
Pagi harinya..
Tama yang masih terlelap disamping Juli. Ia seperti sangat kelelahan. Raut wajah yang sangat tenang itu, begitu indah dipandang. Sedangkan Juli, ia pun mengerjapkan matanya tanda ia sudah bangun.
“ Euumm.. kenapa badan ku rasanya pegal ya?? Rasanya remuk sekali..” gumamnya.
“ Kenapa si?? Ada apa memang sebenarnya??” tanya Juli dalam kebingungannya.
Dalam kebingungan itu, ia ingatan itu muncul tiba-tiba dipikirannya. Ingatan yang membuatnya sangat malu. Walau samar, tapi ia bisa merasakan itu. Ia terus menutup matanya karena sangking malunya mengingat semua yang terjadi malam tadi.
Tak lama setelahnya Tama pun membuka matanya. Ia melihat wanita yang membuat perasaannya campur aduk. Melihatnya yang seperti menyembunyikan wajahnya itu, membuat ia gemas sendiri. Walaupun ia belum bisa mengatakan apa yang seharusnya ia katakan, tapi melihatnya yang rela melakukan apapun demi keluarganya dan demi orang yang patut ia senangi.
Itu membuatnya tampak sangat berani dan setia. Dia tampak berbeda dari kebanyakan wanita lainnya. Ia sederhana namun memiliki pesona yang berbeda, entah itu efek dari apa tapi itu membuatnya sangat indah.
“ Emm.. enaknya dikerjain ah.. sedikit.. hihi.” Batinnya Tama.
“ Ehemm.. Hemm.. hoamm.. kau.. kenapa kau menutup wajah mu??” kata Tama yang masih terbaring di ranjang tanpa pakaian.
“ Eh.. eh.. mas udah bangun..” Juli pun membuka matanya, namun ia tampak terbelalak melihat dada bidang suaminya itu yang tampak sangat berbentuk.
“ Ya.. kau.. harus tanggung jawab atas kejadian semalam..” kata Tama yang bernada tajam dan ia langsung menindih Juli.
“ Hah.. Mak.. maksudnya?? Mas, kenapa ada diatas ku??” tanya Juli dengan wajah polosnya.
“ Ahkk.. kau masih belum ingat ya
. Soal kejadian semalam.. haha.. sudah kuduga.. Apa mau ku ingatkan lagi??” wajah Tama mendekat ke arahnya.
“ Eh.. hehe.. memang ada apa semalam??”
“ Ahhkk.. kau masih belum ingat juga ya.. Hemm.. memang harus ku ingatkan kembali..” Tama mendekat dan merapatkan dirinya ke diri Juli. Ia sedikit menyentuh bagian sensitifnya.
Juli yang merasakan hal itu dengan kuat menahan suaranya agar tidak keluar.
“ Memangnya apa yang sudah terjadi setelah kejadian itu?? Bukannya aku terus mengerjai mas Tama lalu.. lalu,.. apa yang sudah terjadi selanjutnya?? Dan.. aku.. ahh.. sepertinya aku tak mengenakan sehelai kain pun.. ahk.. jangan bilang kalau aku sudah menyerahkan semuanya?? Opss.. “ gumam Juli dalam hatinya, lalu disusul oleh ingatan samar-samar itu.
Bersamaan dengan datangnya ingatan itu, Tama tak hentinya terus menyentuh bagian sensitifnya itu dengan intens. Lalu ia langsung menciumnya tanpa ada jeda sedikit pun. Hingga pikiran Juli pun kosong, ia sudah tak bisa berfikir apapun lagi karena Tama terus melakukannya tanpa ampun.
Walau ia berusaha untuk istirahat sebentar, tetap ia tak bisa.. karena semuanya telah dikendalikan oleh Tama, ia hanya bisa terus terhanyut dalam permainan itu. Sampai ia kembali terkuras tenaganya.
“ Masshh.. sudah.. aku.. aku.. lelah.. aahh.. euunghh.. hah.. hah.. Lell.. la.. ahh..”
Setelahnya Juli pun langsung tertidur kembali. Ia seperti sudah sangat terkuras habis tenaganya. Seperti rontok semuanya. Tama yang menyudahi semuanya pun langsung berbaring disampinya dan menciumnya kembali ia merasa sangat bersalah juga.
“ Maafkan aku.. yang masih belum mengatakan bahwa aku sudah jatuh cinta padamu.. bisakah aku tetap selalu disamping mu sampai kapan pun.. kau sudah memberikan semuanya pada ku jadi, kau takkan ku ijin kan diri mu untuk pergi dari sisi ku sampai kapan pun.. Muah..” ia kembali mencium keningnya.
“ Istirahatlah.. aku akan menyiapkan sesuatu untuk kau sarapan..” Kata Tama sambil bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lalu memasak sesuatu yang sederhana untuk Juli.
“ Tolong.. ku mohon tolonglah aku.. dimana ini sebenarnya?? Kenapa mawar-mawar ini terus tumbuh di tembok-tembok yang seperti labirin ini?? Ku mohon tolonglah.. siapa saja tolonglah aku.. aku ingin keluar dari tempat ini..” kata Juli yang sangat ketakutan karena ia benar-benar tersesat dengan jalan itu.
