Life

Life
Party.



" Hah.. ya ampun.. Yang.. sayang.. kau kenapa? kenapa sampai pingsan disini? aku mencari mu dari tadi.." sambil terus berkata dan menggendongnya masuk ke dalam.


" Ini.. Minyak kayu putihnya Den.." Kata Bi Sumi sambil menyerahkan minyaknya.


" Ya.. makasih ya Bi.."


" Ya, sama-sama.." Bu Sumi pun langsung pergi dari sana.


" Juli.. Jul.. bangun dong.. maaf, karena telah meninggalkan mu tadi.. tapi kenapa kau pingsan.."


Tak lama ia pun tersadar.


" Emm.. Hemm.. aduhh.. Aku dimana??"


" Hah.. syukurlah.. kau sudah siuman.. maaf.. ya telah meninggalkan mu.."


" Ya.. tak apa.."


Seketika itu pun Juli yang baru saja tersadar. Ia langsung menunduk dan diam.


" Jul.. Jul.. kau kenapa??"


" Maaf.. maaf kan ma.." ( " Tidak. tidak, sekarang.. aku merasa dia menguping kami.. aku harus bersikap layaknya dirinya." batinnya Heraiyan yang mengambil alih tubuh Juli sementara.)


" Apa kau bilang??"


" Aku ingin kembali Yang.. badan ku rasanya tak enak dan sangat dingin.. bisakah kita pulang??"


" Ya.. baiklah.. baiklah, kita pulang ya.."


" Paman.. Tama pulang ya.. "


" Owh.. ya.. hati-hati dijalan Ma.." Kata Tama sambil mengantarnya keluar rumah.


Sedangkan Tama, ia tak tega melihat Juli yang susah berjalan itu. Akhirnya ia memutuskan untuk menggendongnya sampai masuk kedalam mobil.


" Ternyata ia sangat mencintai gadis ini. maafkan Mamah ya.. karena waktu itu, Mamah telah menyiksanya lewat diri mu.." Batinnya Heraiyan.


" Kita akan pulang ya.. Pakai dulu sabuk pengamannya.."


Tama pun melajukan mobilnya menuju ke apartemennya.


Dalam perjalanan Tama hanya diam.. dan hanya fokus dengan jalannya. Hingga suara panggilan yang sangat familiar terdengar di telinganya..


" Tamshi.. "


Sungguh ia sangat terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut wanitanya.


" Apa aku salah dengar.. Panggilan itu?? suara itu?? itu persis seperti suara Mamah.. Tapi, tak mungkin kan.. Mamah ada disini.. Hah.."


" Tamshi.. Ini Mamah.."


" Hah!.. " Terkejutnya Tama hingga ia menghentikan mobilnya.


" Ma.. Mamah.. Mamah.. Benarkah ini Mamah.." ( " Aku tak percaya ada hal seperti ini.. tapi, Ya.. ini adalah suara Mamah.. ")


" Ya.. ini Mamah.. Mamah meminjam tubuh kekasih mu ini.."


" Hah.. Mamah!.. Mah.. aku rindu sekali dengan mamah.. Aku.. sangat terpukul saat mamah meninggalkan kami.. hiks.."


" Mamah.. juga tak menyangka jika mamah, bisa bertemu dan melihat anak mamah ini.." Peluknya Heraiyan.


" Huhu.. Mah.. Apa selama ini, mamah melindungi kami semua??"


" Ya.. tapi, waktu mamah tak lama.. dan mamah harus kembali.. suatu saat kalian akan mengetahui kebenarannya.. dan ingat saat itu terjadi, jangan pernah coba tinggalkan Juli sendiri oke.. kalian harus tetap bersama.. Dan Mamah, akan selalu ada disamping kalian.. memantau kalian dari jauh.. Muah.." Ciumnya Heraiyan tanda perpisahannya.


" Ya.. akan ku ingat ini Mah.."


Dan Heraiyan pun keluar dari tubuhnya Juli.


" Hahh.. huh.. huh.. " Hela nya Juli saat Roh Heraiyan keluar dari tubuhnya.


" Kau.. sudah kembali??"


" Hah!.. memang aku kenapa mas?? Aku baik-baik saja dari tadi.."


" Ah.. tidak.. tidak.. ya, ayo kita kembali saja.. dan bicarakan dirumah.."


" Hemm.." ( " Emangnya aku kenapa si?? sampai mas, sepertinya habis nangis??" )




Di Apartemen..



" Mas.. sebenarnya aku kenapa?? kenapa mas seperti habis nangis gitu??"



" Tidak.. mas tak apa.. Apa kau bertemu dengan almarhum Ibu mas??"



