
Di Cafetaria dekat lokasi syutingnya Glenci.
Terlihat Devina seperti sedang menunggu seseorang. Dan ia selalu melihat jam tangannya seperti seorang yang terburu-buru akan urusan yang lainnya.
“ Mana lagi orangnya?? Kenapa lama sekali si.. Hemm.. mana abis ini ada meeting lagi dengan klien dari Singapura.. aiihh..”
Tak lama kemudian, orang yang ia tunggu pun datang.
“ Hey.. nunggu lama ya.. jadi gimana.. apa kau tertarik dengan penawaran ku, ponakan ipar ku tersayang?? Kau membutuhkan ini kan.. dan aku membutuhkan diri mu untuk melancarkan semua rencana ku..”
“ Gini aja deh, paman.. apa paman akan menjamin keselamatan ku dan menutupi ini semua dari suami ku dan yang lainnya??”
“ Ya.. itu sudah pasti.. jika kau juga menutup mulut mu rapat-rapat dan selalu menuruti apa yang ku perintahkan.. maka semua kekhawatiran yang kau pikirkan itu takkan pernah terjadi..”
“ Baiklah, aku menerima tawaran paman.. tapi tepati dulu janji paman itu.. dan buat aku menjadi desainer terkenal di Asia bahkan dunia..” kata Devina.
“ Baiklah jika itu mau mu..”
" Oke.. deal.."
Mereka pun menyepakati apa yang telah mereka setujui. Setelahnya mereka pun pergi meninggalkan tempat itu lalu kembali ke masing-masing kesibukannya.
Di ruang Tama.
Setelah kepergian Alex Tama pun memanggil Juli untuk keluar dari ruangan pribadi itu. Lalu, ia dan juga Juli kembali bekerja dan menunda untuk kegiatan panas itu nanti.
" Yank, tapi kenapa Papah meminta mu untuk menjadi asisten pribadi ku??"
" Emm.. jika aku jujur apa kau akan tetap diam dan mendukung rencana ini??"
" Hah?? maksudnya?? kau, bicara apa?? rencana apa yang harus aku dukung??" tanyanya Tama yang sangat tak mengerti akan maksud yang dibicarakan ini.
" Apa kau yakin akan mau mendengarkan ini semua.??"
" Ya.. aku yakin.."
" Jadi, gini.."
Flashback...
Di kantin rumah sakit..
" Pah.. Papah, memanggil ku?? ada apa ya??"
" Hemm.. Ada hal yang ingin dibicarakan.. ini mengenai istri ku ibu mertua mu.."
" Ya.. Tapi, kenapa papah ingin membicarakan soal itu??"
" Papah, ga tau apakah perasaan ini benar atau ngga.. yang jelas, akhir-akhir ini papah merasakan keberadaannya, ketika kau berada disekitar kami.. awalnya papah menepis hal ini.. tapi, adakalanya rasa itu terasa sangat nyata.. hingga papah mengharapkan hal yang takkan pernah bisa terjadi.."
" Hemm.. sebenernya ada seseorang yang terus menunggu papah, sudah lama.. sekali.. ia pun juga ingin berbicara pada papah.."
" Apa?? maksud mu?? siapa??"
Seketika itu juga wajah Juli dan postur tubuhnya pun berbeda. Ia seperti sudah berganti orang.. dengan gaya duduk dan ekspresi wajah yang seketika berubah, membuat Adirata semakin bingung akan tingkah menantunya itu.
Adirata terus memperhatikan tingkah menantunya itu. Hingga menantunya itu memanggilnya dengan sebutan dan suara yang sangat ia rindukan..
" Mas Adi.. "
Suara itu terus memanggilnya, namun Adirata tetap diam terpaku di tempat duduknya. Ia masih tak menyangka jika ia bisa mendengar kembali suara itu.
" Mas...." sambil mengguncangkan badannya.
" Ah ya.. kau.. mengapa kau bisa menirukan suara dia?? bagaimana bisa?? bagaimana mungkin ia.. ia.. hah.. ia.."
" Ini memang aku mas.. Aku, Raiyan... aku meminjam tubuh menantu kita ini.."
" Tapi.. tapi.. bagaimana bisa?? kau.. apa ini serius?? apa ini nyata??"
" Ini serius mas.. ini aku.. tapi, kumohon ada satu hal yang tak bisa kau bicarakan mengenai hal ini pada yang lainnya terutama Alex dan yang lainnya.. aku hanya ingin menjaga Mereka.. mas.. ada hal yang sebenarnya dari dulu aku ingin katakan.."
" Ya.. apa itu??"
" Aku.. benar katamu dan kata Alex dulu.. aku bukan meninggal karena kecelakaan.. aku meninggal memang karena dibunuh oleh seseorang.. apa kau tahu siapa orang itu??"
" Kau benar.. dialah yang telah membunuh ku.. hingga kita bisa berpisah seperti ini.. suami ku, aku sangatlah belum terima atas hal itu.. itu membuatku menjadi sangat membencinya.. apakah aku boleh seperti ini??"
" Tentu.. saja.. siapa yang melarangnya.. kau sangat pantas bertindak seperti itu.. hanya saja.. aku dan yang lainnya.. masing ingin kau berada didekat kami.. namun tak apa.. aku sudah merelakannya, tapi aku pun juga masih belum menerima kenyataan bahwa istriku ini dibunuh oleh saudara ku sendiri.." kata Adirata sambil mencengkram erat tangannya sendiri.
