
Ya, selama beberapa hari ini.. Aku dan dia tinggal di Apartemennya. Pak Adirata sempat datang kesini. Dia berkata bahwa aku harus segera pindah ke rumah utama, begitu pun juga Tama. Awalnya Tama menolak karena rumah utama terlalu jauh dari tempatnya bekerja.
" Yakin, kalian akan kembali nanti seminggu lagi?." Kata Adirata.
" Ya.. aku ikut saja."
" Baiklah.. jika itu maunya kalian.. Papah akan maklumi.. tapi ingat kalian harus tetap memegang kata-kata kalian ya.. ya sudah, papah akan kembali.. Dan Minggu depan nanti Papah akan bilang pada seluruh anak buah papah untuk membawa kalian kembali jika kalian tetap tak ingin kembali..."
" Iya Pah.. sudahlah.. iya, kami akan pulang nanti.. Ga usah begitu.. aku juga pasti akan kembali.. "
" Oke.. Papah tunggu dirumah.."
Keesokannya, mereka pun tetap sama seperti biasanya. Mereka hanya diam dan diam, dalam keadaan apapun hanya berbicara seperlunya. Tapi, justru itu sangat membuat Juli sangat kesal akan keadaan seperti itu.
" Hemm.. ini sangat membosankan, ingin pergi, tapi ga ada teman.. tapi, disini, sangat sepi.. ada orang tapi seakan ga ada orang.. adeh.. rasanya pengen kesel, tapi juga ga berani.." Batinnya Juli.
" Apa kau ingin pergi??"
Tiba-tiba saja, ia menanyakan hal itu. Tanpa diduga Juli.
" Ah.. Rasanya, ada yang kurang deh.." kata Tama tiba-tiba lagi.
" Apa?? ada apa memangnya??"
" Ngga, Bisakah kau menemaniku sebentar saja keluar??"
" Emm.. mungkin bisa, Boleh.. "
" Oke.. siapkan diri mu.. jangan lama, aku ga bisa menunggu terlalu lama.."
" ya.."
Beberapa menit kemudian,....
" Hei, kau sudah selesai belum??"
" Belum.. sebentar.."
Hingga akhirnya Juli pun membuka pintunya.
" Wahh.. kenapa dia tampak berbeda?? padahal aku hanya ingin mengajaknya ke restoran terdekat sini yang baru dan katanya sangat sejuk dipandang.." Batinnya Tama.
" Kau.. sudah selesai??"
" Ya.. sudah.."
" Ayo, ikut.." sambil meraih tangannya Juli.
Juli yang tampak sangat terkejut itu pun ingin menolaknya tapi.. Ia takut jika itu akan membuatnya marah padanya.
" Nah gini dong.. kan jadi seperti pasangan sungguhan.." Batinnya Tama sambil memperlihatkan senyum smirk nya.
" Ayo.. kita jalan-jalan sebentar diluar.."
" Ya.. aku ikut saja.."
Mereka berjalan santai bersama, sampai para pejalan kaki yang berpapasan dengan mereka dibuat terpesona akan kehadiran mereka berdua.
" Eh.. lihat deh.. pasangan tadi, mereka bukannya pasangan yang waktu itu beritanya rame banget ya.." Kata pejalan kaki yang sedang duduk di bangku taman.
" Iya.. dia kan, orang itu.. wahh, ternyata emang saling cinta ya.. dikira, mah.. cuman karena apa gitu.."
" Iya ya.. "
" Eh.. eh.. tapi, katanya ceweknya si yang emang ga tau diri.. "
"Hush.. udah lah.. biarin aja toh mereka yang jalanin.." Kata yang lainnya.
" Masa sih??" Kata yang lainnya lagi.
" Iya.. apalagi kan emang si ceweknya yang miskin.. ya, pasti dia yang terus merayu pria itu biar mau nikahin dia.."
" Atau jangan-jangan, dia pake pelet lagi biar tuh si prianya mau sama dia.."
" Eh.. loh, kok.. dia.. dia, seperti tak ingin jika aku mendengarkan hal itu semua. Dari cara dia mengajakku pergi dari sana.. dan menggenggam ku erat sepeti ini.." batin Juli mengatakan hal yang sungguh diluar dari perkiraannya.
....
Tempat tinggal Juli di Desa.
" Doorrr.. "
" Isshh... ku kira siapa.. kenapa kau mengageti ku??"