Ia merasa hanya seperti berputar-putar saja dalam jalanan itu yang dipenuhi oleh kelopak mawar merah yang terus berjatuhan tanpa tau siapa yang sudah menjatuhkan kelopak-kelopak mawar itu.
Udara yang begitu dingin dan dengan angin yang terus berhembus kencang ia terus berjalan tanpa arah dan tujuan. Ia berjalan dan memohon pada siapapun untun menolongnya keluar dari sana.
Tapi, lagi-lagi ia hanya mendengar suara hembusan angin yang terus menerpa wajahnya. Ia berjalan tanpa arah, ia tak tahu harus apa.. tak tahu harus gimana. Hingga, ia menemukan seseorang yang ada diujung sana. Ia melihat seorang wanita seperti ibunya. Tapi ia ragu apakah itu ibunya atau bukan..
Ia pun mencoba untuk mendekati wanita itu. Dan..
Ketika melihat wajahnya ia tampak sangat terkejut. Ia terkejut karena ketika ia melihatnya, wanita itu seperti mirip dengannya. Wanita itu benar mirip seperti dirinya namun, bedanya hanya kerutan di wajahnya, wanita itu tampak sudah tua dan lesu. Tapi yang anehnya ia membawa sekuntum bunga mawar yang ia pegang ditangan kanannya.
“ Bi.. ku mohon tolonglah aku.. aku tersesat.. aku hanya ingin keluar dari sini..” Mohon-nya Juli pada wanita itu.
“ Kumohon.. tolonglah aku keluar dari sini..” kata Juli yang terus memohon padanya. Namun ia tetap tak ingin bersuara sedikit pun.
Hingga ia pun mendekati Juli. Ia berkata sesuatu hal yang membuatnya begitu terkejut. Sampai ia terjatuh dan tubuhnya menjadi sangat lemas. Ia sangat syok mendengar hal itu.
Dan wanita itu kembali mendekatinya.
“ Aku akan terus memantau mu sampai kau menyadari suatu hal.. dan bisa mengerti keadaan ku saat ini.. ah.. hahaha..” tawanya wanita itu sampai terus terngiang di kepalanya.
“ Ah.. pergi, kau.. pergi.. aku tak percaya semua omongan mu itu.. sama sekali tak percaya.. pergi.. Ahkk.. pergi.. pergi..” suaranya pun kian melemah.
“ Pergi kau.. pergi.. ahh.. pergi.. “ kata Juli yang masih tertidur disana. Tama yang mendengar hal itu pun langsung pergi ke kamarnya dan melihat kenapa Juli terus berkata pergi..
“ Hey.. Jul.. Juli.. sayang.. yang.. sayang.. bangun.. hey.. kau kenapa??” tanya Tama ketika Juli sudah membuka matanya sedikit.
“ Kau, kenapa?? Apa yang terjadi pada mu??” tanya Tama kembali.
“ Tidak.. aku.. aku..” Juli tak bisa berkata apapun karena ia sangat takut dan tubuhnya gemetar hebat.
“ Sudah-sudah.. aku disini.. sudah ya.. tenang.. tenangkan dirimu..” kata Tama sambil memeluk dan menenangkan Juli.
“ Baiklah.. aku sudah menyiapkan air hangat kau mandilah.. lalu sarapan, aku sudah menyiapkannya dimeja.. apa kau bisa bergerak?? “ tanyanya kembali saat merasa jika Juli sudah sedikit tenang.
“ Ya.. terimakasih..”
Namun, saat ia berusaha untuk bangun dari tempatnya. Ia merasakan nyeri yang hebat di pinggangnya.
Krreekk..
“ Ahhkk.. aduh.. “
Dengan sigap Tama langsung menangkapnya agar tak jatuh kembali. Ia membatu Juli agar bisa duduk dengan benar.
“ Kau baik-baik saja??”
“ Emm.. “
“ Sudah jangan dipaksakan, jika kau masih nyeri dipinggan mu.. aku akan menggendong mu sampai sana..” kata Tama yang sudah siap untuk menggendongnya.
Dan ia pun menggendongnya sampai ke kamar mandi.
“ Apa kau mau, ku bantu membersihkannya??” tanya Tama spontan membuat Juli nge-blush jadinya.
“ Tidak.. kau keluar saja.. aku sudah mendingan. Dan aku bisa sendiri..” kata Juli menjawab dengan lantang.
“ Apa kau, sama sekali tak mau kita mandi bareng??”
“ Ah.. Hemm.. tidak.. ah.. bukan gitu.. hanya saja aku sudah bisa dan ingin mandi sendiri.. tak apa kan??” tanya Juli dengan hati-hati.
“ Ya, Sudahlah.. tak apa.. aku keluar..” Tama pun keluar dengan raut wajah yang lesu.
“ Hufftt.. akhirnya keluar juga.. huh.. selamat.. selamat..” kata Juli lega akhirnya ia bisa sedikit bebas juga..
Pagi hari yang sangat melelahkan..
\---.
Happy reading 😉