
" Itu.. Mba, lagi makan rujak.. mba, mau.. ayo mba ikut gabung dengan kami.." Ajaknya Vian.
" Baiklah.. mba akan ikut dengan kalian semua.."
" Yey.. ayo mba.."
" Iya.. ayo mba.. ikut ngumpul.. kita-kita loh yang bikin rujaknya.." kata Safa.
" Iya.. loh.. memangnya kalian dapat semua ini dari mana??" tanya Juli.
" Eh.. itu.. itu.. dari..."
" Metik dari pohon di ladang Pak Kirman mba.. "
" Kalian sudah.. ijin??"
" Belum mba.. hehe.. tapi mereka ga akan marah ko mba.. hehe"
free
" Hemm.. kalian ya.. sudah mba duga.. dasar anak-anak bandel.. jangan-jangan Vian juga ya.."
" Eh.. mba.. loh kok aku si mba.. ngga kok.. aku cuman ikutan aja.. kok.." kata Vian.
" Lain kali kalian harus ijin ya.. jangan gitu lagi.. oke.. Tapi ini enak kok.." kata Juli yang sedikit memuji rujaknya.
" Iyalah mba.. orang siapa dulu yang bikin tuh sambelnya.. orang saya yang bikin.." Bangganya Sara.
" Huh.. Sara.. bukan kau juga ya.. aku juga.. " Kata Rani.
" Iya.. iya.. hahaha.. "
Tawanya mereka semua sambil terus menyantap rujakan itu.
.....
Sore pun tiba..
Baik Vian dan teman-temannya tak ingin jika Juli pergi meninggalkan mereka setelah sekian lama tak tertawa seperti itu bersama.
" Mba.. apakah mba akan kembali lagi besok??" tanya Safa.
" Emm.. sepertinya tidak.. mungkin lain kali mba akan menemui kalian lagi.. "
" Emm.. mba.. jaga kesehatan mba ya.. " Kata Vian.
" Iya.. o, ya.. sampaikan salam mba ya.. pada Mak dan Bapak.. Mba ga bisa ke rumah.. Oh.. satu lagi.. bilang ke bapak besok bapak harus datang ke kebunnya Papah.. katanya ada yang harus di rapihin.."
" Iya.. mba.. "
" Ya, udah.. mba pulang ya.. jaga diri kalian semua.. dahh.." Juli pun melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan mereka.
Dalam perjalanan pulang ia terus saja kepikiran akan satu hal. Ia masih kepikiran soal tadi pagi.
" Papah, kenapa Papah bersikap seperti itu pada lukisannya. Hemm.. sebenarnya apa yng sudah terjadi??" Gumamnya.
" Dan Papah seperti tau segala hal soal kalung kotak itu dan lukisan itu. Emm.. Ya Allah, semoga ini semua akan baik-baik saja kedepannya.. dan tak terjadi hal yang berbahaya lainnya." Batinnya.
" Pak.. nanti mampir sebentar ya di toko buah itu yang ada didepan..'
" Ah.. iya Non.."
Pak supir pun langsung menghentikan mobilnya tepat di depan toko buah itu.
" Tunggu sebentar ya pak.." Juli pun keluar dari mobil tersebut.
" Ya, Non.."
Ia menghampiri tukang buah tersebut. Ia memilih dan mengambil buah sesuai dengan yang ia inginkan.
" Emm.. dia suka buah apa ya??" Gumam Juli.
" Apa aku belikan Apel dan buah Pir saja ya.. Tapi ada strawberry juga si.. sudahlah, beli saja.. Lagi pula jika ia tak suka atau kembali membuangnya aku yang akan makan semua buah ini.." kata Juli sambil mengambil buah yang ia mau.
" Pak.. ini semua berapa ya??"
" Owh.. sebentar ya Bu., saya timbang dulu.. klo strawberry nya ini hanya 20 ribu saja Bu.. "
" Hem.. mahal banget bang.. ga bisa kurang??"
" Ga bisa Bu.. ini juga buah seger Bu dan kualitasnya dijaga.. lihat saja.. besar-besar kan Bu.. dan terlihat segar.." sambil menunjukan buahnya.
" Iya.. ya sudah lah.. Bungkus saja.. terus yang lainnya itu.. berapa totalnya pak jadinya??.."
" Semua jadi, 70 ribu Bu.."
" Ah.. ini uangnya.."
" Iya.." Sambil tersenyum ramah dan ia langsung meninggalkan toko buah itu.
