Life

Life
Menghilang.



Juli dan Tama berhasil keluar dari sana dengan selamat. Namun tidak dengan orang yang waktu itu masuk ke ruangan Tama dan memberikan kain tebal yang basah. Ketika para bodyguard itu sudah keluar semua melalui tali panjang yang sudah diikat dengan kuat lalu turun dengan balon besar berada dibawah agar mereka selamat.


Justru pria itu memilih untuk tetap disana, dan tak mau keluar dari tempat itu. Entah apa yang ia pikirkan. Namun satu yang ia tulis didalam sebuah kertas kosong itu.


“ Maaf, untuk kalian keluarga ku.. maaf untuk orang yang ku sakiti karena suatu pilihan yang salah.. maaf.. “


Lalu dibait ke dua..


“ Dari orang yang telah menusuk Orang yang bernama, Pak Tama.”


Ia menulis itu dan ia pun langsung menunjukan dirinya di jendela itu, wajahnya yang tampak sangat menyesal dan ia pun juga tak mau menerima akibat buruk dari apa yang ia lakukan itu. Ia juga tak ingin jika keluarganya mendapatkan musibah juga.


Lalu, ia pun menerbangkan surat itu yang sudah ia buat menjadi pesawat kertas. Ia menerbangkan surat itu berbarengan dengan suara ledakan yang berbunyi di dalam ruangan itu karena suatu sebab.


Seketika Juli yang melihat itu pun menjadi tersentuh..


“ Apa yang ia lakukan??..” Batinnya.


“ Mas.. pria itu kenapa tidak keluar dari sana??..”


“ Tidak tau.. mas.. tapi sepertinya orang itu ga mau keluar dari sana.


Dan ia memilih untuk tetap disana.”


“ Tapi.. untuk apa.. mas tolongin orang itu.. kasian..” Pintanya Juli..


“ Loh.. bagaimana mas mau nolongin mas aja terus dirangkul gini.. dan mas masih gini..”


“ Eh.. iya.. maaf.. apa aku bilang saja ya.. minta bantuan ke petugas keamanan untuk menolong orang itu. “


Tapi, belum sempat ia berkata seperti itu pada petugas keamanan dan penyelamat. Suara ledakan yang sangat besar itu berbunyi dan membuat Juli kaget dan jatuh lemas, karena berbarengan dengan ledakan itu ia melihat sekilas sosok pria itu melambaikan tangannya dan pergi menghilang ke atas.


“ Hahh!...”


“ Loh.. loh.. Jul.. sayang.. kau.. kau tak apa?? Kau pasti kaget ya.. ayo.. lebih baik kita jangan disini.. “ kata Tama yang juga ikut terduduk disampingnya.


Lalu, Adirata dan Bryan pun datang ke hadapan Tama dan Juli.


“ Pak.. pak.. apa bapak baik-baik saja.. apa perlu saya panggilkan ambulans??”


“ Tidak.. aku ingin pulang dan pergi dari tempat ini..”


“ Tama apa kau baik-baik saja??” tanya Adirata yang penuh khawatir pada anaknya itu.


“ Ya.. Pah.. aku baik-baik saja.. tapi pria itu.. “ ucapannya terhenti karena ia menyadari bahwa Juli seperti menangis.


“ Hei.. sayang kau kenapa??”


“ Loh.. Nak.. kenapa?? Kenapa menangis??”


“ Ah.. aku.. tidak.. aku..” ia tak bisa berkata dengan benar dan air matanya pun terus saja keluar.


“ Sudah.. sudah.. tak apa..” Tama yang mengerti kondisi Juli pun terus mencoba menenangkannya.


“ Sudah.. biarkan dia pergi.. doa kan saja pria itu pergi.. aku tahu semua yang kau rasakan saat ini.. “ Bisik-nya Tama.


“ Ayo.. pak.. kita harus membawa pak Tama pergi dari sini.. bapak juga harus menyelesaikan urusan bapak bukan?..”


“ Yah.. kau benar.. ayo Tama.. kita pergi dari sini dan kau pun juga harus beristirahat untuk menyembuhkan luka mu itu.. nanti akan ku panggilkan dokter untuk mengecek kondisi mu dirumah nanti..”


“ Baik, Pah.. Ayo sayang.. sudah.. jangan menangis lagi..” Kata Tama sambil menepuk-nepuk pundak Juli.


Lalu mereka pun pergi dari tempat kejadian itu. Mereka pergi ke rumah Adirata. Rumah utama agar Tama dilayani dengan baik disana. Dibandingkan harus ke apartemennya, sebab Adirata pun masih sangat khawatir jika anaknya ini terjadi apa-apa juga disana.


•••


“ Bagaimana keadaan disana??” tanya seorang pria yang terlihat seperti ketua itu, melalui ponselnya.


“ Tidak baik bos..”


“ Kenapa tidak baik??”


“ Anu, bos.. anak buah kita yang waktu itu menusuk Pak Tama, dia bunuh diri dengan cara, ia tetap berada didalam rumah sakit yang terbakar dan hal itu terjadi bersamaan dengan ledakan disana..”


“ Apa!!..”


“ Maaf bos.. kami tak tahu jika akhirnya akan seperti ini.. dan berita terburuknya.. Pak Tama dan istrinya berhasil lolos dari kobaran api itu..”


