Life

Life
Ternyata mimpi



" Hah!.. hah!.. Saya.. saya dimana??"


" Jul.. Juli.. kau sudah sadar??" Tanya Adirata.


" Loh.. Papah?.. Aku dimana??"


" Kau sedang ada di rumah sakit.. Tama bilang kau tadi tiba-tiba pingsan dan dia membawa mu langsung ke rumah sakit. Dia pun langsung menghubungi Papah, hingga Papah pun langsung datang kesini untuk melihat keadaan mu.."


" Ahk.. Begitu.. Tapi, kenapa bisa aku pingsan??" gumamnya Juli.


" Ya sudah, kau istirahat saja dulu.. Papah keluar ya.. Tama akan masuk segera.."


" Baik. Pah.. makasih Pah.."


" Iya sama-sama.."


Adirata pun keluar dari ruangan Juli digantikan oleh Tama yang langsung masuk ke dalam ruangannya.


" Emm.. apa kau sudah baik kan??"


" Emm.. sudah, Alhamdulillah.. Sebenarnya aku kenapa?? kenapa bisa aku pingsan??"


" Kau.. tadi..."


Flashback..


Saat itu Juli ijin ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang terlihat sedikit kena saus pasta steak daging itu. Dia berjalan menuju kamar mandi sendiri.


Setelahnya ia pun membersihkan noda saus tersebut. Dia mengelap nya sambil melihat di cermin untuk memastikan bahwa sausnya sudah hilang dan bersih.


Dan ketika ia melihat satu benda, benda itu tampak tak asing baginya. Dan benda itu mengeluarkan sinar merah yang sangat terang hingga ia ingin mencoba mengambilnya. Namun, benda itu tiba-tiba memunculkan sosok wanita yang sering masuk dalam mimpinya itu.


Sontak saja ia terkejut. Dan kepalanya membentur wastafel yang ada disana.


Jduugg..


Lalu ia pun pingsan disana.


Di satu sisi lainnya. Tama yang sudah lama menunggu Juli kembali pun merasa tak enak hatinya, ia pun langsung pergi ke toilet untuk menyusul Juli disana.


Sesampainya disana ia melihat Juli sudah tergeletak dilantai.


" Jul.. hey.. hey... Jul.. bangun.."


" Ya ampun.. apakah dia pingsan??"


Tama mengecek denyut nadinya dan memastikannya.


" Dia pingsan.. apa aku bawa saja ya kerumah sakit.."


" Ah, sudahlah.. bawa saja dia kerumah sakit.."


Tama menggendongnya dan ia bawa sementara ke sofa depan cafe tersebut. Tanpa pikir panjang pun, karena ia juga sedikit khawatir akan keadaan ya Juli.


Akhirnya Tama pun memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat disana. Ia sedikit sangat khawatir dengan keadaannya Juli sekarang ini..


" Apa yang terjadi padamu.. Hemm.. Jul.."


Sambil menepuk-nepuk pipinya agar Juli segera sadar ketika ia dibawa ke ruang UGD.


Beberapa lama kemudian, dokter pun keluar menjelaskan pada Tama bahwa Juli saat ini sedang baik-baik saja ia hanya mengalami kelelahan sesaat saja.


" Huh.. Syukurlah.. ku pikir ia memiliki penyakit berbahaya.."


Setelahnya ia hanya menunggu lalu ia menelfon Papahnya untuk memberi kabar padanya.


Flashback off..


" Maaf ya.. sudah merepotkan.. aku juga ga tau kenapa aku bisa pingsan gitu.. maaf.."


" Sudahlah, aku pun tak masalah.. jadi kau istirahat saja.. Besok juga sudah bisa pulang.."


Papah tiba-tiba saja masuk saat Tama sedang membicarakan soal kepulangannya.


" Tidak, kau.. tidak boleh kembali besok.."


" Pah.. maksudnya??"


" Ya, maksudnya kalian tidak boleh pulang ke Apartemen itu.. kalian harus pulang ke rumah utama.. titik.. papah tidak mau kejadian ini terulang kembali.."


" Tapi, Pah.."


" Tidak, pokoknya kalian besok harus pulang ke rumah utama.."


" Baik, baiklah.. aku menurut.. "


" Nah gitu dong.. lagian juga Juli kan belum pernah diajak ke rumah utama setelah kalian menikah kemarin.."


" Ya.. terserah papah, tapi.. kalian besok harus dijemput oleh anak buah papah semua.. tidak dengan anak buah mu.."


" Ya.. terserah papah.."


***


Keesokan paginya...


