
Hari-hari pun berlalu..
Tak disangka sudah satu bulan saja berlalu. Dan wanita itu tak pernah muncul lagi setelah kejadian itu. Hubungan ku dan dia sudah semakin membaik walau kami tak tahu perasaan apa yang sedang melanda hati kami.
Kadang perasaan itu muncul tanpa diduga dan membuat suasana menjadi tegang. Bahkan ada satu kejadian yang membuat kami terdiam.
Di pesta ulang tahun pernikahan teman Adirata..
Adirata beserta anak dan menantunya menghadiri pesta itu. Mereka semua mengucapkan selamat pada Malvin Saryan. Ya, Malvin Saryan pemilik perusahaan Bank Swasta. Dia merupakan sahabat baik dari Adirata.
" Hei.. kau.. mau kemana??" tanya Tama.
" Aku ingin ke toilet.. sebentar saja.."
" Ya sudah.. aku tunggu disini.."
Juli segera pergi dari sana dan mencari toilet yang susah dicari untuknya yang masih baru datang ke pesta seperti ini.
Hingga ia pun menanyakan pada salah satu pelayan disana.
" Permisi, saya ingin bertanya Emm.. toilet sebelah mana ya Mas.."
" Owh.. itu, mba.. disana.." kata pelayan itu.
" Terimakasih.."
Juli pun langsung buru-buru masuk ke toilet itu.
Tak lama kemudian ia keluar, namun tiba-tiba ada seorang yang sedang lewat dan menabraknya hingga ia hampir saja terjatuh.
Bruukk..
" Auww.." Ringis-nya Juli.
" Eh.. maaf.. maaf.. " Kata lelaki itu sambil memegangnya agar tak jatuh.
Namun tak disangka tepat diujung dekat toilet itu, ada seorang yang terus memperhatikan mereka dengan intens. Bahkan terlihat sangat sangat tak tak senang.
Hingga akhirnya orang itu pun langsung menghampiri Juli yang masih berbincang dengan lelaki yang menabraknya.
" Sekali lagi maaf ya.. nona.. Saya benar tak melihatnya dan saya juga lagi buru-buru.. maaf ya nona.. daahh.. " lelaki itu pun langsung pergi tanpa basa-basi.
" Iya.. tak apa.."
Saat ia memalingkan wajahnya tepat saat itulah Tama ada didepannya dengan wajah dinginnya dan tak sukanya.
" Siapa tadi??" tanya Tama dengan wajah dinginnya.
" I.. itu.. itu.. lelaki tadi tak sengaja menabrak ku dan dia berusaha membantuku agar tak jatuh.."
" Owh.." hanya sepenggal kata saja ia lontarkan pada Juli dan ia langsung pergi dari hadapannya tanpa kata lagi.
Juli yang melihat Tama seperti itu padanya membuat ia tak nyaman dan tak enak hati.
" Apa aku berbuat salah lagi padanya??"
" Wajahnya sangat tak suka jika aku dekat dengan lelaki lain.. padahal tadi dia memang hanya membantuku agar tak jatuh karena tersenggol.. Hemm.. Cemburu.. CEMBURU??.. hah... mana mungkin ia seperti itu.. "
" Tidak.. tidak.. itu takkan mungkin.." Pikirnya Juli sambil berjalan mengikuti Tama dibelakangnya.
Setelah sekian lama, mereka pun akhirnya pulang ke masing-masing tempatnya. Saat dijalan, Tama menjalankan mobilnya dengan sangat kencang hingga Juli merasa ketakutan.
" Dia kenapa lagi si?? sungguh aku takut jika seperti ini.. masa gara-gara tadi.." Batinnya Juli.
Tama terus melajukan mobilnya dengan cepat dan kencang, hingga sampai di Apartemen dengan cepat.
Lalu, ia keluar dan membukakan pintunya dan menyuruh Juli untuk keluar. Setelahnya, ia menggandeng Juli dengan genggaman yang sedikit erat. Mereka jalan menuju Apartemennya dengan jalan yang cepat seperti dikejar sesuatu.
" Mas.. Mas.. tunggu.. kenapa dari tadi kau jalan cepat-cepat.."
" Sudah.. diam.. ikut saja apa kata ku.." tegasnya.
" ..... " ( " Ada apa si dengan dia.. dia seperti menahan sesuatu di dirinya." batinnya.)
