Life

Life
Part. Heraiyan.



“ Aku masih tak menyangka jika keluarga ku sampai saat ini masih mencintai ku.. walau, mungkin kesalahan ku membuat kalian hidup seperti ini. Memang ini semua karena dia, dia yang telah membuat diri ku dan keluarga ku terpisah. Semua kebahagiaan hilang karenanya..”


“ Ku pikir semua akan baik-baik saja saat aku tetap menerimanya.. namun, saat aku sadar.. itu semua terlambat, dan itu sebabnya aku hanya ingin dia membalaskan dendam ini yang sudah menumpuk padanya, bahkan ketika saat ingatan ku kembali dan itu semakin membuat diri ini, yang sudah menjadi roh tak tenang ini mencoba untuk kembali membalas dendam atas apa yang sudah dilakukan orang itu pada diri ini sebelumnya..”


“ Sampai sekarang pun dendam ini belum juga tersampaikan.. Namun aku sedikit tersadar, saat ini bukan semua itu yang ku butuhkan.. aku hanya butuh kasih sayang keluarga ku dan mantu ku.. baik Dea maupun Juli.. aku hanya butuh mereka semua untuk selalu mendoakan ku dan menyayangi ku walau aku sudah tiada.”


^^^


Mereka semua sudah sampai di pemakaman keluarga dan mereka menziarahi makam Heraiyan disana. Baik Adirata, Tama, Juli, Alex, dan .. mereka sama-sama membawa bunga dan air yang mereka beli dari tukang kembang pemakaman.


“ Mas.. ini beneran pemakaman untuk keluarga mas??” tanya Juli pada Tama.


“ Iya.. ini memang tanah yang sudah dibeli oleh opah aku dan tanah ini juga sudah diwakafkan. Justru sebagian dari tanah ini, untuk pemakaman warga desa disini..”


“ Ah.. gitu.. “


Tak lama mereka berjalan di pemakaman itu, mereka sampai di pusara makam Heraiyan yang terletak di samping Mamahnya adirata.


Adirata pun langsung tertunduk dihadapan makam istrinya tercinta itu. Ia seperti menahan segala emosinya. Rasa kesedihan pun sangat terasa ketika mereka semua berjongkok dan memanjatkan doa untuk Heraiyan dan Mamahnya adirata yang sekaligus adalah omahnya Tama dan Alex.


“ Ini adalah omah ku sayang.. dulu dia lah yang selalu mengajari ku tata krama, lalu mengajari ku bagaimana memahami perusahaan dan bagaimana kerasnya dunia ini. Aku ingat, dulu omah lah yang selalu mengajakku pergi ke desanya dan berjalan-jalan ditepi sawah. “


“ Namun, sialnya aku malah terjatuh dan tubuh ku penuh dengan lumpur.. omah langsung menertawakan ku dan berkata “ Haha.. cucu omah ini sudah mirip sekali dengan warga desa sini.. haha.. aduhh sini-sini sayang.. ayo.. omah bantu agar kau bisa berdiri..” Saat itu aku benar-benar ngambek pada omah.. namun, omah tetap terus menghibur ku dan ia justru membelikan ku permen loli.. “


“ Tapi, sayangnya ketika aku ingin memakannya ibu ku datang dan ia langsung memarahi ku.. bahkan omah pun terkena Omelan ibu ku.. tapi, dibalik itu semua baik omah maupun ibu ku mereka sama-sama saling menyayangi dan juga sama-sama menyayangi aku dan Kak Alex..”


“ Andai, mereka tahu.. jika kami sudah membangun kerajaan bisnis kami ini dengan baik dan bahkan sampai sebesar ini.. pasti mereka akan sangat bangga pada Kak Alex dan aku..”


“ Aku mengerti, dan aku percaya bahwa mereka sudah mengetahui ini semua dan, mereka pasti sudah sangat bangga pada kalian, bahkan mungkin ketika mereka masih hidup pun mereka sudah bangga pada kalian.. aku yakin seperti itu..” kata Juli dengan suara yang penuh dengan keyakinan.


Disisi yang lain Alex dan yang sudah berziarah mereka memutuskan untuk menepi di sekitar pemakaman disana, sedangkan Adirata, ia tetap berada di pusara makam istrinya sampai semua rasa terpenuhi di dirinya.


“ Yank.. apa pekerjaan mu sudah selesai??”


“ Kenapa memangnya?? Kau ingin pergi lagi??”


“ Ya.. aku memang masih ada urusan di bisnis fashion ku ini.. dan proyek kali ini akan jauh lebih besar penghargaannya..”


“ Dek.. bisa ga sih.. kau sedikit saja atau sehari saja tak membahas soal bisnis mu itu.. aku paham aku mengerti, tapi bisa tidak luangkan waktu mu dan ber-santailah.. nikmati kehidupan rumah tangga kita.. jika kau seperti ini, rasanya aku benar-benar tak memiliki seorang istri..”


“ Ah.. jadi kau menganggap ku itu tak ada.. menganggap ku sudah tak ada gitu.. iya.. kenapa baru bilang sekarang.. kenapa ga dari dulu aja.. biar kau bisa mencari wanita lainnya.. itu kan mau mu?? Hemm..”


“ Kau.. kau, sudah berubah Dek.. kau sekarang seperti bukan dirimu yang kukenal dulu.. mengapa kau jadi seperti ini?? Hemm.. aku suami mu.. aku berhak atas dirimu dan apapun tentang diri mu.. tapi, kau sama sekali tak mengerti apa yang sudah terjadi pada rumah tangga kita ini..”


“ Mas, kau bilang aku berubah.. ya.. aku memang berubah.. tapi apa mas ga pernah berfikir jika aku berubah itu kerena mas sendiri..” katanya dengan tegas lalu ia pergi dari sana dan masuk kedalam mobil.


“ Dek.. Dek..” panggilan Alex sama sekali tak membuat Dea berhenti, ia terus saja berjalan.


Alex sudah tak tahu lagi harus seperti apa menghadapi Dea.. dia seperti sudah membuat jarak itu semakin jauh, dan bahkan sekarang lebih jauh lagi..


°°°