tangan Juli kembali dan menariknya agar cepat masuk ke dalam.


.....


Please jangan lupa tinggalkan jejak.. Agar author bisa lebih semangat lagi dan menghasilkan cerita yang bagus..🙏🙏😖


Happy reading 😉