Mereka pun masuk ke Apartemennya, dan Tama langsung menahan Juli ditembok seperti sedang ingin mendapat penjelasan dengan detail.
" Bolehkah???." Tanya Tama dengan tatapan yang penuh gairah.
"........" Juli hanya bisa terdiam, ia tau jika ini merupakan haknya dan kewajibannya untuk itu, tapi masih ada rasa khawatir di hatinya yang menyelimutinya.
Hingga Tama pun melanjutkannya. Ia sudah membuka jilbabnya. Tapi, ada satu hal lagi, yang membuatnya terdiam.
" Adakah rasa di hati mu saat ini??" tanya Tama tiba-tiba.
"......" Juli masih bingung dengan pertanyaan itu.
Seketika itu juga Tama langsung menariknya dan terus mendekapnya dalam pelukan. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat itu, Juli hanya bisa terdiam tanpa bisa mencerna apapun yang terjadi saat itu.
Tama masih terus memeluknya bahkan Juli sendiri pun masih belum bisa mencerna apa maksud dari tindakannya itu. Lalu perlahan Tama membuka kancing bajunya. Ada rasa yang sangat panas didalam dirinya.
" Apa ini efek tadi aku minum ya??" batinnya.
Ia hampir membuka semua kancingnya Sabil terus mendekap Juli. Juli masih belum sadar jika Tama melakukan itu secara perlahan. Dan ketika sudah terlepas semua ia baru merasakan kehangatan itu.
Juli yang masih terdiam dan justru semakin nyaman karena hangatnya. Dan masih belum menyadari itu. Tanpa disadarinya ia mempererat pelukan itu. Tama yang menyadarinya pun sangat terkejut, karena itulah, hal yang masih belum ia lepaskan kini telah meminta jatahnya.
Lama ia menahan hal itu, akhirnya dirasakan juga oleh Juli. Awalnya ia hanya ingin merasakan kehangatan itu lebih lama tanpa memikirkan orang yang ia peluk itu akan gimana reaksinya.
Ketika ia menyadari sesuatu yang menonjol itu. Ia hanya diam dan melonggarkan pelukannya. Wajahnya kembali memerah, bahkan ini lebih memerah lagi. Entah apa yang harus ia perbuat lagi.
" Kau, harus tanggung jawab...." kata Tama dengan suara rendahnya.
Langsung saja Juli bergidik ngeri mendengar suara Tama yang sangat rendah itu.
" Kenapa di situasi seperti ini.. sungguh aku sama sekali tak bermaksud membuat itu menonjol.." batinnya.
Mereka yang sama-sama diam dengan perasaan mereka saat itu. Yang bisa mereka perlihatkan hanyalah rasa malu dan gerogi saja, bahkan wajah mereka sama-sama memerah karena hal itu.
" A.. aku sama sekali tak tahu.. maaf.." kata Juli sambil melepaskan pelukannya, dan berjalan pergi.
Tapi sayangnya tak semudah itu ia bisa pergi. Tama menarik tangannya kembali dan memeluknya.
" Jangan pergi.. kau harus bertanggung jawab.." Bisik-nya.
" Ah.. Apa yang harus ku pertanggung jawabkan??" polosnya Juli.
Lalu, Tama mencoba meraih tangannya.
" Eh.. kau.. kenapa?? kenapa menghindar, aku hanya ingin memegang tangan mu.." goda Tama.
Dan Tama pun mencoba meraihnya kembali. Dan berkata...
" Kau terlihat sangat berbeda saat seperti ini.. "
Tama terus mendekat seperti itu padanya. Hingga Juli harus terus mundur kebelakang.
" Kau sangat imut ketika wajah mu itu terlihat ketakutan. Apa yang kau takutkan.. aku hanya ingin dekat dengan mu?? apakah itu salah?? bukankah, kita sudah menjadi suami istri sekarang.."
" Ya.. yah.. "
" Lalu??"
Juli hanya diam kembali saat Tama menanyakan itu. Namun ia tak menyadari jika ia sudah diujung pintu kamarnya.
Dugg..
" Hah.. apa yang akan ia lakukan pada ku lagi??" batinnya.
" Ini sudah mentok loh.. kau takkan bisa mundur lagi.. sampai kapan kau akan mundur??"
"......" Wajah Juli sudah sangat ketakutan. Ia hanya terus bergumam. " Apa yang akan terjadi selanjutnya...
Happy reading.😉