Mereka pun kembali melajukan mobilnya yang mengarah langsung ke rumah utama.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai.. Juli pun langsung masuk kedalam rumah dan berjalan menuju dapur untuk memasukkan buahnya kedalam lemari pendingin.
Lalu..
" Hei.. kau.. dari mana saja kau ini?? "
" Hah... ya.. Aku.. aku dari rumah orang tua ku.."
" Apa benar?? kenapa pulang sampai se-larut ini??"
"......." ( " Bukannya ini masih tak terlalu malam ya.. lagi pula ini kan habis magrib.." gumam Juli dalam hati. )
" Jawab!!.." Bentaknya Tama.
" Ya.. ya.. maaf.." Gemetarnya Juli.
" Hemm.. sini, sini ikut aku.."
" A.. Ada apa ya??"
Juli pun langsung ditarik dengan paksa oleh Tama, dan tak membiarkan ia mengetahui alasannya mengapa sikapnya seperti itu padanya.
" Aww.. aww.. sakit.. sakit.. " ringis-nya karena pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh Tama.
" ......."
Dan Tama pun hanya diam tanpa perduli jika lengannya Juli itu kesakitan. Dan sampai di kamarnya. Tama pun langsung menghempaskan Juli ke ranjang mereka.
" Aww...."
" Kenapa, sakit.. baru begitu saja sakit!!... hah!.. Apa selama ini aku terlalu memanjakan mu.. ah.. aku tau.. kau.. wanita rendah yang tak tau apa itu rasa sakit.. bahkan kau tak tau, bagaimana rasa sakit itu ada.." mendekatnya Tama mensejajarkan wajahnya dengannya.
Tama mendekat lagi dan ia langsung menggenggam Juli lalu, ditariknya ia masuk ke dalam kamar mandi.
" Apa kau.. ingin tau, bagaimana rasa sakit itu?? Jawab!!.."
" ........." Juli hanya diam dan tubuhnya sudah sangat gemetaran kuat hingga rasanya lemas sekali.
" owh.. ga mau jawab ya.. Baiklah.."
Tama langsung mengguyur Juli dengan shower yang ada disana. Ia menyalakan shower ya dengan sangat kencang bahkan sudah membuat Juli basah seluruh tubuhnya.
" Apa kau ingin diam saja dan tak ingin menjawab pertanyaan ku tadi?? Hemm.. baiklah akan ku siram lagi kau.. sampai kau benar-benar dapat menjawab hal itu.."
Juli yang sudah gemetaran dan kedinginan itu pun tak bisa berbuat apapun. Ia ingin melawan tapi tenaganya seperti hilang gitu saja.
Ia hanya meringkuk dan menunduk saja dalam diam.
" Hey.. mau sampai kapan kau diam seperti ini??.. Huh! aku sudah muak dengan wajah mu dan semua tentang dirimu.." Kata Tama dengan nada penekanan yang kuat sambil menjambak kerudungnya agar menghadap padanya.
" .......... "
" Huh.. cepat buka baju mu..."
" Ermm!! tidak.."
" Cepat buka baju mu... Atau apa perlu aku yang bukain.."
" Tidak.. aku tak mau.."
" Wah.. sudah berani ya..tak ku sangka kau bisa melawan juga.. cepat buka baju mu.. Hemm.. baiklah, jika kau tak mau.. aku yang akan lakukan itu.."
Tama pun mendekat ke tubuh Ani untuk mencoba melepaskan kerudung dan bajunya. Namun, dengan sekuat tenaga Juli mendorong Tama hingga ia jatuh.
" Wahh.. kau semakin berani ya.." Tama bangun dan mendekat kembali padanya.
" Kau.. Wanita rendahan.. untuk apa kau terus melawan!! hah!!.. aku sudah muak!!.. "
Tama pun langsung, membuka kerudungnya Juli dengan paksa.
" Hah.. kau memang seorang wanita rendah.. Mengapa kau setuju untuk menikah dengan ku? hah!.. Katakan!!.."
" ......."
" Ayo katakan mengapa kau mau menikah dengan ku?? Apa karena aku kaya dan punya banyak uang.. jadi, kau memanfaatkan itu semua agar hidup mu bisa enak dan nyaman.." sambil terus menjambak rambutnya dengan sangat kuatnya.
" Tidak!! Apa yang kau tuduh kan kepada ku, dan apa yang kau katakan semua itu tak benar..."
" Lalu, apa yang benar?? Apa ada maksud lain mengapa kau mau menikah dengan ku?? Jawab.. jika tidak pakaian mu akan ku robek.." Kata Tama dengan nada rendah namun menusuk.
.....