
tahun 2010
keluargaku berencana merantau disebuah daerah terpencil di provinsi sumatera selatan.pada saat itu,aku baru saja lulus TK
tapi yang pindah di daerah itu hanya aku,ibuku,adikku,dan ayahku.kakak ku tidak ikut karna dia akan naik bangku ke kelas 6 sd.karna orang tuaku tidak ingin repot soal pindahan sekolah kakakku,kakakku dititipkan di rumah pamanku.
daerah yang ditinggali keluarga ku ada di desa mekar jaya,sp 3,kec.lubai ulu,kab.lubai,prov.sumatera selatan.disanalah tempat yang akan menjadi rumah baruku.
disana orang tuaku membeli 1 hektar hutan,untuk digarap menjadi sebuah kebun,setelah mereka berhasil membuka ladang itu,orang tuaku mendirikan sebuah rumah disana,rumah itu tampak kecil sekitar 7×10 meter saja,bahkan atap rumah ku beratapkan alang-alang yang kering untuk di anyam.jarak antara kebun ku dan desa berkisar antara ±1 KM. jadi aku tinggal di tengah hutan hanya untuk menjaga kebun dan hanya kami 1 keluarga yg tinggal disana,orang tua ku juga mulai menanami kebunnya dengan pohon karet.ada juga padi untuk kebutuhan pangan pokok keluarga kami,singkong yang kadang untuk ku buat sebuah cemilan yang dapat disantap.tak lupa kadang juga menanaminya dengan sayuran kacang panjang,terung,cabe,pepaya,labu dll.
aku juga akan baru umur 6 tahun yang waktu itu aku mulai sekolah di sekolah dasar.aku mulai nyaman di sekolah baru ku,tapi di sana aku kesepian,karna aku tidak memiliki kenalan dan teman sama sekali dan jarak kesekolah ku sangat jauh,bayangkan anak berumur 6 tahun berjalan ke sekolah dengan jarak 1 km,ditambah lagi disepanjang jalan yang aku lewati hanya ada hutan yang sunyi,aku takut bila saja ada hantu,tapi aku tau hantu tidak akan menampakkan dirinya di siang hari,tapi pikiranku akan melayang kemana-mana jika aku sedang ketakutan,ketakutanku di tambah karna di hutan itu masih memiliki banyak binatang buas seperti ular,**** hutan,monyet dll. tapi orang tuaku tidak takut dengan hal itu,mereka juga tidak tega membiarkan ku sekolah sendiri melewati hutan.mereka sangat rajin mengantarku pagi dan siang menjemputku kembali sambil berjalan kaki,karna disana orang tua ku tidak memiliki alat transportasi untuk dikendarai,jalan satu-satunya hanyalah berjalan kaki
meski sangat sulit hidup ditengah hutan,di tambah lagi keluarga ku termasuk orang yang miskin tapi aku bahagia waktu itu.keluarga masih lengkap dan kami juga masih bisa tertawa riang di saat kondisi kami yang memprihatinkan.keluarga ku juga tidak menyerah dan terus bekerja keras walaupun ada kalanya kondisi kesehatan orang tua ku menurun tapi mereka tetap rajin bekerja.
note:kehidupan memang keras dan kalian jangan sampai menyerah ya!tetap semangat meski musibah dan cobaan terus menerpa kalian:)
jadi sekarang kalian sudah tahu kan,kenapa pratiwi tri wardani menyebutkan bahwa kehidupannya di sumatera selatan sangat susah,ya memang sih susah.coba kalian bayangkan :D
terima kasih umtuk yang sudah membaca