
“ Entahlah, bagaimana nantinya.. yang penting jika kita masih ada disini dan tak ada yang pindah mungkin kita bisa seperti ini lagi.. bikin api unggun, trus bakar ikan, trus makan bareng, tidur bareng kaya gini.. main bareng.. sekolah bareng..” kata Vian.
Mereka adalah anak yang nakal, namun walau seperti itu mereka bukanlah anak nakal pada umumnya, mereka mengerti bagaimana kondisi masing-masing temannya. Dan mereka sangat hormat pada orang tua mereka. Mereka adalah sekelompok anak yang suka kebebasan dan kebersamaan.
“ Hemm.. sudahlah, jangan sedih-sedih gitu ah.. kalian semua tuh ga cocok.. udah, lebih baik kita abisinj ikan bakar ini terus siap-siap masuk ke tenda masing-masing dan kita tidur nyenyak, oke ga??”
“ Oke lah..” serunya mereka semua.
Mereka pun menghabiskan makanan dan membersihkan sampah yang berserakan lalu masuk ke dalam tenda masing-masing.
Tapi, tidak dengan Vian dan Safa. Mereka masih belum ingin masuk ke tenda.
“ Eh.. eh.. syutt.. syutt.. sini deh..” kata Rani.
“ Apa, apa ni??”
“ Lihat deh.. mereka dah kaya orang pacaran ya.. nempel Mulu..” katanya.
“ Aiihh.. sudahlah, pacaran dari mananya?? Orang mereka dah kaya adek kakak, dari dulu kan si Safa emang dah deket sama, bahkan orangtuanya pun deket..”
" Iihh.. kau itu.. lihat dong dengan mata kepala mu.. mereka beneran seperti orang pacaran kan??"
" Eh.. kalau mau ngomongin orang tuh jangan dibelakang ga baik tau..".
" Eh! iihhh.. Anif, kenapa kau tiba-tiba dibelakang kita?? bikin kaget aja.. untung aja mereka ga denger klo kita tuh mergokin mereka berduaan.." kata Rani.
" Makanya.. klo mau ngomongin orang tuh kesini-kesini.. "
" Hiiyyh.. Anif.. bilang aja kau itu pengen nimbrung kan?? eleh, pake alesan ngagetin kita.. huh.." Kata Rani sambil mendorongnya pelan.
Disatu sisi Safa dan Vian sama-sama saling curhat. Kondisi masing-masing yang memiliki nasib yang sama. Tentang Vian yang terkadang ia juga dimarahi sama bapaknya karena suatu alasan yang sepele, dan selalu di bandingi sama anak laki lainnya. Dan Safa yang sudah ditinggal oleh bapaknya dan bapaknya tak pernah memberinya nafkah..
Namun, kadang kala mereka juga tertawa dan bercanda untuk saling menghibur satu sama lain. Ketika waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, Vian mengajak Safa untuk masuk ke tenda dan menyuruhnya untuk tidur.
" Sudahlah Fa.. jika kita terus mengeluh kita takkan bisa maju.. lebih baik sekarang kita masuk ke tenda dan tidur.. esok pagi kan maish libur.. gimana klo kita kesawah.. sama teman lainnya trus nyari Tutut disawah.. gimana kau pasti mau kan?? iya kan.." Godanya Vian sambil bangun dari tempat duduknya.
" Iihh.. iya.. iya.. mau lah.. apalagi yang lain.. pasti mereka senang juga.."
" Nah.. tuh dia.. dah yuk.. kita masuk.. yang lain pasti sudah menunggu kita.."
" Baiklah.. ayo.."
Dan pas sekali ketika mereka ingin masuk ke tenda mereka mendapati sekelompok anak masih belum tidur. Justru mereka sedang ngerumpi.
" Eheemm.. Hemm.. aduh.. ternyata ada yang lagi ngerumpi ya disini.. aiihh.. aku ga ikut gabung si jadi ga tau kan apa yang kalian omongin.." kata Vian nyeletuknya.
" Eh.. kalian.. hehe.. nie kita juga mau tidur ya ni.."
" Eh iya.. iya.. dah ah.. kita tidur.. " kata Rani sambil menggeser badannya menjauh dan kembali ke tempatnya tidur.
" Ckckc.. kalian tuh ya.. dah ketauan masih aja ngeles.. kami ga ada apa-apa kok.. cuman ngobrol berdua.. kalian juga, kenapa ga ikut nimbrung sama kita klo mau ngobrol atau ngegibahin orang.." kata Vian.
