Life

Life
Studi wisata



" Apa!.. Emak gini aja dibilang kejam.. dasar anak ini!!!.... Sudah sana mandi lalu.. bersiap.."


" Ia.. Mak.. Vian sekolah.. eh.. salah.. Vian mandi dan siap-siap, hehe.."


Vian pun pergi ke kamar mandinya dan langsung mandi. Tak lama kemudian ia keluar dengan rambut yang masih basahnya.


Ia juga sudah membereskan perlengkapannya dan tak lupa Mamaknya sudah menaruh bekal makanan nya didalam tasnya.


" Mak.. tumben kasih bekal aku ini??"


" Iya, Mak sengaja, ngasi bekal kamu itu, biar kamu nambah kuat dan bertenaga disana.. ingat jangan jauh dari guru atau teman dekat mu.."


" Iya.. Makasih Mak.."


Vian dengan sangat senangnya.. karena ia dibekali makanan yang ia suka seperti ayam kecap pedas, lalu ada mie goreng sama sayurannya.


Dia memasukkan itu semua kedalam ranselnya dan perlengkapan lainnya.


Setelahnya ia keluar sebentar untuk memastikan jika Safa beneran ikut studi wisata kali ini..


Tok.. tok.. Tok..


Vian mengetuk pintu rumah Safa. Ia memang sudah sering sekali mengetuk bahkan sering sekali masuk ke rumah Safa.


" Safa... Safa.. Assalamualaikum..."


" Iya, wa'allaikumsalam.. iya ada apa ya dek Vian datang ke rumah??" kata ibunya Safa.


" Emm.. Safa nya ada Bu??"


" Eh.. iya ada.. sebentar ya.."


" Ah.. tak usah dipanggil Bu.. saya hanya ingin menanyakan ini saja.. Apa Safa akan ikut studi wisata kali ini??"


" Iya, Safa akan ikut kali ini.. ibu sendiri yang membiarkan ia untuk studi wisata kali ini.. ibu sudah paham benar apa yang baik buatnya."


" Terimakasih Bu.. aku akan menunggunya ditempat biasa Bu.. untuk bareng menuju bis nya berada.."


Dengan senangnya Vian mendengar jika Safa akan pergi juga. Ia langsung bergegas balik ke rumahnya dan langsung mengganti bajunya. Setelahnya ia pun langsung berpamitan ke Emaknya dan pergi.


Ia menunggu ditempat biasa ia menunggu Safa, yaitu di pos ronda yang berada tak jauh dari rumahnya.


" Hey.. kau lagi-lagi melamun.. ayo kita berangkat nanti keburu ketinggalan bis nya.." sambil menarik tangannya Vian.


" Ah.. ya.. ayo.."


Mereka berjalan berbarengan hingga tibalah mereka di mobil bis nya.


" Hei, Vian.. kau.. pernah ga si ngerasa ada yang aneh dari pernikahan kakak mu kemarin??" Tanya Safa saat ia sedang memasukkan barangnya disamping tempat barang Vian.


" Maksud mu??"


" Ya.. habis aku terkadang juga sedikit ngerasa aneh saja.. kata mu.. kakak mu itu menikah karena dijodohkan jadi kau dan keluarga mu bisa terpenuhi kan.."


" Iya si.. tapi, aku tak mau ikut campur dulu soal itu.. memang si aku merasa ada yang aneh terutama pria itu.. aku merasa seperti dia pria tak baik.. aku pun sempat tak mempercayai semuanya.. namun, ibu ku bilang jika mba akan bahagia.."


" Iya si.. sudahlah.. jadi, dari kemarin kau terus melamun itu karena kau sering memikirkan ini.. Hemm.. sudahlah, mungkin yang dikatakan oleh ibu mu itu benar.."


" Iya.. mungkin.."


Mereka masih saja mengobrol hingga mereka tak menyadari bahwa ada banyak temannya yang sedang memperhatikan mereka berdua. Lalu ada salah satu dari mereka yang tiba-tiba menyelip pembicaraan mereka.


" Hoy.. cie.. cie.. Safa sama Vian terus aja ya kalian berduaan hey.. ingat yang lain juga dong.."


" Iya.. klo kata ibu ku.. jangan terlalu dekat seperti itu.. itu ga baik, kita kan masih kecil.."


" Haha.. siapa si.. yang kaya begitu maksud mu.. kami kan memang teman dari masih kecil.. bahkan kalian tuh ga tau kan gimana saat kami masih usia 5 tahun.. Kami tuh waktu itu sering mandi bareng.. bahkan sama mba sering dimandiin.."


