Life

Life
Curhat.



Di sebuah cafe terdekat dari Apartemennya..


Juli sedang menunggu seseorang disana, ia menunggu temannya yang katanya habis pulang dari luar negeri, yah.. siapa lagi jika bukan Feli.. Hanya dialah satunya temen yang selalu meminta ketemuan saat ia sudah di Indonesia.


Juli masih tetap menunggu disana, sambil menyeruput secangkir kopi cappucino hangat miliknya. Ia menunggu Feli yang tak kunjung datang ke cafe tersebut.


“ Hemm.. mas, sudah pergi ngantor.. dan Feli maksh tak kunjung datang.. tapi, mimpi yang kulihat tadi pagi.. kenapa itu sangat nyata?? Dan siapakah orang itu?? Aku hanya mengingat bahwa ia seperti membisikkan ku sesuatu.. tapi aku tak tahu apa yang ia katakan pada ku?? Hemm.. tersesat ya.. apakah ini akan ada kaitannya dengan Mamahnya Tama?? Dan semua kejadian kemarin??”


“ Aiihh.. kenapa aku harus terjebak dalam masalah yang besar ini?? Tapi, saat ini pun juga aku sudah tidak bisa pergi lagi dari sisinya.. mungkin, aku memang sudah jatuh hati padanya.. entah dari kapan itu?? Sifat yang ia tunjukan sangat berbeda dari sifat asli dirinya..”


Saat Juli sedang merenung dan menunggu.. Seorang anak datang menghampirinya.


“ Kak.. Kakak cantik.. bisakah aku minta tolong pada kakak??” tanya seorang anak kecil itu.


“ Emm.. bisa.. memang adik ingin minta tolong apa??”


“ Emm.. bisakah kakak, memesankan makanan ini.. aku, ingin memberikan kejutan untuk Kakak ku yang disana..” sambil menunjuk kakak laki-lakinya yang sedang membeli Es buah didepan cafe.


Tapi, Juli melihatnya bukan laki-laki itu.. melainkan perempuan yang didekat es buah itu.


“ Owh.. yang itu.. baiklah.. kakak akan pesankan ya.. adik mau ikut??”


“ Ya.. makasih kak..”


Mereka pun berjalan menuju tempat pemesanannya.


“ Emm.. mba.. saya mau pesan Strawberry cake dan.. apa adik mau alvocado cokelat cakenya juga??”


“ Tapi kak.. uangnya ga cukup aku..”


“ Sudah.. anggap saja ini juga pemberian hadiah dari Kakak ya.. Emm.. sama alvocado cokelat cakenya deh mba.. dibungkus ya mba..”


“ Ah.. ya, baik.. tunggu sebentar ya..” kata pelayan restoran itu.


Tak lama pesanannya pun sudah terbungkus rapih.


“ Ini, semuanya jadi 150 ribu.. mau donatnya juga Kak??” kata pelayan itu.


“ Ah.. tidak, makasih.. ini mba uangnya..”


“ Iya.. selamat menikmati..”


“ Iya.. “


“ Kakak, cantik.. makasih ya.. nanti pasti kita ketemu lagi.. hehe.. dah kakak cantik..”


“ Iya.. sama-sama adik.. Emm.. dadah.. bye..” kata Juli sambil melambaikan tangannya.


“ iya.. dadah kakak cantik..”


Anak kecil yang tak diketahui namanya itu pergi dari sana dan keluar menemui Kakaknya untuk ia beri kejutan pada Kakaknya. Sedangkan Juli ia kembali ke mejanya untuk kembali menunggu Feli yang tak juga datang.


“ Ranfi.. kau kemana saja.. Kakak khawatir.. lain kali jangan pergi sendiri tanpa kakak ya..” kata kakaknya yang sudah membeli es buah itu.


“ Iya.. maaf, Afi cuman pergi sebentar aja kok Kak..”


“ Loh, itu apa??


“ Ya.. ya.. ayo..”


Mereka pun pergi dari sana untuk kembali ke rumahnya.


Sedangkan Juli masih saja menunggu disana, sambil terus memainkan ponselnya.


“ Dorr...”


“ Hehe.. kaget ya..” kata Feli yang baru datang setelah sekian lama Juli menunggunya.


“ Kau.. benar-benar, kau sengaja mengerjai ku kan.. untuk datang telat seperti ini.. lihat, kopi ku.. sudah setengah gini.. kau.. Hemm.. sudahlah.. “


“ Eh.. eh.. maaf.. nyonya Martha.. hehe.. iya.. maafkan kawan mu yang tak bisa menepati janji ini.. tadi ada sedikit kendala di perjalanan ke sini.. jadi ya lama deh.. maaf ya.. eh.. jadi gimana hubungan mu dengan suami mu itu??” tanyanya Feli.