“ Aiiishh.. gimana sih kerjaan jalin sama sekali ga becus.. hah!!”


Tuuuttt.. ( telfon pun langsung terputus dari satu pihak )


“ Hah.. harus bagaimana bilang sama bos ya?? Kalau bilang rencana gagal semua.. aiihh.. bakalan abis kita..”


“ Aduhh.. ah.. sudahlah bodo amat.. sepertinya aku harus melarikan diri setelah melaporkan semuanya..”


Ia pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi bosnya.


“ Hallo Pak... Rencana gagal pak..”


“ Apa.. gagal semua!??” yang benar saja.. kenapa bisa gagal?? Hah..”


“ Iya.. pak.. maaf.. anak buah saya tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.. dan ia memilih mengakhiri hidupnya.”


“ Hah.. kalian sudah saya bayar dengan sangat mahal tapi ini balasan kalian pada saya.. Hah! Kalian bisa ga sih.. kerja tuh yang beneran dikit.. hah!! Terus klo udah kaya gini.. kalian ga bisa kan balikin uang saya.. hah.. dasar tak berguna kalian semua!.. “


“ Maaf.. maaf pak Rivaldi.. maaf..”


“ Sudah! Untuk apa kalian berkata seperti itu klo ga ada hasil.. huh.. “


Telfon pun terputus..


“ Dasar anak buah pada ga becus.. gimana sih.. masa gitu aja ga bisa.. siall.. gagal kan usahaku buat ngancurin mereka dan mengambil alih semuanya.. huh.. sia-sia aku bekerja sebagai direktur dan terus bekerja disana agar bisa tau celahnya dimana tapi, lagi-lagi digagalkan oleh mereka semua..”


Prrraang.. ( suara benda berjatuhan dari atas meja kerja )


“ Huh! Apalagi.. aku harus apalagi.. agar mereka semua menderita?? Aku sudah muak dengan semua ini.. baiklah, jika orang lain tak bisa membereskan hal ini.. maka aku sendiri yang akan melakukannya.. ya.. itu pasti..”


“ Huh.. huh.. tenang, tenang Rivaldi.. semua akan berjalan dengan baik..”


Dan pada akhirnya ia memilih pikirannya sendiri tak memikirkan bahwa orang yang ingin dia celakai itu adalah ponakannya sendiri.


Apa yang akan terjadi selanjutnya pun tak ada uang tau.. baik ia maupun seluruh keluarganya. Dan siapakah yang akan mengorbankan dan dikorbankan pun juga takkan ada yang tau.. semua masih samar. Yang terpenting hanya kepercayaan mereka masing-masing saja.


Hari demi hari sudah berlalu dan kondisi Tama pun sudah membaik bahkan ia sudah bekerja kembali walau sedikit demi sedikit ia kerjakan.


Pagi ini rencana mereka akan ke makam Heraiyan. Ibunya Tama yang sudah lama meninggal dan baru ini mereka bisa ke makamnya.


“ Mas.. apakah mas ingin sesuatu untuk besok mas masuk ke kantor lagi??”


“ Emm.. apa ya??”


“ Iihhh.. cepat.. katakan.. aku sudah tak bisa mendengarkan jika aku sudah masuk ke kamar mandi nanti..”


“ Iya.. Emm.. aku ingin selalu disisi mu.. bahkan jika perlu aku ingin kau yang menjadi sekretaris ku.. kan bisa selalu ditemenin terus disuapin terus bisa dimasakin makanan di kantor.. ya pokoknya bisa bisa terus sama kamu, sayang..” gombalnya Tama pada Juli yang membuat Juli memerah wajahnya.


“ Ih.. apaan si mas ini.. udah.. ga usah gombal pagi-pagi gini.. dah ah.. aku mau mandi dan katanya hari ini, kita mau ke makam mamah.. “


“ Iya.. aku tahu.. maka dari itu.. aku juga siap dari tadi.. kamu nya aja yang lama.. sekarang malah dengerin aku ngomong.. hihi.. “


“ Iihh. Mas tuh ya.. kenapa si jadi nyebelin gini.. padahal tuh dulu ga pernah begini..”


“ Terus kamu lebih suka aku yang bagaimana??”


“ Ya.. yang begini tapi kan..”


“ Tapi apa??”


“ Ya...... Ah.. sudahlah.. aku mau mandi.. jangan ajak aku ngomong lagi..”


“ Leh.. kok gitu.. sayang.. sayang..” panggilnya Tama, namun Julinya sudah masuk dan ia tak bisa masuk karena sudah terkunci.


“ Pffftt.. istri ku memang beda.. haha..” gumamnya.


Tak berapa lama mereka pun sudah siap dan sebelum mereka pergi ke pemakaman. Mereka sarapan pagi dulu sekalian bareng Adirata.


Awalnya Adirata menolak karena ia takut jika ia datang kesana itu membuatnya bersedih dan mengingat bagaimana kejadian itu terjadi pada dirinya dan istrinya. Tapi, Juli mencoba untuk membuat Adirata tenang dan membuat ia juga merasa bahwa isrinya akan sangat bahagia jika ia datang ke makamnya untuk mengunjunginya.


°°°