Life

Life
Part 1. End~



Terlihat seorang perempuan memasuki ruang Adirata, wanita itu masuk dengan memakai kacamata hitam dan penutup kepala agar tak ada satu orang pun yang mengenalinya. Ia terus berjalan mengendap-endap dan selalu melihat ke sekelilingnya, ia terus memastikan jika semuanya aman.


“ Haruskah aku melakukan ini semua.. sungguh ini membuat ku sangat malu.. aku seperti seorang maling rasanya. Kenapa dia menyuruh ku seperti ini.. huh..” umpatnya ia.


Ia pun melanjutkan aksinya. Ia sudah masuk ke ruang Adirata dan mencoba untuk mencari sebuah berkas yang berisi pengalihan perusahaan dan semua aset milik Martha Group.


“ Aduh.. yang mana sih, berkasnya.. ini tuh banyak banget.. ayo dong ketemu, sebelum ada yang datang..” gumamnya sambil mencari berkas yang dicari.


Lama ia mengutak-atik dan membongkar beberapa berkas Yang ada dilaci meja kerja. Namun ia tak kunjung mendapati berkas itu.


Bahkan ia sudah mengobrak-abrik semua usia yang ada disetiap laci didalam ruangan itu. Dan disaat ia ingin membuka laci terakhir, Sura langkah kaki pun terdengar semakin mendekat ke arah ruangan itu.


Devina pun panik, hingga ia tak jadi membuka laci itu, ia langsung buru-buru membereskan berkas yang sudah ia bongkar. Lalu ia msukkan kembali seperti semula.


Tak.. tuk.. Tak..


Suara kaki yang terus terdengar semakin mendekat itu membuat Devina mencari akal agar ia tak ketahuan.


“ Sial, kenapa tiba-tiba ada orang yang ingin masuk ke dalam ruangan ini sih.. huh..”


“ Gimana ini.. gimana klo sampai ketauan.. aduh gawat... Ini beneran gawat.. aku ga mau semua orang nantinya menyudutkan ku dan membuat nama baikku tercoreng.. gak.. gak.. apa aku ngumpet aja ya disana..” katanya sambil berfikir ulang apakah disana aman.


“ Aduhh.. ini apaan sih.. kayanya susah banget deh buat ngumpet aja.. Iihh..” Devina pun masuk dalam toilet yang ada di ruangan itu.


Ckleek.. ( suara pintu pun terbuka dari arah luar )


Adirata dengan asistennya Bryan, mereka berdua memasuki ruangan kerja mereka.


“ Pak.. Bapak akan ada jadwal lagi setelah ini.. apa mau saya siapkan semua atau bapak ingin sesuatu lagi untuk rapat kali ini??” tanyanya Bryan.


“ Tolong siapkan saja apa yang diperlukan untuk rapat kali ini..”


“ O.. ya.. pak.. untuk soal pak Tama, apakah nantinya akan baik-baik saja.. “


“ Maksud mu??”


“ Ya, saya hanya khawatir saja, jika nanti ketika pas rapat pengalihan nama, akan ada masalah lagi untuk pak Tama.. saya bukan bermaksud, hanya saja.. hal ini sepertinya sangat penting untuk dibahas..”


“ Sudahlah hal itu jangan terlalu kau khawatir kan.. yang penting siapkan saja keamanan yang tepat untuk hari itu.. semoga semuanya Ini berjalan dengan lancar..”


“ Baiklah, pak..”


Setelah mereka sedikit berbincang, mereka pun pergi dari ruangan itu. Namun Devina yang mendengar semua itu dengan sangat jelas pun merasa bahwa hari pengalihan nama itu akan sangat mempersulit dirinya dan paman mertuanya itu. Walau begitu ia tetap melanjutkan aksinya yang sempat tertunda itu.


Entah apa yang akan terjadi pada dirinya nanti, ia hanya berfokus untuk mencari dokumen itu dengan benar dan harus ketemu.


“ Hemm.. dimana ya?? Kira-kira dimana ya mereka menaruhnya.. ayolah mikir Vina mikir.. Devina otak Lu kenapa ga jalan si.. hiiyy.. ayolah dimana kira-kira mereka menaruhnya?? “ kata Devina sambil mencoba berfikir dokumen itu ditaruh dimana.


