Life

Life
Harusnya ku menolak.



“ Baiklah.. kita tes dulu ya, Bu.. semoga saja cocok.. karena hal ini butuh penanganan yang cepat.. baiklah.. mari masuk..” Dokter pun mempersilahkan Juli untuk masuk ke ruangan untuk diambil darahnya.


" Aku hanya berharap semoga darah ku sama dengan Mas Tama.. Maaf, seharusnya aku yang mengantarkan makan siang pada mu, jadi kau tak perlu pulang untuk sekedar makan siang bersama dengan ku.. hiks.. " Batinnya Juli yang terus berharap kejadian ini bisa cepat berlalu dan Tama bisa kembali pulih.


Setelah diperiksa, dan dokter pun menyatakan bahwa golongan darah Juli itu sangat cocok dengan pasien. Hal itu membuat ia sangat senang karena ia bisa mendonorkan darahnya. Tapi, tidak dengan di situasi yang lainnya.


Buakkhh.. Buakkhh.. ( Suara pukulan dari seorang pria bertubuh tegap itu pada orang yang sudah menusuk seseorang )


" Apa.. katakan sekali lagi!!.. cepat!!.."


" A.. dia.. dia.. ke.."


" Apa! cepat!!.."


" Dia kemungkinan masih hidup.." Jawabnya langsung orang itu.


" Hah! Sudah ku bilang bukan kau harus membunuhnya, kenapa kau membiarkannya tetap hidup.. hah!! Kau ingin kita-kita pada mati semua hah!! aiihh.. Jika sampai bos besar, marah besar kau, akan mati ditangan ku sebelum aku!.."


Pllaakkk...


" Hei.. ingat.. jika sampai itu terjadi.. kau akan mati duluan ditangan ku!.."


Bruukk..


Lelaki itu pun ditinggal pergi oleh para anggota yang dibawah pimpinan pria berbadan kekar itu.


" Hah!.. "


Ia pun juga pergi dari tempat itu untuk menyembuhkan dirinya dia yang sudah babak belur juga karena dihajar oleh orang itu.


" Sial.. kalau bukan karena kebutuhan untuk anak istri gw ga akan lakuin hak kaya gitu.. kenapa cuman gw doang yang di hajar sementara mereka yang ikut juga bersama, ga di hajar.. Ahkk.. sial!!.. masih untung gw dah bisa nusuk tuh orang dan ga sampe ketangkep.. Ahkk!! sial.. sial!!" gerutu nya ia sambil berjalan sedikit sempoyongan.


***


Semua keluarga pun sudah berkumpul di depan ruang tunggu pasien, mereka sudah sangat berharap-harap agar semua operasinya berjalan dengan lancar dan Tama segera tersadar. Baik Juli, Adirata, Orang tua Juli yang juga ikut datang bersama dengan Vian. Mereka semua berharap semoga baik-baik saja.


“ Nak.. sebenarnya bagaimana kejadiannya?? Kenapa bisa terjadi hal yang seperti ini??..” tanya Emak.


“ Aku pun juga ga tau Mak.. ketika aku baru sampai ke kantor karena perasaan ku tak enak, hingga aku mmebawa kotak makan siang dan berniat untuk makan bareng di kantor.. Tapi,.. Hikss.. hikk.. dia tiba-tiba mengalami kejadian seperti itu di depan mata ku.. Aku sangat takut.. sangat takut..”


“ Sudah.. sudah.. Mak, ngerti sudah.. Tama pasti akan baik-baik saja..” kata emak sambil pergi membiarkan Juli bersama mertuanya untuk berbincang.


“ Apa kau melihat wajah si pelaku??” tanya Adirata yang menghampiri Juli dan Emak.


“ A.. aku sama sekali tak bisa melihat wajah orang itu hanya saja.. ia memiliki tato di bagian tangannya yang tak tertutup oleh pakaiannya.. kalo ga salah.. itu, di pergelangan tangan sebelah kanannya.. saat ia menusuk Mas.. itu sangat terlihat walau dari jarak jauh.. “ jelasnya Juli.


“ Apa kau lihat gambar tato itu??”


“ Tidak.. aku.. tak bisa melihat nya.. Hikss.. kenapa aku ga bisa melihat hal itu?? Harusnya aku bisa melihatnya agar pelakunya bisa segera ditangkap.. dan mas... pun juga akan seperti ini... Jika saja, jika saja.. jika saja, aku datang sebelun itu terjadi.. maka, Mas Tama takkan seperti ini.. Maaf.. maafkan aku Pah.. maaf.. aku tak bisa mencegah hal itu terjadi.. maaf.. Huhu..”