" Hanya iseng aja.. habis kau terlihat sangat murung sekali saat kakak mu sudah pergi meninggalkan rumah ini.." Tuturnya Safa ( Temannya Vian dari kecil ).
" Hemm.. sebenarnya kau kesini ada perlu apa??" tanya Vian.
" Aku hanya bosen selalu dirumah dan tak boleh kemanapun.."
" Terus??"
" Ya, aku hanya ingin main saja disini dengan mu apakah salah jika aku ingin main dengan mu?? kau dulu tak seperti ini padaku.. kau selalu mengajakku main dan jalan-jalan di pinggir sawah trus main lumpur deh.. hehe.."
" Kenapa kau jadi cerita masa lalu??"
" Ya, aku hanya ingin menceritakannya saja.. owh, ya.. kemarin kakak mu benar-benar sangat cantik dengan gaun itu.. bahkan aku sampai ga kedip saat melihatnya.. aku pengen suatu saat nanti aku bisa pakai gaun seperti kakak mu itu dan berjalan beriringan dengan pengantin pria, lalu aku dan dia saling berciuman seperti di film-film dewasa.."
Tuukk.. Tuukk..
Ketuk nya Vian di jidat Safa yang sangat kotor itu menurutnya.
" Aduhh.. duh.. kenapa kau menjitak ku seperti itu?? Aku hanya mengeluarkan pendapat saja mengenai masa depan ku nanti.. "
" Lagian.. kenapa kau berbicara seperti itu.. atau jangan-jangan kau menonton video yang tak pantas kau tonton ya.. ayo ngaku.. ngaku deh.. hey.. jangan sampai pikiran mu yang seperti itu semakin besar.. ga baik.
kita ini masih kecil jadi belom saatnya untuk memikirkan hal itu semua.."
Mendengar hal itu, Safa seperti terhipnotis akan ucapan Vian. Dia terus saja memperhatikan Vian saat ia terus berbicara mengenai banyak hal. Dia sangat kagum padanya. Dia merasa bahwa walaupun dirinya sendiri seperti terkekang oleh kedua orang tuanya tapi, dia masih memiliki teman yang terus memberikan arahan positif padanya.
" Owh ya.. Yan.. kapan kau akan mengerjakan tugas kelompok itu bukankah kita harus mengumpulkan Minggu depan??"
" Tak tau.. gimana kalau besok saja.. ya sekalian aku menghilangkan penat karena dirumah sudah tak ada Mba lagi.."
" oke.. Kau saja ya, yang bilang pada yang lainnya.. soalnya aku takkan bisa mengatakannya. kau pasti Taulah.."
Mendengar itu, Vian hanya bisa diam dan terus melihat Safa dengan mata yang penuh khawatir.
" Baiklah.. aku mengerti.. kau, jangan merasa sendiri.. jika kau butuh apa-apa kau bisa memanggil ku.. aku akan selalu ada.."
Safa hanya bisa tersenyum sumringah saja mendengar Vian mengatakan hal itu padanya.
" Baiklah, aku pergi ya.. daahh... " Kata Safa sambil melambaikan tangan pada nya dan pergi.
" Ku harap, aku akan selalu bisa membantu mu Fa.." batinnya Vian.
.....
Mereka sudah sampai di cafe tempat yang Tama katakan pada Juli.
" Kau, membawaku ke sini?? Kenapa??"
" Ya.. Apakah kau tak menyukai tempatnya??"
" Tidak.. tidak, bukan gitu.. dari awal aku ingin sekali datang ke tempat seperti ini.. dan ya, ini memang sangat sejuk.. didalam ruangannya pun juga sangat sejuk.. bahkan ini seperti taman didalam rumah kaca.. indah dipandang.. "
" Apa kau sangat menyukai hal ini??"
" Emm.. aku sangat menyukai hal ini semua.. rasanya sangat menyejukkan.. dan fresh.. kau bisa merasakannya juga kan??" spontan melihat wajah Tama sambil tersenyum gembira dan dengan semakin erat menggenggam tangannya.
" Hah.." Terkejutnya Tama saat Juli sangat dekat dengannya.
.....
Maaf.. mohon maaf, atas tidak updatenya author beberapa hari kemarin. Dikarenakan kesehatan author yang tak baik.. Hingga harus benar-benar istirahat total.. maaf..🙏🙏😖🥺