Life

Life
Part 3. End~



" Jadi gini.. papah hanya ingin menyampaikan.. yang kamu tanyakan saat ini adalah.. opah hanya ingin cucu yang terbaiknya lah yang harus meneruskan perusahaan ini.. dan opah mu memilih diri mu.. bukankah dari dulu kau yang bersikeras untuk mendapatkan proyek besar itu dan bisa menjadi pemimpin di perusahaan ini?? mengapa pada akhirnya kau tidak mau??" tanya Adirata pada anaknya.


" Maaf pah.. mungkin penyebabnya karena dulu.. saat aku masih belum mengenal hal semacam tak nyata itu aku merasa seperti aku ingin menguasai semua hal.. namun setelah aku mengenal hal itu dan aku bertanya pada semua staf kantor. supir pribadi bahkan istri ku sendiri. aku sadar bahwa ya itu bukan diri ku.. "


" Bahkan mungkin jika, aku tak bertemu dnegan Juli dan papah tidak menjodohkan ku padanya aku takkan pernah bisa tau apa yang sudah terjadi pada ku dan pada keluarga ini." lanjutnya Tama pada papanya.


" Ya.. papah mengerti, tapi hal ini sudah sangat diputuskan oleh opah mu.. kau yang harus menjadi pewaris generasi perusahaan saat ini.. dan papah pun menyetujuinya.. sebab, kakak mu pun begitu dan ia sudah tak mau mengambil hak waris ini.. bahkan ia sekarang ingin pergi ke Inggris dan mengembangkan perusahaannya disana menjadi semakin besar." ucapnya Adirata seraya menatap wajah anaknya itu.


" Apa?? kakak mau pergi hari ini juga?? kenapa mendadak pah?? bukankah bulan depan ya rencananya, kakak akan meninggalkan Indonesia??" tanya Tama yang sangat mendesak tersebut.


" Papah tidak tau.. namun ia hanya berkata jika kau harus hidup dengan damai dan bahagia bersama dengan keluarga mu saat ini.."


" Pah. apa papah tau jam keberangkatan kakak??"


" Kalau tidak salah, nanti malam jam 9 pesawatnya akan terbang."


" Baiklah pah.. terimakasih.. aku akan segera langsung ke tempat kakak.. " Kata Tama seraya bangun dari tempat duduknya dan bergegas pergi menuju mobilnya.


" Baiklah.. hati-hati Tama.. ingat apapun yang terjadi kau harus menerima hak ini.. ini semua demi opah dan keluarga kita."


" Ya baik, pah.. aku akan berusaha lagi.."


Tama pun langsung berjalan keruang tamu sambil mengajak Juli untuk ikut bersama dengannya.


" Sayang.. ikut aku sebentar yuk.. " tanya Tama kepada Juli yang sedang duduk itu.


" Mau kemana??" tanya Juli sambil bingung mau kemana sebenarnya.


" Ikut saja.. aku akan ceritakan semuanya dijalan. ayok.."


" Iya.. baiklah.. pah, aku tinggal sebentar.." kata Juli sambil berpamitan pada papah mertuanya.


" Ya.. hati-hati dijalan.."


" Assalamualaikum.." Ucap salamnya Juli sebelum ia masuk ke mobil.


" Ya.. wa'allaikumsalam..." ucap baliknya Adirata pada menantunya itu sambil melambaikan tangan padanya yang sudah masuk mobil dan Tama sudah mengemudikan keluar dari pintu gerbang.


Mereka pun sudah meninggalkan rumah utama dan bergegas pergi kerumah Alex yang letaknya tak jauh dari rumah utama.


Diperjalanan menuju rumah Alex.. Juli bertanya pada suaminya itu. tentang apa yang sudah terjadi pada mereka dan semua yang terjadi dalam keputusan rapat tadi siang.


" Jadi, apa kau akan menerimanya??"


" Yah.. kau memang benar juga.. Hemm.. rasanya aku sedikit lega dengan kata-kata mu.. makasih ya sayang, disaat seperti ini.. aku ada yang menemani.. muach.." kata Tama sambil mengecup tangannya Juli dan menggenggam erat tangannya itu.


" Ya, justru aku yang sangat beruntung memiliki suami seperti mu.. kau ternyata sangat penyayang pada keluarga.. aku tak menyangka akan seperti ini. mungkin jika dari awal aku tak pernah memilih untuk menerima mungkin aku takkan pernah sebahagia seperti sekarang ini... " kata Juli sambil mengingat kenangan lalu.


" Yah.. sudahlah.. aku pun juga bersyukur aku bisa bertemu dengan mu.. sebab aku jadi tau yang sebenarnya terjadi.. apa kau memilki kemampuan itu sejak lama??" sambil terus menggenggam tangannya.


" Yah.. walau terkadang hal itu membuat ku sangat ketakutan.. namun, aku akan mencoba untuk mengendalikan hal ini.. ibu mu sekarang berada tepat dibelakang kita.. ia sangat senang dengan semua hal baik saat ini terjadi."


" Owh.. ya?? Hemm.. bolehkan aku mengatakan hal ini?? "


" Ya.. silahkan katakanlah kepadanya.."


" Mah.. aku sangat menyayangimu.. aku tak tahu harus berkata apa lagi.. namun aku benar-benar sangat mencintai mu.. aku, kakak, papah.. dan semuanya hanya akan terus mengingat mu dan mendoakan dirimu.. kami juga hanya ingin mamah tenang dan bahagia disana. love you mah.." kata Tama sambil meneteskan air matanya yang mengalir tanpa ia sadari.


Dan saat itu juga. Heraiyan mencoba untuk mencondongkan dirinya ke depan kursi setir pengemudi, ia langsung mengulurkan tangannya dan memegang pipi anaknya yang sangat ia sayangi.


" Mamah, sudah bahagia nak.. dan sebentar lagi mamah pun akan dijemput.. makasih sudah selalu mendoakan mamah."


Perjalanan itu benar-benar menjadi perjalanan yang sangat mengharukan. Hingga sesampainya dirumah Alex. Mereka turun dan langsung mengetuk pintu dan masuk kedalam.


Tok.. tok.. tok..


Tak ada sahutan dari dalam.. akhirnya mereka memutuskan untuk langsung memasuki rumah Alex.


" Kak.. kak Alex??"


" loh rumahnya masih menyala tapi dimana kak Alex??" pikirnya Tama.


" Mas.. mungkin kak Alex lagi dikamar kali."


" Sepertinya begitu.. aku akan masuk kedalam kau disini saja ya.."


" Baiklah.. aku akan menunggu di ruang tamu saja."


Sementara Juli menunggu, Tama langsung masuk kedalam kamar Alex. Ia sangat terkejut melihat kakaknya yang sangat hancur. Ia seperti bukan kakak yang ia kenal.


" Kak. kakak.. kenapa kakak seperti ini?? sudah cukup.. cukup kak.. Kakak sudah mabuk berat.. sudah cukup, bukankah kakak ingin pergi ke London?? kenapa kakak seperti ini??"


" Hei.. adik ku yang sangat tampan.. aku sudah membatalkannya.. aku sudah membatalkannya.. aku hanya ingin bebas walau sebentar.. aku ingin mengeluarkan pikiran ini dari kepalaku.. ahhkkk.."


***