“ Tidak.. tidak.. sayang.. tidak.. ini semua bukan salah mu.. kau sudah melakukan terbaik baginya.. dan Papah sama sekali tak menyalahkan mu.. Papah, justru semakin percaya bahwa kau bisa memecahkan ini semua.. justru Papah, yang harusnya bilang maaf pada mu.. karena kau terlibat dengan hal ini semua.. Maafkan Papah ya..”


“ Huhu.. hikss.. “ Juli masih tetap berdiam dan menangis disana sambil menunggu operasi Tama selesai.


Melihat Juli masih bersedih seperti itu.. Adirata pun memeluknya dan menenangkannya. Dia sudah menganggap Juli seperti anak perempuannya.


Tak lama kemudian, Alex pun datang. Ia langsung menanyakan keadaan Tama saat ini. Adirata pun memberi tahu kan padany mengenai keadaan Tama saat ini. Dan bahkan sampai saat ini pun tak satu pun suster keluar dari ruang operasi untuk mengabari Giman keadaan Tama sekarang.


" Kenapa ini bisa sampai terjadi??" tanya Alex pada papahnya.


" Papah juga ga tau Lex.. tapi Juli bilang orang itu memiliki ciri yang khas di pergelangan tangannya itu.." bilangnya Adirata.


" Ya.. dia memiliki sebuah tato dipergelangan tangannya itu. Kau bisakah mencari pelaku itu bukan.. Papah.. ingin pelaku itu segera ditangkap.. kau tau kan apa yang akan dilakukan untuk selanjutnya ketika sudah tertangkap pelakunya.. jika bisa, secepatnya ia harus tertangkap.."


" Baik.. Pah.."


" Eh.. istri mu mana?? apa dia tetap sibuk disaat keluarganya ada yang sakit seperti ini??"


" Dia.. dia.. Tak bisa karena ada beberapa kerjaan sedikit katanya yang tak bisa ditinggal.."


" Hah.. ya sudahlah.. terserah.. seharusnya kau sedikit tegas dengannya walaupun ia wanita karir tapi tetap saja, setidaknya ia tetap bersama mu walau sedang sibuknya.." kata Adirata menasehatinya.


" Ya.. "


Tak lama mereka berbincang berdua, Operasinya pun sudah selesai. dan salah seorang dokter pun keluar.


" Dengan keluarga pasien??.. Bisakah saya menyampaikan sesuatu.."


" Ya.. kami semua.."


" Operasinya berhasil dan luka nya pun tak mengenai organ vital lainnya, namun untuk saat ini ia takkan bisa sadarkan diri selama beberapa hari.. tapi mungkin kedepannya pun bisa berubah.. Jadi, kami hanya berharap jika selama masa penyembuhan ini pasien benar-benar dijaga dengan baik.. kami pun akan terus memantau keadaan nya dengan baik.."


" Hah.. syukurlah.. terima kasih dok.. terimakasih.. Pah.. ijinkan aku untuk tetap berada disampingnya.. aku tak ingin jauh darinya.." kata Juli memohon.


" Ya.. bukankah.. itu salah satu tugas untuk diri mu.."


" Ya.. terimakasih.. "


" Mba.. mba.. apa Vian boleh menemani mba??"


" Emm.. boleh dong.. kau boleh menemani mba mu ini.. tapi ingat.. kau tak bisa berlama-lama disini.." kata Emak.


" Tapi.. kata Mak.. boleh.. kenapa ga bisa berlama-lama.. "


" Kau masih kecil jadi masih belum boleh tuk berlama-lama didalam.. dan kau harus ikut kembali bersama Bapak dan Emak.."


" Iya.. Vian.. Mak mu benar.. kau akan pulang bersama kami.." kata Bapak.


" Iya.. ya sudah.. lebih baik masuknya 3 orang, 3 orang ya.. untuk kenyamanan.." kata Adirata.


" Ya.. Pak.. terimakasih.." jawabnya emak dan bapak.


" Ya.. ayo mari.. "


" Ahkk.. kami belakangan saja.. yang lebih penting, Juli dulu dan Bapak dan Den Alex.. Kami belakangan tak apa.." kata bapak.


" Ah.. ya.. terimakasih.. kami duluan ya.."


" Pak.. Mak.. aku masuk ya.."


" Ya.. sana masuk.." kata mereka berdua.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruangan Tama yang sudah dipindahkan ke ruang VIP rumah sakit itu.


Sedangkan Emak dan Bapak duduk di bangku tunggu depan ruangan Tama.


" Pak.. Sepertinya kita ga sia-sia ya.. menikahkan anak kita.. Juli sepertinya sudah sangat dekat dengan keluarga Tama.."


" Ya.. Dek.. Bapak sangat bangga melihatnya.. ia bisa begitu cepat beradaptasi dengan keluarga baru.."


Tersenyum nya mereka menyadari bahwa anaknya telah tumbuh dewasa walau usianya masih