Tak lama ia berfikir, ia pun menemukan hal yang masuk ke logikanya..


Ia pun kemudian mencoba untuk membuka satu loker didekat meja kerja Papah mertuanya itu. Dan ketika ia ingin membuka, tiba-tiba saja terkunci dan samping loker itu terdapat tombol code..


“ Aduhh.. apa nie kodenya ya.. aiihh.. harus mikir lagi.. apa ya.. apa?? Ayo dong..”


“ Coba deh masukin tanggal lahir papah.. “ ia pun mencoba untuk memasukkan taggal lahir Adirata.


Namun ketika ia sudah memasukkan tanggal lahir Adirata, mesin itu pun tak kunjung membukakan kuncinya. Ia tetap mengunci dan tak bisa dibuka. Hingga, tiba-tiba ada suara orang sedang berbicara dan mendekat ke arah masuk ruangan Adirata kembali.


Cekleek...


Seseorang itu pun masuk ke ruangan tersebut dengan membawa kopi ditangannya. Ya, OB itu membawakan kopi yang dipesan oleh Adirata dan menaruhnya dimeja kerjanya.


Namun ketika OB itu masuk ia merasa seperti ada seseorang didalam ruangan itu juga. Akhirnya ia memperhatikan ke sekeliling ruangan itu, alhasil ia tak menemukan siapapun disana, namun ia sedikit curiga akan berkas-berkas yang tadinya rapih, kenapa jadi sedikit berantakan.


“ Aneh, kenapa berkas disini sedikit berantakan ya?? Seperti habis dibongkar lalu dirapihkan kembali namun dengan cara yang sangat terburu-buru?? Apa.....” ia menghentikan kata-katanya dan langsung pergi keluar ruangan tersebut.


Di satu sisi yang lain.. Devina sangat amat lega, karena sang OB itu pun langsung pergi dari ruangan papah mertuanya itu.


“ Apa aku harus berhenti disini saja ya?? Jika sampai aku ketahuan beneran nasib ku akan gimana?? Ahkk.. sudahlah.. lebih baik aku menyelamatkan diri ku sendiri daripada aku mendapatkan masalah yang sangat merugikan diri ku sendiri.. lebih baik, aku membatalkan perjanjian itu semua dengan paman..” pikirnya yang sudah tak ingin ikut campur lagi dalam urusan pamannya itu.


Setelah ia berfikir lebih dalam, akhirnya ia pun menghentikan aksinya itu dan langsung keluar dari ruangan Papah mertuanya itu.


Namun tak disangka ketika ia membuka pintunya dan segera keluar dari sana tiba-tiba saja Alex sudah berada dibelakangnya, dan membuat ia sangat terkejut atas hal itu. Devina pun semakin berkeringat dingin.


“ Kau.. sedang apa kau disini??” bukankah kau bilang pada ku kau ada pemotretan desain mu dengan klien mu itu..”


“ Ah.. anu.. a-anu.. itu.. ah.. itu aku membatalkan janji ku pada kliennya karena mereka juga ada urusan..” gugupnya ia yang langsung mendapatkan pertanyaan menekan seperti itu.


“ Lalu mengapa kau datang kemari?? Sedang apa kau sebenarnya??”


“ Ah, sayang.. jangan negatif dulu ya.. aku datang kesini hanya ingin menanyakan sesuatu saja pada Papah.. makanya tadi aku ingin masuk dan ingin berbicara pada papah.”


“ Memangnya kau ingin menanyakan apa pada papah??”


“ Hemm.. itu.. itu.. aku hanya ingin menanyakan apa kita bisa pergi liburan sekeluarga?? Hanya itu saja kok..”


“ Hah.. sejak kapan kau memikirkan hal seperti itu??”


“ Se-sejak.. sejak.. ah.. muach..” tanpa aba-aba Devina pun langsung mencium suaminya itu tanpa pikir panjang.


“ Sudah ya.. aku harus pergi..”


“ Hah.. ada apa sih dengannya?? Ini tak biasanya.. kenapa dia bersikap seperti itu?? Hemm, pasti ada hal yang tak beres.. “ gumamnya Alex dan langsung menyelesaikan urusannya lalu mengikuti kemana Devina pergi.


°°