" Hah.. maksudnya Ibu mas.. "



" Iya.. Ibu mas.. dia telah meninggal.."



" Emm.."



" Apa kau bisa melihatnya??"



" Tidak, aku hanya bisa merasakannya saja, namun tak bisa melihatnya.. memang akhir-akhir ini aku melihat seorang wanita di sekitar rumah Papah.. tapi, aku masih belum tau siapa dia.." (" sebenarnya apa yang sudah terjadi, aku tak bisa mengingatnya.. apa yang terjadi ditaman tadi.." )



" Ternyata benar.. " Tama langsung tertunduk dan duduk di sofanya sambil mengacak-acak rambutnya.



" Itu, benar Mamah.." Kata Tama dengan suara kecilnya.



" Apa Mas? itu Mamah??"



" Ya.. itu Mamah.. Jul.. dia masih ada disekitar kita.. dan tadi.. mamah muncul dengan memakai tubuh mu.. dia memelukku.. sangat erat.. bahkan sampai aku tak sadar jika itu tubuh mu.."




°°°



Keesokannya..



Hari dimana mereka akan mendatangi Pesta undangan itu.



Juli yang memakai gaun tak terlalu wah.. dan dengan hijabnya yang sangat terlihat elegan dan sepadan dengan gaunnya. Tak terlalu mewah namun sangat mencolok dikalangan para tamu yang lainnya.



" Mas,. apa ini tak berlebihan?? menurut ku ini terlalu berlebihan mas membelikan gaun ini.."



Gaun yang berwana merah muda itu dengan hiasan pinggang yang tak terlalu ramai dan dikelilingi oleh bunga mawar berwana peach yang sangat cantik disekitar lingkaran pinggangnya.



" Tidak.. itu sudah cocok ko dengan mu.."



" Tapi, ini berlebihan.. mas.."



Tama yang masih memakai dasinya pun akhirnya memutar badan dan langsung menghadap ke Juli.



" Hemm.. kau itu sudah sangat cocok dengan ini, dan kau terlihat cantik dengan ini.." Bisik-nya Tama..



" Iihh.. sudah ya.. kau akhir ini selalu gombal pada ku.. Bahkan aku pun masih belum tau apakah kita sudah menjadi pasangan sungguhan.." Murung ya Juli.



" Emm.. ya, kau benar.. gimana kalo akhir bulan ini kita honeymoon?? dan sekalian kita memperbaiki hubungan ini.."



" Apakah kau sudah, menyukai ku??" tanya Juli yang tiba-tiba.



" Emm.. aku tak tahu, apakah ini rasa suka atau lebih.. namun untuk kali ini dan seterusnya aku akan berusaha untuk membuat hubungan ini menjadi jelas." jelasnya Tama sambil berjalan mendekat ke Juli.



" Eitts.. mas.. kau mau apa??"



" Aku hanya ingin mendekat pada mu.. memang gak boleh.."



" Bukan gitu.. waktunya sedikit lagi.. jika kita terlambat bukannya itu sangat tak mengenakan.."



" Hemm.. kau ini merusak suasana saja.. ya, baiklah.. " Tama pun kembali memakaikan dasinya. Namun, hal itu diambil alih oleh Juli.



" Sini biar aku saja.. kau buru-buru gini nanti takkan rapih.."



" Jul.. bisakah, nanti di party itu.. kau jangan coba meminum, minuman disana??"



" Memang kenapa mas?? bukankah itu tak baik.."



" Ya.. lebih baik kau jangan minum.. minuman disana.. dan ingat.. selalu disamping ku.. jangan pernah jauh dari ku.."



" Ya.. aku mengerti mas.. baiklah.. ini sudah selesai.. kau pakai jas mu.. dan ayo kita berangkat.."



" Ya.. ayo.." Sambil membuka lengannya agar Juli bisa bergandengan disana.



Mereka pun berangkat..



Diperjalanan menuju pesta tersebut.. Ada hal yang membuatnya mengganjal dihatinya Juli. Ia merasa sangat gelisah dalam perjalanan itu.



" Perasaan apa ini?? kenapa hati ku merasa bahwa akan ada hal buruk nantinya.. Hemm.. semoga itu hanya perasaan ku saja.." gimana Juli dalam hatinya.



Begitu pun juga dengan Tama.. ia merasakan hal yang sama seperti apa yang Juli rasakan saat itu.



" Ada apa ini?? kenapa perasaan ku tak enak dari tadi?? apa yang akan terjadi nantinya.. kenapa di kepala ku penuh dengan rasa waspada gini.. semoga baik-baik saja nantinya.."



Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju pesta tersebut.



°°°



Happy reading 😉