“ Ya.. begitulah.. tapi, sekarang sudah lebih baik.. dan sepertinya aku sudah jatuh hati padanya.. “


“ Hah.. berarti kalian, sudah.. itu dong??”


“ Emm.. ya bisa dibilang gitu.. tapi aku juga masih belum tau apakah dia merasakan hal yang sama atau ngga.. namun, aku sedikit mengerti dan paham.. walaupun masih ada yang mengganjal dengan yang terjadi akhir-akhir ini..” ucapnya Juli dengan nada yang seolah memang ada kejadian yang sulit dijelaskan.


“ Memang ada apa?? Jika kalian sudah saling seperti itu bukankah, tandanya itu ia juga menyukai mu dan jatuh hati juga pada mu?? Lalu, apa yang mengganjal memangnya?? Dan apa yang sudah terjadi saat aku tak disini??” tanya Feli yang beruntun.


“ Hemm. Aku pun juga bingung karena aku melihatnya sedikit-sedikit, dan semua petunjuknya itu, sangatlah tak menguatkan satu sama lainnya. Seperti benang kusut yang sudah sekali untuk menjadikannya seperti semula..”


“ Apa yang sudah terjadi?? Ceritakan pada ku Jul.. mungkin aku bisa membantu walau tak banyak..”


“ Ya.. baiklah.. sebenarnya, akhir-akhir ini.. aku sering mengalami mimpi yang lumayan buruk dan terkadang juga aku dibawa ke suatu tempat seperti jaman dahulu.. aku tak tahu apakah itu nyata atau itu hanya mimpi belaka.. namun yang pasti aku selalu merasakan bahwa itu memang nyata.. semua yang kulihat dan ku rasakan itu semua nyata..”


“ maksudnya??” tanya Feli yang masih kurang paham.


“ Yah.. jadi, kau tahu bukan siapa itu istrinya pak Adirata yang snagat terkenal itu??”


“ Ya.. aku kenal karena Papah ku duku memang pernah kerja disana..”


“ Yah.. dia.. dia yang membuat semua ini terasa seperti teka-teki yang sulit terpecahkan, ditambah ada seorang lagi yang aku tak tahu apa masalahnya..”


“ Tapi.. setahu ku.. dia, sudah meninggal.. bagaimana bisa orang yang sudah meninggal itu. Memberikan teka-teki seperti itu.. Pfftt.. kau ini Jul..”


“ Aiihh.. aku ini serius Fel.. dia sendiri yang terus mendatangi ku saat aku baru pertama kali menikah dengan Mas Tama. Dan dialah yang menggunakan tubuh Mas Tama untuk membuat ku menderita..”


“ Tunggu.. jadi.. ini seperti sosok yang selalu melindungi anaknya dimana pun berada.. gitu??? Tapi, apakah itu benar?? Atau memang itu hanya Mas mu itu yang memang ingin melakukan kekerasan terhadap mu saja..” kata Feli menelisik.


“ Emm.. tapi, itu memang benar.. aku sudah melihat sifat asli mas Tama itu seperti apa.. jadi hal itu memang benar adanya.. dan lagi.. Kalung kotak itulah yang membuat ku tahu dan semakin yakin bahwa ada suatu masalah yang sangat besar sudah atau akan menimpa keluar mas Tama.. “


“ Lalu, kau ingin apa?? Apakah kau akan mencari tahu segalanya sendiri tanpa berbicara pada mas mu itu??”


“ Ya.. aku inginnya membicarakannya.. tapi.. aku takut ia tak percaya soal yang seperti ini.. Yang hanya ku bisa adalah tetap mencari tau apa penyebab utamanya, jika itu sudah memasuki zona terlarang maka aku akan menceritakan padanya..” kata Juli sambil berpegang teguh keyakinannya.


“ Ya.. aku hanya berharap.. agar kau bisa menyelesaikan ini dengan aman.. tapi, jika kau sudah dalam masalah yang besar, dan itu menyangkut nyawa mu.. kau harus menghubungi ku atau suami mu.. agar kau tak kenapa-napa.. Bismillah saja.. semoga lancar dan mendapatkan titik terang agar semuanya bisa tenang.. kau juga..”


“ Ya.. kau benar.. makasih ya.. aku sangat bingung tapi.. semoga bisa terungkap hal ini dan tak ada korban lagi.. “


“ Mau.. jalan-jalan sebentar.. mumpung aku bawa mobil.. hehe..” sambil menghabisi minumannya..


°°°