" Hiihhh.. Vian.. apaan si.. jangan gitu.. yang dikatakan Ara tuh emang bener, masa kau ga paham si.. Iihh.." Kesalnya Safa pada Vian yang seenaknya aja.


" Iya.. iya.. maaf.. kalian tuh ya.. Hemm.."


" Safa.. Safa.. kau dipanggil tuh sama Bu guru.." panggilnya teman Safa yang lainnya.


" Iya.. aku akan menemui Bu guru.."


Safa pun langsung bergegas menemui Bu gurunya.


" Ya.. ada apa ya Bu??"


" Oh ya.. Safa.. apakah kau bisa mengabsen para murid saat ini.."


" Bisa Bu.. saya bisa.. "


" Baiklah.. ini ya.. owh ya.. apakah kau duduk di bangku bareng Vian??"


" Ya, ada apa Bu??"


" Ba-baik Bu.. terimakasih Bu.. saya mengabsen dulu murid yang lainnya.."


" Iya, sana.. makasih juga ya Safa.. sudah mau membantu tugas ini.."


" iya.. sama-sama Bu.. hehe.."


***


Di lain waktu dan lain tempat, Feli dan Bryan sedang menikmati pemandangan di Al-Azhar park.


" Eci.. Eci.. apakah kau ingin sesuatu setelah ini??"


" Hemm.. apa ya??"


" Ngga mau jadi??"


" Ya.. mau.. sebentar dulu lah.. aku ingin memikirkan dulu.."


" Oke.."


" Sepertinya tidak ada.."


" Emm.. apakah kita sudah baik kan??"


" Jadi.. kau masih ingin kita terus berdiam saja??.."


" Tidak.. aku hanya tak menyangka jika kita berbaikan dengan sangat cepat seperti ini.."


" Emm.. iya ya.."


Flashback


Tin.. tin..


Bunyi klakson mobilnya Bryan yang terus saja berbunyi untuk membuat Feli keluar.


" Aku tak terlambat bukan??.."


" Ya.. kau tak terlambat.." Juteknya Feli.


" Lalu.. kita hanya akan ke Al-Azhar park saja??" Tanya Feli langsung setelah ia masuk ke dalam mobil.


" Ya.. memang kau ingin kemana??"


" Ga pengen kemanapun.."


" Fel.. Fel.. apakah aku sangat bersalah banget pada mu??"


" Emm.. ......... kau bilang mau membicarakan itu disana.. bukan didalam mobil ketika menyetir kan.."


" Ya.. ya.. baiklah.."


Bryan pun langsung menancap gasnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang namun cepat.


Sampainya mereka di Al-Azhar park, Bryan pun memarkirkan mobilnya. Setelahnya Feli yang tiba-tiba langsung keluar dan berlari menjauh dari Bryan pun membuat ia khawatir.


" Hey.. Feli.. Fel.. tunggu sebentar dong.. kau ini kenapa keluar duluan.."


" Hemm.. ngga ah.. ngga mau.. Kalau bareng dengan mu aku risih.. daahh.." Larinya Feli yang tak karuan, membuat Bryan pun tak karuan.


" Fel.. hati-hati nanti kau..."


Bruukk...


Feli terjatuh karena salah langkah dan dia tak melihat jalannya.


" Tuh kan baru mau dibilang awas jatuh.. jatuh beneran kan.. bandel si.." seru Bryan sambil mengomel padanya.


" Makanya jangan kabur.. emang aku mau ngapain si?? aku kan hanya minta itu saja.. kenapa kau begini.. kan jadinya kau jatuh kan.. untung saja tak ada orang yang melihat.. coba ada.. Hemm.." ngomelnya Bryan sambil menggendongnya di punggung.


" Iya.. iya.. maaf.." Cemberutnya Feli.


" Baiklah.. kita duduk disana dulu ya.. sambil mengobati kaki mu ini.."


Mereka pun akhirnya memilih tempat untuk duduk. Dihadapan mereka terlihat taman yang sangat cantik. Bahkan sangatlah menyegarkan mata dan pandangan. Rasanya sejuk sekali. Sambil memijit kaki Feli Bryan pun tak bicara apapun selama itu terjadi.


" Ini jadi sangat canggung.. aduh.. kenapa si anak ini.. padahal dia dulu tak pernah mau seperti ini.." gumam Feli dalam hati.




Happy reading 😉..