Juli yang masih tertidur dan masih dalam infusan itu terbangun karena suatu hal yang membuatnya terbangun. Ia terbangun dan menatap sekitarnya ia hanya diam sebentar menatap langit-langit putih yang menghiasi ruangannya itu.


Lalu ia menatap kesamping ya, ia tak menyangka jika orang itu terus menjaganya dan terus berada disampingnya.


Ia juga sempat berfikir " Apa mungkin karena ia terus ditemani oleh orang ini sehingga ia tak mengalami mimpi aneh itu lagi.."


Ia pun sempat lega jika itu hanya sekedar mimpi saja. Tak bisa ia bayangkan jika itu akan beneran terjadi padanya.


Ia beranjak dari kasurnya namun tak ingin membangunkan pria yang tengah tertidur lelap disampingnya. Ia ingin ke toilet untuk mencuci mukanya dan sedikit membersihkan dirinya.


Tanpa ia sadari ketika ia beranjak dari kasurnya Tama sebenarnya sudah bangun. Ia hanya ingin melihat apakah wanita itu bisa bangun atau tidak.


Dan seperti dugaannya, Juli kesusahan untuk bergerak karena infusan nya yang membuatnya sedikit lemas dan kurang bertenaga.


" Ssshhh.. Hemm.. kenapa aku harus sampai di infus segala sih.. kan jadi ribet.. Hemm.."


" Apa kau bisa.. sini ku bantu jika kau sudah bangun.."


" Ah.. tidak.. tak apa kok.. ku pikir tadinya aku tak ingin membangunkan mu.. takut mengganggu mu karena kau tidur dengan sangat lelapnya.. maaf jika mengganggu mu"


" Sudahlah.." Sambil membantu Juli untuk bangkit dari kasurnya.


" Kau memang ingin kemana ini masih pagi buta gini??"


" Aku.. ingin membersihkan diri ku sebentar.."


" Ahh.. ya sudah.. akan ku bantu sampai sana.."


" Tidak.. tak usah.. tak apa.. aku bisa berjalan sampai sana.."


" Aku kan hanya lemas saja, kenapa dia bersikeras ingin membantu ku sampai disana segala.. Hemm.." batinnya Juli.


" Emm..."


" Ada apa??" tanya Tama.


" Tidak.. bisakah kau tak mengantar ku sampai sana, cukup disini saja.."


" Hemm.. ya sudah.. karena itu mau mu.. baiklah.. tapi, kalau ada apa-apa langsung teriak atau apa gitu.."


" Ya.. terimakasih.."


" Hem..ternyata dia sama saja dengan Papahnya.." gumam Juli yang sedikit terdengar oleh Tama.


" Barusan kau bilang apa??"


" Ah.. tidak.. kok.. aku hanya bergurau saja.. hehe.."


Dan Juli pun masuk ke dalam toilet tersebut dengan rasa yang sangat aneh..


" Rasanya sangat aneh dari kemarin, ada apa ya.. apa yang akan terjadi nantinya??.." Dia berfikir seperti itu sambil terus membasuh wajahnya.


Entah apa yang akan ia hadapi esok dia akan tetap bertahan demi kedua orang tuanya bahagia.


***


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda Vian yang masih tidur sambil memeluk guling nya itu. Tiba-tiba saja dikagetkan oleh suara Mamak nya yang sudah teriak-teriak untuk membangunkan Vian.


" Vian!! bangun nak.. kau mau bangun jam berapa?? kau bilang kau harus bangun pagi! agar tidak telat untuk study tour kali ini.. heii.. anak ini ya.."


" ........"


Vian yang masih belum sadar akan perkataan Emaknya itu pun masih meringkuk dalan selimutnya.


" Vian!! Vian..."


Ceklekk.. ( suara pintu terbuka)


" Ya ampun, anak ini.. susah sekali dibangunin.. hey!! bangun tak kau.. Vian!... Sudah jam 8 nak.. kau tertinggal oleh Bis tour-nya.. kau ga akan bisa ikut mereka.."


Mendengar itu, seketika saja Vian langsung bangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Namun ketika ia melihat jam Beker nya ternyata masih jam 5 pagi.


" Mak.. apa sih.. masih jam 5 pagi juga.. Hem..." Ia pun langsung meringkuk kembali ke kasurnya.


" Apa!! kau ingin tidur lagi.."


Seketika saja Fifit langsung menjewer kuping anaknya lakinya itu.


" Aduh.. duh.. Mak.. maaf.. iya, iya.. Vian bangun kok.. bangun.. iya.."


" Sshh.. aduh.. Mak tuh ya, sangat kejam.."


" Apa!.. Emak gini aja dibilang kejam.. dasar anak ini!!!.... Sudah sana mandi lalu.. bersiap.."