" Ya.. maaf.. dah ah.. kita mau tidur.."
Mereka pun akhirnya pergi tidur dan istirahat dengan nyenyak.
^^^
Esoknya di perusahaan Tama.
" Ya.. suruh saja masuk jika orang itu sudah sampai depan ruangan saya." kata Tama sambil menutup telfonnya.
Tak lama kemudian pintu ruangan Tama pun diketuk oleh seseorang.
Tok.. Tok..
" Iya masuk.."
Dan orang itu pun langsung masuk. Namun dengan begitu terkejutnya Tama ketika melihat yang datang itu adalah istrinya ia semakin bahagia.
" Loh.. sayang kenapa kamu kesini ga ngabarin aku si.. kan aku bisa minta orang untuk jemput kamu. lagi pula kenapa kamu bilang dulu sama resepsionis didepan tadi.. ku pikir siapa yang datang.."
" Jadi, ada perlu apa istri ku yang cantik ini datang ke kantor ku??" tanya nya Tama.
" Pfftt.. aku melakukan ini hanya untuk mmebuat mu terkejut.. Apa kau sangat ingin tau, aku datang kesini untuk apa??"
" Ya.. pastilah ingin tau.. "
" Emm.. apa ketika aku berkata kau akan menerimanya??"
" Emm.. ya tergantung.."
" Hemm.. baiklah.. aku takkan perlu menundanya lagi.. jadi.. mulai sekarang, aku yang akan menjadi sekretaris pribadi mu mulai saat ini.. apa kau senang??"
" Hah! apa?? serius?? sayang?? apa kau beneran serius?? sungguh kah?? Hah.. waaahhh..." Tama tak bisa berkata apapun lagi karena sangking senangnya. Ia juga menggendong istrinya itu dengan penuh kebahagiaan.
" Jadi, mulai sekarang kita bisa berduaan terus dong.. hihi.."
" Ya.. begitulah.. aku hanya ingin melindungi mu dan tak ingin kau seperti kemarin lagi.."
" Jadi, sekarang kau sudah beneran jatuh cinta pada ku ya?? ayo jawab yang jujur.."
" Emm.. Iihh.. mulai ya.. terus aja godain aku.."
" Leh.. ga papa dong justru aku senang karena bisa godain istri ku ini hihi.. tapi gimana bisa kau masuk ke perusahaan ini??"
" Itu.. itu.. Emm.. aku ditawari kerjaan sama Papah.. trus papah juga khawatir jika terjadi sesuatu pada mu.. pikir papah jika aku selalu disamping mu maka aku bisa langsung menghubungi para penjaga agar kau cepat ditangani dan dilindungi.. begitu katanya."
" Jadi, Aku menerimanya.." jelasnya Juli.
" Ah.. seperti itu.."
" Terima kasih ya.. seharusnya kau tak perlu masuk terlalu dalam masalah ku ini.." kata Tama sambil terus memeluk istrinya.
" Soal yang itu.. kurasa apa yang kau katakan itu memang benar.. tapi, aku sendiri..." kata-kata Juli terhenti karena Tama sudah membungkam mulutnya dengan wajahnya yang sudah mendekat padanya.
" Syuutt.. sudah.. aku paham.. aku, juga sudah terlanjur jatuh kedalam dirimu dan aku tak mau keluar dari sana.. Aku mencintai mu Jul.. bahkan saat ini kau sudah memenuhi isi kepalaku.."
" ...... " Juli terdiam dan hanya trus menatap wajahnya Tama yang sangat dekat.
" Aku tak ingin kau seperti waktu pertama kita jadi suami istri itu.. aku tak ingin itu terjadi.. karena kau telah membuat diri ini seperti itu. jadi sekarang dan selamanya, kau harus bertanggung jawab atas hal itu.. Muah.." kecupnya sekilas Tama di bibir Juli itu yang membuatnya terkejut.
Namun tak lama, Juli pun mencoba memberanikan diri untuk mendekat dan membalas apa yang Tama lakukan padanya.
Dan gelutan itu pun terjadi walau mereka tak melakukan hal yang berlebih, hanya saja Jilbab Juli sudah tak berbentuk lagi seperti semula. Dan Tama pun mengunci pintunya, lalu kembali dengan melakukan hal itu.
""""