" Yah.. aku tau itu.. dan sekarang aku hanya ingin tenang ditempat ku saat ini dengan segera menyelesaikan ini semua, dan saat itu tiba aku akan terus menunggu mu sampai kau datang menghampiri ku dan kembali menemaniku disana.." Senyumnya Heraiyan pada Adirata dengan tulusnya.
" Ya, aku pun ingin bertemu dengan mu lagi..."
" Tunggu.. aku saat ini hanya ingin menyampaikan suatu hal yang mungkin kau dan yang lain akan sangat membutuhkannya.."
" Apa itu??" tanyanya Adirata sambil mendekatkan dirinya ke Heraiyan.
Dan Heraiyan pun segera memberitahu padanya tentang satu hal itu.. Ia membisikkan sesuatu yang mungkin akan sangat berguna bagi keluarganya itu..
Tak lama setelah ia membisikkan hal itu ia pun langsung keluar dari tubuhnya Juli secara perlahan. Karena jika ia tetap berlama-lama didalam tubuh mantunya itu, jiwa mantunya akan benar-benar tersesat dalam alam bawah sadarnya.
Setelahnya, Juli pun sadar dan ia kembali ke tubuhnya. Ia masih terlihat seperti orang linglung dengan keadaannya saat itu.
" Apa kau baik-baik saja??" tanya Adirata pada menantunya itu.
" Hah.. apa?? memang aku kenapa ya??" tanyanya Juli yang masih linglung dibuatnya.
" Ah.. sudahlah lupakan saja.. terimakasih ya Nak.. berkat mu, aku bisa bertemu dengan istri ku.. dan kurasa istri ku itu benar, kau akan bekerja sebagai asisten pribadi anak ku mulai besok, akan papah urus semuanya, jadi, kau hanya perlu mempelajarinya saja besok.. dan sebelum putra ku itu bangun kau harus sudah bisa memegang peran sebagai asistennya oke.. mari lanjutkan makannya.."
" Hah.. Ba-baiklah papah.. aku akan berusaha untuk itu.." Juli pun tak banyak omong lagi ia langsung memahami semua yang sudah terjadi pada dirinya.
Mereka pun menyelesaikan makan siang mereka dan Juli pun kembali ke ruangan Tama dirawat, sedangkan Adirata ia kembali kekantor untuk menyelesaikan urusannya sedikit.
Sebelum itu Adirata menelfon Bryan, ia sedikit memberikan tugas tambahan untuknya, ia hanya berfikir,
" Inilah, hal yang terbaik untuk semuanya dan juga untuk menangkap pelakunya.. aku sudah mengetahui semuanya.."
Ia pun akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Hari-hari pun berlalu begitu cepat bahkan penyelidikan secara rahasia itu dan juga pengumpulan bukti dan saksi itu pun masih berlanjut sampai sekarang dengan sangat rahasia tanpa ada banyak orang yang tau bahwa mereka menyelidiki itu semua, mengenai korupsi, bahkan mengenai pembunuhan Heraiyan tersebut.
Di kantor Adirata...
Devina pun masuk dengan memakai kacamata hitam dan selendang hitam yang dililitkan ke kepalanya sehingga menutupi wajah dan rambutnya.
Ia memasuki pintu masuk kantor Adirata dengan senyuman layaknya seorang yang sudah sering mengunjungi kantor itu. ia pun berjalan ke resepsionis untuk menanyakan apakah Adirata sedang ada di ruangan atau tidak.
" Permisi, masih kenal dengan saya kan?? " tanyanya ia sambil melepas kacamata hitamnya.
" Ah, iya dengan Bu Devina kan??"
" Ya.. apa Pak Adirata ada didalam ruangannya??"
" Emm, tunggu sebentar ya Bu saya coba tanyakan dulu ke sekretaris Bapak.."
" Eiitt.. tak perlu menanyakannya.. tak perlu biar saya langsung datang saja. Makasih ya.."
" Ah, iya Bu.."
Devina pun langsung pergi menuju ruang Papah mertuanya itu.
" Syuutt.. siapa tadi Mel?? " Tanya salah satu staf resepsionis yang lain yang menghampiri Amel.
" Itu, Bu Devina istrinya Pak Alex anaknya Bos yang punya perusahaan ini.."
" Owhhh.. loh kenapa dia menanyakan hal seperti itu dulu kesini??"
" Hemm.. entahlah.. sudah ah.. tak perlu dipikirkan soal itu, mending kerja saja.." kata Amel yang langsung menyuruh temannya itu untuk kembali bekerja.
~••~~
Hai reader's...
Maaf saya baru bisa melanjutkan ceritanya dipertengahan tahun kali ini.. dan baru bisa kembali ditahun ini.. mungkin selama hampir satu tahun atau lebih ya?? saya ga bisa update cerita selanjutnya..
Sebab ada banyak sekali yang terjadi dalam real life.. itu yg membuat sy harus Hiatus selama itu.. dan sebenernya ini tulisan terakhir saya sebelum saya Hiatus. Sebenernya kenapa saya tidak up episode ini?? ya itu karena agar saya bisa melanjutkannya nanti ketika saya sudah siap untuk melanjutkan kembali ceritanya.. hehe.. maaf ini terlalu panjang sepertinya..
Tapi, semoga kalian suka cerita ini yang akan mendekati akhir episode.. so, happy reading and happy life for all of you..😘😘🥰